
Sudah satu tahun berlalu, namun tidak ada kesulitan sama sekali pada saat menyusuri dungeon itu. Mereka semua masih bisa bertahan dari segala ancaman yang bermunculan. Mungkin karena orang-orang di guild ini levelnya sudah berbeda dengan guild yang lainnya, sehingga monster-monster yang menghadang dapat dengan mudah dilibas oleh mereka.
Karena terlalu mudah, tiap-tiap ada monster yang bermunculan, mereka mengutamakan Dias untuk menghabisinya. Karena hal ini sebagai salah satu bentuk pelatihan untuk membuatnya menjadi lebih kuat lagi.
Untuk melatih kemampuan berpedangnya, Dann dengan suka rela menjadi guru Dias. Dann adalah seorang guru berpedang di Kerajaan Valinor sebelumnya dan ambil cuti sementara untuk membantu menyelesaikan dungeon yang terkenal sangat sulit ini.
Sedangkan dalam mengontrol sihir, Dias diajarkan oleh Iaros seorang. Terutama dalam mengontrol pengeluaran mana.
Salah satu bentuk pelatihan agar dapat meningkatkan kapasitas mananya, maka Dias dianjurkan untuk selalu menggunakan sihirnya dengan jumlah semaksimal mungkin. Dengan begitu, tubuh Dias akan beradaptasi untuk menerima pengurangan mana dalam jumlah banyak. Secara tidak langsung kapasitas mana akan semakin membesar pula.
"Bagaimana, Iaros? apa sudah matang?" Ucap Halbert yang memanggang daging monster babi hutan sambil memegangi gagang yang ditusuk ke babi hutan itu.
Iaros mengamati daging itu di atas api perunggunan. "Hmm.. kurasa masih setengah matang. Coba tunggu 30 menit lagi. Bagaimana punyamu? Demitry?"
"Hmm.. Kalau di tempat tinggalku dulu sih, dilarang makan babi hutan. Tapi kalau dalam keadaan darurat sih nggak apa-apa." Kata Demitry yang sepertinya dia salah menangkap pertanyaan Iaros.
"Joko sembung makan golok.." Ucap Iaros.
"Gak nyambung gobl– " Sebelum Halbert meneruskan ucapannya, Tiba-tiba babi yang dibakar itu terlepas dari gagangnya hingga membuat api itu sedikit redup. "Ahh, sial."
"Segera ambil. Dias, besarkan apinya." Perintah Iaros kepada Halbert dan Dias. Dias sendiri berposisi tiarap sambil menyalakan sihir apinya tanpa henti-hentinya hingga 2 jam lamanya dari telapak tangannya.
"Bwoshh!!" Dias membesarkan apinya, namun terlalu besar hingga membuat Halbert kaget.
"Aihh!! Panas.."
"Dias! Kalau babinya gosong nanti kau yang harus tanggung jawab!" Ucap Iaros.
"Huh, Sampai kapan aku harus begini terus?" Kata Dias yang sedang mengeluh.
"Jangan mengeluh, ini supaya kau bisa mengontrol sihir apimu lebih baik lagi. Kau harus tahu kapan membesarkan dan kapan mengecilkan api itu. Paham?" Kata Iaros sambil mengambil daging babi yang sudah terpisah dari tusuknya.
"Iya dah, terserah." Balasnya dengan malas.
"Hoi, apa yang kalian lakukan disini? Semuanya sudah berkemas-kemas untuk segera melanjutkan perjalanan, kalian malah enak-enakan makan." Kata Cyntia yang memperingatkan mereka berempat.
"Lah, cepet banget. Kasih waktu dikit lah buat kami. Kami belum makan dari tadi." Keluh Halbert.
"Lah, bukannya tadi sudah dibagikan makanan ke masing-masing?"
"Tadi kita nggak ikut, karena sibuk berburu babi tadi."
"Aduh, pusing pala.." Kata Cyntia sambil memegang keningnya. Kemudian perhatian Cyntia teralihkan dengan posisi Dias yang ternyata dari tadi tempurap sambil menyalakan api dari telapak tangannya.
"Oii Iaros! Latihan macam apa ini?"
"Latihan mengontrol sihir dengan baik." Balasnya.
"Haduh, apa nggak ada cara latihan yang lain selain cara seperti ini? Ini malah seakan-akan seperti kegiatan perpeloncoan saat di Akademi."
"Perpeloncoan gimana kah? Ini namanya metode penggunaan sihir yang sangat bermanfaat. Aku mengajarkannya supaya dirinya bisa multi talent di masa depan nanti. Apa yang bisa kau lakukan di malam hari yang sangat dingin apabila tidak ada kayu bakar di dalam rumah, sedangkan kau lagi males gerak? Pasti kau akan mati kedinginan di dalam rumahmu sendiri."
