Adias Floryn : Get Back The Kingdom

Adias Floryn : Get Back The Kingdom
Bagian 14 : Aku Pulang


__ADS_3

*1 Minggu kemudian..


"Theaaa!!" Dias segera berlari menuju ke arah Althea yang sedang sibuk menyirami bunga di halaman. 


"Kakaaakk!!" Thea langsung menghentikan sihirnya dan segera berlari menuju Dias. Tapi setelah dirinya melihat ada yang berbeda dengan kakaknya, dia terlihat ragu-ragu dan menghentikan langkahnya. 


"Kakak?"


"Thea? Kamu tidak mengenal kakakmu sendiri?" Ucap Dias. Karena Dias berpenampilan tidak sama lagi seperti dulu, membuat Althea menjadi bingung. Penampilannya hampir terlihat seperti preman daripada orang biasa pada umumnya.


"Kau.. Kau siapa?" Tanya Thea ketakutan. Dias yang memakai tindik, dengan senjata baru yang disarungnya, beserta pakaian nyentrik dengan rantai disisi kanan pinggangnya dan ditambah lagi tubuh yang sudah tumbuh hingga 165 cm membuat Thea menjadi pangling. Padahal Thea sendiri yang sudah berumur 14 tahun masih memiliki tinggi 154 cm. 


“Haish.. kenapa lagi ini,” Ucap Dias. 


Setelah itu, dia mengacungkan jari kelingkingnya ke arah Thea. Seketika itu Thea langsung teringat janji yang sudah mereka berdua buat bersama ketika di bawah pohon, bahwa Dias berjanji akan kembali dengan hidup-hidup. Hal itu membuat Thea sangat senang sekali.


“Kakaaakk!!” Thea langsung memeluk kakaknya dengan bahagia sampai matanya berkaca-kaca. Dias juga membalas pelukan adiknya juga dengan lembut tapi biasa aja, nggak sampai berkaca-kaca. 


"Selamat datang, Kak.." Ucap Thea yang tersenyum indah.


"Aku kembali." Balas Dias yang juga membalas senyuman Thea. 


Setelah puas berpelukan, Thea mengajak Kakaknya itu masuk ke dalam rumah untuk makan bersama. Kebetulan Iris sudah menyediakan sarapan pagi, dan kebetulan juga hari ini adalah hari minggu, sehingga Thea tidak perlu pergi ke sekolah. 


"Tante Iris! Kakak pulang!" Ucap Thea girang. 


"Siapa? Emang kamu punya Kakak?" Balas Iris dengan wajah penuh tanda tanya. Namun setelah melihat Dias, dia menjadi sangat terkejut.


"Theaa!! kenapa kau bawa Preman masuk ke rumah!?" Pekik Iris karena penampilan Dias yang garang.


"Bukaaann!! Ini Dias loh. Masa lupa sih, Tante," Kata Thea. 


"Hahahaha, Nggak.. Tante bercanda doang kok," Kata Iris sambil tertawa kecil. 


"Hmph, suka banget jahilin aku," Kata Thea sambil cemberut. 


"Iya, iya. Sudah ayo duduk," Kata Iris yang kemudian mengambil tempat nasi dan meletakkannya di atas meja. "Kamu juga duduk ya, Thias." 


"Dias tanteee!!" Pekik Thea. Dias hanya bisa tersenyum kecil melihat Iris yang menjahili Thea. Akhirnya mereka berdua duduk di kursi makan. 


"Ah iya, Iaros kemana?" Kata Iris yang sibuk mengambilkan nasi untuk Dias. 


"Hmm, katanya masih ada urusan dengan teman lamanya sebentar. Mungkin nanti siang dia sudah kembali kesini." Ucap Dias sambil menerima semangkuk nasi yang disodorkan oleh Iris. 


"Ohh, begitu." Balas Iris. Setelah itu mereka bertiga makan bersama dengan lahap. 


"Kakakk!! tahu nggak kalau aku selalu rangking satu di kelas loh!" Ucap Thea dengan bersemangat dengan mata berapi-api. 


"Wah, itu kan Keren sekali!" Balas Dias yang terpaksa harus menghentikan aktivitas makannya. 


"Kakak terus saja makannya, Kakak cukup dengerin aku cerita aja." Kata Thea dengan senyum mungilnya. Dias pun menuruti ucapan Thea dan tetap makan sambil mendengarkan Thea bercerita. 


Bagi Dias, Thea adalah satu-satunya keluarga yang paling berharga dari semua harta yang ada di bumi ini. Dia rela melakukan apapun itu selama adiknya bahagia. Kebahagiaan Thea adalah kebahagiaan Dias juga, dan Dias pun merasa lega karena selama tidak ada kehadirannya di rumah, dirinya dapat menjaga diri dengan baik. 


