
Senapan demi senapan telah Claudia pelajari, Lorenzo melatih istrinya dengan penuh hati-hati juga telaten. Ia tidak menyangka jika Claudia mudah menguasai dan paham akan penggunaan senjata dengan cepat.
DOR! DOR! DOR! DOR! DORR!!....
Raymond memberi tepuk tangan diikuti beberapa gangster anak buah Lorenzo yang melihat aksi latihan itu.
Tubuh Claudia sudah banyak mengeluarkan keringat, entah kenapa ia kelihatan begitu sexy dan menggoda bagi para anak buah Lorenzo yang terkagum-kagum dengan kecantikan istri tuannya.
Menyadari itu Lorenzo menatap sinis mereka. "Ku congkel matamu!..."
Sontak saja mereka mengalihkan pandangan karena takut begitu pun dengan Raymond.
"Audi sudah selesai kau harus istirahat!.." Ujar Lorenzo kepada Claudia yang jaraknya lumayan jauh.
"Aku masih ingin berlatih..."
"Tidak!..." Tegas Lorenzo.
"Ayolah...." Bujuk Claudia dari kejauhan yang hanya ditanggapi dengan gelengan kepala oleh Lorenzo.
Claudia akhirnya menyadari jika Lorenzo sedang cemburu akan tatapan anak buah yang tertuju kepadanya. "Sebentar masih ada 3 peluru tanggung..."
Tidak ada jawaban dari Lorenzo ia menatap datar istrinya yang kembali berlatih, benar siapa saja yang melihat Claudia saat ini pasti akan terkagum-kagum.
"Hilangkan rasa cemburumu itu Claudia tidak akan berpaling..." Lirih Raymond dengan sengaja.
"Aku tidak mau anak buahku menatap Claudia seperti itu!.." Dingin Lorenzo dibakar api cemburu.
"Wajar istrimu cantik juga seorang model..."
__ADS_1
"Ck!..."
Lorenzo sontak melangkah menghampiri istrinya yang sudah selesai latihan membidik, ia merangkul pinggang ramping Claudia. "Ayo pulang, lain kali jika latihan cukup aku yang ada di tempat ini..."
"Kau masih cemburu?.." Kekeh Claudia.
"Tidak!..." Jawab Lorenzo dengan nada kesalnya.
"Haish...."
Setelah selesai berlatih Lorenzo memutuskan untuk kembali pulang ke rumah dengan Claudia. "Nanti malam kau datang ke rumahku ada sesuatu yang harus dibicarakan!..." Ujar Lorenzo sebelum menancap gas mobilnya kepada Raymond.
"Baiklah, aku sekarang mau ketemu Rayny dulu..." Balas Raymond.
"Tunggu! kurasa akhir-akhir ini kalian sering bersama?." Timpal Claudia.
"Tidak ada yang terjadi kami hanya bekerja sama dalam perusahaan.."
"I-iya...."
Setelah selesai mengobrol mereka kembali melaju ke tempat tujuan masing-masing, di perjalanan Lorenza tidak bersuara seperti biasanya. Ia masih cemburu saat di tempat latihan tadi, Claudia sesekali mengecup lembut pipi Lorenzo untuk meredakan amarahnya.
Tiba-tiba mobil Lorenzo berhenti di tepi jalan.
"Ada apa?..." Heran Claudia.
Dengan sedikit kasar dan agresif Lorenzo mencium bibir ranum Claudia dengan rakus, Claudia dibuat kelabakan dengan ulah Lorenzo. Karena ia kesulitan bernapas akhirnya dada bidang Lorenzo didorongnya agar ciuman itu terlepas.
"Ada apa denganmu? aku kesulitan bernapas..."
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari Lorenzo ia kembali menancap gas mobilnya, tentunya Claudia dibuat tak nyaman. "Maafkan aku jika ada salah..."
"Hmmm..." Hanya itu jawaban dari Lorenzo.
Setelah beberapa menit di perjalanan, akhirnya mereka sampai di pelataran mansion Lorenzo. Di dalam halaman rumah besar itu terdapat seorang wanita cantik yang sedang ditahan para anak buah agar tak masuk ke dalam.
Cathlin tersenyum ketika melihat Lorenzo yang baru turun dari mobil, ia sontak berlari dan berhambur ke dada bidangnya memeluk dengan erat. "Akhirnya setelah sekian lama, aku merindukanmu honey..."
Claudia menatap tajam pemandangan yang sedang terjadi di depannya, ia keluar dari dalam mobil itu. Di sini Lorenzo sengaja membiarkan Cathlin memeluknya dengan puas agar membuat Claudia merasakan cemburu seperti yang ia rasakan tadi di tempat latihan.
Tidak ada jawaban dari Claudia ia hanya menatap tajam manik suaminya yang seperti tidak bersalah sama sekali. "Apa kalian akan terus bermesraan di sini!.."
Cathlin menoleh ke arah Claudia. "Lihatlah sekarang suamimu bahkan tak menolak saat ku peluk, berarti dia masih sayang kepadaku..."
Di sini Claudia paham, rupanya Lorenzo ingin balas dendam akan rasa cemburu. "Benarkah? tapi sepertinya suamiku tak suka wanita gatal seperti dirimu Cathlin!..
Claudia hendak pergi ke dalam.
"Cih dasar wanita ****** berani sekali kau mengataiku gatal!..." Pekik Cathlin.
Seketika tangan kekar Lorenzo gatal amarahnya dibuat menggebu saat Cathlin bicara seperti itu, sebelum Lorenzo bertindak tiba-tiba....
SRET!...
"Aaakkhh!!...." Pekik Cathlin saat senjata kecil melukai pipinya hingga berdarah akibat ulah lempar senjata Claudia.
"Ah sayang sekali tidak mengenai matamu!...."
"K-kau!.... Bagaimana bisa?..."
__ADS_1
Bersambung....