Adias Floryn : Get Back The Kingdom

Adias Floryn : Get Back The Kingdom
Bagian 9 : Membunuh Goblin


__ADS_3

“Dias!! Langsung bakar saja dia!” Ucap Halbert yang sedang mengawasi Dias sedang bertarung melawan goblin.


“Apa maksudmu? Dia harus belajar mengendalikan sihirnya terlebih dahulu supaya dapat mengontrol mananya lebih baik lagi. Gunakan pedangmu! Dias!!” Balas Iaros sekaligus memberikan instruksi kepada Dias. 


Dias mengangguk dan menjalankan instruksi yang diberikan oleh Iaros. Dias berlari menerjang goblin yang membawa senjata gada kecil itu, dan mencoba menebasnya. Tapi goblin itu masih dengan mudah menghindarinya. Dias masih terlalu lamban dengan tubuhnya yang kecil itu.


Setelah itu, goblin kecil itu menyerang Dias dengan meloncat dan langsung memukulkan gadanya dari atas. 


“Trangg!!” Untung saja masih bisa di tangkis oleh Dias.


“Apa ku bilang!! Bakar saja!” Halbert menasehati.


"ck ck ck, membosankan.."


“Jangan ikuti ucapan setan. Tetap berada di jalan yang benar, Dias! Gunakan pedangmu dan tunjukkan jika kau bisa meski tanpa menggunakan sihir. Tingkatkan kecepatanmu!.” Lanjut Iaros dengan wajah serius.


“Kau menyindirku, Iaros?”


“Muka kau mirip seperti Bapaknya tuyul.” Kata Iaros.


“Ngaca bos, daripada muka kau mirip bandit?”


“Iya, Aku bandit yang keren kan? Merampas semua kehidupan-kehidupan monster di dalam dungeon yang bermunculan di dunia ini?” Balas Iaros dengan sombong.


Setelah mendengar ucapan Iaros, Dias semakin meningkatkan kecepatannya dan memegang pedangnya dengan erat. Meskipun tangannya kecil, semenjak Iaros melatih fisik Dias dengan jadwal yang tidak manusiawi itu, akhirnya membuat dirinya dengan mudah mengayunkan pedang tersebut. 


“Sratt.. Sratt.. Jleb!!” Akhirnya Dias dapat menusukkan pedangnya menembus perut goblin tersebut. Dias pun dapat bernafas lega setelah menusukkannya dan melepaskan pedangnya dari tubuh makhluk hijau itu. Makhluk hijau itu jatuh tersungkur dengan memegangi lukanya yang berdarah-darah.


“Jangan lengah! Ini masih belum selesai!” Ucap Iaros. Tiba-tiba goblin itu berteriak dengan kencang. 


"Khaaaakkkkhhhaaaaakkkkkhhhhhkkkk!!.." Goblin berteriak, namun bukan teriakan murka, melainkan teriakan seakan-akan meminta tolong. Goblin itu seakan-akan merintih kesakitan atas luka yang diberikan oleh Dias. 


“Khakhhkkkhaaaahkkkkhhaakkkk!!..”


Dias merinding ketakutan dengan suara teriakan itu. Itu adalah teriakan keputus-asaan apabila seseorang dalam keadaan terpojok dan tidak bisa melakukan apa-apa. Makhluk hijau itu berteriak sekencang-kencangnya dan berharap ada rekannya yang dapat menolongnya.


Entah mengapa Dias melihat goblin itu seakan-akan mirip seperti kakek tua yang berteriak meminta pertolongan. Dirinya malah merasa semakin bersalah, terbukti dengan tangannya yang bergetar yang terlihat ragu-ragu untuk mengayunkannya kembali. 


“Cepat bunuh dia!” Perintah Iaros. Tapi entah mengapa kakinya tidak dapat bergerak satu langkah pun seakan-akan tertancap di dalam tanah. 

__ADS_1


Kemudian, tiba-tiba saja dari arah utara terlihat burung-burung yang beterbangan ke langit. Dari jauh sana terdengar langkah kaki yang bergerak dengan terburu-buru dan begitu banyak suara langkah yang terdengar. 


“KHAKK!!” Tidak lama kemudian, muncul sekumpulan goblin datang dengan membawa gadanya masing-masing. Ekspresi mereka begitu murka ketika melihat temannya sendiri dilukai. Sebagian dari mereka mendengus kesal, sebagian yang lain malah terkejut. 


