Wanita 1 Triliun

Wanita 1 Triliun
BAB 62


__ADS_3

Lorenzo menghabisi satu persatu gangster utusan dari Jerome dengan para anak buahnya tanpa mengenal ampun, debu dan asap akibat suara runtutan senjata terdengar di mana-mana.


"Di sini keadaan membaik karena bantuan dari aparat keamanan, hanya saja nyonya Venny pingsan karena syok berat kau tak perlu khawatir semuanya telah ku urus dengan baik." Lapor Raymond dari istana kepresidenan.


"Baiklah..."


"Apa aku harus mengirim aparat keamanan dari sini?." Tanya Raymond.


"Tak perlu aku akan menyelesaikannya dengan sendiri!."


"Baiklah kendalikan amarahmu jangan mengoyak tubuh mereka terus-menerus.." Ujar Raymond.


"Cih!..."


Lorenzo kembali menghabisi anak buah Jerome yang lumayan menjengkelkan dengan senjata mengerikannya tanpa ampun, ia melepas jubahnya karena sedikit mengganggu sehingga menampakkan tubuh kekarnya yang atletis.



DOR! DORR!! DUAAAAAARRR!!!....


Karena kegesitan juga kelincahan Lorenzo dalam taktik bertarung satu persatu musuh tumbang dengan tragis penuh darah, nafas Lorenzo ngos-ngosan ia memberi kode anak buah yang lain untuk menjaga kaum wanita di tempat aman takut ada serangan lagi di sana.


Claudia mondar-mandir tak tenang ia sontak mengambil senjatanya. "Alyysa ku percayakan korban kepadamu!..."


"Baik nyonya!.."



Setelah menyiapkan senjata Claudia berlari ke arah Lorenzo di kejauhan sana. Mata tajam Lorenzo menatap sinis ke arah drone Jerome yang memantau pergerakannya dari atas langit.


Dari tempat lain Jerome menatap layar pantauan sambil meniupkan asap rokok ke udara. Seolah-olah ia sedang adu tatapan tajam dengan Lorenzo.


Lorenzo memberi kode kepada Claudia yang sedang berlari ke arahnya, tangan kekar Lorenzo perlahan diangkat ia mengarahkan jari tengah ke arah drone itu dengan tatapan dingin. "F*ck you!..." Sinisnya.


"Sial!!." Ujar Jerome merasa dihina dari seberang.


Claudia loncat ke arah Lorenzo, Lorenzo menahan pinggang ramping Claudia. Dari atas pangkuan Lorenzo, Claudia membombardir drone itu hingga hancur berkeping-keping dengan senjata.

__ADS_1


Sehingga lenyaplah layar pantauan Jerome... Ia menatap datar layar pantauan itu tanpa ekspresi apapun. "Claudia...."


Lorenzo menurunkan Claudia setelah selesai. "Apa kau baik-baik saja?.." Tanya Claudia khawatir.


"Aku gak papa Audi..."


"Rayn dan Zayn belum ditemukan entah dimana letak lokasi mereka mengejar brengsek Rafael itu!.." Lanjut Lorenzo geram.


Claudia menggigit bibir bawahnya merasa cemas. Tidak lama para gangster anak buah Lorenzo datang membawa Rayn dan Zayn penuh luka.


"Tuan!..." Ujar salah satu gangster kepada atasannya.


"Rayn! Zayn!..." Pekik Claudia yang berlari ke arah putranya diikuti Lorenzo.


"Aku tidak apa-apa, tapi Zayn....." Lirih Rayn yang membopong tubuh sang adik penuh darah.


Mereka langsung ke tempat aman untuk mengobati luka-luka si kembar oleh dokter Alyysa.


Rayn terdapat luka pukulan dan goresan bagian wajah juga lengan, Zayn yang paling parah di bagian dada terdapat tiga sayatan pisau dan luka tembak di paha.


"Jangan khawatir, jangan khawatir, matamu!!!..." Timpal Rayn kesal kepada sang adik.


"Sudah jangan berantem!.." Ucap Claudia kepada keduanya yang sedang diobati.


"Zayn kamu harus bisa mengontrol emosi seperti kakakmu untuk mencegah hal buruk terjadi seperti ini, kamu bisa menggunakan senjata lain jangan terburu-buru menggunakan pisau itu lumayan mengerikan.." Lanjut Claudia.


"Aku geram ingin mengoyak para bedebah itu mom!.." Jawab Zayn yang masih emosi.


"Mommy khawatir akibatnya akan lumayan.." Balas Claudia.


"Tap.. Mmmm!!!." Timpal Zayn yang tak bisa menyelesaikan ucapan karena bibirnya dicomot lengan sang kakak.


"Jangan banyak bicara diamlah!." Sinis Rayn.


"Ck!.." Lirih Zayn dengan terpaksa.


Tidak lama Raymond datang menghampiri Lorenzo.

__ADS_1


"Mereka berhadapan dengan agen kelas terbaik utusan Jerome, jika Rayn dan Zayn lemah mungkin saja mereka sudah mati..."


"Sudah ku duga putraku tidak selemah itu.." Jawab Lorenzo.


Setelah keadaan mulai reda, Lorenzo dan anak istrinya pindah ke mansion lain. Entah berapa mansion yang jelas Lorenzo memiliki kediaman di setiap tempat penuh penjagaan ketat anak buahnya.


...*...


...*...


...*...


Rafael masih meringis kesakitan karena efek cairan berbahaya itu, namun keadaannya sekarang lumayan membaik karena penanganan tidak telat kepadanya.


PLAK!!!...


Sebuah tamparan keras berhasil mendarat di pipi Rafael sehingga lelaki kekar itu tersungkur ke lantai akan ulah Jerome. "Argh! ada apa denganmu!..."


"Kau sudah melanggar perintah Rafael! kenapa kau malah melukai Zayn hah? hanya aku yang bisa melakukan itu!!!..." Bentak Jerome menggema di setiap ruangan.


"Bocah itu hampir membuatku lumpuh apa aku akan melepasnya begitu saja!." Timpal Rafael.


"Cih!!!.." Decak Jerome sambil meludah sembarang arah.


Saat mereka berdua adu mulut tiba-tiba anak buah Jerome datang. "Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu tuan..."


"Siapa!." Dingin Jerome.


"Dia menyebabkan keributan di daerah tempat A sehingga banyak sekali korban berjatuhan, kami tidak tahu orang itu, ia berkata akan membuka topengnya jika sudah bertemu dengan anda.." Lapornya.


"Lepas b*jingan!!!..." Pekik seseorang yang dibawa paksa ke hadapan Jerome.


"Ini dia tuan!..." Ujar anak buah sambil mendorongnya kasar ke hadapan Jerome.


Orang itu perlahan membuka topeng penutup wajahnya tepat di hadapan Jerome. "Aku datang untuk bertemu denganmu, kakak!......" Datar Claudia tanpa ekspresi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2