
Sembilan sniper bersiap dengan senjata pelempar bom mematikannya, Rafael memberi aba-aba dengan teliti. Semua itu tidak lepas dari pantauan Jerome dari markasnya.
"Baiklah mari kita mulai pertunjukan ini Lorenzo Scottbryan, kau sudah begitu lama mengabaikanku!..." Lirih Jerome sambil memantau pergerakan anak buahnya.
"Apa kita mulai sekarang?." Tanya Rafael kepada Jerome dari seberang.
"Ya!.."
"Baiklah..."
Setelah berpelukan si kembar dan para kerabat kembali menikmati pesta di halaman rumah besar itu, Claudia memicingkan matanya saat melihat keanehan dari gedung yang tidak jauh dari mansionnya.
"Sembilan senjata?." Batinnya yang bertanya tetapi tidak lama matanya melotot menyadari sesuatu. "Tidak!.."
Dengan secepat kilat Claudia menyentuh tombol pemanggil gangster anak buah Lorenzo. "Semuanya merunduk!!!..." Teriak Lorenzo yang menyadari itu.
"Lempar!!!..." Ujar Rafael.
DUAR!!! DUAR!! DUAR! DUARRRR! DUARRRR!!! DUAAAAARRRR!!.....
Suara jeritan orang-orang terdengar memilukan, mansion besar Lorenzo setengah dari bangunan runtuh akibat bom itu.
Para gangster anak buah Lorenzo tiba di sana, mereka pasang badan dengan senjata lengkap. Bahkan menembaki berkali-kali arah dilemparkannya bom itu, orang-orang yang terkena runtuhan langsung dilarikan ke rumah sakit.
__ADS_1
"Sial mereka beraninya menyerang dengan cara konyol seperti ini!..." Geram Raymond yang memantau pergerakan musuh.
"Mereka belum jauh dari sini!..." Tegas Lorenzo yang diangguki para anak buahnya.
Claudia terbangun dari jatuhnya akibat reruntuhan, ia mengibas rambut indahnya karena terkena debu, lututnya juga berdarah. "Sial! dimana Rayn dan Zayn?..." Pekiknya khawatir saat tidak melihat keberadaan sang putra di sana.
"Mereka pergi..." Jawab Lorenzo yang sontak menarik tangan Claudia ke tempat aman.
"Pergi kemana!..."
"Jangan khawatir aku percaya kedua putraku!..." Balas Lorenzo.
Tanpa pikir panjang Claudia langsung mengambil senjata api berukuran besar. "Aku akan menghabisi brengsek itu!.."
"Baiklah hati-hati bawa kembali Rayn dan Zayn, jangan biarkan Zayn lepas kendali ia sangat brutal tidak seperti kakaknya." Ucap Claudia serius yang diangguki suaminya, setelah itu Lorenzo berlalu pergi.
Rafael dan sembilan rekannya dengan teliti kabur dari area pantauan gangster anak buah Lorenzo, tetapi sayang seberapa pintarnya mereka menggunakan taktik pergerakannya dapat dikejar si kembar.
"Mau kemana?..." Dingin Zayn yang sudah berlumuran darah karena sehabis adu gencatan pisau dengan sniper yang berhasil dihabisinya tadi.
Rafael tersenyum sinis melihat Rayn dan Zayn di hadapannya yang menghadang. "Aku tidak akan melukai kalian, pergilah jangan menghalangi atau kalian berdua akan mati!.."
"Banyak bicara!.." Pekik Rayn yang menyerang salah satu dari mereka.
__ADS_1
Kesempatan ini digunakan Rafael untuk lolos sesuai arahan dari Jerome. Zayn semakin geram ia menghindari tembakan beruntun dari para sniper dengan gesit sehingga mereka kelelahan menghadapi si kembar yang sangat lincah.
Rayn berhasil menghabisi sniper dengan senjata apinya sedangkan Zayn melakukannya dengan senjata pisau. Setelah semua sniper mati dengan tragis, Zayn sontak mengejar Rafael yang berlari menuju helikopter.
"Zayn kendalikan amarahmu jangan main-main dengannya dia sangat berbahaya!.." Teriak Rayn kepada sang adik.
"Persetan dengan itu!.." Datar Zayn.
Rafael sontak menaiki tangga helikopter utusan dari Jerome, dengan sekuat tenaga Zayn menembakkan cairan pelumpuh tubuh kepada Jerome. "Akh bocah sial!.."
Jerome geram ia mengambil senjata api lalu menembakkan peluru ke arah Zayn yang sudah terjatuh lemas penuh luka akibat pisau dari pertarungan tadi. DORR!!..
"Zayn!..." Teriak Rayn saat melihat Zayn terkena tembakan di paha.
"Aaaarrgh!.." Pekik Zayn menahan rasa panas dan perih akibat peluru.
Helikopter Rafael sudah lepas landas, namun kondisi Rafael tidak lama memburuk akibat cairan yang ditembakkan Zayn sudah beraksi. "Sial bocah itu benar-benar gesit, aaargh! cepat tangani aku tak sudi lumpuh!!!..." Pekik Rafael kesakitan.
"Iya tuan..." Balas anak buahnya.
Kekacauan yang direncanakan Jerome bukan hanya di kediaman Lorenzo, tetapi tuan Abraham dan istrinya di istana kepresidenan ikut di bombardir. Lorenzo dibuat sedikit kewalahan ia mengutus Raymond juga Rio dan para anak buah yang lain ke istana kepresidenan, sedangan Lorenzo bergerak menghabisi musuh sambil mencari keberadaan kedua putranya.
Claudia mengepalkan tangan kuat. "Jerome... Tunggu kedatanganku!!!."
__ADS_1
Bersambung....