
"Lady Helen apakah kau bisa duduk disamping tuan duke Jason sebentar?" Tanya Stefan tetapi Helen yang tak peduli pun hanya menurutinya saja, karena kali ini dirinya sangat pusing karena memikirkan masalah tadi.
Tuk...
Nah... ini baru benar...
Mengapa yang mulia putra mahkota menyenderkan kepala Evita dibahunya!? seharusnya aku yang ada diposisi itu kan!?
Jason mengerutkan keningnya dengan kesal ia menatap kedua pasangan itu, disisi lain Helen ikut tekejut karena tunangannya sendiri tak memperlakukannya seperti itu, padahal dirinya tengah stress.
"Yang mulia putra mahkota seharusnya anda tidak melakukan hal itu, biarkan saya saja yang melakukannya yang mulia, anda tidak perlu repot-repot melakukannya." Ucap Jason yang berusaha agar Stefan memberikan tempat duduk yang sampingnya itu.
Tetapi rencana dan juga tebakannya sia-sia. "Apakah kau merasa keberatan dengan hal ingin tuan duke Jason!? bukanya kau seharusnya senang dengan seseorang yang berada di sampingmu itu, dan bukanya seharusnya kau tidak perlu perduli lagi dengan lady Evita." Ucap Stefan ia mengerutkan keningnya dan merasa curiga.
Deg!
__ADS_1
"Tidak! bukan seperti itu yang mulia, saya hanya tidak ingin merepotkan anda, karena lady Evita saja." Ucap Jason yang tak hisa membalasnya lagi. "Aku tak merasa kerepotan, dan tolong jaga lady Helen dia sepertinya membutuhkanmu." Ucap Stefan, lalu Jason melirik kearah Helen yang tengah menatap jendela seperti seseorang yang tengah pusing.
Sesampainya dikekaisaran, mereka pulang ke kediaman masing-masing, tetapi Evita terus saja muntah-muntah setelah datang, Dinda menghawatirkan keadaan Evita yang masih berdiam lama dikamar mandi.
"Nona Evita anda baik-baik saja tidak? saya sungguh cemas dengan keadaan anda didalam nona?" Tanya Dinda didepan pintu kamar mandi, ia sudah beberapa menit menunggu disana.
"Aku tidak apa-apa Dinda, hehehe maaf kau pasti mencemaskanku ya kan? hehehe maaf ya." Ucap Evita lalu ia sedikit tertawa, rambutnya pun ikut berantakan karenanya.
"Seharusnya jika nona sudah menahan mual dari tadi nona harusnya kembali lebih awal!" Teriak Dinda dengan raut wajah kesalnya, Evita hanya tersenyum saja melihat tingkah Dinda seperti orang tua Evita.
Tok-tok-tok...
"Salam hormat kepada tuan dan nyonya, maafkan saya karena saya terlalu lama membukakan pintu untuk anda." Ucap Dinda ia langsung saja menundukan kepalanya. "Tidak apa-apa Dinda, oh iya apakah Evita-" Ucap nyonya Raheem, tetapi tiba-tiba saja Evita datang sebelum ibunya selesai mengatakan perkataannya.
"Ibu, ayah, sedang apa kalian kesini, oh maafkan saya salam untuk kalian." Ucap Evita lalu memberikan salam kepada kedua orang tuanya. "Evita kami ingin berbicara sesuatu tentang dirimu, tapi kau harus ikut kami." Ucap tuan Raheem kepada Evita, Evita hanya menganggukan kepalanya lalu ikut pergi bersamaku kedua orang tuanya itu dan mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Dari kejahuan Dinda tersenyum tipis melihat Evita pergi. "Semoga nona bisa jujur." Gumamnya sendiri lalu ia memutuskan untuk pergi.
Tak-tak-tak...
"Cik! lambat sekali kalian! apakah kalian sudah mendapatkan apa yang kuminta!?" Ucap Helen dengan kesal ia menggunakan hode agar menutupi wajahnya.
Helen pergi kesuatu tempat yang sangat gelap, tetapi tempat itu berada di hutan belantara, dan mereka bertemu digua hutan itu, untungnya tak ada yang mencurigai Helen ingin pergi kemana.
"Maafkan kami nona, ini ada beberapa buku dan juga letak peta gereja agung." Ucap seseorang yang merupakan suruhan Helen, lalu Helen merampasnya begitu saja karena sudah gak sabar lalu ia membuka buku serta peta itu.
Setalah Helen membacanya ia tersenyum miring, dan melipat kembali peta itu. "Jadi apakah kalian sudah membawa artefak yangku minta dari gereja?" Tanya Helen kepada pesuruhnya itu. "Su-sudah nona, ada 5 artefak yang sudah saya sediakan dikereta kuda, saya ingin membawanya karena terlalu merepotkan, mungkin saja nona bisa melihatnya dikereta kuda." Ucap pesuruhnya itu.
Lalu mereka berjalan mendekati kereta kuda itu, Helen melihat sebuah kain yang ditutup erat lalu ia membukanya dan melihat 5 artefak yang sudah ada disana. Mata Helen berbinar-binar melihat artefak-artefak itu.
"Nona bisa memilih sesuka nona, tetapi jangan lupa dengan bayarannya nona." Ucap pesuruh itu, mata Helen memutar lalu ia memilih dari antara 5 artefak itu. "Aku akan memiliki artefak ini, tetapi apakah artefak ini akan menuruti smeua perintahku!?" Tanya Helen dengan polosnya.
__ADS_1
"Tentu saja mengapa tidak, artefak itu adalah artefak yang sangat terkuat dari 4 artefak lainya, jadi anda bisa saja melakukan semua hal yang anda inginkan." Ucapnya untuk mempercayai Helen agar memberikan nya uang koin yang banyak, lalu tanpa ragu Helen membelinya dan menukarnya dengan uang.
Dengan ini aku harus bisa membuatnya jatuh! artefak terlarang ini sangat cantik... hihihi...