Setelah 5 tahun lamanya mereka berpisah, Thea mengalami perubahan yang drastis. Dia menjadi lebih cantik dengan rambut birunya yang panjang. Selain itu, kulitnya yang putih dan halus itu menjadi daya tarik tersendiri sehingga Dias yakin, siapapun lelaki yang berpapasan dengan Thea, pasti akan jatuh hati padanya. Tetapi tentunya, Dias tidak akan membiarkan lelaki sembarangan boleh menyentuh Thea. Dia memutuskan untuk melindungi Thea hingga akhir hayatnya dan tidak akan membiarkan siapapun membuat Thea bersedih. 


"Kakak? Kok ngelamun sih?" Kata Thea sambil menggerak-gerakkan tangannya tepat di depan wajah Dias untuk menghentikan lamunannya. 


"Ahh, iya maaf." Kata Dias. 


Setelah sarapan, Dias segera mandi dan berganti pakaian karena Iris mengajak mereka untuk pergi jalan-jalan ke Pusat Kota. 


Sesampainya di pusat kota, secara kebetulan Dias melihat Cyntia yang sedang menyapu halaman di depan tokonya. 


"Cyntia!" Sapa Dias dari jauh. 


"Wah, Dias, Si Bocah Api ya. Hahahahaha. Sudah sehat rupanya." Kata Cyntia yang tersenyum ramah. 


"Iya, hehe. Pasti berkat ramuan yang telah kau berikan.." Kata Dias juga ikut tersenyum ramah. 


"Iya, iya." Ucap Cyntia, kemudian pandangannya berpindah pada Iris.


"Wahh, Kak Iris! lama tak jumpa.." Girang Cyntia yang sepertinya sudah mengenal Iris sejak lama. Cyntia kemudian langsung memegang kedua tangannya dan menggenggamnya. 

__ADS_1


"Kak Iris, kenapa Kakak tidak ikut kami ke dungeon? Padahal kami sangat butuh bantuan Kakak," Tanya Cyntia yang penasaran. 


"Yah, seperti yang kau lihat, aku harus jaga rumah." Balas Iris. 


"Lagipula sudah ada yang menggantikan tempatku disana." Lanjutnya.


"Steve?" 


"Iya, dia."


"Yaelahhh, dia kan cuman bisa nyembuhin doang, nggak bisa nyerang sama sekali." Kata Cyntia sambil meremehkan priest terkuat di guild Valkryrie. 


"Hahahaha, ngawur banget ucapanmu." Balas Iris. Cyntia bercerita sambil melebih-lebihkan kehebatan yang dimiliki oleh Iris. Ternyata di masa lalu, Iris dan Cyntia juga seringkali satu tim saat menjelajahi dungeon, atau melakukan misi di guild. 


Karena penasaran dengan yang diucapkan oleh Cyntia, Dias mencoba mengaktifkan skillnya untuk melihat status Iris.


"ClairVoyant!" Seketika mata Dias menyala bewarna hijau. 


Name : Iris Magdalena


HP : 8.000


MP : 14.000


Lv : 80


Class : Support, Priest, Fencer


Skill : White Magic, Support master, Sabre


Job : IRT (Ibu Rumah Tangga)


Dias hanya manggut-manggut setelah melihatnya. Iris memiliki level yang jauh lebih tinggi dibandingkan orang-orang yang berada di guild. Kecuali Iaros.


Malamnya, Iaros datang membawakan sebuah bingkisan hadiah yang dia bawa sebagai oleh-oleh di rumah.


“Iriiiss, aku pulaangg,” Ucapnya sambil menyodorkan bingkisan itu. 


"Wahh, apa yang kau bawa?" Tanya Iris yang memandangi bingkisan berbentuk kotak tersebut. 


"Hmm, nasi kotak ya. Emangnya ada acara apa?" Tanya Iris. Setelah Iris menanyakan itu, Iaros memasang wajah sedih.


"Eng, mungkin kamu agak sedih mendengar berita ini." Ucap Iaros sambil meletakkan 4 nasi kotak itu di atas meja.


"Hmm? Ada apa?"


"Sebenarnya setengah dari rombongan yang ikut menelusuri dungeon bersamaku, tidak selamat."


"Tidak selamat!?" Ucap Iris yang sangat terkejut dengan berita itu. 


"Iya. Dan nasi kotak ini ku dapatkan setelah melaksanakan do'a bersama di guild."


"Turut berduka." Kata Iris. 


Dias yang mendengarkan pembicaraan mereka berdua jadi ikut terbawa sedih, karena dirinya malah teringat Dann yang telah mengajarinya bermain pedang. 


