
Flashback*
“Hmmpphh!!” Thea tidak mampu berteriak, karena mulutnya yang ditutup dengan tangan lelaki yang cukup besar. Tiba-tiba saja dia masuk ke dalam lantai kelas seni bersama dengan orang yang menutup mulutnya dari belakang.
Setelah masuk ke dalam lantai, Dia membuka mata dan melihat sebuah tebing yang tinggi dari kejauhan dimana 4 gadis elf sedang ditawan disana.
“Bruakk!!” Thea di jatuhkan, kemudian kaki dan tangannya diikat dengan menggunakan tali. Selain itu, mulutnya juga diikat dengan kain supaya tidak berisik.
“GROAA!!” Sebuah golem muncul dari dalam tanah dan membawa Thea naik ke atas tebing.
“Hmmpphh.. Hmmpphh..” Thea tidak bisa berkata apa-apa karena mulutnya yang diikat dengan kain. Rasa takut dan bingung menjadi satu. Selain itu, dirinya tidak menyangka jika yang menculiknya adalah Pak Sata yang merupakan guru baru di sekolahnya.
Sesampainya di atas tebing, Thea diturunkan dan langsung diikat di pohon yang sudah disediakan. Thea terkejut ketika melihat disekitarnya nampak 4 perempuan tanpa busana dengan tangan berdarah-darah karena disayat oleh pisau dan diikat di bawah pohon mati. Dia ketakutan setengah mati melihatnya.
“Lepas kain dimulutnya.” Ucap Pria tua yang sibuk merapalkan mantra dan menaburkan sesuatu di tanah.
“Bwahh..” Pak Sata melepas kain tersebut.
“Pak Sata, apa yang terjadi? kenapa aku di bawa kesini?”
Seakan-akan tidak mendengar apa yang dikatakan Thea. Dia mengambil pisau khusus, kemudian menyayat tangan Thea yang diikat dibalik pohon.
“Cratt..”
“Arghh.. Sakit..” Ucap Thea. Rasa sakit yang menghujam pergelangan tangan Thea cukup membuat dirinya merintih kesakitan. Dadanya sesak, dan sulit untuk bernafas. Selain itu, perasaan gelisah dan rasa takut mulai melingkupinya.
Pria tua tadi mengeluarkan pil bewarna merah, dan juga bewarna putih.
“Telan ini, supaya kau bisa tetap bertahan.” Ucapnya. Kedua pil itu adalah pil yang dapat meningkatkan regenerasi darah 3 kali lipat, sedangkan pil yang satunya untuk meningkatkan rasa sakit. Setelah itu dia mencengkram mulut Thea hingga terbuka, dan memasukkan dua pil itu secara bersamaan ke dalam mulut Thea.
“AARRRRGGHHH.. SAKIT.. TOLOONGG!! KAKAAKK!!” Thea mengerang kesakitan. Setelah itu, Pak Sata menutup mata Thea dengan kain dan membuka pakaiannya supaya tidak bau terkena darah atau muntah karena rasa sakit yang tidak tertahankan. Pria itu melanjutkan ritualnya dengan memanggil nama iblis yang akan dibangkitkan.
Thea terus berteriak kesakitan dan memberontak, bersamaan dengan para tawanan yang lain yang juga diperlakukan sama dengan dirinya. Darah yang keluar dari tangannya tidak pernah habis, akibat pil yang diberikan, dan juga teriakan yang memekakkan telinga itu terus bergemuruh di sekitar tebing. Thea terus berteriak, hingga Dias datang.
“Ka..Kak..”
***
"Mampus kau.. Hahaha!!" Gelak tawa jahat Ida yang puas melihat bocah itu tidak sadarkan diri di tanah. Setelah itu, dia lanjut mengejar Lily yang sudah hampir sampai di atas bukit.
"Akhirnya sampai." Ucap Lily dengan nafas yang terengah-engah yang telah sampai di atas bukit.
"Sring.." Tiba-tiba, sebuah pedang melesat dan menggores kakinya yang mulus sebelum dia berhasil membebaskan para tawanannya.
"Arghh.." Erang Lily yang membuat tubuhnya ikut terjatuh.
"Mau kemana kau, gadis kecil? Ahahahaha.." Gelak pria tua itu yang sudah sampai di hadapan Lily. Pria itu terus mendekati Lily secara perlahan. Sedangkan Lily hanya bisa menyeret kakinya yang berdarah-darah itu menjauh lelaki tersebut.
