Wanita 1 Triliun

Wanita 1 Triliun
BAB 55


__ADS_3

Dari sudut bibir Lorenzo terdapat senyum menyeringai saat Claudia berkata seperti itu, ia berjalan mengikuti langkah istrinya menuju kamar Rayn sama Zayn. Lorenzo untuk saat ini memilih untuk tidak mengurus pekerjaan ataupun konfliknya dengan Jerome, ia hanya ingin bersama dengan istri dan kedua putranya.


"Sini Rayn..." Ucap Claudia sambil menggendong putra pertamanya untuk disusui terlebih dahulu.


Lorenzo sontak mengalihkan pandangan saat Claudia membuka kancing bajunya untuk menyusui, ia seperti itu hanya tidak mau terbawa suasana jika terus melihatnya takut nanti Lorenzo tak bisa mengendalikan diri.


"Kenapa kau mengalihkan pandangan?.." Tanya Claudia.


"Jika tak seperti ini maka Zayn tak kebagian..." Balas Lorenzo dengan entengnya.


Claudia mengerti maksud Lorenzo tetapi ia hanya tersenyum, setelah Rayn selesai kini bagian sang adik Zayn untuk disusui.


Lorenzo cukup sabar menahan pandangannya di sini demi kedua putranya, setelah selesai menyusui Zayn dibaringkannya ia di samping sang kakak.


Tangan kekar Lorenzo dipegang erat kedua putranya, melihat itu Claudia terkekeh. "Ngomong-ngomong pipi Rayn lebih chubby dari Zayn yang tirus.."


Lorenzo tersenyum. "Iya....."


Much! much! much! much!... Claudia tak henti-henti mengecup gemas kedua putranya.


"Apa daddy-nya tidak dapat kecupan?.." Timpal Lorenzo.


"Kau kan sering..."


"Sekarang kalah lebih banyak diambil si kembar." Jawab Lorenzo dengan entengnya.


Claudia menatap tatapan lekat suaminya. "Kau iri sama putramu sayang?..."

__ADS_1


"Ya..."


"Ada-ada saja." Kekeh Claudia.


Cukup lama keduanya bermain menghabiskan waktu bersama Rayn dan Zayn, setelah kedua bayi itu tertidur mereka menitipkannya kepada bodyguard wanita rekannya Alyysa seperti biasa untuk menjaga di kamar si kembar.


Di kamar Lorenzo...


Claudia terdiam sesaat ketika melihat bekas luka pada punggung kekar suaminya, ia menyentuhnya perlahan. "Kenapa kau menyembunyikan kekuasaan dunia bawahmu kepadaku?.."


Lorenzo memutar badan menghadap Claudia. "Kau akan khawatir bahkan mungkin tidak mau menjadi istri dari mafia se-mengerikan diriku.."


"Dan kau sekarang malah sudah berlatih akan senjata dan taktik serangan tanpa sepengetahuanku, jangan ikut campur lagi kau tahu sendiri aku tak mau terjadi apa-apa.." Lanjut Lorenzo.


"Baiklah aku mengerti..." Balas Claudia sambil tersenyum.


"Ayo kita membersihkan diri bersama setelah itu tidur..."


"Hmmm baiklah..."


Keduanya memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri selebihnya biar dinginnya malam yang menjadi saksi.


...***...


Di tempat lain..


"Aku sudah mengetahuinya jika wanita bertopeng itu adalah Claudia.." Lirih Jerome sambil menatap foto istri dari musuhnya.

__ADS_1


Rafael menghampiri sahabatnya. "Ingat dengan rencana yang telah kau susun selama bertahun-tahun untuk menghabisi Lorenzo, lupakan bahwa Claudia adalah adikmu!..."


Jerome terdiam wajah dinginnya tidak ada reaksi apa-apa.


"Yang harus kau waspadai adalah taktik jenius Lorenzo ia bisa benar-benar mematikan jika sudah bergerak dengan serius, apalagi jika di sampingnya ada Raymond." Lanjut Rafael.


"Hahahaha hahaha!!!!...." Jerome tertawa terbahak-bahak membuat seluruh anak buahnya terdiam karena ketakutan.


"Aku tidak takut kepada bedebah itu!.." Datar Jerome.


"Lantas kenapa saat di hutan kau memperlambat perlawanan membiarkan mereka pergi, padahal kau bisa se-bengis dan se-berutal biasanya!..."


"Diam! apa hakmu? ini urusanku Rafael!..." Tegas Jerome dengan tatapan tajamnya.


"Baiklah maafkan aku karena telah lancang, tapi apa karena kehadiran adik angkatmu Claudia kau jadi begini?."


Bersambung...



Visual { Charlie Lyu Jerome }



Visual { Rio Steven }


__ADS_1


Visual { Dokter Alyysa }


__ADS_2