Wanita 1 Triliun

Wanita 1 Triliun
BAB 64


__ADS_3

Perlahan tapi pasti Jerome mengeratkan pelukannya terhadap Claudia, ia hanya bisa melepas rindunya selama ini dengan membius Claudia untuk bisa leluasa meluapkan kerinduan. Karena tidak mungkin dalam keadaan sadar ia memeluknya.


Dada Jerome terasa sesak ia menahan diri untuk tak bertemu dengan Claudia sudah bertahun-tahun, air mata langka itu turun membasahi pipi. Sambil memeluk Claudia ia terisak sakit sekali rasanya...


"M-maafkan aku izinkan dulu seperti ini sebelum kau membunuhku..." Lirih Jerome dengan tatapan kosong.


...~...


Lorenzo terdiam setelah mendengarkan percakapan Claudia dan Jerome dari alat lacak yang dipasangkan pada tubuh istrinya itu.


"Apa kau akan menjemput Claudia kesana? dia tidak mungkin terbangun sekarang karena reaksi bius itu.." Ujar Raymond.


Tidak mungkin Lorenzo tak cemburu saat Claudia dipeluk lelaki lain sekaligus itu kakaknya sendiri, tentu jawabannya iya. "Aku tidak mungkin mengganggu mereka, sedangkan Claudia merindukan sosok kakak yang ternyata musuhku.."


Raymond terdiam ia dibuat pusing dengan masalah yang dihadapi Lorenzo, Claudia dan juga Jerome.


"Bunuh saja lelaki itu semuanya akan selesai! kau dulu tidak mengenal ampun dan begitu mengerikan, sekarang kenapa malah susah menentukan pilihan?." Ujar Raymond yang sudah frustasi.


Lorenzo sontak menatap tajam Raymond. "Kau tidak mengerti posisiku! aku bisa saja membunuh Jerome sekarang juga memulai peperangan ini, tapi bagaimana dengan perasaan Claudia!! aku sudah menduga sesedih apa dia nanti saat satu-satunya keluarga dia dibunuh suaminya sendiri!."


"Maka kaulah yang harus terbunuh..." Timpal Raymond mengutarakan unek-uneknya akan masalah rumit itu.

__ADS_1


"Ya jika aku terbunuh oleh Jerome pun dia akan membuat Claudia untuk membunuhnya juga!, lantas bagaimana dengan hidup istriku?.." Tegas Lorenzo.


Raymond meremas rambutnya kuat, Lorenzo sendiri kesulitan menemukan jalan keluarnya apalagi dia. "Hidup macam apa ini!..." Lirihnya.


"Berdamailah hentikan peperangan ini tidak ada yang menguntungkan sama sekali yang ada korban akan berjatuhan hingga kalian berdua terbunuh!..." Lanjut Raymond.


"Aku bisa saja mengakhirinya, tetapi bagaimana dengan Jerome yang bersikeras untuk membunuhku menuntaskan rasa dendamnya Raymond!.." Timpal Lorenzo dengan nada suara yang meninggi.


...~...


Claudia perlahan membuka matanya ia sontak merubah posisi tidur menjadi duduk, ia tahu jika dirinya pingsan akan ulah Jerome. "Berani sekali kau membiusku!."


Tidak ada jawaban dari Jerome ia hanya menatap datar Claudia. Ia perlahan melangkah menghampiri Claudia sambil menyodorkan sebuah kotak panjang.


"Pergunakan senjata ini untuk membunuhku setelah aku membunuh Lorenzo nanti! aku sudah mencoba ketajamannya..."


Hati Claudia bagai ditikam beribu panah setelah mendengar perkataan itu, ia sontak melemparkan kotaknya dengan keras air matanya sudah berlinang. "Kenapa kau malah semakin menyiksaku Lyu Jerome! apa kau sama sekali tidak merasakan kasih sayang sampai tidak memiliki rasa kasihan hah!!!..."


"Ya karena aku tidak pernah merasakan rasa itu!..." Bentak Jerome.


Claudia menarik baju Jerome. "Hentikan semua peperangan ini! kau hidup akan sia-sia jika untuk balas dendam! dengarkan aku... Aku hidup sudah merasakan begitu banyak kepedihan dan sekarang harus melihat suami dan kakak mati apa tidak ada secuil rasa kasihan dari benakmu!!!..." Pekik Claudia yang sudah berlinang air mata.

__ADS_1


"Aku adikmu Jerome, satu-satunya keluargamu yang masih hidup pulanglah ke jalan yang benar!..." Lirih Claudia disela isaknya.


"Aku lelah hidup jadi lupakanlah!.." Dinginnya.


Jerome mengalihkan pandangan ia menolak untuk menatap manik Claudia.


TOK! TOK! TOK!


Pintu ruangan itu diketuk dari luar, Jerome sontak mengabaikan Claudia dan melangkah untuk membukanya. Ia mengambil senjata karena merasa ada kejanggalan.


Claudia mengerutkan kening mendapati itu semua. "Tidak mungkin!..."


Jerome menendang pintu hingga terbuka ia sontak menodongkan senjata, dari luar Lorenzo juga menodongkan senjata apinya ke arah Jerome dengan tubuh yang sudah berlumuran darah.


"Lorenzo!!..." Pekik Claudia


Lorenzo menatap tajam Jerome. "Kembalikan istriku atau kau ku bunuh sekarang juga!.."


"Aku yang akan membunuhmu duluan!!..." Dingin Jerome dengan tatapan yang tak kalah tajam.


Claudia sontak berlari dan berdiri diantara keduanya. "STOP!!! lebih baik aku saja yang kalian bunuh, ayo lakukan!..."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2