
Brakk!! Tiba-tiba saja muncul Halvar yang membuka pintu dengan keras.
"Hei, apa yang akan kalian lakukan? Memangnya kami akan membiarkan kalian berbuat seenaknya?" Ucap Halvar sedikit emosi. Dia takut jika apa yang akan dilakukan Dias malah akan memperparah keadaan di Kerajaan ini.
"Sadarlah, heii ras manusia! Banyak rakyat elf yang membencimu disini, dan keberadaanmu juga menjadi ancaman bagi rakyat elf yang lain! Kau hanya akan membawakan masalah jika asal keluar begitu saja!"
“Heh! Aku berniat untuk menyelamatkan Tuan Putrimu loh, kenapa kau mencegahku? Kau meremehkan kemampuanku, hah?” Balas Dias tidak mau kalah.
“Iya! emang kenapa? Kau dan adikmu disini hanyalah berdua! Memangnya apa yang bisa kau lakukan jika kau menghadapi puluhan elf di luar sana yang mempunyai kemampuan lebih pada sihir mereka? Kau ingin mati konyol disini?”
“Hah? Memangnya siapa yang mau mati konyol? Asal kau tahu saja ya kami bergerak tidak sembarangan! Kami punya rencana supaya dapat main aman saat menyelamatkan Tuan Putrimu yang songong itu. Kau tidak percaya hah?” Sengit Dias sambil menunjuk-nunjuk ke arah Halvar.
“Oh ya? Memangnya bagaimana rencanamu?”
“Mudah saja, cari lokasinya, kemudian menyelinap masuk, setelah itu keluar bersama dengan Lily, gimana? Simpel kan?”
“Hadeh, mana mungkin bisa sesimpel itu bodatt!!” Teriak Halvar karena rencana konyol yang keluar dari mulut Dias.
“Hahhhh..” Halvar menghela nafas dalam-dalam untuk mengendalikan emosinya. “Baiklah jika kau memaksa,” ucapnya pasrah. Setelah itu, Halvar melangkah pergi keluar dari kamar tersebut.
Beberapa saat kemudian, Halvar kembali dan membawakan sepasang telinga elf palsu dan juga lensa bewarna hijau.
“Pakai ini. Ini pasti akan sangat membantu agar identitas kalian sebagai manusia tidak diketahui,” ucapnya sambil menyerahkan kedua benda tersebut kepada mereka.
Mereka berdua menerimanya dan mengamatinya. “Alat untuk menyamar?” ucap Dias.
“Aku tidak tahu apa tujuanmu hingga memaksa diri untuk ikut campur di dalam urusan kami, tapi jika memang itu bisa membantu kami di kedepannya, ya biarlah.. Justru kami pasti akan sangat berterima kasih pada kalian berdua,” ucap Halvar yang menyerah untuk menghentikan mereka.
“Baiklah, terima kasih Halvar.” ucap Dias. Setelah itu dia segera memakai telinga palsu dan lensa mata tersebut agar lebih mirip dengan ras elf. Begitu pula dengan Thea yang juga memakai kedua benda itu ke kedua telinganya dan kedua matanya.
“Hmm.. tapi rambut kita bagaimana?” tanya Dias, karena kebanyakan para elf memiliki rambut bewarna pirang keemasan.
“Ya kalau ditanyain kenapa rambutmu warna merah, bilang aja kalau kamu habis berendam ke kolam jus buah Naga.”
“Kalau Thea gimana?”
“Engg, nggak tau lah.. coba cari alasan lain. Yang penting bola mata dan telinga kalian sudah mirip seperti elf. Tapi kalian juga tetap harus berhati-hati, karena ras elf memiliki intuisi yang tajam,” ucap Halvar dengan penuh penekanan.
__ADS_1
“Iya, sudah tahu,” balas Dias karena dia sudah pernah membaca buku mengenai elf sebelumnya.
“Baguslah kalau begitu.”
Sementara itu, di luar Istana Kerajaan masih saja riuh. Massa yang tadinya mulai santai sudah kehilangan kesabarannya karena keinginan mereka sudah tidak terkabulkan selama 5 hari lamanya.
“Apa sih yang dipikirkan oleh Raja itu? Apa dia hanya memikirkan keuntungannya sendiri, tanpa memikirkan nasib dari rakyatnya?” ucap salah satu pendemo disana.
“Tidak tahu. Entah mengapa Raja sekarang kurang peduli dengan Rakyatnya sendiri. Beliau sangat egois, dan bahkan setelah menerima kenyataan jika Putri Fiona telah mengalami trauma berat, Sang Raja hanya duduk saja di singgahsananya tanpa melakukan apa-apa.” Ucapnya yang lain.
“Manusia yang telah berkontrak dengan Iblis memang mengerikan. Mereka memiliki kemampuan yang bahkan membuat sang Raja tidak tahu harus berbuat apa. Atau jangan-jangan sang Raja sudah terpengaruh oleh tipu muslihat manusia?” Ucapnya yang lain.
“Wahai Raja, saya hanya berharap semoga kerja sama dengan ras manusia itu dicabut,” sahut orang yang ada didepannya.
“Saya juga berpikir begitu,” balas orang yang disampingnya.
“Jangan khawatir semuanya! Aku punya alat yang sangat cocok untuk dijadikan transaksi pada Raja,” ucap Lelaki bernama Ryan tersebut yang datang bersama dengan kelompoknya. Semua orang menoleh ke sumber suara itu.
