
"Aku tidak menerima Putrimu nyonya Rosa."
Mereka semua menoleh kearah pintu Utama Mension itu untuk melihat siapa yang mengatakan hal itu.
"Opa..." Ucap Damian terkejut melihat kehadiran Opanya disana.
mendengar ucapan Damian, mamy Rosa,Dea,Dego dan Emma melihat kearah Damian lalu kembali lagi melihat kearah Pria tua yang duduk di kursi Rodanya itu. Damian berjalan menghampiri Opanya yang saat itu tengah di bantu,Deri dan Baner mendorong kursi rodanya.
"Opa ikut siapa kemari..?" Tanya Damian berjongkok.
"Kau mengira aku sudah tua benar,
sehingga aku tidak bisa kemari hah.." Ucap Opanya.
"Bukan begitu Opa..,Damian hanya menghuatirkan Opa.." Ucap Damian lagi.
"Bawa aku mendekati mereka." pinta Opa yang tidak menanggapi ucapan cucunya. Damian lansung mendorong kursi Roda Opanya mendekati Mamy Rosa,Dea,Dego dan Emma sudah mendekat kearah Mamy tadi.
Opa Damian masih menatap tajam kearah mereka Berempat namun pengelihatannya sedikit kabur tidak bisa mengenal mereka berempat.
"Mana Wanita yang kamu cintai itu?" Ucap Opa Damian dengan tangannya sambil mencari kacamatanya.
"Dimana kacamataku ini..?"
Ucapan Opa Damian mengomel mencari kacamatanya membuat Dea maupun Emma dan juga mamy tersenyum.
"Tuan Besar ini kacamata Tuan,maaf saya lupa memberikan untuk Anda." Ucap Baner.
Ais.." Kau ini,belum tua sudah pelupa, bagaimana kalau sudah tua sepertiku hah,tapi aku belum tua..." Lagi-lagi Dea,Emma,maupun Mamy tersenyum mendengar Ucapan Opa Damian karena merasa Opanya Damian itu sangat lucu.Disaat ketegangan itu dia malah membuat kelucuan.
"Aa ini baru jelas sejelasnya...Dam yang mana Wanitanya Dam...?" Tanya Opa lagi.
"Mendekatlah sayang.." Bisik Mamy Rosa kepada Dea.mendengar itu perlahan Dea mendekat kearah Opa Damian.
"Opa ini Deanesya,wanita yang aku cintai selama ini.." Ucap Damian.
"Opa..." Sapa Dea dengan tersenyum lalu menyalimi tangan Opa Damian.
Opanya Damian belum menjawab sapaan Dea,dia masih melihat Dea dengan tatapan meneliti Dea dari kaki sampai ujung rambutnya.Dia melihat kearah Dego dan juga mamy Rosa.
"Damian kenapa kau mencintai wanita seperti Dia ini..?" Ucapan Opa Damian membuat Mereka semua disana mendengar sangat terkejut dan bertanya tanya apa maksud Opa bicara seperti itu.
"Kenapa Opa bicara seperti itu.?bukannya Opa mengatakan setuju sebelum Aku kemari,Opa juga menyuruh aku menjemput Dea dan membawanya menjadi Istri Damian Opa.." Ucap Damian sudah emosi.
__ADS_1
"Apa maksud anda mempertanyakan kelayakan adik saya Tuan?"
Emma lansung mencubit tangan Dego memberitahu Dego tidak boleh terpancing emosinya namun Dego tidak memperdulikan ucapan Emma.
"Anda datang kemari,mengatakan anda tidak menerima adik saya di keluarga kalian,lalu apa lagi yang tidak ada sukai..?Anda mau menghina adik saya...!!" Ucap Dego meninggikan suaranya.
"Hey anak muda,kendalikan emosimu itu,kakek kalian terkenal dengan kesabarannya." Ucap Opa Damian membuat Dego dan Dea sedikit terkejut.
"Anda mengenal orangtua saya..?" Tanya Mamy Rosa.
"Tentu saja saya mengenalnya." Jawab Opa Damian lalu kembali menatap Dea yang terdiam saat itu dengan pikirannya tidak menentu, Air matanya ingin keluar lagi namun sebisanya dia tahan.
"Rosa,saya tidak bisa menerima putri kamu." ucap Opa mengulang ucapannya dengan sangat serius membuat Semuanya sangat terkejut apalagi Damian dan Dea.
Mendengar itu Dego ingin marah dan ingin kembali bicara namun dengan cepat Emma menutup mulut Dego.
"Diamlah Kak,Opa itu belum selesai bicaranya.."Bisik Emma menebak.
"Tapi__"
"Percayalah padaku Suamiku.." ucap Emma membuat Dego mengikuti apa yang Emma katakan.
"Opa...,Kenapa Opa seperti ini, bukankah Opa sebelumnya menyetujui Dea menjadi keluarga Ivander...!" Ucap Damian sudah mulai memanas hatinya.
