
*flashback bentar..
"Pak Ruky, jadi bagaimana caranya mengusir Iblis itu dari tubuh Azka?" Tanya Blaire sebelum mereka sampai di ruang bos lantai 1.
"Sebenarnya cukup mudah, hanya butuh usaha ekstra saja." Balasnya.
"Iya, terus?" tanyanya lagi.
"Pertama, kita harus sekaratin dia terlebih dahulu supaya Iblis yang mengekangnya tidak memiliki daya lagi. Ketika itu pula, tunggu aku merapal mantera. Berikutnya, dengan suaramu itu akan jauh lebih berhasil untuk membangkitkan jiwanya kembali," jelas Pak Ruky.
"Kenapa bisa begitu, Pak? Memangnya ada apa dengan suaranya Kak Blaire?" Tanya Thea dengan polosnya.
"Cinta, bukan?" Ucap Dias.
"..." Tiba-tiba wajah Blaire memerah seperti kepiting rebus.
"Cieeee.. ada yang malu-malu nih, hahahaha.." Goda Dias sambil tertawa keras.
"Huuhh, Dias! Bukan begituu!!" Blaire tiba-tiba mengejar Dias, tapi Dias masih tetap menggodanya.
"Cieee ada yang kepanasan cihuyy. Hahahahaha," gelak Dias sambil berlarian.
"Yah, pokoknya begitu lah," ucap Pak Ruky. Padahal alasan sebenarnya karena sebelumnya Blaire sudah pernah menggunakan suaranya untuk menyadarkan Azka saat penyerangan di Akademi Raftel.
“Intinya sekaratin dulu, Barulah setelah dia melemah, aku bisa mengusirnya dengan kemampuanku yang sudah kupersiapkan sebelumnya.”
*Flashback off
"Ghahahahaha, akhirnya aku ada kesempatan untuk membalas dendam! Lihatlah bocah api! karena kali ini kau pasti akan menemukan ajalmu! Ghahahahahaha!" Gelak Krakera secara tiba-tiba.
“Heal!” Teriak Thea mengobati Dias yang sempat terluka.
“Sepertinya ini akan sulit,” ucap Dias.
“Tenang saja, lakukan sesuai dengan rencana, aku akan mempersiapkan sihirnya terlebih dahulu,” ucap Ruky.
“Baik!” Semuanya serentak.
“Buff : HP regen, Buff : Mana regen, Buff : Haste!!” Ucap Thea memperbaharui skillnya.
“Tidak akan kubiarkan kau!” Seru Krakera sambil melesatkan tentakel tajamnya ke arah Thea.
“Thea!!” Teriak Dias.
“Safety Wall!!” Teriak Thea sambil mengarahkan tongkatnya ke depan. Tiba-tiba muncul dinding seperti membran tebal berbentuk persegi panjang bewarna biru cerah yang mengambang di depannya.
“Dangg!!” Ketika tentakelnya memasuki membran itu, tiba-tiba tentakel itu berhenti melesat seperti terhisap. Akhirnya Krakera terpaksa harus menarik kembali tentakelnya.
“Bisa juga kau gadis kecil,” Puji Krakera.
Sementara itu, Pak Ruky membacakan mantra yang cukup panjang agar bisa mengusir Iblis yang ada di dalam tubuh Azka. Dia duduk bersila dan berkonsentrasi dengan sangat serius dibelakang Thea.
“Bworrr..” Dias mengaktifkan pedang apinya. Kali ini dia harus benar-benar serius melawannya karena dilihat dari statusnya telah meningkat drastis sejak terakhir kali mereka bertemu.
“Hmm.. rasanya percuma menyerang lelaki itu karena bisa membaca gerakanku. Mending aku menyerang gadis kucing saja,” gumam Krakera.
“Blarr!!” Dias langsung meledakkan monster itu dari jarak jauh. Seakan-akan terdapat bom tempel yang menempel pada tubuh si monster, kemudian meledakkannya.
“Yah, tapi tetap saja bocah ini tidak bisa dibiarkan,” ucap Krakera sambil menatap Dias dengan wajah jengkel. Ledakan yang baru saja diterimanya seakan-akan tidak menimbulkan bekas sama sekali.
Kali ini Krakera mengeluarkan tentakelnya. Dulu yang berjumlah sebanyak 8 ekor, sekarang bertambah dua kali lipat menjadi 16 ekor.
“Mati kau, bocah!!” Krakera menusukkan semua tentakel itu dengan sangat cepat ke arah Dias.
