Adias Floryn : Get Back The Kingdom

Adias Floryn : Get Back The Kingdom
Bagian 43 : Kekacauan di Kerajaan Rifendell


__ADS_3

Kerajaan Rifendell


"Hah, mimpi itu lagi.." ucap Lily yang tiba-tiba terbangun.


"Mimpi apa Tuan Putri? Apakah mimpi tentang lelaki itu lagi?" ucap Pelayan yang selalu mendampingi Lily sejak kecil. Yang dimaksud lelaki itu adalah Dias.


"Ya, sepertinya begitu.. Entah kenapa akhir-akhir ini aku selalu bermimpi tentangnya." Balas Lily sambil memegang kepalanya yang pening. 


"Memangnya mimpi seperti apa Tuan Putri? Mimpi baik atau mimpi buruk?" Tanya lagi si Pelayan itu blak-blakan.


Namun, ketika dirinya mengingat kembali mimpi itu, tiba-tiba saja pipinya merah padam. 


"Tu-tuan Putri, pipi Tuan Putri merah padam," ucap si Pelayan yang terkejut. 


"Ah, mana mungkin!?" Lily masih tidak percaya dengan ucapan pelayannya. 


"Coba lihat kemari," ucap Pelayan itu sambil menunjukkan cermin tepat ke wajah gadis elf itu. 


Setelah Lily mengamati wajahnya sendiri, ternyata benar jika pipinya merah padam. 


“Haaa, kenapa bisa begini?”


"Eng.. Jadi, apakah Tuan Putri sekarang ini, ehm.. sedang jatuh cinta?," ucapnya sambil cengar-cengir ke arah Lily. 


"Ma-ma-ma-ma-mana mungkinn!! Di-di-di-dia bukan siapa-siapa bagiku!! ja-ja-jangan salah paham!!" Bantah Lily sambil tersipu malu. 


"Tidak! Ini pasti demam! aku yakin itu. Lizbeth, ambilkan aku air minum!"


"Baik.." Pelayannya yang bernama Lizbeth langsung pergi dan mengambilkan air minum untuknya. 


"Dasar Tuan Putri, tidak peka dengan perasaannya sendiri," batin Lizbeth.


Sementara itu, demo yang terjadi di dalam Kerajaan ini tak kunjung usai. 


"Tolak manusia! Tolak makhluk barbar! Tolak kepunahan!" Teriak para pendemo yang berada di depan istana kerajaan.


Sudah sekitar 4 hari lamanya mereka melakukan demo didepan istana Kerajaan. Semakin hari, semakin banyak para pendemo yang datang, sehingga tempat itu semakin riuh. 


Seorang duta yang sudah dikirimkan oleh Kerajaan Valinor telah datang di tempat Raja Obeyron, dan sekarang sedang mendiskusikan langkah selanjutnya agar dapat terbebas dari situasi ini. 


"Mari kita lakukan rencananya," ucap Duta yang dikirimkan oleh Kerajaan sebelah untuk mengentaskan masalah ini. Sang Raja hanya mengangguk menyetujui rencananya. 


Beberapa saat kemudian, akhirnya Sang Raja pun menampakkan dirinya di atas balkon Kerajaan. Beberapa pengawal mengaktifkan sihir untuk mengeraskan suara miliknya. 


"Wahai rakyat Rifendell! Harap tenang semuanya!!" Teriak Raja Obeyron dengan sangat keras. Mendengar hal itu, tempat itu seketika mendadak hening.


"Coba kirimkan satu orang perwakilan saja untuk melakukan diskusi! Saya berjanji akan mendengar semua permintaan kalian.


"Kirim salah seorang diantara kalian sekarang juga!" Teriak Raja Obeyron. Kemudian dia kembali masuk ke dalam. 


Kemudian dengan cepat mereka memutuskan siapakah orang yang cocok untuk menyuarakan pesan itu. Seorang lelaki elf yang selalu paling terdepan dalam menyampaikan aspirasinya di hadapan publik. 


Lelaki itu langsung masuk ke dalam istana Kerajaan didampingi dengan para pengawal Kerajaan. 


Lelaki itu mulai berbicara dengan antusias. Mengenai sejarah mengapa elf dan manusia bermusuhan di masa lalu. 


Kemudian dia mengutarakan jika dia geram dengan perilaku manusia yang saat ini sedang melakukan kontrak dengan bangsa Iblis. Padahal sudah jelas bahwa Iblis adalah musuh bagi kedua ras itu, tapi entah mengapa manusia masih saja bekerja sama dengannya. 


Tidak lama kemudian, Sang Duta mulai angkat bicara. "Maaf menyela perkataanmu, tapi menurutku kau benar-benar salah jika mengecap manusia bekerja sama dengan Iblis."


"Lah, bukannya memang begitu, manusia? Kau tidak membaca beritanya ya?" Balas lelaki pendemo itu. 


