
“Kau tahu kan? salah satu siswa kelas 3 C yang bernama Azka? Dia adalah orang dibalik pembunuhan berantai akhir-akhir ini loh,” ucap salah satu siswa yang bergosip di koridor Akademi.
“Wah, yang keberadaannya hampir tidak dianggap itu ya? Hahahaha,” balas salah satu temannya sambil tertawa terbahak-bahak.
“Aish, nggak boleh gitu.. Kamu nggak kasihan apa? Orang tuanya kan terlilit utang dengan jumlah yang sangat besar..”
“Hmm, pasti dia nggak kuat karena harus hidup miskin bersama kedua orang tuanya yang kolot itu! Hahahahaha,” balasnya lagi. Temannya hanya bisa memasang emot batu ketika mendengar temannya yang kurang ajar itu.
Berbagai gosip pun muncul di seluruh area sekolah mengenai Azka yang merupakan korban pembullian, kemudian berubah menjadi pembunuh berdarah dingin yang kejam. Hal ini terjadi sejak terbunuhnya satu siswa yang terjadi di belakang kelas dan satunya mengalami luka parah. Untung saja masih bisa terselamatkan. Namun, kejadian ini masih berlanjut dengan terbunuhnya beberapa orang tanpa diketahui siapakah yang melakukannya. Mereka semua hanya mendengar semua itu dari berita, dan mencocokkannya dengan Azka yang sudah berubah menjadi Iblis.
Seorang gadis yang mendengarkan hal itu sedikit tersinggung dengan ucapan mereka berdua karena telah menyindir Azka yang merupakan teman masa kecilnya. Tapi dia tidak bisa apa-apa karena apa yang dikatakan itu adalah benar. Selain itu, semuanya juga sudah tahu siapa Azka sebenarnya dan sudah tidak tertolong lagi.
“Azka, ada apa denganmu?” ucap gadis itu dengan rasa khawatir.
“Heii, lihat!! Bukankah itu Azka?” ucap salah satu siswa yang sekelas dengan Azka menunjuk ke arah gerbang sekolah dimana Azka masuk dengan santainya.
“Lah, iya ya. Bukankah dia sudah menjadi Iblis?” ucap lelaki itu karena wujud Azka yang seperti pada umumnya. Tampilan suram dengan kantung mata yang tebal, serta rambut hitamnya yang sedikit menutupi matanya.
“Entahlah. Aku juga tidak mengerti.”
Secara spontan, gadis berambut hitam bermata coklat itu langsung mendekati jendela dan melihat penampakan Azka dari lantai 3.
Mereka melihat Azka yang tampak seperti biasanya sedang berjalan masuk ke area sekolah. Ketika melangkahkan kakinya ke gerbang sekolah, dia dihadang oleh Pak Satpam. Tidak lama kemudian, Pak Satpam itu mengangguk dan memperbolehkan Azka masuk ke sekolah dengan mudahnya.
Azka melihat ke arah dimana ruang seni berada dan berjalan menuju ke arah sana. Dia terus berjalan hingga sampai ke koridor. Koridor itu masih sepi, karena pelajaran masih berjalan seperti biasanya.
“Hei, Nak. Kenapa kau tidak masuk ke kelasmu?” ucap salah satu guru laki-laki yang kebetulan lewat dan menghadang Azka. “Kelasmu dimana?”
“Hilih, banyak omong..” tiba-tiba saja sebuah tentakel muncul dari belakang tubuhnya dan menyerang guru lelaki itu yang masih belum siap apa-apa terkena serangan.
“Brakk!!” Guru itu terpukul jauh hingga menghantam dinding kelas dengan sangat kuat. Setelah itu, Azka segera melanjutkan jalan santainya menuju ke ruang seni.
Mendengar suara benturan yang keras, beberapa murid keluar dari kelas dan mengecek keadaan. Mereka melihat Pak Rendy yang duduk tersenden di pinggir tembok yang telah hilang kesadaran dan segera menghampirinya.
