
"Akan ku bunuh!! Pasti.. Tidak, Aku harus ukur kekuatan terlebih dahulu!! Tidak!! Sudah tidak ada waktu lagi! Aku harus segera membunuhnya! Tidak mungkin bisa! Pasti aku sendiri yang mati jika gegabah!! Tidak tahu.. Aku tidak tahu tujuannya apa.." Gejolak pikiran Lily mulai menyerang kepalanya.
"Ah, pasti dirimu bingung dengan orang-orang yang ada di depanmu. Tenang saja, mereka tidak akan mati." Ucapnya.
"Aku selalu memberikan mereka makan dan memberikannya obat penambah darah supaya mereka tidak kehabisan darahnya sendiri. Mungkin, di malam hari mereka akan berisik seperti ini, namun saat siangnya mereka akan baik-baik saja dan tidur terlelap karena sudah kuberikan obat penenang. Tapi, sayangnya di malamnya harus ku berikan obat peningkat rasa sakit dan obat perangsang halusinogen supaya dapat menciptakan mimpi buruk untuk menyukseskan ritual ini."
Tidak lama setelah itu, teriakan mereka berlima mulai mereda dengan nafas yang terburu-buru. Berbeda dengan Thea yang masih saja menangis dengan tubuh yang terikat.
"Ah.. sepertinya harus di kasih obat lagi.."
Tidak tahan dengan ucapan lelaki tua itu, Lily langsung menyerbu dengan melayangkan kakinya yang sudah diperkuat dengan sihir angin, tepat ke arah kepalanya.
"Wushh.." Tiba-tiba saja lelaki itu menghilang seperti kabut.
"Ah, jadi tamu kok kasar. Padahal niatnya aku mau lembut padamu untuk memperlambat kematianmu. Ya sudah lah, ku bunuh sajalah kau sekarang." Ucapnya malas dan tiba-tiba saja dia melayang di langit. Setelah itu, dia mengeluarkan pedangnya yang berdarah-darah itu dari balik jubahnya.
Melihat pedang itu, Lily langsung memutuskan untuk pergi menjauh dengannya sementara waktu. Dia berlari ke arah yang berlawanan.
"Tembakan yang pertama.." Lelaki itu mengarahkan pedangnya dan melepaskannya. Tiba-tiba pedang itu melesat ke arah Lily dari jauh.
Lily menyadari hal itu karena intuisinya yang tajam. Sebelum pedang itu sampai mengenai kulitnya, Lily mengeluarkan angin yang dikeluarkan di telapak tangannya dan mengarahkannya ke samping, hingga membuatnya terpental ke kanan.
"Brakk.." Lily menghantamkan dirinya ke pohon yang keras itu hanya demi menghindari pedang yang mengancam jantungnya.
Kemudian, dia segera bangkit dan terus berlari menjauh dengan orang tersebut.
"Hmm? Kenapa kau lari? Bukannya kau harus segera menyelamatkan mereka?" Ucap lelaki itu keheranan sambil memandangi punggung Lily yang terus menjauh dan menghilang.
"Ya terserah sih, pokoknya ritual ini harus segera diselesaikan hari ini." Lanjutnya. Setelah itu, dia mengeluarkan pil bewarna merah yang dapat meningkatkan regenerasi darah sebanyak 2 kali lipat itu dari kantung sakunya. Dia segera turun dan berjalan mendekati para tawanan untuk meminumkan pil tersebut kepada mereka.
"Baiklah gadis-gadis, waktunya minum obat.." Ucapnya sambil menyodorkan pil itu ke depan wajah salah satu tawanan.
"Ti.. Tidak.. TIDAKK!! HENTIKAAANN!!" Kata gadis elf yang malang itu sambil memberontak menggerak-gerakkan tubuhnya. Namun hal itu hanyalah sia-sia dan malah membuat dirinya terlihat seperti cacing kepanasan.
Thea yang mendengarkan teriakan itu hanya bisa terdiam di tempat dengan mata yang tertutup kain. Dia sudah terlalu banyak menderita sejak beberapa jam sebelumnya, ditambah melihat mereka semua yang menderita membuat perasaannya semakin kacau.
"Hentikan.." Ucap Thea dengan bibir yang bergetar. Namun, ucapannya tentu saja diabaikan oleh lelaki itu. Kemudian, lelaki itu dengan kasar menekan pipi gadis elf itu sangat kuat, sehingga mulutnya terpaksa membuka.