"Rosa,Aku tidak bisa menerima putrimu karena kalian tidak menyambutku dengan baik,bahkan membiarkan pak tua ini menunggu lama di luar sana." Mereka kembali terkejut mendengar Alasan yang tidak masuk akal itu Opa Damian katakan.
"Opa__"
"Diamlah kau Dami..!!" Bentak Opanya mengema ruang utama itu kemudian melihat kearah Dea yang sudah ketakutan saat itu.
"Kamu buatkan pak tua ini minum.." Ucap Opa Damian membuat mereka semua kembali terkejut Opa Damian malah menyuruh Dea membuatkan minuman untuknya.
"Cepat buatkan minuman teh dan tidak boleh manis.." ucapnya lagi dengan nada galaknya.
"Ba..baik Opa.." Ucap Dea masih dalam keterkejutannya perlahan dia berjalan menuju kedapur.Damian ingin membantu Dea namun langkahnya di hentikan Opanya dengan mengaitkan tongkatnya kearah kaki Damian.
"Jangan coba-coba membantunya,
Opa mau melihat dia bisa tidak membuatkan Opa kamu minuman." Damian benar benar sudah kesal dengan Opanya tapi masih menahan emosinya.Dego dan Mamy Rosa yang mendengar saling pandang takut Dea membuat kesalahan.
"Tenanglah mam,aku sudah mengajari Dea cara membuat minuman kopi maupun teh..,percayalah Dea bisa" Bisik Emma yang membuat Mamy Rosa sedikit tersenyum."Ia sayang.." jawab mamy Rosa.
"Kamu yakin Dea bisa membuatnya istriku?aku tau selama ini dia tidak pernah menyentuh barang-barang di dapur.." tanya Dego ketakutan Adiknya melakukan kesalahan.
__ADS_1
"percayalah Dea bisa.." Ucap Emma meyakinkan suaminya.
Tidak lama Dea datang dengan Satu cangkir minuman teh dia bawa perlahan mendekati Opa Damian.
"Ini Opa minumannya.." Ucap Dea berlutut di depan Opa,perlahan Opa Damian mengambil minuman itu dengan matanya menatap mata Dea. Opa melihat minuman teh itu lalu perlahan mencoba meminumnya.
mereka semua sedang menunggu komentar dari Opa Damian.Opa Damian memberikan cangkir teh itu kepada Damian,kemudian dia kembali menatap Dea yang saat itu masih tetap di posisinya.
Opa Damian mengulurkan tangannya kedepan Dea,membuat Dea terkejut dan juga takut,namun tidak disangka mereka semua tangan Opa malah mengusap kepala Dea dengan lembut.
"Maafkan Opa sudah mengerjai kamu cucu menantuku.."Ucap Opa Damian membuat mereka semua disana terkejut lagi.
"Opa.." Ucap Damian.
"Aku hanya mengerjai kalian..siapa bilang aku tidak menerimanya,dia menantu Ivander sejak dulu." Ucap Opa Damian tertawa membuat mereka kembali tersenyum mengetahui itu.Damian sampai mengelus dadanya ternyata Opanya hanya mengerjai mereka.
Dea belum bangun,dia masih merasa Syok saat itu.melihat itu Damian lansung membantu Dea bangun dan berdiri di depan Opanya kemudian.
"Rosa kamu membuat pak tua ini merasa bersalah saja." Ucap Opa Damian membuat mereka semua bingung lalu melihat kearah Mamy Rosa.
"Jadi ini ulah mamy...?" Tanya Dego membuat Mamy tersenyum.
"Mamy hanya ingin melihat ketegangan wajah kalian.." Ucap mamy tampa rasa bersalah.
"Mamy....,mamy membuat jantungku mau lepas tau.." kesal Dea.
"Maafkan mamy sayang,mamy hanya ingin melihat kemampuan kamu yang sekarang sudah bisa memasak berkat bantuan kakak ipar kamu..,kebetulan Papa Danur duluan kemari jadi mamy membuat rencana ini dengannya." Ucap mamy tertawa kecil.
"Maafkan Opa Sayang...Opa sebenarnya tidak ingin tapi mamy kalian memaksa." Ucap Tuan Danur.
"Opa...Opa membuatku ingin marah saja." kesal Damian lalu mendekati Opanya.
"Terimakasih Opa...,Maafkan Damian tadi." Ucap Damian.
"Hmm..,cepat kalian menikah. Aku mau menimang cicitku." Ucap Tuan Danur membuat Dea dan Damian saling pandang. Dego berjalan mendekati Tuan Danur lalu berlutut di depannya.
"Maafkan Saya Tuan Danur,saya sudah bicara meninggi kepada Anda." Ucap Dego.
Tuan Danur mengusap kepala Dego dengan tersenyum.
"Tidak masalah,kalau aku jadi kamu aku juga akan marah.jangan merasa bersalah.aku dengar kamu akan menikah juga,selamat untukmu,
istrimu sangat cantik sekali,jagalah dia dan berbahagialah." Ucap Tuan Danur membuat Dego tersenyum.
__ADS_1
"Terimakasih atas Doa anda Tuan." Ucap Dego yang di angguki Tuan Danur.