“Pak Rendy tidak apa-apa?” Ucap salah satu siswa sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya untuk mengecek kesadarannya, namun sama sekali tidak ada respon darinya. Beberapa siswa segera menggotong Pak Rendy dan membawanya ke UKS.
“Cepat beritahukan ke Pak Horus!” ucap salah satu siswa yang mana Pak Horus baru-baru ini telah diangkat sebagai kepala Keamanan di sekolah ini. Kemudian siswa itu membuntuti pria aneh itu dan mengamatinya dari jauh.
*Sementara itu..
“Aduh.. males banget gambar beginian..” ucap Tedy yang mengangkat kuasnya sambil melukis di atas kanvas.
“Ini kan sekolah sihir, kenapa sih kita harus belajar seni juga? Haduh, sungguh merepotkan,” lanjutnya sambil menghela nafas.
“Sudahlah, kamu seharusnya tahu jika seni itu juga bagian dari sihir. Kemampuan berimajinasi dan kekreatifitasan kita harus tetap kita jaga, supaya mendapatkan sihir yang lebih kuat lagi,” jelas Dias yang duduk di samping Tedy. Mereka berdua sedang menggambar sekeranjang buah yang di tampilkan di depan kelas.
“Hemm, tumben kamu bener?” ucap Tedy kemudian bangkit dari duduknya dan mengecek hasil melukis Dias.
“Pfttt.. Ahahahahahaha!! Kamu ngegambar apa sih, Dias.. Ahahahaha..”
__ADS_1
Tedy tidak dapat menahan tawanya, ketika melihat gambaran Dias yang seperti sedang menggambar kapal karam.
“Aduh, duh.. Dias, sebelum mengoreksi orang lain, harusnya kau koreksi dulu gambar konyolmu itu.. Hahahahaha.. Lihat gambarku ini.”
Tedy memperlihatkan gambarnya yang masih berupa setengah jadi dengan warna yang tidak beraturan.
“Hahahaha, yakin dek, bilang gitu?” ucap Dias meremehkan. Tidak lama setelah Tedy menunjukkan miliknya, Dias segera memperlihatkan lukisannya yang dianggap kapal karam tadi, kemudian membaliknya 180 derajat.
“What the–” Tedy menganga melihat lukisan indah yang ditunjukkan oleh Dias. Lukisan itu terlihat sangat hidup. Dias benar-benar melukis buah-buahan itu dengan menggunakan kanvas yang terbalik.
“Hahahaha, kena mental kau sekarang, Dek?” Dias merasa sangat bangga karena telah men-counter cemoohan Tedy padanya.
“Ini.. ini tidak mungkin!” Setelah melihat kenyataan yang pahit, kakinya langsung melemas, dan menjatuhkan tubuhnya pada kursi disebelahnya. Dias tak henti-hentinya untuk menertawakan reaksi Tedy yang berlebihan.
“Ahhh, sudahlah!! Nggak mau melukis lagi!” Tedy melemparkan kuasnya ke sembarang arah.
“Klang.. Byurr!!” Tanpa sengaja, kuas Tedy mengenai kaleng cat dengan kuat dan menumpahkan seluruh isinya tepat pada lukisan Dias.
“Tedyyy!!” Teriak Dias yang terlihat sangat marah, karena hasil karyanya telah hancur akibat perbuatan Tedy yang ngawur.
“Bwahahahaha!! Mampus lu! Mangkanya jangan terlalu berbangga. Ingat, tiap-tiap kesombongan pasti akan ada karma yang menyertainya!” Balas Tedy dengan mengucapkan kata-kata mutiara. Akhirnya, mereka berdua bertengkar dengan saling melempar alat-alat kesenian mereka.
“Aish, berisik banget dah mereka berdua. Tolong lerai mereka dong!” ucap salah satu siswi disana dengan wajah kesal.
Sementara itu, Lily sedang asyik-asyiknya menggambar sambil bersenandung lagu. Dia sangat menikmatinya, karena menggambar adalah salah satu dari hobinya yang sejak kecil telah dia lakukan.