"Fi-Fiona.. Tunggu aku.." Ucap Lily dengan tangan yang mengarah ke arah adiknya yang terikat disana.
"Cratt.." Tiba-tiba, pedang milik lelaki itu menancap tepat di tangan Lily dan menempel di tanah.
"Aaaarrggghhh!!!" Erang Lily yang kesakitan sambil memegangi tangannya yang terus mengeluarkan darah.
"Hohohoo.. sepertinya kau sangat cocok sekali untuk dijadikan bahan ritual iblis selanjutnya." Kata lelaki jahat itu yang tersenyum senang, karena menemukan tumbal yang potensial.
Sementara itu, Dias yang sekarat mencoba meraba sakunya. Untung saja dia membawa Health Potion yang di kasih secara cuma-cuma oleh Cyntia saat di dungeon dulu. Dia langsung meneguknya meskipun sedikit kesulitan karena tubuhnya yang mulai kritis.
"Tunggu aku, Thea.. Aku pasti akan menyelamatkanmu.." Ucapnya dengan tubuh yang berlahan pulih dan luka-luka yang tadinya menganga langsung tertutupi. Kemudian dia mengambil pedangnya yang tergeletak di tanah.
"Aku tidak akan kehilangan untuk yang kedua kalinya.." Sambungnya. Setelah itu, dia mengumpulkan sihirnya ke telapak kakinya untuk menciptakan daya tolak yang hebat.
"BLARR!!" Dias melesat dengan meledakkan tanah di kakinya mengarah ke atas bukit dimana Ida dan Lily berada.
__ADS_1
Mendengar ledakan itu, Ida menoleh ke belakang.
"Bocah itu!!" Dia sangat terkejut sekali, yang padahal harusnya dia tersiksa dan mati disana, malah hidup kembali dan dengan keras kepala mencoba menyetorkan kembali nyawanya.
"HEAHH!!" Dias melesat dan menebaskan pedang yang sudah berapi-api itu ke arah Ida.
"BLARR!!" Sayangnya saat lelaki itu ditebas, tiba-tiba lelaki itu berubah menjadi kabut dan melayang ke atas. Sebagai gantinya, pohon-pohon yang tertebas oleh pedang Dias terbakar.
"Keras kepala sekali, Kau!! Ingin mati untuk yang kedua kalinya? Hah!?" Ucap Ida yang mulai geram. Namun, meskipun Ida mengajak Dias mengobrol, dia diabaikannya. Dias nampak diam mematung melihat pemandangan yang disekitarnya.
"The.. Thea.." Dias tampak syok melihat adiknya yang dalam kondisi mengenaskan. Tubuh gadis itu terlihat pucat karena kehabisan darah, matanya ditutup dengan kain dengan sangat kuat, serta kaki dan tangannya juga terikat.
"Ka..ka–" Thea yang ingin membalas suara kakaknya itu sudah tidak sanggup lagi. Kepalanya terasa sangat pusing dan tubuhnya lemas. Dia hanya bisa menundukkan kepala dengan air liur yang menetes.
"Ah.." Dias dengan tergopoh-gopoh mengeluarkan Health potion dari sakunya dan berlari ke arah Thea. Ekspresi gelisah dan ketakutan pun muncul. Tubuhnya mulai bergetar hebat.
"Aku tidak mau kehilangan lagi, sungguh.. aku tidak mau.. Thea.. Thea.. Adikku.. " Ucap Dias dengan air mata yang mulai menetes. Dia yang sudah kehilangan akal sehatnya mencoba berlari tertatih-tatih ke arah adik yang paling disayanginya itu.
"Cratt.." Tiba-tiba saja Dias tertusuk pedang tepat di perutnya. Ternyata lelaki itu tidak memberikan satu detik pun bagi Dias untuk hidup dan menyelamatkan adiknya.
"Klang.." Tanpa sengaja, Dias menjatuhkan Health Potion itu.
"Dias!! Sadar!!" Teriak Lily menyadarkan dirinya yang masih terdiam beku.
"Hoamm.. Sudah selesai acara drama-dramaannya?"
"Blood Manipulation.. Thorn!!" Lanjut lelaki itu dan kembali memanipulasi darah yang menetes dari tubuh Dias menjadi tombak-tombak tajam dan menusuk tubuh Dias dari bawah.
"Cratt!!" Darah segar muncrat dari tubuh Dias. Wajah Lily pun sampai terkena muncratan darahnya yang kental itu, membuat dirinya ketakutan setengah mati.
