Adias Floryn : Get Back The Kingdom

Adias Floryn : Get Back The Kingdom
Bagian 19 : Misi Penyelamatan 1


__ADS_3

Pada malam hari, Dias tidak bisa tenang memikirkan Thea yang tidak kembali sejak pulang sekolah. Apalagi di rumah hanya ada dirinya sendiri, sedangkan Iris dan Iaros sedang keluar karena harus menyelesaikan beberapa dungeon yang mulai bermunculan. Dirinya disuruh menjaga rumah bersama dengan Althea selama mereka berdua pergi. 


Akhirnya, Dias memutuskan untuk pergi ke sekolah di malam hari, tepatnya pada pukul 12 malam. 


Dia menyelinap melompati pagar sekolah dengan sepatu khusus yang tidak dapat menimbulkan suara sama sekali. Satpam yang berjaga disana tidak mendengarkan apapun ketika Dias berhasil melewati pagar sekolah. 


Setelah itu, dia berlari menuju ke gedung sekolah. Berdasarkan kesaksian Thea, tiap malam selalu terdengar suara-suara aneh dan berisik dari ruang seni. Akhirnya dia memutuskan untuk mengecek situasi yang ada di ruang seni. 


Di dalam gedung sangatlah gelap tanpa ada bantuan penerangan sama sekali. Akhirnya dia menggunakan sihir apinya untuk menerangi tempat itu. Dia menyalakan api dari telapak tangan kirinya, kemudian terus berjalan ke arah ruang seni.


Ketika sampai di ruang seni, di hadapannya terlihat cahaya kuning yang lumayan terang terus-menerus mendekat ke arahnya. Terpaksa Dias harus bersembunyi terlebih dahulu sebelum masuk ke ruang seni. 


Ketika dia mengintip ke arah dimana cahaya itu berasal, dia melihat seorang gadis cantik bermata hijau berambut pirang yang mendatangi ruangan seni tersebut. Ketika Dias teliti kembali, ternyata gadis itu adalah Lily.


"Lily!?" Kata Dias hingga Sang Gadis itu juga melihat ke arah Dias yang sedang mengintip di balik pot bunga.


"Kamu? Ngapain kesini?" Tanya Lily yang heran. 


"Aku sedang mencari adikku. Aku tunggu dia di rumah, namun tidak pulang-pulang. Padahal dia selalu datang ke rumah tepat waktu dan membuatkan makan malam. Lagipula kalau dia sedang pergi kerja kelompok, harusnya dia sudah izin terlebih dahulu. Perasaanku jadi tidak enak, akhirnya aku pun datang kemari." Kata Dias.


"Oh, begitu." Lily memahami apa yang di alami Dias saat ini, karena dia juga merasakannya. Akhirnya mereka berdua bekerja sama untuk mencari adiknya masing-masing. 


"Cklek.." Lily mencoba membuka pintu tersebut.


"Bagaimana?"


"Sepertinya terkunci." 


"Ohh, begitu." Balas Dias. Kemudian dia mencoba mengamati kelas tersebut dari jendela seni.


"Aku diberitahu oleh adikku kalau setiap malam selalu ada fenomena aneh di kelas ini. Seperti meja-meja atau kursi-kursi yang bergerak sendiri, suara lukisan yang jatuh, atau bahkan suara perempuan menjerit." Kata Dias. Lily mendengarkan dengan seksama penjelasan yang di lontarkan oleh Dias. 


"Jadi kalau begitu pastinya akan ada kejadian aneh di malam ini." Ucap Lily menopang dagu.


"Tidak tahu juga, dia kan dapat informasi dari gosip." Balas Dias.


"Geser dikit." Kata Lily yang juga ikut mengintip dari balik jendela di samping Dias. 


"Ey, terlalu dekat!!"


"Sudahlah.. Kau lihat lukisan kambing itu kah?" Ujar Lily sambil mengarahkan cahaya yang dia keluarkan dari tangannya ke arah lukisan kambing bertanduk itu. 


"Iya, emang kenapa?"


"Aku merasa jika lingkaran sihir itu tertempel di lukisan itu."


"Hmm.. Bagaimana kau tahu?" 


"Engg.. Firasat?"


"Hadehh, memangnya bisa ketemu kalau kita mengandalkan firasat?"