"Kau berkata seakan-akan semua manusia telah berkontrak dengan Iblis, padahal tidak semuanya demikian. Kerajaan kami saat ini juga sedang disibukkan oleh manusia yang sedang berkontrak dengan Iblis. Banyak dari kami yang mati terbunuh akibat manusia Iblis itu, sehingga kami lebih menderita daripada kalian.." Lanjut si Duta besar tersebut.

__ADS_1


“Tapi tetap saja kalian para manusia melakukan kontrak dengan para Iblis! Pasti lambat laun kalian-kalian juga akan melakukan hal yang sama! Aku adalah yang paling tahu sifat munafik manusia!”


"Baiklah, kau tahu kan jika Kerajaan Farnesse yang sudah berkontrak dengan Iblis mulai gencar menaklukkan daerah-daerah di sekitarnya? Jika dibiarkan terus seperti itu, maka tidak lama lagi mereka akan menghancurkan Kerajaan kita! Baik Kerajaanmu ataupun kerajaan yang kutempati!” 


" Kita tidak bisa berlarut-larut tenggelam dalam pertengkaran, ini sudah waktunya bagi kita untuk bekerja sama. Musuh kita saat ini sama! yakni semua manusia yang sudah berkontrak dengan Iblis! Kerajaan kami sama sekali tidak ada yang melakukan tindakan keji seperti itu. Yang kau lihat diberita bukanlah warga kami, melainkan orang-orang selundupan dari Kerajaan Farnesse."


"Wahai Raja!! Kami meminta dengan sangat supaya jangan bekerja sama lagi dengan manusia! Mereka sudah melakukan kontrak jahat dengan para Iblis yang sangat dilarang sejak perjanjian antara elf dan manusia!” ucap lelaki pendemo itu lagi.


Meskipun lelaki itu sudah jelas jika dirinya kalah argumen, tapi entah mengapa dia masih saja tetap ngotot dan melakukan perdebatan yang tidak berguna. Hingga akhirnya mereka pun tidak mencapai pada titik temu sama sekali. 


“Tuan Putri, jangan menguping disini. Kita sudah dilarang buat menguping disini kan?” ucap Pelayan Lily yang sedang memergoki Lily.


“Sssstt.. diam..” Sejak awal, Lily sudah mendengarkan semuanya hingga akhir dari balik pintu ruang pertemuan tersebut. 


"Intinya, massa menginginkan kebebasan yang mutlak tanpa ada ancaman dari para manusia-manusia yang ada disana! Kami tidak ingin di usik lagi dan kehilangan korban lagi karena ulah manusia yang biadab itu."


"Kriieeett.." Tiba-tiba pintu itu terbuka.


"–Sett.." Dengan cepat, Lily langsung menjauh dari pintu tersebut, kemudian berpura-pura jalan seperti biasa.


Dari pintu itu, keluarlah Lelaki pendemo yang berwajah biasa aja, namun dari ekspresinya terlihat dia seperti menginginkan sesuatu. 


Dia menyeringai sesaat, namun ketika pandangan mereka berdua bertemu, seringai itu berubah tiba-tiba menjadi senyum yang hangat. 


“Hmm.. kesempatan..” gumam lelaki itu. Lily hanya kebingungan karena tingkahnya yang sepertinya memiliki maksud tertentu.


“Selamat siang Tuan Putri Lily Obeyron, tidak ada Tuan Putri lain yang secantik Anda dan sepandai Anda.” Sapanya ramah.


“Ah, iya.. Terima kasih,” balas Lily sopan. Setelah itu dia segera beranjak pergi dari sana.


“Tunggu sebentar! Tuan Putri, sebagai anak dari Raja Obeyron sekaligus Tuan Putri dari Kerajaan Rifendell, bagaimana pendapat Anda mengenai manusia yang berkontrak dengan Iblis?” tanyanya.


 Karena terlalu mendadak, Lily hanya menjawab dengan apa adanya,”Eng.. Menurutku benar dari apa yang pernah ayah sampaikan. Tidak semua manusia itu menjalin kontrak dengan para Iblis, kita tidak bisa memukul rata semua manusia, karena tiap-tiap manusia jika memiliki porsi kebaikan dan keburukan masing-masing,” jawabnya.


“Aku juga sebenarnya berfikir demikian, hanya saja sangat sulit untuk meyakinkan mereka semua yang sedang berdemo diluar sana dan sadar jika sebenarnya elf dan manusia itu adalah ras yang saling menguatkan.”


Lily mengernyitkan keningnya, karena apa yang diucapkan olehnya sangat berbeda disaat berdebat dengan ayah dan si duta besar yang dikirim dari Kerajaan Valinor. 


“Oleh karena itulah, bisakah Anda yang berposisi sebagai Tuan Putri dapat meyakinkan kami semua agar mendapatkan pencerahan dan tidak saling menyalahkan lagi? Saya sangat tahu sebenarnya memusuhi manusia adalah hal yang salah, hanya saja semua orang geram karena perilaku mereka yang telah menculik para elf dan dijadikan persembahan untuk memanggil Iblis.”


