
Jerome dibawa Lorenzo untuk masuk ke dalam mansion.
"Ada satu hal yang ingin ku tanyakan kepadamu.." Mulai Claudia
Jerome meletakkan gelas setelah meminumnya. "Tentang apa?."
"Apa sebenarnya yang terjadi kepada Rafael? kenapa waktu itu kau menyebutnya sebagai pengkhianat.." Terus terang Claudia mengungkapkan rasa ingin tahunya.
"Apa Lorenzo sudah memberi tahu dirimu?." Balik tanya Jerome.
Claudia sontak menatap Lorenzo dengan tatapan penuh tanda tanya. "Memberi tahu apa?.."
"Rafael dalang dibalik semua ini mengadu domba diriku dengan suamimu, dia dulu sengaja merubah penampilan menyerupai Lorenzo untuk menjebaknya. Untung saja Lorenzo memberikan bukti tepat waktu sehingga waktu itu aku tak jadi membunuhnya.." Jelas Jerome.
Claudia sedikit terkejut mendengar hal itu. "Kenapa kau tidak memberitahu diriku?." Lirihnya kepada Lorenzo.
"Semuanya sudah selesai Audi.." Jawab Lorenzo sambil tersenyum.
"Lantas sekarang bagaimana dengan Rafael?." Lanjut Claudia.
Jerome dan Lorenzo saling tatap satu sama lain. "Dia dieksekusi sesuai perbuatannya.."
"Syukurlah aku harap kalian tidak terlalu tragis melakukan itu." Timpal Claudia.
"Tidak juga, kami hanya merebusnya dengan cairan mendidih.." Jawab enteng Lorenzo yang diangguki oleh Jerome.
__ADS_1
Si kembar sontak mengalihkan pandangan, mereka berdua setelah mendengar itu merasa merinding. Daddy, mommy, dan pamannya bukanlah orang sembarangan mereka menguasai dunia bawah mafia, bahkan orang-orang sekelilingnya juga seperti itu.
"Sebenarnya ada sesuatu yang tidak kalian ketahui, dan ini sangat disayangkan sekali." Ujar Claudia dengan nada bicara sedikit murung.
Mereka semua menatap lekat wajah Claudia.
"Saat serangan terakhir kemarin aku sedang mengandung adik Rayn dan Zayn, sayangnya keguguran karena terlalu aktif akan serangan.."
Tentunya mereka semua terkejut apalagi Lorenzo. "A-audi...."
"Mom!..." Serentak si kembar.
Jerome membuang nafas panjang. "Ini salahku karena serangan itu anakmu tak tertolong..."
"Tak apa kami bisa membuatnya lagi kapanpun.." Timpal Lorenzo dengan wajah polos.
"Aku percaya padamu..." Balas Jerome.
"Haish, sudahlah jangan membahasnya ada si kembar!." Tegas Claudia dengan wajah merah.
"Ah tak apa kami tidak keberatan kok mom..." Serentak keduanya.
Setelah selesai mengobrol, Jerome berdiri dari duduknya. "Aku akan kembali lagi ke perusahaan sekarang."
"Secepat itu om?.." Tanya Rayn.
__ADS_1
"Pamanmu sibuk juga sayang.." Timpal Claudia.
"Baiklah..."
Setelah selesai berpamitan Jerome keluar dari mansion besar itu menuju helikopter dimana para anak buah menunggunya, samar-samar Jerome mendengar nyanyian kecil dari taman samping mansion Claudia ia menghentikan langkahnya untuk melihat itu.
Seorang wanita cantik tampak ayu dengan rambut panjang dikepang sedang menyiram bunga diiringi nyanyian kecil, mata tajam Jerome menatap lekat setiap gerakan gemulai wanita itu.
Lorenzo mengerutkan keningnya saat melihat Jerome mematung di tempat, ia dari dalam mansion mengikuti arah pandang Jerome.
"Ameera?..." Gumam Lorenzo.
Ameera berhenti menyiram bunga saat ia merasa dari tadi ada yang memperhatikan gerak-geriknya, ia memutar badan dan bertemulah manik indahnya dengan Jerome.
Ameera sontak membungkuk hormat ke arah Jerome, tetapi hatinya dibuat tak karuan ketakutan. "Bukankah orang itu musuh besar tuan Lorenzo? kenapa dia terus-terusan menatapku dengan tatapan seperti itu?." Batinnya menjerit.
Dengan keberaniannya Ameera melangkah menghampiri Jerome. "Apa ada sesuatu yang bisa saya bantu? kenapa anda dari tadi melihatku terus?."
"Tidak ada..." Jawab dingin Jerome, namun tangan kekarnya menarik ikat rambut yang mengepang rambut panjang Ameera sehingga jatuh terurai indah.
Tentunya Ameera dibuat terkejut.
"Hanya itu saja..." Datar Jerome, setelahnya ia berlalu pergi menaiki helikopter.
Bersambung....
__ADS_1