
"Apa maksud anda lady Helen!? saya tidak bermaksud iri lady, tetapi dalam sudut pandang yang benar, semua para lady juga ikut memberikan bantuan meskipun tak sebesar lady Helen, tetapi semua lady juga sepertinya harus berhak mendapatkan terimakasih kasih khusus seperti itu dong...!?" Ucap Evita dalam sudut pandang miliknya, seketika keadaan sedikit memanas, nyonya marques yang mendengar nya pun sedikit malu melihat pertengkaran antara mereka didepan kepala panti.
"Ah... kalau begitu kami seperti nya harus pergi dulu kepala panti, apakah anda bisa menunjukkan kamar untuk para lady lainya?" Tanya nyonya marques dengar cepat ia tak ingin lagi keadaan semakin panas dan membuat kepala panti sedikit terganggu dengan perdebatan mereka.
Setelah perdebatan tersebut, Evita memutuskan untuk bermain bersama dengan anak-anak sebelum hari menjelang sore, para lady lainya juga ikut bermain disana, kecuali Helen yang hanya duduk dari kejauhan melihat anak-anak itu bermain bersama.
Apa lagi Evita sangat digemari para anak-anak karena ramah dan juga selalu ingin bermain bersama, Helen sedikit kesal mengapa anak-anak itu lebih menyukai Evita yang gelar bangsawannya lebih rendah dibandingkan nya.
Sepertinya aku harus memberikan Evita pelajaran yang sangat berharga...
Setelah hari semakin gelap, semua anak-anak pun tidur seperti biasanya, kecuali Evita ia ingin berjalan-jalan terlebih dahulu untuk mencari angin dimalam hari.
Grep...
Hem!! Hem!! Hem!!
Tiba-tiba Evita terbangun ia melihat bahwa ia sudah dibawa seseorang kesuatu tempat, dimana lagi jika bukan gudang tempat penyimpanan bahan pokok makanan para panti disimpan, Evita melihat tangan nya diikat kecuali kakinya, lalu mulutnya juga ikut diikat.
__ADS_1
Hem! Hem! Hem!
Evita terus menjerit-jerit ia tak bisa melepaskan diri, karena pintu gudang juga terkunci, tetapi tiba-tiba saja seseorang masuk kedalam gudang itu dengan membawa tali panjang itu adalah pukulan untuk Evita.
"Astaga rupanya kau sudah bangun lady Evita saya tidak menyangka padahal saya hanya ingin mengambil alat ini saja!? tetapi kau sudah bangun terlebih dahulu, seharusnya kau menungguku telebih dahulu." Ucapnya Evita membulat kan matanya ia sangat tahu suara tersebut, dia adalah Helen Evita segera meronta-ronta melepaskan tali di tangannya itu.
Grep...
"Seharusnya kau berfikir telebih dahulu sebelum kau menyesal seperti ini kan?" Ucap Helen ia lalu tersenyum, dan seketika tubuh Evita dilemparkannya.
Brak...
Evita seketika meletakan wajahnya kearah tanah, Helen yang melihatnya pun tertawa, lalu seketika ia menginjak kepala Evita dengan dengan kakinya. "Bagaimana rasa dagu mu yang merasakan kesakitan!?" Ucap Helen kepada Evita, Evita harus menahan rasa sakit didagunya itu dan dagunya itu semakin memar.
"Sepertinya aku harus mencambukmu, mari kita mulai!" Teriak Helen ia seperti ingin melihat Evita kesakitan, lalu seketika Evita memejamkan matanya, ia memohon agar ia tak keguguran jika ia dicambuk.
Plak...
__ADS_1
Plak...
Plak...
Plak...
Plak...
"Argh!" teriak Evita ia seketika bangun dari tidurnya, ia melihat sekitar rupanya ia berada di kamar ia memijat kepalanya yang sedikit tegang itu, Dinda masuk dengan cepat kedalam kamar Evita.
"Apakah nona baik-baik saja!? apakah ada rasa sakit yang nona rasa kan!?" Teriak Dinda ia segera menghampiri Evita, Evita menggelengkan kepalanyanya lalu melihat seluruh tangannya yang sudah terkena beberapa cambukan dari Helen.
"Tidak saya tidak apa-apa, saya hanya bermimpi jika lady Helen melakukan cambukan itu kepada saa lagi." Ucap Evita ia lalu tersenyum dan menatap kearah Dinda, Dinda yang melihatnya pun menangis melihat tangan dan kaki Evita mengalami luka cambukan.
"Memang hiks... nona Helen itu sangat keterlaluan kepada nona... hiks!" Ucap Dinda ia tiba-tiba saja menangis, tetapi tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki yang menuju kearah kamarnya "Evita apakah kau baik-baik saja nak!?" Teriak ibunya sebelum sampai kekamarnya.
Evita yang mendengarnya pun tekejut "Dinda tolong hentikan tangisanmu jika tidak ibu dan ayah akan mengetahuinya, cepat kau hapus kan air mata mu!" Panik Evita ia sangat memohon kepada Dinda agar berhenti menangis, agar Evita tak ketahuan jika Evita mengalami luka-luka karena cambukan Helen.
__ADS_1
"Hiks-hiks-hiks... saya tidak bisa berhenti menangis melihat keadaan anda nona" Dinda terus saja menangis, Evita berusaha menenangkan Dinda tetapi tak berhasil Evita seketika menepuk kepalanya seperti orang yang sudah pasrah. "Dinda aku mohon tolong jangan menangis!" Bisik Evita dengan heboh, Dinda berusaha untuk tak menangis tetpai air mata itu terus jatuh.
"Saya tidak bisa menghentikannya nona, air mata itu tak ingin berhenti, bagaimana ini nona?" Secara tiba-tiba Dinda ikut panik, Evita pun mempuyai ide. "Kau harus sembunyi didalam selimut ini sekarang! dan jadilah seperti bantal guling!"