Adias Floryn : Get Back The Kingdom

Adias Floryn : Get Back The Kingdom
Bagian 42 : Mengapa Kau Tidak Mau Mengerti?


__ADS_3

“Paman!!” 


“Yo.. apa kabar kalian semua,” sapa Iaros sambil tersenyum ke arah mereka semua. 


“Paman? Kau tidak apa-apa kan?” tanya Dias yang juga kaget dengan keadaan Iaros di depannya. Tidak hanya Dias, namun Blaire, Ruky dan juga Azka yang baru saja mendapatkan tubuhnya kembali ikut terkejut melihat kondisi Iaros. 


“Hahahaha, kalian kenapa sih?” balasnya yang juga bertanya balik sambil tertawa kecil. 


“Pa-pa-pa-paman.. Ta-ta-ta-tanganmu..” seru Thea yang ketakutan melihat tangan kanan Iaros yang tidak berada pada tempatnya. 


“Oh, ini? Tenang saja, aku membawanya kok,” balasnya sambil menenteng tangan kanannya menggunakan tangan kirinya.


“Paman udah gila ya?” ucap Dias yang merasa aneh dengan Iaros. Bagaimana mungkin dirinya tidak panik ketika sebuah tangannya tidak terletak pada tempat yang semestinya.


“Hadeuh.. kalian kenapa begitu panik sih," kata Iaros sambil berjalan mendekati mereka. 


“Tenang saja, tanganku bisa tersambung kembali kok."


Iaros begitu percaya diri karena tidak satu atau dua kali anggota tubuhnya lepas darinya. Setiap kali dia bertemu dengan monster yang sulit, dia terkadang harus mengorbankan salah satu anggota tubuhnya agar bisa bertahan hidup. 


“Ini untuk kalian semua. Minum itu untuk sementara.” Iaros melemparkan potion pemulih stamina kepada mereka semua yang berada disana. Mereka semua langsung kebagian satu-persatu. 


Tidak lama setelah itu, Iaros memandang Azka. “Oh, jadi ini kah si Biang Keroknya?” Ucap Iaros.


“Hiii..” Azka masih tidak terbiasa melihat pemandangan seseorang yang membawa lengannya sendiri kemana-mana.


“Ehm.. Yang sopan dong, Azka,” tegur Blaire sambil menyenggol pinggang Azka. 


“Ah, iya Om, perkenalkan nama saya Azka, saya ingin menikahi putri Anda, apakah boleh?” ucap Azka Blak-blakan tanpa rem. 


“Heyyy!!” Blaire terkejut ketika Azka berkata demikian. Secara refleks dia menginjak kaki Azka.


“Aww!!” Pekik Azka.


“Dia bukan Ayahku, Azka Buduuuhhh.. haduh..”  


“Hahh.. Dasar anak muda zaman sekarang. Yah, intinya sekarang kita sudah bisa keluar dari dungeon ini,” ucap Iaros sambil menghela nafas. 


“Ah iya, dan juga tentunya kalian bisa ambil beberapa harta dari dungeon ini."


“Harta? dimana?” Tanya Blaire yang tidak tahu apa-apa.


“Ya setelah ini kita akan diteleportasikan ke tempat harta.”


“Hmm? Semua monster raksasa-raksasa yang tadi mengepungmu sudah kau habisi semua?” Tanya Dias yang penasaran.


“Ohh, iya.. jujur saja, mereka adalah lawan yang cukup tangguh. Aku sampai kewalahan hingga kehilangan lengan kananku sendiri.”

__ADS_1


“Tapi ya begitulah.. Mereka bukanlah tandinganku. Yah, meskipun ada satu orang yang berhasil kabur,” ungkap Iaros pada mereka sambil memandang ke tempat dimana dia tadinya bertarung. 


“Hilih, seperti biasa sombongnya selangit,” ucap Dias.


“Iri bilang dek,” balasnya.