"Diam kamu! Kamu tidak tahu ya, kalau insting suku Elf itu sangat tajam? Maaf saja ya, jangan bandingkan rasku dengan rasmu." Kata Lily dengan sombong.


"Hooh, aku juga berfirasat jika seseorang yang sangat rasis di sampingku akan selalu diikuti makhluk halus berkepala kambing di setiap hari di belakangmu yang akan selalu mengawasimu." Kata Dias yang bermaksud untuk menakut-nakutinya.


"Hah, kau pikir aku takut sama yang begituan?" Kata Lily. 

__ADS_1


"AAARRGHH AAAAARGGHH!! AAAAA!!!!!!" Tiba-tiba saja terdengar suara teriakan dari dalam kelas dengan sangat jelas. Suara teriakan perempuan yang tidak hanya satu dan sangat menyayat hati.


"Su-suara ini.." Kata Dias yang merinding hebat setelah mendengarnya. 


"Sembunyilah!" Ucap Lily yang merunduk sambil menjambak rambut Dias ke bawah supaya dia ikut merunduk juga.


"Awww sakit, sial!" Kata Dias. 


Tiba-tiba saja lukisan kambing itu menyala dan muncul lingkaran sihir yang bersinar merah.


"Drrrttt.. Drrrttt.." Tiba-tiba tanah yang dipijak oleh mereka berdua bergetar.


"I-ini gempa?" Lanjut Dias.


Tidak hanya itu, kursi-kursi dan meja-meja mulai bergeser kesana kemari seakan-akan ada orang yang memainkan barang-barang di ruangan tersebut. Namun setelah di cek, ternyata tidak ada siapa-siapa disana.


"Apa yang terjadi!?" Gumam Dias yang tidak mengerti apa yang terjadi di depannya. 


Tidak lama kemudian, dari lukisan itu muncul seorang pria berbadan besar, memakai kacamata dan menggunakan seragam gurunya. Mungkin dia seperti guru yang biasanya. Bedanya, di bajunya terdapat bercak-bercak darah dan juga membawa pisau dapur. Tidak lama setelah itu, kursi dan meja berhenti bergerak-gerak dan lelaki itu berjalan menuju gudang peralatan seni.


“I-itu, Pak Sata!?” Bisik Lily kepada Dias. Dia tidak menyangka jika Pak Sata berpenampilan mengerikan seperti itu. Hal itu membuat dirinya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya telah dilakukan olehnya di dalam sana? Dan apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana? Apakah benar guru itu yang menculik adiknya? Tapi mengapa dia berpenampilan seperti seorang pembunuh berantai? Lily mencoba mengatur nafasnya kembali dan menenangkan dirinya.


“Oke, Dengar, kita berdua harus menunggu Pak Sata membuka portal itu lagi. Dan ketika dirinya sudah masuk ke dalam portal, kita juga ikutan masuk dengan kecepatan yang kita miliki. Dias? Kau dengar ucapanku kan?” Bisik Lily kepada Dias. Tapi entah mengapa Dias tidak merespon sekali.


“Dias?” Lily menoleh ke arah kanan, dan ternyata Dias sudah tidak lagi di sampingnya dan malah berdiri tepat di depan pintu seni.


“Dias? Kau mau ngapain?” Tanyanya.


“Blarr!!” Dias menghancurkan pintu ruangan itu dengan mudahnya dengan sihir apinya.


“WOYY!! BOCAH GILA!!” Teriak Lily yang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pintu itu luluh lantak, bersamaan dengan beberapa jendela ruangan yang ikut pecah.


“Apa yang kalian lakukan? Merusak fasilitas sekolah di malam hari? kalian ingin menghancurkan sekolah ini tanpa sepengetahuan orang lain? Kalau kalian ingin dikeluarkan dari sekolah ini, bukan begini caranya,” Ucap Pak Sata yang membela diri.


Dias semakin marah mendengar hal itu. Dia menghentakkan kakinya, dan melesat ke depan dengan cepat dan memukulkan tinjunya ke arah wajah Pak Sata. Namun tinju itu meleset, karena dirinya ingat perkataan Iaros untuk tetap berfikir jernih. 


“Jangan berpura-pura bodoh lagi! Segera tunjukkan dimana kau menyembunyikan adikku!” Ucap Dias yang sangat marah itu sambil memegang erat kerah baju Pak Sata. 