“Sial, terlalu banyak..” ucap Dias sambil bersusah payah menghindari tentakel-tentakel itu. Namun, ketika tentakelnya berbenturan dengan pedang Dias, dia langsung terpental jauh.
__ADS_1
“Brakk..” Dias terpental hingga menabrak tembok Maria ciptaan Iaros yang sangat keras.
“Uhukk..” Seteguk darah kental keluar dari mulutnya.
“Heal!” ucap Thea menyembuhkan Dias yang tidak jauh dari tempatnya.
Namun, tentakel itu tidak berhenti begitu saja, melainkan masih menghujani Dias dengan cepat.
“Sett–” Blaire dengan cepat memindahkan Dias ke tempat Thea, sehingga tentakel itu gagal merenggut nyawanya.
“Argh, sepertinya kakiku patah,” ucap Dias dengan lemah.
“Tenang saja, Kak.. Aku pasti menyembuhkanmu,” balas Thea, kemudian lanjut merapal manteranya.
“Dang, Dang, Dang, Dang!!” Krakera mencoba menyerang Thea, namun tidak bisa karena terhalangi oleh dinding yang sangat aneh baginya.
“Thea?”
Dias sedikit kaget melihat mana adiknya yang tidak pernah habis. Seakan-akan selalu terisi kembali dengan sangat cepat. Dia dapat mengamatinya menggunakan kemampuan Clairvoyantnya dengan melihat status Mana Point milik Thea.
“Sebentar Kak, aku masih konsentrasi..” balas Thea. Kali ini mata Thea berubah menjadi hijau, sama seperti milik Dewi Artemis yang sempat bertemu ketika mereka berada di Kerajaan Rifendell.
“Pasti ini berkat dari Dewi itu,” batin Dias.
“Kalau aku tidak bisa menyerang dari depan, maka aku akan menyerang dari atas, Gahahahahaha!!” Teriak Krakera sambil terbang ke langit.
Dia menyiapkan tentakelnya kemudian menyerbu Thea dengan kekuatan penuh dari atas.
“Mati kalian semua!! Ghahahaha!!”
“Awas!!”
Dias segera melompat kemudian menebaskan pedang apinya ke arah tentakel-tentakel itu.
“BWOSSHH..” Dias menebas tiap-tiap tentakel yang berdatangan dengan sangat cepat.
“Hahahaha, percuma gadis kecil.. Jiwanya sudah jauh terkubur di dalam tubuh ini. Jangan harap dia bisa bangkit lagi!” balas Krakera sambil melanjutkan serangannya yang masih ditangkis terus menerus oleh Dias.
"TRANGG!! TRANGG!!" Kali ini Dias mencoba menahan tubuhnya supaya tidak terpental.
"DLARR.." Bahkan sampai meretakkan tanah yang dipijakinya.
“Lebih cepat.. aku hanya harus lebih cepat..” gumam Dias sambil menangkis serangan yang sangat berat itu.
Satu persatu tentakel berhasil dibelah, namun sayangnya tentakel itu dengan cepat teregenerasi.
“Cratt..” satu buah tentakel lolos dan berhasil membuat berdarah dibahunya.
“Cratt..” Satu buah tentakel tajam lagi lolos dan melukai bagian pipi kanannya.
Tidak berhenti dari situ, kakinya, paha, pergelangan lengan, semuanya terluka.
“Haaaaaahhhh!!!” Dias masih dan masih bertahan menghadapi semua tentakel itu supaya tidak mengenai adiknya atau pun Blaire yang juga berada di belakangnya.
Tiba-tiba tentakel itu sudah berhenti menyerang. “Baiklah, aku capek.. istirahat sebentar,” ucap Krakera sambil turun secara perlahan.
“hah.. hah.. hah…” Dias benar-benar kelelahan setelah menerima semua serangan itu. Meskipun tubuhnya selalu menerima penyembuhan dari Thea, namun untuk staminanya tetap saja terkuras sangat banyak.
"Aku harus melakukan sesuatu," ucap Blaire.
"Tapi aku harus bagaimana? Azka.." Blaire mulai berfikir keras. Akhirnya setelah sekian lama berfikir, dia menemukan ide gila yang sangat tidak direkomendasikan.
"Dias!! Aku akan menjadi umpan, ketika ada kesempatan, serang dia!" ucap Blaire, kemudian langsung bergegas berlari ke arah samping.