“Krak.. Krak.. Drr…” Tiba-tiba retakan pada tembok Maria mulai hancur, sehingga menyingkap kebenaran yang ada di balik tembok tersebut. 


“Gila..” ucap Dias sambil mengeluarkan keringat dingin dari dahinya setelah melihat fenomena yang ada di depannya.


Goa yang awalnya luas, menjadi lebih luas lagi dua kali lipat daripada sebelumnya. Disana terdapat banyak es-es yang membekukan batu-batu disekelilingnya. Terdapat es yang luar biasa besar mengekang salah satu monster berwujud burung yang ada disana. Selain itu, sebagian wilayah terlihat hitam legam seperti telah terjadi kebakaran yang sangat luas. 


"I-ini semua perbuatanmu?" Tanya Dias karena kaget melihat penampakan di depannya.


Tapi Iaros hanya mencuekinya kemudian melakukan langkah berikutnya. “Baiklah, seharusnya beberapa detik lagi kita sudah berpindah ke tempat harta,” lanjut Iaros. 


Setelah itu, dia segera melirik ke arah Thea dan berbicara “Thea, kau bisa menyambungkan tanganku dengan sihirmu?” Tanya Iaros.


“M-mana mungkin!?” Balas Thea sedikit takut. 


“Hmm.. ya sudah, nanti belajar lagi dengan Iris,” balasnya dengan santai. 


Tidak lama kemudian, mereka pun secara tiba-tiba diteleportasikan ke ruang harta. Disana terdapat banyak sekali item-item yang dapat dibawa pulang sebagai oleh-oleh. 


“Huwaahh..” ucap Thea dengan mata berbinar-binar melihat barang-barang antik yang unik di dalam ruangan ini.


“Paman, kenapa di tiap-tiap dungeon selalu ada tempat harta semacam ini?” Tanya Dias. Meskipun detail mengenai dungeon sudah diajarkan disekolah-sekolah, namun alasan mengapa terdapat ruang harta di menara dungeon masih belum diketahui.


“Tapi bukankah makhluk yang membangkitkan dungeon akan merugi? Manusia akan lebih kuat lagi jika mendapatkan equipment dari dungeon seperti ini. Dan monster-monster pun akan kalah seiring dengan manusia yang semakin kuat.”


“Yah, sebenarnya 50:50.. Yang pertama, mereka tidak akan bisa bangkit langsung ke dunia tanpa perantara. Nah, salah satu perantaranya adalah Menara Dungeon ini selain dari ritual dan pemujaan.” 


“Hmm, begitu..” ucap Dias sambil manggut-manggut.


Yang kedua, sebenarnya menara dungeon ini hanyalah sebagai jebakan. Mereka ingin membantai para petualang di kandang mereka sendiri. Namun tentunya mereka tidak akan termotivasi jika tidak mendapatkan sesuatu dari dungeon, karena itulah ruangan harta itu dibutuhkan.”


Setelah mereka mengambil beberapa barang yang mereka butuhkan dari ruangan tersebut, akhirnya mereka pun diteleportasikan kembali keluar dari tempat tersebut dan kembali ke dunia, tepatnya di depan menara dungeon yang mereka taklukkan. 


“Akhirnya bisa pulang juga,” ucap Thea sambil meregangkan lengannya ke atas. Mereka semua dapat bernafas lega setelah melewati dungeon yang seperti neraka itu.


“Hemm~ pasti akan menyenangkan setelah pulang dari dungeon kita berpesta sebentar di rumah,” ucap Iaros.


“Ah, kalau itu maaf, Saya tidak bisa ikut karena masih banyak urusan.” ucap Ruky pada Iaros. 


“Iya tidak apa-apa. Terima kasih karena telah membantu kami untuk menyelesaikan dungeon ini,” balasnya. 


“Hahaha, justru saya yang berterima kasih karena bisa melihat kemampuan kalian semua yang luar biasa. Semoga kita dapat bekerja sama lagi di masa yang akan datang,” balas Ruky.

