
"Astaga nona Evita seharusnya anda jangan meninggalkan dessert anda, sekarang ayo makan!" Ucap Dinda ia datang secara tiba-tiba dan berpura-pura memarahi Evita, Evita pun mendengar perkataan Dinda.
"Iya Dinda aku mengerti, oh iya yang mulia putra mahkota bagaimana jika anda makan dessert bersama dengan kami." Ucap tawar Evita kepada Stefan, Stefan hanya menganggukkan kepalanya saja.
Dinda berencana untuk pindah tempat agar Evida dan Stefan bisa makan satu meja dan berbincang satu sama lainya."Silahkan anda tempat yang mulia putra mahkota." Ucap Dinda ia mempersilahkan tempat duduknya untuk tempat Stefan duduk.
"Bagaimana dengan rencana anda lady Evita?" Tanya Stefan kepada Evita, Evita yang mendengarnya pun memakan dessert miliknya lalu tersenyum."Ya rencana yang sudah saya buat sangat lancar, dan itu benar-benar terjadi, sekarang salah satu pengikutnya Helen hilang" Ucap Evita ia pun memakan dessert menjadi miliknya lagi.
"Bagaimana dengan putra mahkota? apakah rencana nya berjalan dengan lancar?" Tanya Evita lagi ia sangat penasaran bagaiman sikap Jason ketika kehilangan salah satu orang dekat miliknya itu.
"Ya reaksi Jason ketika aku langsung merekrut yang mereka miliki langsung saja mereka mengirimkan surat permohonan pencabutan pengerekrutan itu." Ucap Stefan dengan jujur, ia pun ikut makan dessert miliknya itu, mereka saling berbincang tentang rencana apa yang akan merasakan lakukan selanjutnya.
"Baguslah kalau begitu." Ucap Evita yang ikut senang mendengarnya, ia tahu bahwa pertentangan keluarga kekaisaran itu sangat tak bisa ditolak lagi, perjodohan antara bangsawan satu dengan yang satu mereka tak bisa menentangnya lagi, dan juga peperangan perebutan wilayah kekaisaran lain juga.
__ADS_1
Tap-tap-tap...
Setelah memakan dessert Evita dan Stefan berjalan-jalan disekitar taman tengah kota, disana sangat banyak sekali para penduduk yang berdagang dan juga para anak-anak yang bermain.
Suasana tenang dan juga udara sejuk membuat mereka berjalan berkeliling disekitar taman itu "Seharusnya yang mulia membuka hode saja, agar bisa merasakan bagaimana salah satu helai rambut anda terbang." Ucap Evita yang ingin meledek Stefan.
Masalnya jika Stefan sampai membuka hode miliknya maka ia akan diserbu banyak para warga karena dia adalah putra mahkota, kedatangannya sangat terhormat.
"Seharusnya lady jangan mengatakan putra mahkota, itu sedikit tak nyaman untuk disebut." Ucap jujur Stefan, Stefan ingin Evita memanggilnya dengan sebutan yang tidak terlalu formal.
"Benarkah!? lalu saya harus menyebutkan anda bagaimana? lagi pula anda kan orang terhormat mana mungkin saya harus menyebutkan nama anda." Ucap Evita ia sangat takut jika orang mengatakan bahwa Evita sangat tak sopan dengan putra mahkota.
"Tidak apa-apa, panggil saya dengan namaku lady." Ucapnya, ia pun meraih salah satu helai rambutnya lalu menciumnya, Evita yang melihatnya pun tekejut."Apa yang anda lakukan!? sa-saya tidak pantas mendapatkan perilaku seperti itu dari anda!" Teriak Evita ia sangat malu dan juga pipinya ikut memerah.
__ADS_1
"Ayo kita terusan jalan-jalan ini, saya tak ingin sisa waktu ini tak berjalan-jalan dengan lady" ucap Stefan ia langsung saja memegang tangan Evita, Evita yang tertarik pun tekejut ia sangat malu tangan nya ikut berkeringat karena Stefan tiba-tiba memegangnya.
"Setelah cukup lama berkeliling ibu kota dan membeli bebeberapa barang dan juga makanan untuk dicicip, Evita dan Stefan mengakhiri jalan-jalan mereka, Evita menggunakan kereta kuda sedangkan Stefan menunggangi kuda sendirian.
"Terimakasih atas kebersamaannya putra mahkota, eh maksud saya Stefan!" Yeriaknya dari kejauhan sambil melambaikan tangan nya dan tersenyum, beberapa rambutnya ikut terbang mengikuti angin. Stefan yang melihat seketika hampir terjatuh melihat senyuman Evita.
"Astaga yang mulia putra mahkota, hampir saja oleng, gara-gara senyuman anda nona Evita!" Ucap Dinda yang kesla dengan Evita yang selalu tersenyum dengan orang baik disekitar mereka, Evita tak mengerti apa maksud dari Dinda, makanya Dinda adalah orang yang sangat peka dibandingan Evita.
"Huft... hampir saja mau jatuh kuda ini, astaga seharusnya aku tidak menoleh kearah belakang, jadi seperti ini kan... semoga saja Evita tidak tahu tadi." Gumamnya ia pun melajukan kudanya dengan cepat.
Sesampainya dirumah Dinda memberikan surat yang datang hari ini kepada Evita, Evita membaca surat itu. Surat itu tertulis bahwa para lady akan berkunjung kepantai asuhan untuk melakukan kegiatan amal bersama, Evita pun diundang karnea setiap tahunnya Evita selalu ikut.
"Sepertinya Helen akan datang kegiatan amal kali ini, agar citra nama baiknya tidak buruk, lihat saja nanti aku ingin melihat expresi mu!" Gumam Evita ia tersenyum licik dan menatap kearah cerminnya.
__ADS_1