Mereka semua menatap ke arah anak kecil yang sedang berdiri membeku disana sambil membawa pedang yang telah terlumuri oleh darah temannya itu.


KHAAAKKHH!!”


“Gunakan sihir apimu sekarang, Dias!” Teriak Iaros.


“Apa yang kau lakukan, Dias!! Mengapa kau malah diam saja!! Bakar mereka semua!!” Ucap Halbert yang merasa gatal ingin menolongnya. “Iaros, bukannya ini terlalu berbahaya?”


Iaros paham atas apa yang dirasakan oleh Dias, karena dirinya juga pernah mengalaminya dulu saat dirinya pertama kali di ajarkan oleh gurunya tentang bagaimana cara bertahan hidup. “Tenang saja, Aku yakin, dia pasti bisa menghadapinya. Biarkan rasa sakit yang mengajarinya.” Ucapnya. 


“KHAAKK!” Sekumpulan goblin itu mulai menyerang Dias. Dias yang masih diam dengan wajah ketakutan tetap berusaha mempertahankan kuda-kudanya.


Salah satu goblin mengayunkan gadanya menuju ke arah kepala Dias dari atas. Dias dapat menangkisnya meskipun sedikit sempoyongan. Dari pinggir kanan, ada satu lagi yang menyerang Dias, dan sekali lagi, dirinya bisa menangkisnya. Serangan yang lain pun datang dari kiri, dan Dia juga masih bisa menangkisnya. 


Namun, tiap-tiap serangan yang dilancarkan oleh segerombolan goblin itu membuat Dias terpukul mundur. Langkah demi langkah ke arah belakang membuktikan jika dirinya tidak ingin maju untuk menyerang mereka. Dia hanya bisa menangkis dan menghindari serangan itu. Hingga akhirnya salah satu serangan mengenai kepala Dias. 


“Duakk!!!” Serangan itu membuat kepala Dias berdarah. Serangan lain muncul dari arah kanan dan gada itu dengan tepat mengenai lengan Dias. Dilanjutkan oleh goblin lain dari kirinya. 


“Halbert, kau bawa Health Potion?” Ucap Iaros yang ternyata sudah berkeringat dingin melihat Dias berdarah-darah.


“Nggak, lah.. Bukannya kau tadi bilang kalau kau percaya jika Dias bisa menghadapinya?” Balas Halbert dengan heran. Apa yang diucapkan oleh Iaros tadi sangat berkebalikan dengan yang barusan dia ucapkannya. 


“Huh, dasar botak tidak berguna, harusnya aku ajak Steve aja tadi..” Balas Iaros kemudian pergi meninggalkan Halbert.


“What!?” Halbert hanya memandang punggung Iaros yang semakin menjauh dengan pandangan aneh.


Dias berusaha dengan keras menghindari dan menangkis serangan dari para goblin meskipun lukanya sudah terlihat parah. Darah dari atas kepalanya yang mengalir ke mata membuat dirinya sulit melihat. Tubuhnya bergetar menahan rasa sakit, dengan bibir yang juga ikut bergetar. 


“KHAAKKKHH!!” Sekali lagi, goblin itu akan menyerang ke arah kepala Dias lagi. Jika dia menerima serangan itu lagi, maka sudah dipastikan jika dia takkan selamat. 


“Dasar bodoh!!” Sebelum serangan itu sampai, Iaros datang lebih dahulu dan melibas 5 goblin itu dengan cepat tanpa sisa. Akhirnya tersisa satu goblin yang tadinya sekarat karena tertusuk oleh pedang milik Dias. Goblin itu semakin ketakutan dengan kedatangan Iaros. 


“Bocah, kenapa kau tidak melawan?” Ucap Iaros dengan kesal tanpa melihat ke arah Dias. Dias sendiri juga sempat kebingungan oleh dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat apapun. 


Iaros yang kesal kemudian mencekik goblin yang sudah sekarat itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke arah Dias. 

__ADS_1


“Cepat, bunuh!” Ucap Iaros dengan sorotan mata yang tajam. Goblin itu terlihat kesakitan sambil meraba-raba lehernya yang tertancap kuat digenggaman lelaki dingin itu.


“Tapi, aku..” Dias yang melihat itu malah terlihat ragu-ragu dengan ekspresi ketakutan. 