"Haaa.. Haaa.." Pil itu sudah hampir masuk ke dalam mulutnya.
"Aku mohon.. HENTIKAANN!!" Dengan menggenggam erat tangannya yang sejak tadi masih mengeluarkan darah, Kali ini dirinya berteriak dengan suaranya yang serak.
"DUARRR!!" Tiba-tiba saja terdapat cahaya menyilaukan dari langit yang melesat dan menghantam lelaki tersebut. Lelaki itu terpental dan tidak jadi melakukan aksinya.
"Ahh, sialan.. siapa itu tadi?" Ucap lelaki tersebut dan memperhatikan sekitar, namun dia tidak menemukan apa-apa sama sekali.
"Sial.. kenapa tidak kena?" Ucap Lily sambil turun dari pohon setelah memanah lelaki tersebut. Setelah itu, Lily segera berpindah dari posisinya agar bisa memanah ke tempat yang lebih aman.
Setelah menemukan posisi yang aman, Lily kembali memanah dari jarak jauh dengan bantuan sihirnya.
"Wind Bow," Ucapnya. Tiba-tiba keluar angin kuat yang membentuk busur panah. Dia segera menarik benang yang ada di busur tersebut dan mengarahkan bidikan ke arah atas. Sebuah anak panah tiba-tiba muncul seperti partikel-partikel cahaya yang menyatu, setelah itu Lily segera melepaskannya.
__ADS_1
"Wushh.." Panah itu melesat sangat tinggi, setelah itu mendarat dengan kecepatan penuh ke arah Lelaki tua tersebut.
"Blarrr!!" Dengan mudah, lelaki tersebut menghindarinya.
"Huh, memang benar jika aku harus membunuhnya," Ucapnya. Kemudian, dia kembali melayang dan melesat ke arah dimana anak panah tadi diluncurkan.
" Nine Blood of Sword.." Ucap lelaki itu sambil memposekan tangannya menggenggam sesuatu. Tiba-tiba muncul di tangannya sebuah pedang bewarna merah darah, di tambah dengan 9 pedang merah darah yang terbang melingkar di balik punggungnya.
Sesampainya disana, dia sama sekali tidak melihat siapapun. Dia berasumsi jika Lily bersembunyi di balik pohon di sekitar sini. Akhirnya Lelaki itu segera membabat habis pepohonan yang ada disekitarnya.
"Srat-srat-srat-srat" Pepohonan di sekitarnya langsung tumbang seketika, namun dia tidak menemukan apapun.
"Sringg!!" Dari langit, sekali lagi muncul anak panah yang jatuh mengarah lelaki tua itu. Tetapi lelaki tua itu tetap bisa menghindar.
"Aku tidak bisa begini terus." Gumam Lily yang sibuk berpindah tempat lagi. Dia bingung karena harus berpacu dengan waktu, dimana adiknya terus saja mengucurkan darahnya dari tangannya.
"Kemarilah, gadis kecil!! sampai kapan kau bersembunyi terus!!" Ucap lelaki tua itu. Tiba-tiba dia bergerak ke arah Lily sambil menebas pepohonan di sekitarnya.
"Sial, ketahuan!!" Lily terpaksa harus langsung menghadapinya dari jarak dekat, karena kecepatan berlarinya masih kalah cepat dengannya.
"Ketemu kau!!" Ucapnya yang melihat Lily di depannya dengan pepohonan yang berjatuhan karena tebasannya.
"Blarr!!" Tiba-tiba, dari kejauhan terlihat ledakan yang sangat besar. Lily yang sudah cukup jauh dari Dias dapat melihat dengan jelas sebuah api dan asap yang mengepul dari tempat tersebut.
"GROOAAAA!!" Setelah ledakan itu, muncul golem raksasa setinggi tiga gedung bertingkat.
"BLARR! BLARR! BLARR!!" Ledakan beruntun terjadi di tubuh golem tersebut.
"GROAAA!!" Ledakan Dias masih belum cukup untuk menghancurkan golem raksasa tersebut. Golem itu melancarkan serangan tepat ke arah Dias.
Dilanjut akar yang tiba-tiba mengikat kaki Dias. Tapi sekali lagi, Dias dengan mudah membakarnya. Kemudian menghindari pukulan yang mengarah padanya.
