Wanita 1 Triliun

Wanita 1 Triliun
BAB 45


__ADS_3

Wajah cantik Cathlin yang semula penuh dengan senyum menggoda kini hilang sudah setelah melihat siapa yang datang. Pikirannya menerawang bertanya kemana-mana.


"Apa kau tidak memiliki malu?.." Datar Claudia tatapan matanya mengintimidasi dari ujung kepala hingga kaki Cathlin.


"Sekarang coba tunjukkan keahlianmu di hadapanku aku ingin melihatnya sehebat apa!.." Ujar Claudia lagi, kata-katanya tenang namun dapat membuat diri Cathlin tersindir.


Cathlin menyunggingkan senyum liciknya. "Jadi kau yang membalas pesan dariku bukan suamimu?.."


"Sampai kapanpun aku akan terus memperjuangkan cintaku! tak peduli ada kamu seorang wanita rendahan yang dipungut oleh Lorenzo, dasar! apa kau punya malu mendatangiku dengan cara tidak sopan seperti ini?..." Timpal Cathlin lagi tak mau kalah.


Ucapan Cathlin benar-benar menyulut emosi Claudia, namun wanita itu berusaha agar tetap tenang. "Singkat saja aku tak mau membuang waktu bersama wanita seperti dirimu, berhenti menggoda Lorenzo karena sampai kapanpun usahamu tak akan pernah berhasil!."


"Apa hakmu? aku dulu wanitanya!.." Pekik Cathlin.


"Aku sekarang istrinya!!..." Timpal Claudia.


"Cih berani sekali kau menatapku dengan tatapan seperti itu! kau tahu orang tuaku merupakan bangsawan Inggris kau akan ketar-ketir jika berhadapan dengan mereka!.." Ancam Cathlin.


"Kau akan lebih ketar-ketir jika semua aibmu ku bocorkan kepada media!!." Datar Claudia sambil menunjukkan perekam suara di tangannya.


"Apa!!!..."Pekik Cathlin yang terkejut akan hal itu, sontak ia hendak merebutnya dari tangan Claudia. Tetapi lengan bodyguard anak buah Lorenzo menghalangi dan mendorongnya dengan kasar.


"Kembalikan dasar wanita murahan!!.."


Tidak ada jawaban dari Claudia, ia memutar badan hendak melangkah pergi tetapi langkahnya terhenti kembali. "Ah ada sesuatu yang ketinggalan...."

__ADS_1


"Apa itu nona?.." Tanya salah satu bodyguard.


PLAK! PLAK!!...


"Aakkhhh!...." Jerit Cathlin saat kedua pipinya panas akan tamparan keras Claudia.


"Pikirkan lagi sebelum bertindak atau karirmu akan lenyap penuh dengan hinaan!.." Dingin Claudia.


Setelah itu Claudia melangkah pergi tanpa bicara lagi dengan wajah datar meninggalkan kediaman Cathlin.


"Aaaaaarrrggh! wanita sialan berani sekali kau!!....."


Cathlin mondar-mandir cemas bagaimana bisa dia terjebak dengan tipu daya Claudia?, kini istri Lorenzo itu menyimpan semua aibnya yang sewaktu-waktu akan bocor jika ia mendekati atau menggoda Lorenzo lagi.


...***...


Claudia melihat sekeliling ruangan CEO utama tidak ada Lorenzo maupun Raymond yang terlihat, ia menghampiri salah satu pegawai di sana. "Apa suamiku belum kembali?.."


"Belum nona...." Jawabnya hormat.


"Baiklah..."


Claudia terdiam ia bahkan tidak tahu suaminya pergi kemana, ia melangkah menuju kamar pribadi karena lelah memilih untuk istirahat di sana sambil tangannya tak henti mengelus lembut perutnya yang sudah perlahan membentuk.


Sementara itu di suatu tempat.....

__ADS_1


7 orang bertopeng sudah babak belur mengenaskan akan ulah gangster anak buah Lorenzo, kini wajah mereka terlihat setelah penutup wajah itu dibuka.


Lorenzo hanya menatap datar ke arah mereka yang meringis kesakitan, Raymond melangkah dan menghampiri ia menjambak rambut salah satu dari mereka. "Masih belum berucap juga? katakan siapa yang mengutus kalian!...."


"Jika kalian mati pun bukan hanya kalian yang menderita kesakitan, istri dan anak kalian akan ikut merasakannya juga!..." Suara bentakan keras Raymond benar-benar menggelegar di seluruh ruangan.


"Jangan sentuh mereka!..." Pekik ketujuh pria itu memohon dengan wajah penuh darah.


"Maka jawablah pertanyaanku!..." Bentak Raymond.


Mereka bertujuh melirik Lorenzo yang menatapnya juga dengan tatapan membunuh, karena siksaan yang begitu mengerikan mereka memilih untuk menyerah. "O-orang itu sangat mengerikan bahkan kami belum pernah melihat wajah aslinya.." Ucap salah satu dengan terbata.


"Dendamnya tidak tersalurkan kepada Caesar karena ia telah meninggal, sehingga Lorenzo lah tujuan utamanya sekarang. Dia sering dipanggil dengan sebutan Mr Jerome, hanya itu yang kami tahu...."


Raymond melirik Lorenzo sekilas, saat ia ingin mengintegrasi lagi, mereka satu persatu pingsan karena siksaan juga pengaruh dari cairan Raymond yang sangat menggerogoti tubuh.


"Jerome....." Lirih Lorenzo seakan pikirannya menerawang jauh.


Dalam waktu bersamaan handphone Lorenzo tiba-tiba berbunyi ternyata dari anak buahnya, ia menerima panggilan itu. "Katakan ada apa!..." Tanyanya datar.


"Tuan saat kami memasuki kamar pribadi untuk menyuruh nona Claudia makan, dia tidak ada di sana hanya ada bercak darah berceceran banyak di lantai!..."


DEG!


Mata tajam Lorenzo membulat sempurna jantungnya seakan berhenti seketika.

__ADS_1


"Kenapa?..." Tegas Raymond.


Bersambung....


__ADS_2