Dias yang mulai kehilangan kesadarannya lagi, kini mulai bermunculan serpihan-serpihan serpihan-serpihan masa lalu saat bersama Thea.
"Kak, aku buatkan susu coklat panas ini khusus loh!" Ucap Thea dengan tersenyum manis. Dias menerimanya dan meminumnya.
"Ahh? Iya kah? Jadi 'salt' itu bukan gula ya? Maaf kak.. Hehe.. aku kira itu gula, soalnya warnanya sama sih.. Hehe.." Kata Thea dengan polosnya tanpa dosa.
Memori lain milik Dias terbuka. "Ayo main bunuh-bunuhan Kak.. Nanti Aku yang jadi pembunuhnya, sedangkan Kakak yang ku bunuh!! Hehe.. Jadi nggak sabar nih.." Kata Thea dengan tersenyum.
"Bukannya bahaya tuh?" Balas Dias.
"Kakak janji bakal kembali lagi?" Ucap Thea saat sebelum Dias meninggalkan dirinya di 5 tahun sebelumnya. Thea mengarahkan jari kelingkingnya ke depan.
"Iya janji." Balas Dias dan menyambut kelingking Thea yang kecil itu dengan baik. Thea tersenyum senang melihatnya.
"Selamat datang, Kak." Ingatan terakhir Dias saat bertemu lagi dengan Thea.
Tiba-tiba, suhu atmosfer disekitar menjadi panas.
"Ku bunuh, Kauu!!" Teriak Dias. Mata Dias memerah dan mengeluarkan air mata. Suaranya yang kencang dan parau itu menggema ke sekitar bukit itu. Kemudian, beberapa pohon di sekitar sana tiba-tiba saja terbakar tanpa sebab.
"BLARR!!" Dias melesat ke atas dengan sangat cepat ke arah Ida dan menebasnya.
"Trang!! BLARR!!" Meskipun Ida berhasil menangkisnya, tapi dirinya masih ikut terbakar dengan api yang kuat.
Tebasan kedua di lancarkan dengan cepat dari arah atas ke bawah oleh Dias. Ida masih bisa menangkisnya, namun tubuhnya terpental ke bawah dan menghantam bebatuan yang keras.
"Brakk!!"
“Ahh, punggungku.." Rintih lelaki tua itu.
"Aku.. tidak akan kehilangan siapapun lagi!!" Ucap Dias sambil menggertakkan giginya dan mengusap air matanya.
Dias melesatkan tubuhnya dari atas ke bawah seperti meteor yang jatuh dan langit.
__ADS_1
"Thea.."
"BLARR!!" Ledakan hebat terjadi hingga meluluh lantakkan sebagian besar tempat di daerah itu. Pepohonan sekitar banyak yang terbakar, bersamaan dengan terbakarnya pria yang berada di bawah tusukan pedangnya.
“AARRGHHH!! PANASS!! SIALAN KAUU BOCAHH!!”
“HEAAAAAAA…” Dias mengerahkan seluruh kemampuannya untuk melenyapkan pria itu menjadi abu.
“AAARRHHH..” Lelaki itu sempat mengeluarkan skillnya, namun darah yang ingin di manipulasinya malah langsung kering terkena Api Dias. Dia meronta-ronta kesakitan dan kepanasan.
Lambat laun, teriakannya menghilang, dan Dias mulai kehabisan mananya, sehingga secara otomatis dia berhenti membakarnya. Lelaki tua itu telah hangus menjadi arang tanpa bisa dikenali wajahnya. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa mereka berdua telah menang. Dias segera pergi dari tempat itu dengan tergesa-gesa sambil berjalan sempoyongan ke atas tebing.
“Thea.. Thea.. Thea.. Hiks..” Gumam Dias terus-menerus sambil menitikkan air mata, hingga akhirnya dirinya sampai di atas tebing itu.
“Thea?” Ucap Dias sambil melotot ke arah Thea.
“Ka.. Kak?” Balasnya.
“Theaa!!” Dias berlari ke arah Thea yang sudah dibebaskan oleh Lily. Tapi karena kehabisan energi dan mana, dia berlari dengan sempoyongan seperti zombie yang kelaparan.
“Brukk..” Dias langsung memeluk adiknya dengan kuat. Dia sangat beruntung sekali menemukan adiknya yang masih hidup. Mengetahui kenyataan itu, membuat Dias menangis terharu.