“Ini Tuan Putri.” Halvar memberikan cat warna pink dengan senyum yang cerah. Dia sangat senang sekali melihat pemandangan yang sudah lama tidak dia lihat sejak kejadian penculikan Fiona kemarin.
“Oke makasih~ Dududu~” Lily melanjutkan lukisan itu yang sudah hampir jadi. Siswi-siswi lain yang berada tidak jauh dengan Lily dapat melihat langsung lukisan Lily yang sangat cantik. Mereka terkagum-kagum dengan lukisan indah itu dan memujinya.
“Hehehe, terima kasih. Tapi ini belum jadi. Mohon tunggu ya~,” ucap Lily dan kembali berfokus pada lukisannya sambil bersenandung ria.
“Srakk!” Tiba-tiba saja, sebuah gunting lolos melesat ke arah kanvas yang digunakan oleh Lily, sehingga membuat lukisan itu berlubang.
“Ah, gawat,” ucap Tedy dan Dias secara bersamaan. Mereka semua yang berada disana sangat terkejut melihatnya. Ekspresi Lily berubah 180 derajat penuh akan kemarahan hingga mematahkan kuas yang dipegangnya.
“DIAASSS, TEEDYYY!!” Teriak Lily murka.
“Maaff!!!” Dias dan Tedy segera berlari meninggalkan ruangan kelas, bersamaan dengan itu, Lily juga mengejar mereka berdua dan disusul oleh Halvar.
“Tunggu kalian!! Dasar kurang ajar!!” Lily berteriak dan berlari mengejar mereka berdua yang juga berlari di koridor.
Namun dalam sekejap, mereka harus menghentikan langkah kaki mereka, karena melihat wajah yang tidak asing sedang berjalan ke arah mereka.
“Wah, wah.. Sudah lama kita tidak bertemu ya. Eng, yah.. tidak bisa dikatakan lama juga sih, baru juga lima hari telah berlalu. Hahahaha,” ucap Azka yang tiba-tiba saja mengeluarkan aura hitam yang sangat pekat.
“Kalian berdua, cepat mundur!” Teriak Lily yang merasa tidak enak dengan aura yang dimiliki oleh lelaki itu. Dia tampak begitu berbahaya, dan seakan-akan ingin membantai siapapun yang menghalangi jalannya.
“Clairvoyant!” ucap Dias sambil melihat status Iblis itu yang sudah meningkat dua kali lipat daripada yang sebelumnya. Dias juga tahu jika jiwa lelaki itu sudah kosong dan telah diambil alih oleh Iblis itu sepenuhnya.
__ADS_1
“Oke oke, sebagai salam pertemuan, akan ku sapa kalian dengan baik-baik.” Tiba-tiba saja penampilan pria itu berubah menjadi sangat mengerikan. Tubuhnya terselimuti oleh aura hitam, dengan tentakel yang muncul di belakang tubuhnya, seperti ekor berjumlah 8.
Dengan sangat cepat, tentakel itu meluncur ke mereka masing-masing, kecuali Halvar yang masih berdiri jauh dari mereka.
“Apa ini?” Dias mengamati gerakan tentakel yang memunculkan sebuah bayangan yang bergerak dengan gerakan yang berbeda dari tubuh aslinya. Dipandangan matanya, tubuh aslinya mengikuti gerak bayangan itu, sekitar 1 detik setelahnya. Baru setelah itu menghantam tubuh Dias.
“Brakk!!” Dias terpental jauh, Begitu pula dengan Tedy yang berhasil bertahan dengan kemampuan silatnya. Tedy mampu meringankan tubuhnya, sehingga tidak terpental sebegitu jauhnya seperti Dias.
“Swipe!! Brakk!!” Halvar berhasil dengan tepat waktu memindahkan Lily dari posisinya. Namun Halvar harus menerima dampak serangan yang sangat kuat, bahkan sampai menghancurkan tameng yang baru saja dia munculkan.
“Argh.. Aku masih belum terbiasa dengan mata ini,” ucap Dias yang memegangi perutnya yang kesakitan. Kemampuan yang sudah diberikan oleh Dewi Clairvoyant masih belum bisa dia kuasai, yakni kemampuan yang dapat membaca gerakan lawan satu detik sebelumnya. Disaat Clairvoyant itu aktif, maka Dias dapat membaca gerakan itu.