__ADS_1


“Dias, tangkap ini.” Iaros tiba-tiba melemparkan tangan kanannya pada Dias. 


“Eyy, ini berat sekali,” kata Dias sambil menahan tangannya agar tidak jatuh dengan susah payah. 


"Hiii…" Thea bergidik ngeri ketika Dias menerima tangan Iaros yang lepas.


Setelah itu, Iaros menjabat tangan Pak Ruky menggunakan tangan kirinya. Tentunya Pak Ruky juga terpaksa menggunakan tangan kirinya untuk berjabat tangan. 


Setelah berjabat tangan cukup lama, Pak Ruky pergi meninggalkan mereka. 


“Drrrr…” Tidak lama kemudian, menara dungeon yang berada di belakang mereka secara berangsur-angsur kembali tenggelam ke dalam tanah. 


“Baiklah, sekarang, Azka.. Kau tahu kan apa yang harus kau lakukan setelah ini?” ucap Iaros sambil memandang serius Azka. 


“Baiklah, saya akan bertanggung jawab sepenuhnya atas semua yang telah kulakukan.”


“Tanggung jawab? Apa maksudnya Paman?” tanya Blaire yang bingung. 


“Kenapa masih ditanyakan? Dia kan sudah membunuh puluhan orang yang tidak bersalah di Kota ini.”


“Ta-tapi kan bukan Azka yang melakukannya, melainkan Iblis yang telah merasukinya kan?”


“Kalau masalah itu, biarkan hakim yang memutuskan,” ucap Iaros kemudian pergi berjalan meninggalkan mereka. 


“Azka, kau tidak berniat menyerahkan dirimu sendiri ke polisi kan?” ucap Blaire dengan perasaan khawatir.


“Blaire, aku harus bertanggung jawab atas semua perilakuku. Memang benar jika Iblis yang telah melakukan pembunuhan itu, tapi tetap saja aku sendirilah yang melakukan kontrak dengan sang Iblis itu,”


“Tidak, nanti bagaimana jika kau dihukum mati? Memangnya kau tidak takut?” 


“Kau tahu sendiri kan? Berapa banyak orang yang telah kurenggut nyawanya? Berapa banyak orang yang tidak terima karena orang yang disayanginya telah dibunuh olehku? Pasti mereka sangat menderita ketika kehilangan orang yang disayanginya.”


"Permisi, kami izin pamit dulu ya, silahkan selesaikan urusan kalian terlebih dahulu. Bye," ucap Dias sambil mengajak Thea kembali ke rumah. 


"Ah, iya silahkan.. Terima kasih ya.." ucap Azka sambil melambaikan tangan. Lambaian itu juga dibalas oleh Dias. 


"Azka! Bagaimana jika kita kabur saja dari sini? Kita bisa mencari tempat baru kemudian membangun kehidupan baru bersama tanpa takut diganggu oleh orang lain?" Ucap Blaire memberikan solusi.


"Sudahlah, Blaire.. ini sudah keputusanku.. Keputusanku sudah bulat.."


"Bruk.." Tiba-tiba Blaire terduduk lemas, karena tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Azka. 


Air mata gadis itu mulai menggenang. Dia menahan emosinya yang mengkalutkan dadanya.


"Hiks, Azka, aku baru saja menyelamatkanmu. Aku senang sekali saat kita dapat bertemu lagi, mana mungkin aku mau berpisah lagi denganmu secepat ini? Hiks, hiks.."


Tidak lama kemudian, Azka memeluk tubuh Blaire dengan lembut tanpa berkata apapun. Azka hanya bisa meminjamkan bahunya agar Blaire dapat meluapkan semua rasa sakit di hatinya. 

__ADS_1


"Azka, kenapa kamu tidak mau mengerti?" Batin Blaire.


***


__ADS_2