Wanita 1 Triliun

Wanita 1 Triliun
BAB 65


__ADS_3

Tes!... Tes!...


Darah menetes ke lantai dari pipi Lorenzo yang terkena sayatan pisau saat bertarung tadi melawan gangster anak buah Jerome yang tak perlu ditanyakan lagi banyaknya seperti apa.


"Ayo lakukan! mending bunuh saja aku sekalian!.."


"Claudia pergi!..." Lirih Lorenzo dengan nafas yang sudah tersengal-sengal.


Claudia sontak merengkuh tubuh kekar Lorenzo yang sudah dilumuri banyak darah, tangannya gemetar saat melihat itu. Dalam waktu bersamaan gangster anak buah Jerome bermunculan datang sambil menodongkan senjatanya ke arah Lorenzo dalam jumlah yang begitu banyak dari belakang.


"Apa kau datang ke sini sendirian!.." Pekik Claudia kepada Lorenzo, tidak ada jawaban dari Lorenzo ia tidak mungkin memberitahunya.


Jantung Claudia sudah tak karuan cemasnya bagaimana, ia mengetahui jika dalam tubuh Lorenzo bersarang peluru dan bekas goresan pisau yang begitu banyak.


"Kenapa kau melakukan ini Lorenzo!!.." Pekik Claudia sontak memeluk tubuh kekar Lorenzo yang perlahan melemah.


"Jika kau masih bersikeras untuk balas dendam, bunuh saja langsung Lorenzo dengan diriku Jerome! aku tidak mungkin hidup tanpanya..." Lirih Claudia tak lepas memeluk Lorenzo yang terjatuh lemah penuh darah.


"Claudia pergi!..." Tegas Lorenzo.


"Tidak! jika kau mati maka aku pun akan ikut..."


"Tunggu apa lagi Jerome? cepat bunuh dia!, dia datang ke sini sendirian tuntaskan dendanmu dan kau bisa menguasai semuanya tunggu apa lagi!!.." Timpal Rafael.

__ADS_1


Jerome menggertakan rahangnya, memang ini waktu yang tepat untuk menghabisi Lorenzo tetapi ia tidak sanggup jika harus membunuh Claudia juga. Entah kenapa tangannya terasa berat untuk menarik pelatuk.


"Tunggu apa lagi atau aku yang akan melakukannya!!!..." Timpal Rafael lagi sontak mengambil senjata api berukuran besar.


Claudia memegang lengan kekar Lorenzo perlahan ia memejamkan matanya. "Rayn, Zayn maafkan mommy dan daddy..." Batinnya menjerit.


Sekitar 100 orang gangster anak buah Jerome menodongkan senjata ke arah Lorenzo yang dipeluk Claudia. "Baiklah kita mulai!.." Pekik Rafael menarik pelatuk.


DOR!! DORRR!!...


"Aaarrrgh!!!...."


Orang-orang di sana terdiam menyaksikan itu, Rafael terjatuh akibat tembakan yang dilakukan Jerome saat ingin membunuh Lorenzo dan Claudia.


"Baik tuan!..." Tegas Andy membawa paksa Rafael yang sudah berlumuran darah.


Claudia perlahan membuka matanya ia menatap wajah Jerome dengan penuh tatapan tanda tanya. "S-sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kau tidak melakukannya?.."


Tidak ada jawaban dari Jerome, ia hanya menatap datar ke arah Lorenzo dan Claudia. "Pergilah!..." Setelahnya ia berlalu pergi memasuki ruangan, begitupun dengan para gangster lain setelah diberi kode oleh sang atasan mereka pun bubar.


Perlahan tapi pasti air bening membasahi pipi lembut Claudia diiringi dengan senyuman penuh arti. "Jerome terimakasih...."


Setelah Claudia menekan tombol pemanggil, tidak lama para anak buah Lorenzo datang ke sana membawa tuannya ke rumah sakit.

__ADS_1


...*...


...*...


...*...


Di rumah sakit...


Lorenzo masih dioperasi karena dalam tubuhnya bersarang 9 peluru juga 7 bekas sayatan pisau akibat bertarung.


"Aku tidak pernah menyangka dia akan senekat itu, hanya karena tidak mau mengorbankan banyak nyawa anak buahnya dia rela datang sendirian ke sarang musuh..." Lirih Raymond.


Claudia tersenyum sambil menatap ke arah Lorenzo yang terbaring lemah. "Ada perubahan dalam diri Jerome entah apa karena aku belum bicara lagi dengannya.."


Terdengar langkah kaki mendekat rupanya Rayn dan Zayn datang dengan buru-buru karena baru pulang sekolah. "Daddy!!!.." Serentak keduanya.


"Jangan khawatir daddy kalian tidak selemah itu..." Timpal Raymond.


"Aku akan membunuhnya!..." Datar Zayn sambil mengepalkan tangannya kuat.


"Tahan emosimu Zayn, bagaimana pun dia pamanmu yang menggagalkan rencana pembunuhan tragis itu..." Lirih Claudia menenangkan putra keduanya.


"Jangan dulu naik darah adik!." Timpal Rayn.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2