Wanita 1 Triliun

Wanita 1 Triliun
BAB 49


__ADS_3

"Apalagi yang kau inginkan? Claudia sudah bercerai denganku, tentang kehamilannya aku juga tidak menyangka dia akan bisa memiliki anak.." Timpal Andrean.


"Aku sangat iri dengan wanita itu! seharusnya kau dulu tidak menjualnya kepada Lorenzo, biarkan dia dinikmati para hidung belang dan menderita di jalanan!." Pekik Seera.


Andrean dibuat terkejut dengan kata-kata jahat istrinya, bagaimana bisa Seera berani berucap seperti itu disaat hamil besar.


"Jika saat itu Claudia tak ku jual kepada Lorenzo, perusahaan kita sudah bangkrut Seera. Jangan terlalu menyalahkan Claudia dia juga bisa dibilang telah membantu perusahaanku!." Ujar Andrean dengan nada bicara sedikit tinggi.


"Kau bicara seperti itu, apa kau masih mencintainya!."


Andrean frustasi dengan sifat Seera yang seperti ini. "Kalo iya kenapa?, seharusnya aku tidak mendengarkan saran gilamu itu ternyata ahlak Claudia lebih baik dari dirimu!."


"Apa! kau menyalahkanku?..." Pekik Seera yang tak menyangka akan ucapan suaminya.


Karena tidak mau debat lebih panjang, Andrean meninggalkan istrinya di ruang tamu. Saat Seera ingin menyusul Andrean tiba-tiba perutnya terasa sangat sakit. "A-aaaaakkhh!...."


Langkah Andrean terhenti ia sontak menghampiri Seera dengan wajah khawatir. "Ada apa? kenapa?..."


"Aaaakkh! sakit...." Ringis Seera sambil menyentuh perutnya.


"Sepertinya kau akan melahirkan."


Andrean sontak menggendong istrinya ke mobil, dengan perasaan campur aduk mereka melaju membelah jalanan raya menuju rumah sakit.


Benar saja Seera melahirkan anak keduanya dengan jenis kelamin laki-laki.


*


*


*

__ADS_1


Satu minggu berlalu....


Luka tembak pada lengan Claudia sudah sembuh, ia kembali pada pekerjaan modelnya.


Seperti malam ini ia baru bisa kembali ke kamar pribadi dimana suaminya berada. Saat melihat Claudia pulang, Lorenzo sontak mematikan semua layar komputer takut ia mengetahui pekerjaan dunia bawah kekuasaannya yang mengerikan.


"Kau sudah selesai?..." Tanya Lorenzo sambil melangkah mendekati istrinya.


"Hmmm.." Jawab Claudia wajah cantiknya tampak sedikit kelelahan.


"Berhentilah dulu kau sedang mengandung.." Ujar Lorenzo menarik pinggang Claudia ke dalam dekapannya.


"Aku lebih kesepian jika tidak bekerja, kau juga sibuknya melebihi diriku tidak mungkin aku mengganggumu.." Balas Claudia menatap lekat wajah tampan itu.


"Aku bekerja untukmu dan perusahaan besar ini..."


Claudia tersenyum. "Baiklah aku mengerti..."


"Audi kita sudah lama tidak melakukannya, apa kau tak kasihan dengan diriku?...."


Tampak wajah cantik Claudia merona, namun tidak lama ia sontak melepas genggaman suaminya. "Aku kelelahan lain kali saja ya...."


Lorenzo terdiam ia merasa sedikit kecewa tapi disatu sisi ia juga tidak boleh egois, mata birunya hanya melihat Claudia memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Aku tak bisa menahannya dia benar-benar semakin cantik dan menggoda, tapi.... Aaargh!..." Lirih Lorenzo membuang nafas berat, ia harus mementingkan kesehatan Claudia yang kelelahan.


20 menit berlalu....


Lorenzo sontak melirik pintu kamar mandi ketika dibuka dan keluarlah Claudia, senyumnya hilang menjadi raut wajah yang tak bisa diartikan.


Claudia keluar hanya mengenakan lingerie berwarna merah sexy yang memperlihatkan paha jenjang juga leluk tubuh lainnya yang terekspos.

__ADS_1


"Audi...."


Claudia menoleh. "Hmm? belum tidur?.."


Berkali-kali Lorenzo menelan salivanya, kenapa malam ini Claudia malah mengenakan baju seperti itu?.


Claudia naik ke atas kasur ia membalas tatapan suaminya yang tak bisa diartikan.


"Audi ayolah jangan seperti ini kau terus-terusan menggodaku tanpa mau bertanggung jawab!.." Lirih Lorenzo resah.


"Bisa-bisa nanti aku hilang kendali kau sedang kelelahan, cepat ganti baju dengan yang biasa setelah itu tidur!." Lanjut Lorenzo lagi sambil mengalihkan pandangan.


"Tidak.." Jawab Claudia.


"Tidak???..." Balik tanya Lorenzo.


Claudia sontak beralih duduk di pangkuan suaminya, ia mengecup bibir Lorenzo sekilas. "Aku akan bertanggung jawab...."


Lorenzo terdiam dengan perlakuan istrinya. "Kau yakin?."


"Ya..." Balas Claudia ia kembali mencium bibir suaminya.


Lorenzo tak menyia-nyiakan kesempatan ini, ia membalas ciuman itu dan m*lumatnya penuh kelembutan. Turun ke leher dan meninggalkan bekas kepemilikan di dada.


Tali lingerie perlahan Lorenzo turunkan sehingga memperlihatkan area tubuh berharga Claudia. Claudia menggigit bibir bawahnya ketika tangan kekar Lorenzo sudah bermain di area lekuk tubuh lainnya.


Tanpa melepas pagutan mesra, keduanya melakukan penyatuan dengan gairah masing-masing yang membara.


Claudia mencakar punggung Lorenzo disela kegiatan panas mereka, keringat perlahan membasahi tubuh keduanya.


Bukan hanya sekali mereka melakukannya lagi dan lagi, kamar pribadi itu menjadi saksi bisu kedua pasangan yang sedang memadu kasih.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2