Wanita 1 Triliun

Wanita 1 Triliun
BAB 46


__ADS_3

"Kembali ke perusahaan sekarang!.." Tegas Lorenzo dia seperti kehilangan jati diri pikirannya menerawang kemana-mana.


Raymond peka akan hal itu, mereka berdua melaju ke tempat tujuan.


Sesampainya di perusahaan semua orang yang ada di situ mengerumuni tempat kejadian, saat atasannya tiba mereka sontak memberi jalan.


Para bodyguard yang ada di sana siap siaga dengan senjata apinya berjajar untuk mencegah kejadian terulang.


Lorenzo dibuat semakin menggila saat melihat bercak darah yang berceceran itu, amarahnya meluap. "Dimana Claudia hah!!!...."


"Katakan jangan diam saja apa kalian melihat istriku pergi?!..." Teriak Lorenzo.


"Kami tidak melihat jejak nona Claudia tuan..." Jawab salah satu bodyguard sambil menunduk.


"Kenapa saat menjaga istriku kalian tidak becus!!!..."


Raymond menahan Lorenzo yang mau menghajar anak buahnya. "Tenangkan emosimu!..."


"Kau bilang tenang hah? Claudia istriku dia sedang mengandung! dan mereka tak becus dalam menjalankan tugasnya!..." Timpal Lorenzo.


"Claudia sedang di kamar pribadimu, coba kau pikir apa para anak buahmu berani memasukinya?.." Ujar Raymond yang berusaha menenangkan Lorenzo. "Tenanglah.. Claudia kelemahanmu mungkin ini salah satu taktik dari Jerome untuk memancing!.."


Apa yang diucapkan Raymond masuk akal, tetapi mendapati Claudia hilang membuat Lorenzo tidak bisa berpikir jernih apalagi melihat bercak darah.


"Tidak ada tanda-tanda Claudia pergi ataupun dibawa pergi.." Ujar Raymond ia mendekati kaca, di sana terdapat bekas tembakan senjata api. Tatapan matanya menyapu sekeliling.

__ADS_1


"Lalu dimana Claudia?..." Lirih Lorenzo, tatapan mata tajamnya menatap sekeliling kamar pribadi.


Lorenzo memicingkan mata saat melihat lemari dekat kamar mandi perlahan tapi pasti terlihat ada darah menetes ke lantai, lelaki itu tersadar sesuatu sontak saja Lorenzo berlari dan menghampirinya. Dibukanya perlahan....


Semua orang-orang yang ada di sana sontak menutup mulut syok.


"Audi!!!...." Pekik Lorenzo histeris saat melihat Claudia di dalam lemari setengah sadar dengan bersimbah darah memenuhi sebelah tubuhnya.


"L-Lorenzo....." Lirih Claudia tak berdaya karena banyaknya darah yang sudah keluar.


Raymond sontak menghubungi dokter Alyysa kepercayaan Lorenzo untuk segera datang.


Dengan hati-hati Lorenzo mengangkat tubuh lemah Claudia lalu meletakkannya di atas kasur, amarahnya semakin memuncak namun Lorenzo berusaha mengendalikannya.


Tidak lama dokter Alyysa datang ia sontak melakukan tugasnya dengan hati-hati, peluru itu bersarang di lengan atas Claudia.


Setelah peluru itu dikeluarkan, dokter Alyysa mengobati dan membalutnya hati-hati dengan perban. "Sekarang istrimu sudah baik-baik saja tuan, infusan ini akan menambah cairan dalam tubuh..."


"Ya...." Jawab Lorenzo tatapannya tak lepas dari Claudia.


Para anak buah Lorenzo dengan segera mengganti kaca kamar pribadi dengan kaca anti peluru, setelahnya mereka semua pergi untuk berjaga di tempat lain.


"Rio berhasil menangkap sniper yang sudah melakukan ini kepada Claudia.." Ujar Raymond melaporkan.


"Biar aku yang membalas rasa sakit Claudia kepadanya!.."

__ADS_1


"Baiklah..."


Raymond memilih keluar membiarkan Lorenzo bersama istrinya. Di pikir-pikir setelah mengalami beberapa kejadian, Raymond menyadari sesuatu. "Cih sebentar lagi indentitasmu akan terkuak Jerome!...."


Saat Raymond ingin memasuki ruangannya, ia memicingkan mata ketika melihat seorang wanita cantik berlari terbirit-birit menuju ruangan CEO utama sontak saja ia menghalangi.


Rayny mengerutkan keningnya dengan nafas ngos-ngosan. "Kenapa kau menghalangiku?.."


Rayny hendak melangkah ke kanan begitupun sama dengan Raymond, ia beralih ke kiri lelaki itu juga mengikutinya.


"Ada apa denganmu! kau tidak lihat aku sangat mengkhawatirkan Claudia?.." Ujar Rayny kesal.


Saat ia ingin melangkah lagi, Raymond menarik pinggang ramping Rayny. "Jangan mengganggu mereka...."


"Aku tidak akan mengganggu, aku hanya ingin melihat kondisi sahabatku Lorenzo juga pasti tahu..."


"Tidak, nanti saja!...."


"Kenapa kau mengaturku?..." Dengus Rayny kesal.


"Patuhlah!..."


Rayny menatap manik biru Raymond. "Aku naik dari lantai satu sampai sini itu capek, sangat sia-sia jika tidak menemui Claudia aku juga tidak mau menunggunya di luar seperti gelandangan...."


"Maka ikutlah ke kamarku!!..." Timpal Raymond tegas.

__ADS_1


"Hah???...."


Bersambung.....


__ADS_2