
Pukul 06:00 pagi...
"Nyaman sekali..." Batin Ameera sudah terbangun tetapi mata masih terpejam. "Tunggu kenapa perutku terasa berat?."
Mata indah itu sontak terbuka perlahan melihat ke bawah, Ameera melotot saat melihat lengan kekar melingkar di perut rampingnya bahkan masuk ke dalam baju.
DEG!..
Pantas saja kasur yang ditempatinya empuk dan nyaman ternyata Ameera sudah dipindahkan tempat ke atas ranjang.
Nafas Jerome terasa hangat menerpa leher jenjang Ameera, jantung Ameera dibuat tak tenang mendapati itu. "Bagaimana bisa aku ada di sini?." "Tidak ini tak baik, ayo pergi tanpa membangunkannya!." Batinnya meronta.
Ameera perlahan memutar badan dengan hati-hati, terlihat Jerome begitu sangat tampan saat terlelap ia sontak menggeleng menepis pujian dalam hatinya, Tangannya mulai berusaha menyingkirkan lengan Jerome.
Bukannya malah terlepas, Jerome menarik tubuh ramping itu. Mata Ameera membulat sempurna saat benda kenyal yang terasa lembut sudah menyatu dengan bibirnya.
Ya bibir keduanya menyatu akan ulah Jerome yang menarik tubuh Ameera layaknya guling.
Ameera sontak mendorong dada bidang Jerome agar bibir mereka berdua terpisah. "Tidak! aku harus cepat pergi sebelum lelaki ini terbangun.." Batinnya.
Belum sempat Ameera beranjak, mata biru Jerome terbuka menatapnya. Ameera menelan saliva ia tak berkedip sama sekali bahkan ia bingung harus berbuat apa sekarang. "Ah ini, itu, aku emmm...."
Jerome menatap lekat bibir ranum Ameera yang beberapa detik lalu bertemu dengan bibirnya, perlahan tapi pasti karena dorongan dalam dirinya membara Jerome meraih bibir Ameera menciumnya dengan lembut.
Ameera mematung saat benda kenyal itu bermain leluasa pada bibirnya, ia sontak berontak memukul beberapa kali dada bidang Jerome.
__ADS_1
Jerome menahan lengan Ameera tanpa melepas pagutan, ia merubah posisi menindih tubuh wanita itu sehingga bebas bergerak.
Entah apa yang terjadi, Ameera perlahan luluh tangannya sudah tak berontak lagi. Ia memejamkan matanya mengimbangi ciuman Jerome.
Di sela ciuman itu Jerome tersenyum, ia memperdalam ciumannya sesekali menggigit bibir manis Ameera agar terbuka.
Jantung Ameera tak karuan dengan aksi mereka. "Tidak! ada apa denganmu Meera!.." Ia berusaha mengembalikan kesadarannya.
Ameera mendorong tubuh Jerome ia sontak turun dari atas ranjang. "Lupakan kejadian barusan! jika sudah selesai tuan bisa keluar dari kamar ini..." Ujar Ameera seraya pergi meninggalkan Jerome dengan wajah bak kepiting rebus.
Jerome tersenyum menyeringai sambil menyentuh bibirnya.
...~...
Ameera berkutat di dapur bersama bi Yuna untuk menyiapkan sarapan keluarga besar itu, ia sering menggelengkan kepalanya berkali-kali untuk menepis ingatannya tentang ciuman tadi bersama Jerome. "Lupakan!..."
"Nak Meera tak usah ini bukan pekerjaanmu.." Ujar Yuna
"Gak papa bi sesekali ikut bantu-bantu.."
"Ya sudah..."
Meja makan itu perlahan terisi oleh anggota keluarga Lorenzo, Claudia dan suaminya juga si kembar, Jerome juga baru menuruni tangga dan ikut duduk di sana.
Mata tajamnya melirik Ameera yang tampak acuh menyuguhkan hidangan, Jerome hanya diam mengetahui itu.
__ADS_1
Setelah masakan terhidang para pembantu pergi ke belakang. Mereka semua memulai sarapan pagi.
"Om apa kau akan pulang hari ini?." Tanya Zayn disela makannya.
"Sepertinya begitu tapi mungkin nanti akan sering kesini." Jawab Jerome.
"Benarkah?." Timpal Rayn.
"Ya..."
Claudia dan Lorenzo hanya tersenyum saja.
"Ada sesuatu yang ingin ku tanyakan kepada kalian berdua." Mulai Jerome kepada adik dan suaminya.
"Katakan ada apa?." Balas Lorenzo.
"Apa pembantumu Ameera sudah memiliki suami?."
Pertanyaan Jerome membuat semua orang yang ada di sana saling tatap satu sama lain.
"Tidak, dulu dia pernah bekerja di perusahaan besar namun mendapat pelecehan oleh atasannya hal itu membuatnya trauma hingga sekarang." Jawab Lorenzo.
Jerome terdiam. "Apa tindakanku tadi melecehkannya juga? tapi kita berdua sama-sama menikmati.." Batinnya bertanya-tanya.
__ADS_1
Visual { Ameera }
Bersambung....