"Lah, itu salahnya sendiri karena males gerak."
"Masih belum paham kah? memangnya kau tahu definisi awal dari kata malas?"
"Nggak, emang apa?"
"Malas itu bla bla bla." Iaros menjelaskan kepada Cyntia panjang lebar seperti seorang profesor yang mengajarkan mahasiswanya. Kepala Cyntia sampai berasap karena mendengar penjelasan Iaros yang rumit dan tanpa ujung tersebut.
"HOII!! KENAPA MASIH DISINI!!" Franca datang kepada mereka semua dengan murka karena mereka sudah terlalu lama membakar daging monster itu.
"Kau nggak lihat kah? kami baru mau makan." Balas Iaros setelah membuat Cyntia kepalanya terbakar.
"Makan saja di jalan!! Kita semua dari tadi sudah menunggu kalian sampai lumutan tapi kalian tidak segera berkumpul!"
"Tapi.." Balas Halbert.
"Nggak ada tapi-tapian! Cepat berdiri, atau…"
"Atau apa?" Balas Iaros yang terlihat menantang Franca.
"Summon, Grizzly Bear.. Wungg.." Tiba-tiba muncul di belakang Iaros beruang besar coklat berarmor yang kemudian menggigit seluruh bagian kepala Iaros yang padahal masih duduk berjongkok sambil memanggang babi guling.
__ADS_1
Akhirnya, mereka semua menuruti ucapan Franca dan segera berkumpul bersama dengan yang lainnya, meskipun kepala Iaros masih berdarah-darah.
"Iaros? kepalamu kenapa?" Tanya Steve.
"Ini adalah hasil pertarunganku tadi setelah melawan Ratu Iblis." Balas Iaros sambil membawa babi yang di bakar tadi di pundaknya.
Karena iba, Steve berencana ingin menyembuhkan Iaros. Tapi sebelum dirinya melakukan itu, tiba-tiba Franca menyela dan menyuruh Steve untuk jangan menyembuhkan dia.
"Steve, kalau kau sembuhkan dia, kau juga akan mengalami hal yang sama." Ancam Franca yang membuat Steve bergidik ngeri.
"Ratu iblisnya marahan tuh." Celetuk Iaros dengan memandang ke arah Franca, dan terpaksa dirinya harus mengandalkan kemampuan regenerasi tubuhnya sendiri untuk memulihkan kepalanya.
Akhirnya mereka semua pun melanjutkan perjalanan. Dan kebetulan, Tiap-tiap perjalanan mereka bertemu dengan monster-monster yang mudah dibunuh oleh Dias. Dias menggunakan kemampuan sihir dan berpedangnya untuk membasmi monster-monster tersebut tanpa ampun. Selain Dias tidak akan pernah ragu lagi untuk membunuh monster, lebih tepatnya membunuh seluruh ancaman yang ada di depannya. Dengan pemikiran yang seperti itu, akhirnya membuat mental Dias menjadi semakin kuat lagi.
Hari demi hari berlalu tanpa adanya hambatan. Karena terlalu damai, Dias akhirnya menyempatkan diri waktunya untuk membaca buku sihir pemberian ayahnya dengan judul buku “ClairVoyant”. Dia segera mengambil buku dari dalam ranselnya di belakang punggungnya dan membukanya. Untung saja dirinya sudah diajari membaca dengan lebih baik oleh Cyntia yang merupakan alchemist terbaik di ibukota, sehingga dia dapat membaca buku tersebut dengan bahasa yang cukup rumit.
“I-ini serius?” Dias sedikit terkejut dengan isi dalam buku itu.
Seperti yang dikatakan Iaros, jika sihir yang dapat dipelajari dari buku ini adalah kemampuan khusus untuk melihat identitas seseorang. Namun untuk mempelajarinya dibutuhkan usaha dan kerja keras ekstra. Dikatakan di dalam sana, apabila ingin menguasainya maka dia harus berpuasa selama 1 bulan penuh, dengan berbuka hanya menggunakan satu gelas air saja.
Awalnya Dias berfikir jika hal ini mustahil untuk dilakukan, tapi karena mempertimbangkan kegunaan sihir ini, maka dia memutuskan untuk mempelajarinya. Lagipula, buku sihir ini adalah pemberian dari kedua orang tuanya. Sudah pasti mereka menginginkan dirinya untuk menguasai kemampuan tersebut. Akhirnya dia pergi ke Iaros untuk meminta izin menjalankan perintah yang ada di buku sihir usang tersebut.