"BLARR!!" Pukulan itu menghasilkan gelombang udara yang sangat kuat, hingga membuat Dias ikut terpental. Namun, untungnya dia terpental ke arah Pak Sata.
Dias langsung mengarahkan pedangnya, mengeluarkan sihir apinya sehingga tampak seperti panah api yang besar.
"Mati!!" Pedang api panas itu langsung menusuk tepat ke perut Pak Sata dan membakar tubuhnya.
"Ahhh!! Panas!!" Teriak Pak Sata terbakar yang ikut terbang bersama dengan Dias. Mereka berdua terbang sampai ke tempat Lily berada.
"BLARR!!". Kedua orang itu menghantam tanah dengan sangat keras di tengah-tengah pertempuran Lily dan Lelaki tua itu.
" Apa yang sebenarnya terjadi?" Ucap lelaki tua yang tidak percaya dengan pemandangan yang di depannya. Dara Mughti (Nama asli Pak Sata) yang merupakan Druid kelas atas, dapat dengan mudah dikalahkan oleh bocah tengil kelas 2 SMA. Rekannya itu telah menjadi arang dengan api yang masih membakarnya.
"ClairVoyant!!" Dias memandang tepat ke arah lelaki tua itu dengan melotot.
Name : Ida Ailac
Level : 56
HP : 4.000
__ADS_1
MP : 3.500
Skill : Manipulasi darah.
Job : Pemuja Iblis, Assassin.
"Blood Manipulation.." Ida memposisikan tangannya tepat ke arah Dias.
"Thorn!!" Tiba-tiba muncul duri-duri terbuat dari darah yang muncul dari tubuh Pak Sata.
"Craatt!!"
"Dias!!" Teriak Lily melihat Dias yang tertusuk duri-duri tajam menembus tubuhnya.
Ida maju dengan cepat dan menebas Dias dengan kuat. Beruntung, Dias menangkisnya, namun membuat dirinya terpental dan menghantam Lily.
"Brakk.."
"Aku harus membunuh mereka berdua sekarang.." Gumamnya. Namun, sebelum dirinya melepaskan serangan yang kedua, dia melirik ke bawah kakinya yang terdapat percikan api.
"BLARR!!" Keluar api dari tanah yang membakar tubuh itu. Tapi dia tidak peduli, dia melesatkan pedangnya dengan cepat ke arah mereka berdua.
"Trangg!!" Dias berhasil menangkis dan terdorong ke belakang. Sedangkan Lily berhasil menghindar dan menjaga jarak.
"Ku serahkan dia padamu.." Ucap Lily, kemudian berlari meninggalkan mereka berdua mengarah ke tempat ritual sesat pemanggilan Iblis.
"Hahaha, kau pikir kau bisa lolos?" Lelaki tua itu melepaskan ke sembilan pedangnya ke arah Lily.
"Trang!! Trangg!! Trangg!! Cratt.. cratt.. " Dias menahan beberapa serangan dan menerimanya juga sehingga memberikan luka goresan di paha dan bahunya.
Lily melihat ke belakang, tidak tega dengan kondisi Dias.
"Cepat.. Selamatkan mereka!!" Teriak Dias. Lily kembali melihat ke depan dan berlari lagi.
Lelaki tua itu mulai murka, karena tidak menyangka jika bocah api itu berhasil menangkis serangannya.
"Bocahh!!"
"BLARR!!" Sekali lagi, api muncul dari tanah dan membakar tubuh pria itu. Melihat kesempatan itu, Dias langsung menebaskan pedangnya ke arahnya.
"Trangg!!" Tebasannya berhasil di tangkis. Setelah itu, dari belakang melesat pedang bewarna merah darah melesat ke arah Dias.
"Cratt!!" Dias berhasil melompat dan menghindarinya, namun masih saja tetap menggores kakinya.
"Brakk.." Keseimbangan Dias menjadi kacau, karena kakinya yang terluka dan membuat dirinya terjatuh.
"Blood Manipulation.."
"Thorn!!"
"Cratt!!" Tiba-tiba, duri-duri darah muncul dari bawah Dias dan menembus perutnya.
__ADS_1
"Arghh!!" Dias mengerang kesakitan, hingga membuat dirinya melepaskan pedangnya. Setelah itu, dirinya terjatuh dan terjerembab di tanah. Lambat laun, sedikit demi sedikit kesadarannya menghilang.