Setelah itu, dengan cepat Iblis itu melesat ke arah Dias dan menginjak kepala Dias.
“Brakk!!” terdengar suara keras yang berasal dari wajah Dias yang mencium ubin.
“Hahaha, lemah sekali. Bukannya kau yang telah membakarku berkali-kali hingga tubuhku hangus? Tapi kenapa kau bisa menjadi lemah sekali? Hahaha..” ucapnya sambil menginjak-injak kepala Dias.
“Blarr!!” Dias langsung membakar tubuh Iblis itu dengan sihirnya.
“Apa yang terjadi?” ucap ketua kelasnya yang bernama Gail sambil mengamati keadaan di luar pintu ruang seni. Dia bertanya pada Lily yang berada tepat disampingnya sambil menoleh kanan kiri.
“Cepat pergi dari sini! Panggil guru di ruang guru!” Perintah Lily kepada siswi itu sambil menunjuk ke arah lelaki yang sudah berubah menjadi monster bertentakel. Hanya saja, monster itu dalam keadaan terbakar karena sihir yang dikeluarkan oleh Dias.
Gail menelan ludah karena sedikit takut melihat penampakan monster itu. Namun dia menguatkan diri dan berkata pada Lily : “Tenang saja, Tuan Putri.. Kami tidaklah selemah itu dan harus tunduk pada Iblis jadi-jadian yang berada di depan kami.”
Tidak lama setelah itu, teman-temannya muncul satu-persatu dan bersiap untuk menghadapi monster itu bersama-sama. Mereka semua saling memasang badan, dan bersiap dengan kemampuan sihir mereka masing-masing.
“Darr!!” Monster itu menendang kepala Dias dengan sangat kuat hingga terpental jauh melewati para murid yang mengamatinya sehingga menghantam tembok di belakang mereka. Dias terbentur sangat keras hingga tubuhnya terjerembab ke tanah.
“Semuanya!! Lari!!” ucap Gail spontan dan segera berlari meninggalkan tempat itu bersama dengan teman-temannya yang lain. Gail lebih memilih meminta bantuan terlebih dahulu pada guru daripada harus mati konyol berhadapan dengan pembunuh berantai yang ada di depannya.
“Dias!!” Teriak Lily dan menghampiri Dias yang terluka parah.
“Oke, oke.. mari kita simpan kesenangannya untuk nanti. Ada urusan yang harus aku lakukan terlebih dahulu. Ghahahahaha!!” ucap Azka yang kemudian memasuki ruang kelas Seni.
*Sementara itu, ditempat lain..
“Kalian mendengar suara itu?” ucap lelaki sekelas Azka yang tadi meremehkan Azka.
“Iya, suara benturan yang sangat keras. Sepertinya itu berasal dari ruang seni..” tebak teman sebelahnya dengan bulu kuduknya yang berdiri setelah mendengar suara itu. Kelas itu menjadi sedikit riuh setelah mendengar suara itu. Padahal di depan kelas, terdapat guru yang berjaga di kelas karena sedang ada ujian tengah semester.
Guru itu memukul-mukul papan tulis dengan rotan untuk menenangkan keriuhan itu. “Yak.. Yak.. semuanya mohon tenang.. Kalian boleh keluar kalau sudah selesai mengerjakannya ya, jadi mending fokus ke tugas kalian masing-masing.”
Kelas langsung mendadak senyap lagi setelah guru itu berkata demikian. Tidak lama kemudian, gadis kecil berambut hitam mengumpulkan lembar jawabannya ke depan. Dia adalah Blaire, teman masa kecil Azka.
“Blaire?” Guru itu terkejut melihat Blaire yang hanya mengerjakan soal UTS selama 15 menit.
“Ini bu, saya permisi sebentar,” ucapnya, kemudian pergi dari sana dan berlari menuju ke tempat Azka berada.
__ADS_1