“Hah~” Pak Sata menghela nafas dengan malas dan segera menepis tangan Dias yang masih mencengkeram kuat kerahnya. Tepisannya begitu kuat, hingga membuat beberapa jendela di ruangan seni itu bergetar.


“Padahal ini adalah hari yang sangat penting bagiku, dan bisa-bisanya kau datang di saat yang tidak tepat.” Ucap Pak Sata sambil membenarkan dasinya dan pakaiannya yang tadi tidak rapi karena diserang oleh Dias. Melihat Pak Sata yang sepertinya ingin melancarkan serangan balasan, Dias menjaga jarak dan Lily berdiri dengan pose bertempur. 


setelah itu, Pak Sata pergi ke arah lukisan kambing itu dan membacakan mantra hingga muncul lingkaran sihir di atas lukisan itu. Tiba-tiba, muncul sebuah portal bewarna hitam seukuran manusia yang bisa dimasuki oleh siapapun.


“Apa yang kalian tunggu? Ayo cepat, ikut aku..” Ucap Pak Sata yang kemudian dirinya masuk ke dalam portal itu. 


Dias dan Lily tidak menyangka jika Pak Sata sama sekali tidak melakukan perlawanan dan menuruti perkataan Dias. Akhirnya mereka berdua menurunkan penjagaan mereka dan ikut masuk ke dalam portal tersebut.


"Jangan lengah, tetap waspada." Ucap Dias ketika mereka memasuki portal. Lily hanya mengangguk mendengarkan ucapan Dias dengan serius. 


Setelah masuk ke dalam sana, mereka seakan-akan masuk ke dalam dimensi lain dimana sangatlah berbeda dengan bumi yang mereka pijak sebelumnya. Tempat itu adalah sebuah bukit yang sangat gersang, dengan pepohonan tanpa daun. Serta tempat itu hanya disinari oleh sinar bulan, sehingga tempat itu cukup remang-remang. 


"AAAAAAARRGGHHHH!! AAARRGGHH!!" Suara teriakan wanita terdengar jelas yang berada di puncak tebing disana. Teriakan itu tidak hanya satu, melainkan 5 orang wanita. Lily dan Dias terkejut ketika melihat adiknya masing-masing berteriak ketakutan dengan tubuh yang diikat di pohon-pohon. Meskipun tidak terlihat begitu jelas, tapi masing-masing dari mereka mengenal teriakan ketakutan yang menyerakkan itu. 


"Theaa!!" Dias berteriak memanggil nama adiknya dari jauh. 


"Kakak!? KAKAAKK!! KAKAAKK!! TOLONGG!! KAKAAKK!! ARGHH..SAKITT.. KAKK.." Teriak Thea. Teriakan itu membuat hati Dias terasa sangat hancur. Teriakan adiknya yang bercampur dengan ketakutan dan keputusasaan itu membuat bulu kuduk siapapun yang mendengarnya akan berdiri. 

__ADS_1


Dias melangkahkan kakinya ke depan dengan amarah yang sangat memuncak, namun tidak bisa karena ditahan oleh akar pohon yang tiba-tiba muncul dari tanah dan mengikat kaki Dias dengan sangat kuat. 


"Maaf, sepertinya aku harus membungkam kalian berdua." Kata Pak Sata sambil membangkitkan golem di belakang Dias. 


"Bwoosshh.." Dias membakar akar yang mengikat kakinya dan menendang golem yang di belakangnya dengan kuat, kemudian membakarnya. 


"Blarr!!"


"Manusia kayu sialan! Akan ku bakar kau sampai jadi arang!" Ucap Dias yang sudah berapi-api. 


"Hmm? sihir tanpa rapalan?" Pak Sata terkejut jika ternyata ada penyihir berbakat seperti dirinya.


Lily yang melihat mereka berdua sedang sibuk bertarung, mengambil kesempatan tersebut untuk berlari menuju ke puncak tebing dan menyelamatkan semua orang disana. 


"Srakk.." Tiba-tiba, akar pepohonan kering bergerak dan melilit tubuh Lily. 


"Jangan kalian pikir kalian bisa lari dariku.." Ucapnya, kemudian membangkitkan 3 golem di sekitar lily dengan cepat.


"Blarr!! Blarr!! Blarr!!" tiga bola api berhasil di lontarkan oleh Dias dan membakar ketiga golem tersebut. 