“Kakak.. hiks..” Thea juga ikut menangis karena derita yang sudah ditanggungnya selama disiksa oleh Pria keji itu. Dia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, dan hanya bisa bersandar di Dada bidang milik Kakaknya.
Selama Dias bertarung, Lily mengambil kesempatan itu untuk menyelamatkan semuanya. Dia mencabut pedang yang menusuk tangannya, meminum sedikit Health Potion yang tadinya di jatuhkan oleh Dias, kemudian membebaskan ikatan para tawanan. Berikutnya, dia meneteskan Health Potion pada luka masing-masing tawanan, hingga luka di tangan mereka tertutup dengan sendirinya.
Namun, Lily tidaklah seberuntung Dias. Dia menemukan keadaan adiknya yang lebih parah daripada Thea.
“Fiona? Ini Kakakmu loh.. Fiona?” Lily menatap mata Fiona tajam yang terlihat sayu tanpa ada semangat. Lily menggenggam pundak Fiona dengan kuat, dan menggerak-gerakkannya, namun tidak ada respon yang berarti. Dia masih saja diam dengan pandangan kosong.
Sudah jelas jika pikirannya telah rusak akibat obat-obatan yang telah diberikan oleh kedua pria kejam itu dan juga siksaan yang tidak henti dilancarkan. Lily menggertakkan giginya dan marah terhadap dirinya sendiri.
Tiba-tiba, muncul sepasukan elf yang datang dari balik pohon.
“Lily!!” Teriak Pria elf berambut panjang bewarna kuning dengan mata hijau yang mirip seperti milik Lily. Tidak lain itu adalah kakak Lily. Dia adalah Demitry yang sebelumnya pernah satu dungeon dengan Dias dan Iaros. Demitry berlari mendatangi Lily bersama dengan pasukannya.
“Kenapa kau datang terlambat!! Hah!? Kakak bodoh!!” Murka Lily dengan matanya yang berlinang air mata.
“Maaf, aku..” Ucapannya terpotong ketika melihat keadaan Fiona yang sudah tidak berdaya dan pandangannya yang kosong. Demitry terkejut sekaligus merasa sangat bersalah, karena keterlambatannya untuk datang kemari.
“Andai saja kau lebih meningkatkan penjagaanmu mengawasi pergerakan Para Pemuja Iblis, hal ini tidak akan terjadi!!”
Demitry tidak bisa membalas kata-kata yang diucapkan oleh Lily, karena semuanya benar. Andai saja dia tidak berfokus pada misi yang diberikan oleh guild, dan lebih menjaga keluarganya, pasti hal ini tidak akan pernah terjadi.
“KENAPA DIAM SAJA?? DISAAT FIONA HILANG, KAU KEMANA, HAH!?” Teriak Lily, setelah itu dirinya langsung menangis dan memeluk Fiona.
"Huu.. Huu.."
“Brukk..” Dias tiba-tiba pingsan karena telah kehabisan mananya.
“Kakak?” Thea berusaha menyadarkan Kakaknya, namun tidak ada respon sama sekali.
Tidak lama setelah itu, tim penyelamat datang mendekati mereka berdua, dan mengevakuasi mereka ke tempat yang aman.
*Sementara itu..
Dari kejauhan, terdapat seorang Pria yang mengawasi kejadian itu. Pria berambut putih berkulit hitam melihat dari jauh kedua orangnya yang gagal itu. Tiba-tiba dia langsung menghilang.
Akhirnya, semua telah usai. Kelima tawanan yang menjadi objek pemanggilan Iblis di amankan dan dirawat terlebih dahulu oleh tim yang dibawa oleh Demitry. Dengan beberapa Priest yang dibawanya, dapat menyembuhkan mereka berlima dengan cepat. Namun itu secara fisik, sedangkan batinnya telah rusak dan tidak bisa disembuhkan.
Keempat-empatnya memiliki masalah gangguan mental traumatik yang mendalam, hingga akhirnya harus menjalani rehabilitasi terlebih dahulu sebelum masuk sekolah. Beruntungnya, Thea tidak harus mengalami trauma kronis tersebut.
Kemudian, penjahat yang sudah dihanguskan oleh Dias salah satunya masih hidup, yakni seseorang yang menyamar menjadi Pak Sata. Dia disembuhkan dari luka bakar dan luka tusuk, setelah itu dia dibawa ke kepolisian pusat milik Kerajaan Rifendel untuk diinterogasi disana.
__ADS_1