Dann meninggal tanpa diketahui oleh Dias di dalam dungeon sana. Dia terpaksa meninggalkan Dias karena dirinya harus menolong para healer yang sedang diincar oleh para monster, jauh dari pandangan Dias. 


Akhirnya, mereka makan malam bersama dengan nasi kotak itu. 


"Dias, mulai besok kau harus bersekolah bersama dengan Thea." Ucap Iaros.


"Apa!?" Dias terkejut mendengar apa yang diucapkan olehnya.


"Kenapa aku harus sekolah? Bukannya Aku sudah cukup kuat dalam pertarungan?" Ucap Dias. 


"Iya, memang benar. Tapi tetap saja ketika kau bergabung dengan guild, kau tetap harus mendapatkan sertifikat resmi lulus dari pendidikan. Sertifikat itu bisa digunakan untuk menjadikan dirimu sebagai petualang resmi. Tanpa itu, kau tidak akan bisa dapat uang dari hasil menyelesaikan misi di guild." Jelas Iaros. 


Mengetahui fakta yang demikian, akhirnya dia hanya bisa pasrah dan mengikuti apa yang diucapkan oleh Iaros. 


Dias sebenarnya sangat tidak ingin bersekolah, karena pikirnya dia tidak akan berkembang dengan pesat jika hanya mempelajari teori-teori di sekolah yang minim dengan masalah dan hanya berisikan anak-anak nakal saja. Sekolah yang hanya akan menambah beban pikir dan memperlemah tubuhnya. Bagaimana mungkin dirinya bisa menjadi kuat dan bisa membalas dendam?


*Keesokan harinya..

__ADS_1


"Jadi, Kakak harus ikut tes masuk dulu ya?" Tanya Thea sambil berjalan kaki dan melirik ke arah Dias. 


"Yah, mau gimana lagi. Hhoooaaamm.. Nyem nyem~" Balas Dias yang terlihat tidak bersemangat dengan kantung mata yang masih menggantung di matanya. 


"Kakak nggak apa-apa kan? Nggak bakal pingsan saat tes nanti?" Ucap Thea yang mengkhawatirkan kakaknya. 


"Tenhaang Sajoaaahhmmh.. sAantuyhh.. Auh ngantuk banget." Balas Dias menyuruh adiknya untuk berhenti cemas padanya. Dias sangat kesulitan menahan kantuknya karena dia telah begadang semalaman hanya untuk mempersiapkan ujian masuk ke sekolah ini. 


"Kakak, berhenti dulu." Ucap Thea menghentikan langkahnya dan memposisikan dirinya berhadapan dengan Dias. Dias bingung apa yang sebenarnya akan dilakukan adiknya ini. 


"Zuungg.." Ketika Thea menatap Dias dalam-dalam, muncul lingkaran sihir dengan cahaya di sekitarnya dan tiba-tiba rasa kantuk Dias langsung hilang. 


"Wahh.. hebat." Ucap Dias.


"Hahaha, dengan begini Kakak gak bakal ketiduran saat tes. Tapi ingat, sihir ini hanya berlaku 90 menit loh. Jadi kalau bisa setelah tes, Kakak harus langsung tidur biar tidak pingsan di jalan." Ucap Thea. 


Dias mengangguk paham dan akhirnya lebih optimis lagi untuk mengikuti ujian masuk ke Akademi Raftel yang merupakan sekolah paling elit di Kerajaan ini. 


"Kalau begitu, Aku duluan ya Kak, temanku minta dijemput di rumahnya." Kata Althea.


"Ah, iya iya." Balas Dias sambil melihat punggung adiknya yang terus menjauh. Terpaksa dirinya harus berjalan sendirian menuju ke Akademi. 


Sesampainya di Akademi Raftel, Dias tidak menyangka tempatnya bisa semegah ini dan seindah ini. Meskipun banyak pepohonan dan semak-semak yang mengakar di bagian dinding-dinding sekolah, namun tempat itu luar biasa. 


Murid-murid disana terlihat seperti orang-orang kaya dengan riasan yang menawan. Seragam yang bewarna putih bersih seperti melambangkan kesucian, disempurnakan dengan wajah yang goodlooking, bukti jika mereka seringkali melakukan perawatan wajah. 


"Ah, jangan terkesima terlebih dahulu aku harus melihat kemampuannya.”


“ClairVoyant!” Dias mengamati tiap-tiap murid dengan menggunakan kemampuannya, dan ternyata hasilnya kurang memuaskan. Kebanyakan dari mereka memiliki level yang jauh lebih rendah daripada dirinya sendiri. Hal ini membuat Dias tidak berharap lebih bertemu dengan orang yang setara dengan levelnya.