"Cepat lari!" Teriak Dias. 


Lily segera memotong jeratan akar pohon dengan sihirnya, dan lanjut berlari meninggalkan mereka berdua. 


"Duarr!!" Golem yang berada di belakang Dias tadi langsung melontarkan pukulannya ke Dias dari arah atas. Untung saja Dias masih bisa menghindarinya, karena gerakannya yang tidak terlalu cepat. Dirinya merasa heran, mengapa golem itu tidak hangus setelah terbakar.


"Kau pikir dengan api yang kecil seperti itu dapat membakar golem yang terbuat dari batu?" Ujar Pak Sata. Kemudian, ketiga golem tadi yang menghadang Lily segera ikut mengepung Dias.


"Bagaimana sekarang? Kau sudah terpojok dan tidak bisa menghancurkan golem-golemku, sedangkan temanmu jika dibiarkan akan mati terbunuh dengan sendirinya."


"Terbunuh? Apa maksudmu terbunuh?" Dias gagal memahami ucapannya yang sederhana. 


"Orang yang berada di atas sana tidak akan mengampuni siapapun yang mengganggu ritualnya. Tapi jika kau memohon dan menyerahkan diri, mungkin nyawa kalian berdua masih bisa selamat, Yah.. meskipun dalam keadaan bisu sih." Lanjutnya. 


"Ya sudah, nggak perlu berbasa-basi lagi. Hancurkan dia!" Perintahnya pada golem-golem yang gosong terkena api Dias.


"Groaa!!" Golem itu mengamuk dan mengangkat tangannya ke atas, bersiap untuk meremukkan tubuh kecil Dias. 


"Sring, Sring!! Blarr!!" Namun, sebelum Golem itu menurunkan pukulannya, Dias telah lebih dulu menghunuskan pedang yang dari tadi dia sarungkan di samping pinggangnya, kemudian menebas ke empat golem tersebut dengan cepat, dan meledakkannya. 


"Bukan aku yang hancur, tapi kaulah yang akan hancur.." Ujar Dias yang menatap Pak Sata dengan dingin. 


"Thea, tunggu aku.." Batinnya. 


Sementara itu, Lily berlari ke atas bukit dengan keahliannya yang dapat meningkatkan kecepatannya. Selain itu, akar-akar pohon yang ingin mengikatnya dapat dengan mudah dihindari. 


"Fiona, tunggu aku.." Ujar Lily yang terlihat gelisah dan sangat khawatir. Apalagi mendengar teriakan-teriakan yang tidak pernah berhenti sejak kedatangannya kemari, membuat dadanya semakin sesak. 


Sesampainya di puncak bukit, dia sangat terkejut melihat penampakkan mengerikan di depannya. 5 orang gadis diikat di pepohonan dalam keadaan berdiri dan tanpa sehelai kain pun, ditambah dengan mata yang ditutupi dengan kain. Selain itu, terdapat darah segar yang mengalir dari tangan mereka berlima, dan darah yang mengalir di tanah itu membentuk garis pentagon yang menghubungkan tiap-tiap pohon. 


"Fiona!!" Teriak Lily setelah melihat salah satu perempuan elf yang wajahnya menghadap ke bulan dengan air mata yang menetes deras bersamaan dengan air liurnya yang juga ikut menetes. 


"Kak Lily? Benarkah itu Kak Lily!? KAK LILYY!! TOLONGG!! TOLONGG!! Hueekkk…" Teriak Fiona dengan histeris dan tiba-tiba saja muntah tanpa alasan. Lily yang mendengar dan melihat kejadian itu di depan mata kepalanya sendiri membuat tubuhnya bergetar hebat.


"A-apa yang.. sebenarnya.. Terjadi.." Ucap Lily dengan terbata-bata dan bibir bergetar. Tiba-tiba saja otak Lily kesulitan mencerna keadaan yang terjadi di depannya. 


"Oo--ya? Ada yang datang ya?" Tiba-tiba muncul seorang pria tua yang bertubuh kurus dan berambut putih muncul dari balik pohon. 

__ADS_1


"Kalau begitu, saya ucapkan selamat datang." Ucap lelaki itu sambil tersenyum ramah dan membungkuk sebagai bentuk penghormatan kepada tamu. 


__ADS_2