Disaat inilah, Dias juga mulai berpuasa dari makan selama 1 bulan lamanya. Dia hanya diperbolehkan minum air putih saja tanpa rasa apapun. Mungkin akan sangat sulit, tapi untungnya semua orang-orang disekitar Dias kuat-kuat, sehingga dia tidak akan khawatir apabila terdapat ancaman yang menghampirinya.
15 hari kemudian*
"Eyy Dias.. Heemm~ enak sekali loh ayam ini.. Uhh~ sedapnya~" Ucap Halbert yang menggoda Dias sambil mendekatkan ayam bakarnya tepat di depan wajah Dias. "Aromanyaaa!! Uuhhhh~"
"Aku harus sabar. Kuatkan aku, wahai dewa yang selalu menjagaku." Gumam Dias yang sedang berkonsentrasi duduk bersila dengan mata tertutup.
Selain berpuasa, di dalam buku itu juga terdapat satu syarat lagi yang harus terpenuhi, yakni dirinya dilarang melihat segala sesuatu dari matanya, sehingga selama satu bulan penuh dia menyengaja untuk membutakan dirinya sendiri tanpa melihat apapun.
Namun, bukan berarti menutup mata dapat menghentikan aroma ayam bakar yang meresap ke hidung, justru indra penciuman Dias yang akan semakin kuat karena beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.
"Heuumm~ Harum sekali ayam ini, Nyam, nyam.." Ucap Halbert sambil mengunyah ayam itu. “Eng, apa kau dengar? Dias? ck, ck, ck, ck..” Halbert mengecap-ngecap kunyahannya dan mendekatkan bibirnya ke telinga Dias hingga Dias dapat mendengar jelas suara kecapannya.
Tiba-tiba Cyntia dan Steve datang ke hadapan Halbert dan memarahinya untuk tidak mengganggu Dias. Halbert yang sadar akan hal itu langsung melarikan diri menjauh. Sedangkan Steve dan Cyntia tetap mengejar Halbert.
"Aampooon, Aku bercandaaa!!"
"Tenang saja Halbert, tiap-tiap racun yang merusak tubuhmu, aku akan langsung menyembuhkannya dengan cepat. Jadi kau bisa minum racun dari Cyntia sepuasnya." Kata Steve sambil tersenyum lebar.
"Gila lu ya!!"
Iaros kemudian mendatangi Dias yang sedang bersila tanpa membuka matanya.
"Dias, kalau kamu tidak sanggup, tidak apa-apa lah kau batalkan untuk sementara. Kan kau bisa menguasainya saat kita pulang nanti." Ucap Iaros. Iaros memperhitungkan kondisi mereka semua yang harus bertahan menghadapi berbagai macam monster. Dias pasti tidak akan bisa melawan tanpa menggunakan kedua bola matanya untuk melihat apabila terdapat monster yang ingin menerkamnya.
Selain itu, tubuh Dias juga semakin mengurus. Karena sudah selama 15 hari ini dia hanya minum air saja.
"Iaros!! kau harus menghormati keputusan Dias!!" Teriak Demitry sambil menunjuk-nunjuk ke arah Iaros.
"Apaan sih, berisik." Balas Iaros.
"Dias itu berpuasa supaya dirinya bisa lebih kuat lagi agar bisa menjadi petualang hebat yang melebihi dirimu.. Harusnya kau mendukungnya, bukan malah menyuruh Dias untuk menyerah.. Hadeh, nggak peka banget sih."
Apa yang diucapkan Demitry itu semua benar. Iaros harus bisa menjaganya hingga dirinya bisa menguasai Clairvoyant itu dengan sempurna. Dia harus bisa menghancurkan semua hambatan yang bisa menggagalkan Dias untuk menguasainya. Dan penghambat itu adalah…
"Hmm.. Apakah aku harus membunuh Halbert?" Ucap Iaros lugu.
"Lah, kenapa kau kepikiran sampai situ sih." Demitry hanya bisa tepuk jidat mendengar tanggapan Halbert yang tidak masuk akal.
Waktu demi waktu terus berlalu. Dan perjalanan panjang mereka tidak pernah berhenti. Dan akhirnya, Dias dapat menguasai sihir Clairvoyant dengan sempurna setelah lewat 1 bulan tanpa melihat apapun dan tanpa memakan apapun. Dan saat ini dia dapat melihat status orang-orang yang ada disana dengan sangat mudahnya. Dia hanya cukup mengucapkan ‘Clairvoyant’ dan membuka matanya, maka dirinya langsung bisa melihatnya.
"Clairvoyant.." Ucap Dias ketika mempraktekkannya bersama dengan Iaros. Tiba-tiba muncul sebuah hologram di atas kepala Iaros. Dias dapat melihat status Iaros, mulai dari total HP (Health Point), MP (Mana Point), job, dan level. Dan tidak bisa dipercaya, jika HP, MP dan level Iaros berada sangat jauh dari dirinya. Padahal dia tidak pernah andil dalam pertarungan sama sekali, tapi jarak level di antara mereka berdua bagai bumi dan langit.