“Tidak ada tapi-tapian!! Kau harus sadar, jika makhluk yang di depanmu ini hanyalah monster yang memusuhi manusia! Apabila kau biarkan, maka makhluk ini akan menjadi ancaman bagi manusia yang lain. Manusia yang lain akan terbunuh, hanya karena kau telah membiarkannya! Maka sebelum itu, kau harus membunuh makhluk ini, atau aku yang akan membunuhmu.” Ucap Iaros menyadarkan Dias.


Dias menelan ludahnya setelah mendengarkan ucapan dari Iaros. Apa yang diucapkannya tidaklah salah sama sekali, hingga membuat dirinya sadar kembali akan apa yang harus dia lakukan. 


Bukan berarti dirinya takut dibunuh oleh Iaros, namun perkataannya yang menyuruhnya dengan lantang untuk membasmi seluruh ancaman, membuat hatinya tersentak. 


“Ancaman?” Dias merenung sejenak dan memikirkannya dalam-dalam. 


Tidak sengaja terpikirkan oleh Dias, wajah dua orang yang sangat ingin dia bunuh dalam hidupnya. Dia berfikir apabila dua orang itu tetap dibiarkan hidup, maka mereka berdua pasti akan menjadi ancaman bagi manusia-manusia yang lain. Dias yang menyadari hal itu mencoba meyakinkan dirinya sendiri dengan lebih baik lagi. 


“Kau harus tahu, siapakah yang harus kau musnahkan, dan siapakah yang harus kau lindungi. Tapi sebelum kau mengetahui hal itu, kau harus musnahkan dirimu yang sekarang, dan belajarlah untuk melindungi dirimu sendiri!” Lanjut Iaros menyambung pernyataan dirinya yang tadi.


Mendengar hal itu, Dias langsung memegang erat pedangnya dan bersiap menusuk goblin itu. Dengan tatapan yang serius, Dias menyalurkan apinya ke dalam pedangnya, hingga pedang itu terselimuti api miliknya. 


“Ancaman harus dimusnahkan!” ucap Dias dalam hati. Dan benar saja, Tobias dan Julian tidak ada bedanya dengan goblin ini. Seberapa pun menderitanya mereka berdua, apabila dibiarkan mereka tidak akan pernah berhenti untuk membunuh. Orang-orang seperti mereka tidaklah layak untuk hidup di bumi ini, sehingga akan sangat pantas untuk dimusnahkan. 


“Swooshh..” Pedang itu berhasil menusuk dada goblin yang sekarat itu. 


“Khaaakkkhhh!!” Goblin itu meronta-ronta kesakitan dengan darah yang mengalir dari dadanya. Tapi meskipun goblin itu terlihat kesakitan, kini Dias sudah tidak ragu lagi yang ditandakan dengan ekspresi seriusnya yang tidak berubah. 


“...” Beberapa detik kemudian, goblin itu berhenti meronta-ronta dan sudah tidak menunjukkan tanda kehidupan sama sekali. Dias kemudian mencabut pedangnya kembali dan Iaros melemparkan mayat goblin itu menjauh. 


“Kerja bagus,” Ucap Iaros.


Dias tampak terengah-engah dan mencoba berdiri tegak. Dia menatap kembali kedua tangannya yang telah terlumuri oleh darah. Dia masih tidak percaya jika dia telah membunuh sebuah monster yang awalnya dia sangat iba untuk membunuhnya.


Meskipun mereka adalah monster, mereka juga memiliki keluarga sama seperti manusia, dan saling melindungi juga apabila ada salah satu anggota keluarganya yang tersakiti. Tapi, mau bagaimanapun mereka tetaplah ancaman. Ancaman yang berpotensi dapat membahayakan bagi diri sendiri atau pun orang-orang yang ada disekitar kita. Untuk itulah, segala bentuk ancaman harus dimusnahkan. 


“Kau masih bisa jalan, kan?” Tanya Iaros yang berhasil menghentikan lamunannya.


“Jangan bercanda, gendong aku dong. Kau tidak lihat kepalaku yang berdarah-darah?” Tanya Dias yang masih sempat-sempatnya menyunggingkan senyumannya ke arahnya.


“Humph, dasar manja. Ayo sini..” Balas Iaros yang sedang duduk berjongkok menawarkan gendongan di punggung. Dengan senang hati, Dias menerima tawaran Iaros dan langsung menaiki punggungnya. 


***

__ADS_1


__ADS_2