Wanita 1 Triliun

Wanita 1 Triliun
BAB 77


__ADS_3

Jerome seketika terdiam mendapati itu, mata tajamnya tidak lepas menatap Ameera. "Seharusnya aku yang bertanya kenapa kau ada di kamar ini?."


Ameera melotot dengan pertanyaan konyol Jerome, tangan mulusnya masih setia menutupi bagian indah tubuhnya. "Karena ini kamar yang ku tempati!.."


Jerome manggut-manggut seraya melangkah ke arah Ameera.


"T-tunggu mau ngapain!.." Delik Ameera.


"Mau ngapain lagi jika sudah telanjang dada dan berkeringat seperti ini jika bukan mandi.." Jawab santai Jerome. "Apa ada hal lain dalam pikiranmu jika sudah berpenampilan seperti ini selain mandi?.." Lanjutnya.


"Tidak yang benar saja!.."


"Kenapa dirimu tegang?."


Ameera membuang nafas kasar. "Tuan Jerome yang terhormat ini kamar tempatku tolong pindahlah, maaf jika saya lancang!." Tegas Ameera.


Bukannya menjawab Jerome malah menyentuh lengan atas Ameera yang polos, tentunya Ameera terkejut apalagi lelaki itu mendekati lehernya. "Kau galak sekali, apa tidak takut dengan diriku?." Bisik Jerome.


"Tidak! seberapa tinggi kekuasaanmu kita sama hanya seorang manusia dimata Tuhan.." Timpal Ameera. "Maka dari itu cepatlah keluar sebelum aku berteriak.."


"Coba saja jika berani..." Jerome memasuki kamar mandi itu tanpa memperdulikan Ameera.


"Hey!!!..." Timpal Ameera menahan pintu kamar mandi.


"Apa kau mau ikut serta?." Tanya Jerome sambil tersenyum sinis ke arah Ameera.

__ADS_1


"Ah ya ampun tidak! tidak!, lakukanlah silahkan tuan.." Timpal Ameera menarik pintu kamar mandi hingga tertutup.


Jerome tersenyum menyeringai mendapati itu setelahnya ia memulai aktivitas mandinya. "Lucu sekali...."


Ameera mendengus kesal memaki-maki nama Jerome dalam hatinya, ia sontak mengambil pakaian dan ganti baju di kamar mandi ruang tamu.


Rasanya berat sekali melangkah memasuki kamar, namun Ameera menarik nafas mencoba tenang sambil tersenyum. "Jangan macem-macem Ra dia bukan sembarang gangster bisa-bisa nanti kamu dimutilasi.." Batinnya.


Di dalam kamar Jerome hanya mengenakan handuk sepaha memperlihatkan bentuk tubuh berototnya yang menawan bahkan sekarang dengan rambut basah, Ameera sontak membelakangi lelaki itu. "Pakailah bajumu dulu..."


Jerome hanya mengenakan celana dan kaos pendek.


"Emmm, begini tuan kamar sebelah kebetulan kosong jadi anda bisa tidur di sana." Ujar Ameera sopan.


"Aku akan tidur di sini kamar sebelah kuncinya tidak ada." Jawab Jerome dengan santai.


"Ya.."


"Mungkin tuan Lorenzo menyimpan kuncinya tuan..." Timpal Ameera lagi.


"Dia kecapean kau saja yang mengambilnya.."


"A-aku? aku tidak mau mengganggunya juga.." Balas Ameera tak nyaman.


"Ya sudah..." Jerome membaringkan tubuhnya di atas kasur itu.

__ADS_1


"Kenapa jadi seperti ini?." Batin Ameera menjerit, tidak ada lagi kamar kosong yang ada juga kuncinya di tangan Lorenzo.


Ameera tidak mungkin mengusir Jerome.


"Tidurlah di sini..." Lirih Jerome. "Kau sendiri pasti kelelahan, aku tidak akan melakukan apapun.."


"Silahkan istirahat tuan, saya tidur di bawah saja.." Sopan Ameera sambil tersenyum menyembunyikan rasa gugupnya, ia mengambil satu bantal dan menyiapkan kasur lantai untuk tidur di bawah.


"Baiklah..."


"Tadi dia galak sekali, kenapa sekarang lembut?." Batin Jerome.


Ameera memejamkan matanya berusaha untuk cepat tidur agar cepat menuju pagi hari. "Tenang Ra hanya satu malam saja..."


...~...


Jerome bangun dari tidurnya ia melirik Ameera di bawah sana yang sudah tampak tidur terlelap. "Gadis bodoh kenapa tidak memakai selimut?..."


Dengan perlahan Jerome mengangkat tubuh Ameera meletakkannya di atas kasur, tubuh Ameera refleks membelakangi tubuh lelaki itu.


Jerome menyelimutinya, ia perlahan ikut masuk ke dalam selimut itu. Mata tajamnya menatap punggung Ameera yang membelakangi.


Perlahan tapi pasti tangan kekar Jerome melingkar di perut ramping Ameera membawa tubuh gadis itu ke dalam dekapannya.


"Wangi sekali...." Lirih Jerome saat mencium aroma tubuh Ameera dari lehernya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2