
Pagi itu,Dea pergi menuju rumah Emma namun saat sampai disana kening Dea mengeryit melihat Mobil kakaknya berada disana.
"Kakak disini?,pagi sekali dia kesini?" pikir Dea lalu turun dari mobilnya berjalan menuju kearah rumah Emma.
"Pintunya terkunci?,tidak mungkin kakak menginap disini.." ucap Dea membuka pintu rumah Emma dengan kunci cadangan yang di punya.Dea masuk kedalam melihat ruangan masih gelap semuanya.
"Tumbenan Emma belum bangun jam segini.apa mungkin.." Ucap Dea lansung berjalan menuju kamar Emma lalu membukanya, ingin memastikan dalam pikirannya benar atau tidak.
Saat sampai di dalam Dea lansung menghidupkan lampu kamar Emma.
Klik
"Em....What......,ka..kalian..." Triak Dea sangat terkejut melihat kakak dan sahabatnya tidur bersama bahkan berpelukan saat itu.Emma dan Dego lansung terbangun karena mendengar suara triakan Dea yang saat itu masih mematung melihat kearah mereka berdua.
"Dea..." Ucap Emma lansung bangun dan duduk sambil merapikan bajunya yang terbuka karena ulah Dego subuh tadi,sedangkan Dego masih berbaring dengan memeluk perut Emma.
"Dea ka..kamu___" Ucap Emma gugup.
"Kak...aku marah sama kakak." Ucap Dea.
"Marah kenapa?" tanya Dego masih dengan posisinya tadi.
__ADS_1
Dea mendekati Emma lalu duduk menghadap Emma yang saat itu sangat gugup karena tatapannya.Dea tersenyum kearah Emma.
"Kak bangunlah..jelaskan sama aku, Apa kalian sudah membuatkan aku ponakan kah ini..?" Tanya Dea membuat mata Emma melotot,
sedangkan Dego membuka matanya menatap adiknya dengan tersenyum lalu mengusap wajah Dean.
"Siapa yang ngajarin kamu bicara seperti itu Hmm..?" Ucap Dego lalu meletakan kepalanya diatas paha Emma.
Iih..."Kakak aku sudah dewasa,jadi Aku taulah hal itu dalam teorinya,
benaran kak aku nanya ini..apa kalian..." tunjuk Dea lalu menyatukan tangannya lalu menangkupnnya naik turun dengan Matanya menatap Emma dan juga kakaknya.apa yang Dea lakukan saat itu membuat Emma semakin bertambah gugup.
"Kami belum melakukannya." Jawab Dego membuat Kening Dea mengkerut.
"Ahkirnya anda tanda merah juga di leher kamu cie,cieeeey...pasti bukit kembarnya udah di unboxing kakak aku kan cie..cieeeeey..." Ucap Dea tertawa Membuat Emma semakin merasa malu sekali,bahkan wajahnya memerah seperti buah tomat yang masak saat itu.
"Cieeeey yang malu tapi mau..."Ucap Dea lagi.Emma saat itu ingin rasanya menengelamkan wajahnya kedasar bumi karena ucapan sahabatnya.
"Kamu membuat kakak iparmu menjadi malu Dea." Ucap Dego tersenyum.
"Jangan malu lah cie,aku maklumin kok...." Ucap Dea yang masih menatap Emma dengan senyum yang terus mengoda Emma.
__ADS_1
"Cie kamu kok diam sih..?" Tanya Dea karena melihat sahabatnya terdiam saat itu,namun seketika itu Emma memeluk tubuh Dea.
"Cie kamu ah..bikin aku ngak bisa ngomong.." Ucap Emma tersenyum malu.
"Ngak usah malulah,bentar lagi kamu jadi kakak ipar aku juga,makasih udah nerima kakak aku cie.." Ucap Dea memeluk erat Emma.
"Ia cie..,makasih selalu mendukung aku.." Ucap Emma.
"ia..,cepat berikan aku ponakan lucu ya cie." Ucap Dea lalu melihat kearah kakaknya masih berbaring diatas paha Emma melihat kearah mereka berdua juga saat itu.
"Daftarkan pernikahan saja dulu kak biar cepat...,Resepsinya menyusul.
aku sudah ngak sabar lihat kalian jadi suami istri." Ucap Dea memberitahu kakaknya.
"Kakak sudah membicarakan itu dengan Emma.sekarang tinggal menunggu keputusannya." ucap Dego menatap Emma dengan mengedipkan matanya.tampa rasa malunya Dego bangun lalu berjalan hanya mengunakan Boxernya kearah kamar mandi membuat Emma dan Dea saling pandang lalu tersenyum bahkan tertawa kecil.
"Cie..jujur deh sama aku,kalian benar belum gituan?" tanya Dea.
"Belum.." jawab Emma tersenyum yang membuat Dea tertawa.
"Tapi setengah udahlah..."Ucap Dea mengoda Emma dengan matanya menatap tubuh Emma,membuat Emma tersenyum malu lalu menganggukan kepalanya.seketika itu Dea kembali tertawa.
__ADS_1
"Siap siaga cie,nanti kamu pasti tiba tiba dapat serangan mendadak." Ucap Dea yang ahkirnya membuat mereka berdua sama-sama tertawa saat itu.Dego di kamar mandi tersenyum mendengar adik dan Calon istrinya tertawa ria.