
Jet pribadi datang menjemput atasannya, sebelum Lorenzo kembali ke New York ia dan si kembar mendatangi lautan C itu.
"Aku akan membalaskan dendam atas kejadian ini Audi!..."
Setelah selesai mereka lepas landas kembali ke New York, di mansion Lorenzo sudah ada kedua orang tuanya. "Nak polisi membawa jubah bekas Claudia dari lautan." Ujar Venny kepada putranya.
Lorenzo sontak mengambilnya menatap lekat jubah itu, sebisa mungkin ia menahan air mata tetapi tetap saja tak terbendung. "Jangan beranggapan istriku sudah meninggal aku tak terima mendengarnya!.."
Semua orang yang ada disitu terdiam dengan wajah sedih.
Raymond sontak mengikuti Lorenzo yang memasuki kamarnya. "Katakan sebenarnya apa yang terjadi saat kau berada di daerah lautan C?." Tanya Raymond siaga.
"Aku sudah mengirim video itu ke dalam laptopmu, tugasmu cari orang ini dia masih hidup tidak tewas!!.." Tunjuknya pada video. "Aku kesulitan bertindak saat di negara orang..."
Raymond terkejut mendapati kabar itu ia geram mendengarnya. "Baiklah akan ku gali dengan habis!, ah satu hal lagi anak buahmu saat menyelam di lautan C tidak menemukan barang peninggalan Claudia hanya jubahnya saja.."
Lorenzo terdiam ia sontak menghubungi para anak buah yang lain untuk menjalankan misinya..
"Wajah orang ini tidak asing bagiku..." Lirih Raymond mengotak-ngatik layar komputernya.
Drrrt....Drrrrt...
Handphone Lorenzo kembali berbunyi.
"Ck ada apalagi apa mereka masih tidak paham juga dengan arahanku?.."
"Hallo!..." Dingin Lorenzo menerima panggilan itu.
"Hallo?.." Ulangnya.
"Ini aku Claudia..." Jawab dari seberang.
__ADS_1
DEGG!!...
Lorenzo terkejut ia sontak melihat layar handphonenya dengan nomor tak dikenal bukan dari anak buahnya. "Audi?..."
Raymond sontak menatap tajam sahabatnya.
"Ini benar aku istrimu..." Jawab Claudia dari seberang sana.
Lorenzo sontak menutup mulutnya mata tajam itu tampak berbinar. "Aku sudah menduganya bahwa kau masih hidup!.."
"Jerome menyelamatkanku saat tragedi mengenaskan itu, datanglah ke hutan daerah A aku butuh bantuanmu!.." Balas Claudia.
Lorenzo peka akan situasi. "Baiklah sayang..."
"Beritahu Rayn dan Zayn dan jangan biarkan mereka berdua ikut denganmu..." Timpal Claudia lagi yang diangguki Lorenzo. "Cepatlah datang apa kau tidak merindukanku?.."
Terdapat senyum menyeringai dari sudut bibir Lorenzo, bisa-bisanya Claudia menggoda dalam situasi seperti ini. "Tunggu saja!.."
Panggilan itu berakhir.
Lorenzo sontak menatap tajam sahabatnya itu seolah memberi isyarat lewat mata, tidak lama Raymond mengangguk. "Baiklah sekarang waktunya kita bermain!.."
...***************************************...
Dengan tangan memegang perut bercucuran darah, lelaki itu sampai di depan atasannya dengan sempoyongan.
"Hito...."
"Re-rencana tidak sepenuhnya lancar tuan... Ada seorang pemimpin perusahaan besar New York yang mengetahui identitasku! istrinya ikut jatuh dalam tragedi pesawat yang kau rencanakan.." Lapor Hito terbata menahan sakit.
"Lorenzo Scottbryan?..."
__ADS_1
"Ya!... Kukira selama ini dia hanya fokus di perusahaan, tetapi kekuatan tubuhnya seperti bukan orang biasa pada umumnya." Lanjut Hito.
"Berhenti bergerak biarkan rekanmu yang mengurus sisanya, atau kau nanti tertangkap!..."
"Tidak! akan ku bunuh sendiri orang bernama Lorenzo itu, sehingga semuanya selesai!.." Tegas Hito yang masih dendam.
Katashi menatap lekat wajah anak buahnya tetapi dia tidak bersuara. "Terserah dirimu!..."
Hito sontak pergi untuk mengobati luka, Katashi kembali menonton berita dimana Jerome dikecam hampir seluruh dunia karena rancangan pesawatnya gagal. "Ah Jerome kau mudah sekali dilunakkan..." Angkuh Katashi sambil terbahak-bahak.
...~...
Pukul 00:14 malam...
Katashi terlelap tidur sehabis dilayani beberapa wanita bayaran, gangster berjaga-jaga di area kamar atasannya.
Angin sepoi-sepoi menerpa kulit Katashi yang masih berkeringat, matanya seketika terbuka saat menyadari bayangan hitam lewat dari jendela. "Zack?..." Panggilnya.
Tidak ada suara yang menjawab tetapi tidak lama. "Iya tuan..." Saut dari luar.
"Suaramu tampak beda apa kau sedang flu?."
"Benar..."
Katashi kembali berbaring ia perlahan memejamkan matanya itu, beberapa menit hendak terlelap tidur tiba-tiba...
TUK!!!...
Sesuatu yang dingin juga tajam terasa perih mengenai hidungnya, ia perlahan membuka mata, seketika matanya membulat sempurna saat melihat seorang wanita menggantung di atap sambil menodongkan pedang tajamnya pada hidung Katashi.
"Siapa dirimu?...."
__ADS_1
"Malaikat kematian!..." Datar Claudia.
Bersambung.....