Wanita 1 Triliun

Wanita 1 Triliun
BAB 47


__ADS_3

"K-kenapa harus ke kamarmu?.." Selidik Rayny dengan terbata.


"Apa kau mau menjadi nyamuk diantara Claudia dan Lorenzo?.."


"Tidak!.." Sontak Rayny.


"Baiklah kalau tidak mau ikut, tunggu saja di luar duduk di lantai atau kau kembali ke lantai bawah menunggunya di sana.." Ujar Raymond yang hendak melangkah pergi ke kamarnya.


Rayny sontak menahan lengan kekar sekretaris Lorenzo itu. "Apa tidak ada tempat lain selain kamarmu? aku tidak mau duduk di lantai apalagi sampai menunggu turun ke lantai bawah lagi."


"Ada kamar mandi tunggulah di sana!.."


Rayny memutar mata malas menahan kesal. "Aku serius.."


"Aku juga serius, batasi pikiranmu jangan sampai berpikir liar seperti itu.."


"T-tidak!!! ayo masuk saja aku tak keberatan..." Timpal Rayny tak terima disangka seperti itu, ia memasuki kamar Raymond sambil menabrak dada pemiliknya dengan kasar.


Raymond melirik Rayny ia menyunggingkan senyum tipis sekilas, setelahnya ia mengikuti langkah wanita itu memasuki kamarnya.


Rayny terdiam setelah memasuki kamar Raymond matanya menyapu sekeliling. "Sampai kapan aku di sini?.." Batinnya.


"Itu ada kursi duduklah jika kau mau, di sana ada tempat tidurku juga tidurlah jika kau mengantuk." Ujar Raymond sambil melangkah menuju tempat kerjanya.


"Aku akan numpang mandi tubuhku berkeringat gara-gara lari barusan.." Balas Rayny ia merasa canggung jika harus berduaan di ruangan yang sama dengan lelaki.


Tidak ada jawaban dari Raymond ia hanya menatap Rayny yang memasuki kamar mandi.


...***...


Jari lentik Claudia bergerak, perlahan tapi pasti ia membuka matanya, tampak wajah tampan yang tersenyum di hadapan Claudia. "Aku di sini....." Lirih Lorenzo ia sontak mengecup lembut bibir ranum Claudia.

__ADS_1


"Bagaimana dengan lenganmu?.." Tanya Lorenzo setelah melepas ciumannya.


"I-ini tidak sesakit tadi...."


"Aku akan membalasnya!!..." Timpal Lorenzo sambil tak henti mencium perut Claudia.


Claudia tersenyum rasa takutnya sekarang hilang setelah melihat sang suami.


"Aku akan ke kamar Raymond sebentar ada sesuatu yang harus diurus!.." Ucap Lorenzo yang diangguki Claudia.


Lorenzo sontak melangkah pergi menuju kamar Raymond ia mengetuk pintu itu, tidak lama pintu terbuka dan Lorenzo masuk ke dalam.


"Katakan ada apa?.." Tanya Raymond.


"Claudia sudah sadar kau harus......"


Ucapan Lorenzo terhenti ketika mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, ia mengerutkan keningnya sambil menatap Raymond. "Siapa yang mandi?.."


"Itu Rayny...."


Raymond menggaruk kepalanya sekilas. "Tadi dia..."


"Ah nanti saja, lanjutkan!..." Timpal Lorenzo yang sontak pergi.


Raymond memijit keningnya. "Jangan salah paham..." Ucapnya pada diri sendiri...


Claudia menatap penuh tanda tanya ketika melihat suaminya kembali lagi. "Kenapa?..."


"Ada Rayny sedang mandi di kamar Raymond aku tak mau mengganggunya.."


Claudia sontak membulatkan mata. "Hah Rayny???..."

__ADS_1


"Iya..."


Claudia tak menyangka tapi mendapati itu ia tersenyum..


"Audi ada sesuatu yang ingin ku tanyakan..." Mulai Lorenzo serius, ia berkutat dengan 5 layar komputer sekaligus tangannya mengaktifkan tombol pada benda kecil yang ada di telinganya.


"Silahkan..." Jawab Claudia dengan nada bicara yang masih lemah.


"Apa sebelum kita bertemu kau dekat dengan seseorang dari kecil maupun hingga dewasa?." Selidik Lorenzo sesekali menatap lekat wajah cantik istrinya.


Claudia mengerutkan kening mengingat semuanya. "Kedua orang tuaku meninggal disaat aku berumur 7 tahun, sehingga hanya aku dan kakak lelakiku. Aku diurus oleh bibiku dan kakak lelakiku memilih untuk tinggal di panti asuhan namun sayang....."


Wajah Claudia terlihat murung. "Sampai sekarang aku tidak tahu keberadaannya hidup maupun mati, kakakku hilang bagai ditelan bumi..."


"Selama dibesarkan oleh bibi aku hanya bersahabat dengan Rayny hingga bertemu dengan Andrean.." Jelas Claudia..


"Ada apa memangnya?.." Claudia balik bertanya.


Lorenzo terdiam ia mencerna setiap ucapan istrinya, otak jeniusnya menerawang kemana-mana. "Katakan siapa nama kakak lelakimu..."


"Charlie Lyu Jerome..."


Seketika Lorenzo menatap tajam wajah Claudia dengan raut yang tak bisa diartikan. "Jerome!!!...."


"Iya kalau gak salah, kenapa kau sekaget itu?."


Lorenzo sontak tersenyum sambil mengelus pipi lembut Claudia. "Tidak ada kamu istirahat saja agar cepat pulih, aku akan ada di sampingmu bekerja.." Sengaja Lorenzo berbohong.


"Iya..." Balas Claudia.


Setelah itu Lorenzo kembali fokus dengan 5 layar komputernya, ia sejak awal juga merasa ada keanehan. Sniper itu hanya menembak lengan Claudia bukan dada ataupun area kelemahan lainnya sehingga dapat membunuh.

__ADS_1


Lorenzo menatap wajah cantik Claudia yang tertidur tenang. "Audi, maafkan aku......."


Bersambung.....


__ADS_2