
"Ah itu hahaha, untuk apa saya sedih." Ucap Evita yang langsung membenarkan rambutnya dan memutar bola matanya kearah lain, sedangkan disisi lain Stefan tertawa melihat sikap Evita.
"Apakah kau menyukaiku?" Tanya Stefan secara mendadak, Evita yang mendengarnya mematung ia tak bisa berbicara, lalu Stefan tertawa melihat Evita.
"Astaga lady Evita, saya hanya bercanda, kau tahu kan jika aku suka menghibur orang." Ucap nya dengan santainya, Evita ikut tertawa yang pasti ia ikut tertawa secara terpaksa karena pipinya mulai memerah.
"Oh iya, yang mulai putra mahkota, anda masih belum menjawab pertanyaan anda, seharusnya anda memutuskan hubungan anda dengan nona Helen itu kan lebih baik? dan jika anda ingin balas dendam yang mulai bisa saja melakukan nya dengan cara mencabut gelarnya?" Tanya Evita panjang lebar ia tak ingin muncul ketegangan lagi diantara mereka, Evita hanya ingin dekat dengan Stefan.
"Iya itu karena hubunganku tidak didasarkan oleh cinta, lagi pula jika aku gegabah langsung saja memutuskan pertunangan dengan Helen, mungkin semua orang akan bertanya-tanya, dan akan melemparkan gosip bahwa aku hanya mempermainkannya." ucap Stefan, Evita menganggukan kepalanya, prinsip mereka sama.
Mereka hanya ingin mempertahankan nama baik keluarga mereka dimata semua orang, jika mereka salah ambil keputusan sedikit saja maka semuanya akan hancur, mereka akan melemparkan kesalahan itu kepada orang pihak yang melakukan tindakan batal tunangan terlebih dahulu.
Sebagai penerus kekaisaran ia sangat bijak juga mengambil langkah, sepertinya dia cocok untuk dijadikan penerus...
Evita sedari tadi menatap Stefan ia tengah menilai tentang Stefan, Stefan hanya terdiam saja, ia seperti tengah di intropeksi oleh Evita, pipinya tiba-tiba memerah sendiri, Stefan terus saja mencubit tangannya agar tidak ketahuan.
"Baiklah sepertinya rencana ini akan kita mulai kapan?" Tanya Evita sekarang ia berbicara seolah-olah tak terlalu formal, Stefan dan Evita sama-sama berpikir.
__ADS_1
Brak...
"Saya tahu yang mulia! bagaimana jika saya dan anda menjalankannya ketika hari ulang tahun kekaisaran bagaimana? apakah anda setuju!" Teriak Evita ia seketika berdiri dari kurisnya, Stefan tersenyum, Evita yang melihatnya pun sedikit malu dengan tindakannya.
"Maafan saya." Ucap Evita ia kembali duduk, Stefan menganggukan kepalanya "Aku sudah mendapatkan rencana yang bagus, mau dengar?" Tanyanya yang menawarkan diri kepada Evita, Evita menganggukan kepalanya dan mulai membuat sebuah rencana.
Tujuan mereka bukan untuk membuat Jason dan Helen menderita tetapi mereka juga akan merasakan bagaimana rasanya semua orang yang mereka sayangi juga ikut menderita.
Uek!
Uek!
"Nona Evita apakah anda baik-baik saja?" tanya Dinda yang menunggu Evita didepan pintu kamar mandi, Evita berteriak jika dirinya baik-baik saja.
"Aku akan keluar, tetapi tolong siapkan minuman yang hangat untuk ku Dinda." Teriak Evita dari kamar mandi ia terus memuntahkan sesuatu dari mulutnya itu, sebenarnya rasa sakit perut mulai terasa.
Mengapa tiba-tiba aku merasa mual, padahal aku tidak makan makan yang sembarangan?
__ADS_1
"Seperti nya ada yang aneh, aku harus mengeceknya sendiri kedokter" Evita segera menyuruh Dinda untuk mengantarkan dokter kerumah, tetapi untungnya kedua orang tuan Evita tengah pergi karena pekerjaan.
Sehingga Evita bisa leluasa untuk pergi dan melakukan sesuatu sesuatu dengan keinginannya, Dinda membawakan dokter yang diperintah Evita, dokter itu segera mengecek keadaan Evita, rasa tubuh yang terus saja mual.
"Jadi bagaimana dengan keadaan saya?" Tanya Evita kepada dokter tersebut, dokter itu bernama dokter Rara, dokter kepercayaan keluarga baron Raheem.
"Nona Evita anda sedang masa hamil ini sudah terjadi 1 minggu yang lalu." Ucap dokter itu ia sebenarnya sedikit kawatir dengan Evita, Evita yang mendengarnya beserta Dinda yang ikut mendengarnya tekejut bukan main.
Deg!
"Apa! aku hamil!" Teriak Evita ia tak menyangka dirinya hamil, Dinda menutup mulutnya yang terkejut, Evita melihat perutnya sendiri dan menggelengkan kepalanya.
"Ini tidak benarkan dokter Rara! ini sungguh tidak benarkan dokter Rara! hiks-hiks..." Teriak Evita ia sangat syok mendengar nyia mulai meneteskan air mata, Dinda yang melihat Evita berteriak pun langsung memeluknya.
"Yang sabar nona Evita hiks." Ucapnya ia memeluk erat Dinda, Evita menangis sejadi-jadinya ia bukan tak Terima dengan keadaannya sekarang, tetapi ia tengah diambang ketakutan terbesar, ketakutan terbesarnya adalah ketika kedua orang tua Evita mengetahui dirinya hamil.
"Dinda bagaimana ini Dinda, aku tidak bisa menjalani nya sendiri." Ucap lirih Evita ia memeluk Dinda, Dinda menggelengkan kepalanya. "Nona jangan khawatir Dinda juga akan membantu nona untuk hal ini, jadi nona tidak sendirian ok." Ucapnya ia mengusap kepala Evita, Evita terus saja menangis.
__ADS_1