"Hmm? Tunggu dulu.." Dias mencoba menggunakan ClairVoyantnya lagi, dan kali ini bukan kepada manusia, melainkan kepada orang bertelinga runcing dan berambut pirang di ujung sana.


"Itu kan, elf?" Ucapnya terkejut yang ternyata ras elf memiliki status jauh lebih tinggi dibandingkan manusia-manusia normal lainnya. Dias juga terkejut jika ternyata di akademi ini terdapat banyak elf yang ikut belajar bersama. 


Setelah itu, Dias bertanya kepada satpam mengenai ruangan untuk mengikuti tes ujian masuk. Satpam itu menunjukkan jalannya dan Dias mengikutinya. Setelah sampai, Dias langsung mengerjakan soal yang diberikan oleh pengawas ujian dengan baik dan sempurna. Yah, meskipun dia sedikit kesulitan di awal, karena baru pertama kalinya dia menjawab soal pilihan ganda.


"Ahh, selesai juga,"


Setelah itu, dia memutuskan untuk segera cepat-cepat pulang dan pergi tidur, karena efek dari sihir Thea hanya tersisa 15 menit lagi akan menghilang. 


"Permisi," Ucap Dias yang terburu-buru meninggalkan kelas. Dia berlari sekencang mungkin untuk sampai ke rumah dengan cepat. Sesampainya, dia langsung meloncat ke atas kasur dan langsung mendengkur. 


Malamnya, terdapat paket yang dikirimkan dari Akademi. Ternyata di dalamnya adalah hasil tes yang dilakukan oleh Dias dan seragam sekolah. Dari hasil tes itu Dias dinyatakan lolos, dan masuk ke kelas 11 A.


"Hah, sudah seperti yang kuperkirakan." Ucap Dias dengan senyum angkuh. Tiba-tiba Thea datang mendekati Dias yang sedang berada di ruang tamu tersebut. 


"Apa itu kak?" 


"Ah, hasil tes ku tadi. Aku nggak menyangka pihak Akademi bisa secepat ini memprosesnya." Ucap Dias kagum.


"Yahh, kelas kita jauh juga rupanya." Ucap Thea setelah melihat lembar yang dipegang oleh Dias yang saat ini masih menginjak kelas 10. 


Setelah itu, Dias segera pergi menemui Iaros yang sedang sibuk membaca koran di ruangannya.


"Paman, Kau ada disini?" Kata Dias sambil membuka pintu. Dia melihat Iaros yang sedang sibuk membaca koran bertumpuk-tumpuk.


"Ah, Dias. Kebetulan ada dirimu. Cepat kemari." Ucap Iaros. Dias menurutinya dan mendekati Iaros dengan penuh tanda tanya.


"Apa yang kau baca?" Tanyanya.


"Ini berita-berita yang terjadi selama kita masih berada di dalam dungeon, dan ternyata sudah separah ini." Ucap Iaros. Setelah itu, Iaros menyodorkan koran yang baru saja dia baca. 


"Ini.." Dias membelalak kaget setelah membacanya. 


"Iya, Kerajaan milikmu saat ini sudah menjadi ancaman bagi Kerajaan-Kerajaan yang lainnya. Selama 5 tahun ini, Kerajaan Farnesse terus-menerus memperluas kekuasaannya dan menaklukkan Kerajaan-Kerajaan lainnya dengan bengis dan tanpa ampun." Ucap Iaros. 


Yang lebih mengejutkan lagi, Kerajaan Farnesse menumbalkan penduduknya sendiri demi membangkitkan Para Iblis. Hal ini mereka lakukan semata-mata ingin menjadi yang terkuat di antara Kerajaan-Kerajaan yang lain. 


Tidak hanya itu, bagi suatu Negara yang sudah dikalahkan oleh Kerajaan Farnesse, semua warga dan bala tentaranya akan dijadikan budak yang nantinya juga bisa dikorbankan untuk pemanggilan Iblis. 


Berkat itulah, akhirnya kemunculan menara dungeon meningkat drastis. Pada dasarnya, dungeon-dungeon itu berasal dari dunia luar yang dapat dibangkitkan dan dapat memunculkan makhluk-makhluk di luar logika. Sehingga monster juga bermunculan di berbagai tempat di seluruh penjuru dunia. 


"Keadaan dunia sudah segawat ini, terus kenapa kau masih sempat menyuruhku untuk belajar di akademi?" Tanya Dias kepada Iaros dengan sedikit emosi. 

__ADS_1


"Kau pikir aku menaruhmu ke Akademi hanya untuk main-main?" Kata Iaros, kemudian dia ambil satu koran.


Iaros melemparkan koran itu ke Dias, dan segera membacanya. "Kasus Beberapa Siswi Menghilang Secara Misterius? dan sudah satu bulan belum ditemukan?" Ucap Dias.


__ADS_2