"Heii, jangan!!" Teriak Dias. Dia merasa kalau itu terlalu berisiko.
__ADS_1
"Azka.. sadarlah.. kumohon.." batin Blaire.
"Ghahahaha, dasar gadis bodoh!" Krakera langsung mengganti targetnya ke arah Blaire.
"Transform : Cheetah mode!" Kali ini, Blaire merubah penampilannya sambil berlari. Dengan tank top yang bertutul, dilengkapi dengan ekor dan telinga Cheetah, dia berlari dengan sangat cepat.
Indra nya menajam sehingga refleksnya ikut menajam. Dia berlari juga dengan menggunakan tangannya agar bergerak lebih cepat seperti seekor Cheetah.
"Awas, Kak Blaire!!" Teriak Thea karena melihat Krakera sudah mulai memberikan serangan.
"Dlarr, Dlarr, Dlarr…" Tiap-tiap tentakel yang dilancarkan oleh Krakera sama sekali tidak mengenainya. Blaire berlari dan menghindari tiap-tiap serangan itu dengan cepat.
"Baiklah, Aku Terima bantuanmu.." ucap Dias. Dia kembali bangkit dan langsung melesat ke arah Krakera yang masih berfokus menyerang Blaire.
"Heahh!!"
"Kau pikir aku tidak sadar keberadaanmu, hah!?" ucap Krakera yang juga menyerang Dias dengan menggunakan tentakelnya. Tentakelnya terbagi menjadi 2. 8 bagian menyerang Blaire, sedangkan sisanya menyerang Dias.
"Clairvoyant!!" Dias mengaktifkan kembali matanya, sehingga dapat memprediksi kemana arah tentakel itu menyerang.
"Set--set--set…" Dias berhasil menghindari semua tentakel itu.
"B-bagaimana bisa?" Krakera kaget jika Dias bisa bergerak secepat itu.
"Kena kau!!"
"Blarrr!!" Dias menggoreskan pedangnya tepat pada tubuh Krakera hingga membuat tubuhnya meledak.
"Sialan!!" Teriak Krakera.
"Ini masih belum selesai.." Dias kembali menggoreskan pedangnya. Meskipun tidak sampai membuat tubuhnya terbelah, tapi cukup memberikan damage yang lumayan.
"Sratt--sratt--srat--sratt.." Sabetan menyakitkan terjadi berkali-kali pada perut Krakera.
"Blarr-Blarr-Blarr!!" Disaat yang bersamaan, terjadi ledakan berkali-kali pada tubuh si gurita itu.
"Arghh!!"
"Serangan terakhir.." Dias menebaskan pedang api yang becahaya seperti lava itu dari bawah ke atas dengan sangat kuat, hingga membuat tubuh Krakera terpental jauh ke atas.
"Argghhh!!"
"Blarrr!!" Ledakan yang sangat kuat terjadi dan membenturkan tubuh Krakera ke dinding gua.
"Brukk.." Tubuh gurita itu pun tersungkur di tanah dalam keadaan lemas.
"A-apa kita berhasil?" Tanya Blaire.
"Hah.. Hah.. Sepertinya begitu. Bagaimana Pak Ruky?" Tanya Dias pada Ruky setelah mengamati Krakera yang sudah tidak bergerak sama sekali.
"Belum.." ucapnya singkat.
"Apa? Belum?"
"Belum selesai!! cepat menghindar!!" Teriak Ruky panik.
"Jraat!!" Namun, terlambat sudah. Sebuah tentakel muncul dari dalam tanah dan menusuk perut Dias hingga tembus melewati tubuhnya.
"Ohgkkk.." Setenggak darah keluar dari mulutnya. Dias sangat terkejut setengah mati karena dia pikir si gurita itu sudah tidak dapat bergerak lagi.
Dan ternyata itu semua hanyalah tipuan untuk mengelabuhi Dias.
"Happ!!" Sekarang giliran Blaire mencoba menghindari tentakel-tentakel yang tiba-tiba keluar dari tanah.
"Sraaatt.." Namun terlambat sudah. Tentakel-tentakel itu sudah mengelilingi Blaire dan selanjutnya tubuhnya sudah tertangkap oleh tentakel yang berjumlah 14 itu.
__ADS_1
"Aaahhhggkkk!!" Blaire menggeliat kesakitan, karena tentakel itu mengikat semakin kuat tubuhnya.
"Kakak!! Kak Blaire!!" Teriak Thea.