Name : Iaros Athens
HP : 12.045
MP : 24.000
__ADS_1
Job : Dungeon Hunter
Level : 98
Itu adalah apa yang dilihat Dias kepada Iaros. Berbeda dengan statusnya sendiri yang dapat ia lihat dengan lebih lengkap.
Name : Adias Floryn
HP : 988
MP : 1.500 (-15)
Job : Student
Level : 12
Element : Fire
Skill learned : Sword basic, Fire mage basic
AGI : 15
INT : 20
STR : 18
Ternyata, selama dirinya menggunakan sihir Clairvoyant, MP yang disedot tiap detiknya menghabiskan cukup banyak. Dia kehilangan 15 MP per-detik Untuk mempertahankannya. Untuk cara menonaaktifkannya, Dias cukup mengedipkan matanya dan layar-layar hologram yang mengganggu pandangan matanya akan langsung menghilang.
Berdasarkan penjelasan yang ada di dalam buku Clairvoyant milik Dias, kemampuannya akan terus berkembang apabila terus digunakan. Selain itu, MP yang dikonsumsi juga akan semakin kecil apabila sering digunakan.
"Hematkan MPmu, karena sebentar lagi, sepertinya kita akan melawan musuh yang merepotkan." Ucap Iaros, karena dirinya merasakan jika ada sesuatu yang mendekat.
Iaros sudah berpengalaman dalam menaklukkan dungeon-dungeon sebelumnya, sehingga dia memiliki intuisi yang kuat untuk merasakan keberadaan musuh.
"Semuanya!! bersiap ke posisi masing-masing!!" Teriak Franca yang sebelumnya sudah mengawasi tempat sekitar menggunakan burungnya.
Tiap-tiap orang memposisikan diri masing-masing. Mulai dari healer yang berada di barisan paling belakang, penyihir, atau caster berada di barisan tengah, para petarung jarak dekat berada di barisan paling depan.
Di tempat itu, tiba-tiba muncul Wyvern raksasa bewarna hitam yang terbang melesat ke arah mereka semua.
"Kyaaaakk!!" Angin berhembus dengan sangat kuat yang berasal dari kepakan sayapnya membuat pepohonan di sekitar ingin rubuh.
Sebagai informasi, Wyvern adalah naga terbang yang memiliki dua kaki. Dia bisa menyemburkan api dan dengan apinya itu, Wyvern bisa menghanguskan satu desa dalam hitungan menit. Apalagi tubuhnya yang besar dan keras akan sulit sekali untuk dibunuh.
“ClairVoyant!” Dias mengaktifkan skill matanya dan melihat informasi dari Naga itu.
Name : Black Wyvern
HP : 21.000
MP : 300
Lvl : 90
Job : -
Element : Fire
“Ahh, mataku!” Karena angin berhembus kencang, membuat mata Dias kemasukan debu dan membuatnya harus mengucek-ucek matanya supaya debu itu pergi.
Mereka semua yang berada disana sudah siap menyerbu. Namun, sebelum mereka akan bertindak, Iaros maju seorang diri ke barisan paling depan. Beberapa orang melihat Iaros yang melangkah dengan santainya.
"Sepertinya ini sudah saatnya untuk unjuk diri." Ucap Iaros.
"Water slicer.." Iaros cukup mengayunkan tangannya ke arah Wyvern, dan tiba-tiba saja kepalanya langsung terbelah.
Tubuh Wyvern langsung jatuh ke tanah. Sedangkan yang lainnya malah melongo karena terpesona melihat kemampuan Iaros yang sudah tidak bisa dinalar oleh akal manusia.
"Gila, Aku sampai lupa kalau ada monster juga di kelompok kita." Ucap Dann yang salah satu petarung jarak dekat disana.
"Hahaha, sepertinya kita telah menonton momen-momen yang paling berharga." Ucap Nordin sambil menyarungkan pedangnya kembali.
"Hah? kalian terpesona karena melihat ini? aku sudah melihatnya berkali-kali." Balas Demitry. Demitry berkata dengan jujur, karena sebelumnya juga sudah pernah menaklukkan dungeon-dungeon yang lain bersama dengan Iaros, Iris dan Halbert.
__ADS_1
Dias sendiri juga tidak menyangka jika orang yang seringkali diomeli oleh Iris adalah orang yang sangatlah kuat. Ternyata apa yang diucapkan oleh orang-orang guild yang lain itu benar. Dia adalah penyihir terkuat di Valkrie.