Sekelompok elf yang memakai jubah bewarna coklat itu sedang berjalan melewati para Kerumunan. Tidak lama kemudian salah seorang dari kelompok itu menggunakan sihir tanah, memunculkan tebing tinggi dan langsung mengangkat sekelompok elf berjumlah 10 orang itu naik ke atas. Semua orang juga ikut mendongak melihat ke arah atas dimana orang-orang itu berada.
“Hah? Itu bukannya tuan Putri Lily?” ucap salah seorang pendemo yang mendongak ke atas. Mereka semua kaget ketika melihat Putri Lily berada disana dalam keadaan terikat di atas kursi.
“Hah!? Bagaimana mungkin Putriku berada di situ?” ucap Raja Obeyron yang sangat terkejut melihat pemandangan di depannya. Dia keluar dari pintu balkon istana Kerajaan dan melihat secara langsung penampakan itu.
“Kita tahu bahwa Putri Lily merupakan salah satu aset berharga bagi Kerajaan kita. Menjaga Putri Lily adalah kewajiban kita semua dan lebih penting dari yang lain. Tapi kalian harus sadar jika memastikan Kerajaan ini agar tetap aman di masa depan juga kewajiban kita semua!”
“Oleh karena itulah, saya ingin memastikannya wahai Para Petinggi Kerajaan. Lebih penting mana? Masa depan rakyat elf, atau sang Putri cantik yang sedang berada di pinggir jurang ini?” ucapnya sambil mendekatkan tubuh Lily ke bibir jurang.
“Semoga sang Raja cepat mengerti,” batin Ryan.
“Gawat! Tolong siapapun selamatkan Putriku!” Batin Sang Raja sambil memikirkan strategi.
“Yang kami inginkan hanyalah satu saja! Tolong berhentilah bekerja sama dengan ras manusia! Dengan demikian, masa depan kami akan terselamatkan dan terjamin. Kita tidak akan merasa takut lagi karena dihantui oleh manusia-manusia Iblis yang suatu saat nanti akan membantai kita!” Teriak Ryan kencang.
“Thea, bisakah kau teleportasi kesana?” Tanya Dias pada Thea yang berada disana.
“Hmm.. sebenarnya teleportasi yang baru saja kupelajari hanya bisa berpindah ke tempat yang sudah pernah kita kunjungi. Tapi nggak apa-apa biar ku coba terlebih dahulu,” ucap Thea sambil merapal mantera.
__ADS_1
“Kau ingin langsung menyelamatkannya begitu saja?” Tanya Halvar pada Dias yang sudah bersiap-siap.
“Iya lah, memangnya kau ingin Putrimu mati karena jatuh dari ketinggian? Tidak mau kan?” Balas Dias.
“Yah, setidaknya aku ingin mendengarkan rencanamu.”
“Bukannya sudah aku jelaskan tadi?”
“Baik Kak, sudah siap..” ujar Thea.
“Oke, teleportasikan aku saja, kau tetap disini.”
“Baiklah.”
Setelah itu, Dias segera melangkah masuk ke dalam lingkaran sihir yang sudah di buat oleh Thea. Thea segera menjauh dari Dias agar tidak ikut terpindahkan.
“Teleportation!!” Seketika itu juga, Dias langsung berpindah tempat masuk ke dalam kerumunan-kerumunan itu. Dirinya merasakan secara langsung betapa ramainya tempat tersebut.
Mereka saling berdesak-desakan mengisi tempat-tempat disana sambil bersorak sorai membakar semangat.
Dias menatap ke atas, dan tebing yang dibangun dengan menggunakan sihir mereka benar-benar sangat tinggi. Siapapun yang jatuh dari sana pasti akan langsung pergi ke alam lain seketika.
“Kau benar-benar menjamin nyawaku kan?” Batin Lily sambil melirik ke arah Ryan yang sedang berorasi.
“Raja! Perilaku mereka sudah masuk ke dalam ranah terorisme!” ucap Perdana Menteri yang menyaksikan sendiri aksi dari kelompok tersebut. “Mereka tentunya harus diberi hukuman yang setimpal!”
“Sial!” Balas Raja Obeyron yang juga bingung dengan situasi ini.
“Wahai Raja! Wahai para petinggi Kerajaan! Mohon dengarkanlah permintaan kami! Yang kami inginkan hanyalah satu, yakni hidup tanpa adanya ancaman dari pihak manapun, Sedangkan adanya kerja sama dengan manusia yang berkontrak dengan Iblis tidak akan bisa membuat hidup kita tenang!”
“Dan juga di tangan kami sudah ada Putri Lily yang kami tawan. Jika kalian-kalian semua tidak menuruti apa yang rakyat inginkan, maka kami tidak akan segan-segan mengeluarkan segala amarah kami dan kami limpahkan pada keluarga Kerajaan! Bahkan Putri Lily sekalipun!”
Dias berfikir keras mencari cara untuk mengeluarkan Lily dari masalah ini. Pasti akan menjadi pilihan yang buruk apabila langsung menerjang semua orang yang berada di atas sana.
Menyerang mereka sama saja bunuh diri, bahkan akan memperburuk keadaan. Kekacauan tidak akan bisa dihindari lagi.
"Hmm, tapi hebat juga orasinya. Mengingatkanku pada sosok paling menjengkelkan dalam hidupku," ucap Dias yang tiba-tiba terlintas wajah Tobias, perdana menteri yang menghianati Kerajaan.
__ADS_1
Krakk.. Tiba-tiba saja tebing yang di pijaki oleh Lily runtuh, membuat dirinya terpeleset dan jatuh ke bawah.