
Tok-tok-tok...
"Nona Evita apakah anda ingin mandi sekarang biar saya buatkan air panasnya sekarang?" Ucap Dinda ia mengetuk pintu dari luar, tetapi tak ada respon dari Evita padahal Evita sudah mengunci pintunya selama 3 jam.
Evita benar-benar tak ingin makan dan minum dari tadi, itu membuat Dinda sedikit khawatir kepada Evita ia takut jika Evita melakukan sesuatu yang tak diinginkan.
"Halo nona tolong jawab saya!? nona..." Ucap Dinda ia terus saja menunggu disana dan ia terus saja mengetuk-ngetuk pintu kamarnya berkali-kali, tetapi Evita masih belum membuka kan pintu.
"Halo nona! nona apakah anda dengan saya!? nona! nona! NONA! NONA EVITA APAKAH ANDA BAIK-BAIK SAJA!" Teriak Dinda dari luar ia seketika panik, tetapi pelayan lainnya yang mendengar teriakan Dinda pun menghampiri Dinda.
"Dinda memangnya kenapa kau berteriak seperti itu! apakah ada hal yang terjadi kepada nona Evita?" Tanya salah satu pelayan disana, Dinda mengangguk kepalanya. Dari tadi nona Evita tak ingin makan dan minum, jadi saya sedikit cemas terhadap nona Evita, saya takut jika nona Evita bunuh diri." Ucap ceplas-ceplos Dinda, semua para pelayan itu panik.
"Nona! nona Evita! nona! tolong anda jangan bunuh diri!" Teriak para pelayan mereka semakin menggedor-gedor pintu kamar Evita dengan cepat dan kencang.
Brak...
__ADS_1
Seketika Evita membuka pintu kamarnya itu, ia melihat para pelayan yang banyak berkumpul di depan pintu kamarnya "Kenapa kalian berkumpul!" Teriak Evita ia sebenarnya sangat terganggu dengan kebisingan mereka.
"Nona apakah anda bunuh diri!?" Tanya Dinda ia menangis seperti bayi, Evita yang melihatnya pun hanya terkejut "Ah itu... iya sebenarnya saya ingin bunuh diri disitu juga saya sudah menyiapkan tali untuk menggantung diri." ucap jujur Evita, Dinda ya melihatnya memeluk Evita.
"Tolong nona jangan lakukan hal itu, jika nona sampai bunuh diri, saya juga ikut mati, dan yang paling terpenting saya tidak akan bisa mendapatkan uang lagi." Ucap rengek Dinda ia seperti mengatakan hal jujur kepada Evita, Evita dan para pelayan lainya ikut mendengar langsung terdiam.
"Ah... iya aku tidak akan melakukannya, sekarang kalian pergilah dan lanjutkan pekerjaan kalian, dan jangan lupa jangan sebarkan kejadian ini kalian mengerti?" Ucap Evita kepada pelayan lainya, mereka menganggukan kepala mengerti.
"Mengapa nona melakukan hal itu?" tanya Dinda ia sangat panik, Evita menghembuskan nafas kasarnya. "Aku masih tidak menerima kejadian tadi, itu seperti membuatku sesak, padahal kau sangat mencintai Jason, tetapi dia menghianatiku." Gumam Evita sendiri ia menangis ia melemparkan bantalnya kelantai dengan amarah yang memuncak.
"Aku ingin putri mahkota mengetahui perselingkuhan mereka." Gumam Evita sendiri disana, tetapi secara spontan Evita kembali bangun dari tidurnya itu menuju meja miliknya.
"Itu dia! aku harus membuat putra mahkota mengetahui perselingkuhan Helen!" Teriak Evita ia langsung segera menulis sesuatu di kerjanya itu dengan gerakan cepat ia segera memasukkan kertas itu kedalam amplop dan bercap keluarga kediaman baron Raheem.
"Nah antara surat ini kepada putra mahkota dan jangan lupa untuk membawanya sampai ke tangannya kau mengerti!" Ucap Evita ia mengerutkan keningnya, Dinda mengulurkan tangannya dan meraih surat itu.
__ADS_1
"Baik nona Evita saya akan segera mengirimnya. " Ucap Dinda, Evita tersenyum lebar ia sangat bersemangat akan hal itu.
Semoga saja putra mahkota mau menerima suratku dan membalasnya! ayo aku mohon tolong berikan aku kesempatan untuk menjalankan balas dendamku!
"Tuan, sepertinya ada seorang lady yang mengirimkan surat kepada anda." Ucap salah satu orang kepercayaannya bernama Lucas, ia memberikan surat itu kepada nya.
"Surat dari siapa?"
"Surat dari lady baron keluarga Raheem, ia meminta anda untuk menemuinya besok." Ucap Lucas, lalu putra mahkota membuka surat itu dan membacanya, setelah membaca ia tersenyum "Sepertinya lady yang satu ini ingin memberitahu sesuatu, baiklah aku akan datang menemuinya besok." Ucapnya ia memberikan kertas itu kepada Lucas.
"Baik saya akan membuat surat balasan kepada lady Raheem sekarang." Ucap Lucas tetapi tiba-tiba putra mahkota yang bernama Stefan itu menyuruhnya untuk tidak melakukannya. "Biarkan aku yang membuat surat balasan itu." Ucapnya yang menawarkan diri terlebih dahulu.
"Nona! surat dari putra mahkota sudah sampai!" Teriak Dinda dengan heboh, Evita yang mendengarnya pun tekejut pantas berlari ke arah Dinda. "Mana-mana!" Ucap Evita seperti orang yang tak sabaran, ia membuka surat itu dengan cepat dan membaca seluruh isinya.
Ya! akhirnya rencanaku berhasil! mampus kau lady Helen aku akan membuatmu menderita!
__ADS_1