Yang Mulia! Cintai Saya!

Yang Mulia! Cintai Saya!
Bab 15 : Senyuman Evita #1


__ADS_3

Tangan Helen memegang erat gagang besi jendelanya itu, dan mata ungunya terlihat seperti seseorang yang sedang marah sekarang.


Sepertinya kau tidak mau aku bahagia ya Evita!? tunggu pembalasanku!


"Hah... sungguh membosankan hari ini." Gumam Evita sendri dikamarnya itu, ia hanya bisa tidur dikasur dan membaca buku terus menerus.


Krek...


"Nona Evita sekarang ingin makan apa hari ini?" Tanya Dinda ia langsung masuk kedalam kamar Evita. "Hari ini sangat bosan hari ini Dinda, apakah tidak ada kegiatan lain hari ini?" Tanya Evita kepada Dinda, Dinda pun ikut berfikir sejenak.


"Bagamana jika nona berjalan-jalan di ibu kota? soalnya ibu kota sekarang sudah sedikit berbeda loh?" Usul Dinda kpada Evita, Evita segera beranjak dari kasurnya dan berisiap-siap untuk pergi.


"Baiklah ayo kita pergi! tetapi jangan lupa ya Dinda kau jangan memakai pakaian seperti itu, karena kita berdua akan berjalan-jalan..." Ucap senang Evita, disepanjang perjalanan Evita dan Dinda menaiki kereta kuda dengan tenang.


Banyak sekali perubahan dari ibukota sebelumnya tak banyak penduduk disana yang ingin bekerja, karena biaya untuk pergi kejalur ibu kota sangat sempit dan terkendala.


"Sekarang jalan menuju ibu kota sangat ramai, dan juga sepertinya jalannya cukup mulus, tak ada bebatuan." Gumam Evita ia melihat kearah jendela luar, Evita membuka salah satu jendela kereta kuda itu lalu angin masuk kedalamnya.

__ADS_1


Hup! hua....


"Udaranya sangat segar! benarkan Dinda?" Tanya Evita ia masih menatap kearah luar, Dinda menganggukkan kepalanya dan ikut menatap kearah luar.


Sesampainya diibukota, Evita dan Dinda berkeliling pasar yang sangat ramai disana, banyak sekali hewan dan beberapa sayuran dijadikan makanan utama disana.


"Sekarang kita kemana ya?" Gumam Evita ia menoleh kearah kanan dan kiri. "Bagaimana jika kita ketoko dessert sana saja nona? Katanya makanannya cukup enak loh!" Rekomendasi Dinda, Evita langsung bersemangat lagi dan mereka pergi kesana.


Kling...


"Selamat datang nona, makanan apa yang ingin anda pesan, silahkan lihat berbagai menu ini." Ucap pelayan itu, Evita mulai menyebutkan satu persatu dessert yang diinginkannya itu, sedangkan Dinda hanya diam saja.


"Astaga kau ini benar-benar! cepat pilih beberapa, aku tidak keberatan, karena ini justru makanan yang inginku teraktir kepada Dinda, jadi belilah semau Dinda." Bujuk Evita, Dinda menganggukan kepalanya dan mengatakan 2 dessert yang akan ia makanan.


Selama menunggu mereka hanya diam saja, melihat kondisi toko yang bagus dan nyaman, tetapi ada seorang pria yang duduk dipojokan menggunakan jubah panjang, entah itu siapa pria itu membuat Evita tertarik menatapnya terus.


Hem... kukira toko ini ramai, tetapi cukup sepi juga ya!? padahal dari tadi pria itu terus saja makan apakah dia lapar sampai seperti itu?

__ADS_1


Dessert datang mereka makan dengan tenang "Wah ini sangat lembut! sangat enak!" Ucap Evita, Dinda tersenyum ia sangat bersyukur jika Evita menikmati dessert ditoko yang ia rekomendasi itu.


"Dinda apakah kau tidak curiga dengan orang yang duduk dipojok itu mengenakan jubah itu?" Ucap Evita ia mengerutkan kening penasarannya, Dinda menoleh kearah belakang dan meluahkan pria yang dikatakan oleh Evita itu.


"Em... sepertinya orang itu sangat mencurigakan? mengapa orang itu menggunakan jubah? apaka dia penjahat?" Ucap Dinda dengan asalan, Evita mengerutkan keningnya. "Sepertinya aku harus memeriksa orang itu! dari gerak-geriknya dia seperti mencurigakan!" Ucap Evita dengan tegas ia berjalan mendekati pria itu.


Tap-tap-tap...


"Ehem... permisi tuan." Ucap Evita, pria tersebut segera menoleh ke aeha Evita, sontak mata mereka saling memandang satu sama lain, dan seketika raut wajah Evita berubah menjadi sedikit tekejut.


"Yang mulia putra mahkota!" Ucap kejut Evita, Dinda yang mendengarnya pun ikut tekejut dari kejauhan. "Lady Evita!? astaga apakah itu anda?" Tanyanya ia langsung membuka hode miliknya itu.


"Ya ini saya Evita, untuk apa yang mulia putra mahkota datang ketoko dessert ini dan makan dipojok sendirian?" Tanya Evita. "Iya karena toko dessert ini sangat enak, dan sudah beberapa kali saya pergi kesini untuk memakannya sendirian." Ucap Stefan dengan jujur lalu Evita sedikit tertawa.


Hahahaha...


Stefan yang melihat Evita tertawa dan tersenyum pun tekejut, pipinya tiba-tiba saja memerah dan jantung ya berdegup dengan kencang melihat wajah Evita.

__ADS_1


Krak...


"Astaga gawat! jantung yang mulia putra mahkota tak kuat untuk melihat senyuman nona Evita! pasti jantungnya sebentar lagi akan rapuh!" Gumam Dinda dengan ekspresi paniknya, dari kejauhan ia melihat ekspresi Stefan yang malu sekaligus ia sangat menyukai Evita ketika tertawa dan tersenyum.


__ADS_2