“Tunggu sebentar, Tuan Putri..”  ucap Lizbeth menyangga percakapan mereka berdua.


“Mohon maaf lancang, tapi saat ini Tuan Putri sama sekali tidak diperbolehkan keluar dari Kerajaan ini,” Lanjutnya sambil memasang badan tepat di depan Lily.


“Lizbeth?” 


Tiba-tiba saja Lelaki itu pun membungkuk dalam-dalam sampai 90 derajat. “Saya benar-benar memohon pada Anda, kami benar-benar membutuhkan suara Anda agar dapat menyadarkan orang-orang disana. Jika Anda mengikuti saya kemudian membantu saya untuk menyadarkan warga yang masih terselimuti hatinya dengan kegelapan, pasti demo ini akan selesai dan tidak akan terjadi pertikaian lagi,” ucapnya.


“Liz..” Lily kemudian meminta Lizbeth untuk minggir dari hadapannya.


“T-tuan Putri!?” Lizbeth bingung dengan tingkah Lily.


“Baiklah, jika itu demi kedamaian Kerajaan ini, akan aku terima,” ucapnya.


“Terima kasih, Tuan Putri.. Anda benar-benar memikirkan nasib Rakyat Rifendell. Dengan adanya Tuan Putri, Kerajaan ini pasti akan terselamatkan,” balas lelaki itu.


“Sebentar! Izinkan saya ikut untuk mendampingi Tuan Putri..”


‘Lizbeth, tenang saja, aku tidak apa-apa..” Balas Lily untuk menenangkan Pelayannya itu.


“Baiklah, Anda juga boleh ikut. Kalau begitu, mari ikut saya,” kata lelaki pendemo itu sambil melangkah keluar.


Mereka berdua pun akhirnya mengikutinya hingga ke taman Kerajaan. 

__ADS_1


“Baiklah, dari sini saya akan menggunakan sihir teleportasi untuk menghindari para pendemo itu.” Ucap Lelaki itu.


“Oh iya, mohon maaf lancang karena belum memperkenalkan diri. Nama saya Ryan, senang berkenalan dengan Anda.” ucapnya yang kemudian dilanjut dengan merapalkan mantera.


Sekejap, terdapat sinar yang melingkari tempat mereka berdiri. Tidak lama kemudian, mereka berdua menghilang dalam hitungan detik. 


*Sementara itu…


“Tok-tok-tok.. Tuan Putri, saya sudah menyesaikan PR saya, bolehkah saya meminta izin untuk mengecek milik Tuan Putri?” ucap Halvar yang saat ini berdiri di depan pintu kamar Lily. 


“Tuan Putri?” Halvar merasa aneh karena setelah diketuk berkali-kali namun sama sekali tidak ada jawaban.


Karena khawatir, terpaksa dia langsung mendobraknya.


“Brak!!”


“Tuan Putri?” Ketika melihat kesekeliling, ruangan itu sama sekali tidak ada penghuninya. Dia mengecek di tiap-tiap sudut kamar. Di bawah kasur, di dalam kamar mandi, atau di dalam almari, namun tidak menemukan siapapun. 


“Kemana dia?” 


Halvar memutuskan mencari ke seluruh tempat di Kerajaan dengan meminta bantuan ke pengawal-pengawal lainnya. 


***


“Zunggg..” Teleportasi milik Ryan telah mengarahkan mereka ke ruangan yang tidak cukup luas, namun sudah banyak orang yang menanti disana.


“Hai, Ryan, wait.. Hah!? Kaya pernah liat?” Tanya kawannya yang bernama Alfred itu sambil terkejut melihat gadis di depannya.


“Salam kenal, saya Lily Obeyron. Putri dari Raja Obeyron.” ucap Lily sopan.


“Hei, kau gila ya! ini sudah diluar rencana! Apa kau ingin dipenjara karena melakukan penculikan?” Ucap Vaness yang sedang duduk di atas meja. 


“Aduh, apa sih yang kau fikirkan, Ryan? Kau pikir kita dapat bebas begitu saja setelah setelah menawan dirinya?” ucap Alfred sambil menepuk jidat.


Yang lainnya juga berkomentar sama. Mengenai langkah Ryan yang terlalu nekat, karena bisa-bisa merekalah yang akan dipenjara atau bahkan dihukum mati. 


“Tenang saja, jika ingin rencana kita berhasil, kita juga harus lakukan ini. Semoga Sang Raja juga mengerti.”


“Apa yang kalian bicarakan?” Tanya Lily yang heran karena tidak nyambung dengan pembicaraan mereka. Namun mereka tetap mengabaikan Lily dan tetap melanjutkannya.


“Tuan Putri, aku punya firasat yang buruk,” bisik Lizbeth pada Lily. 


“Aku tahu, jika Sang Raja pasti akan sangat menghindari pertikaian sekecil apapun, untuk itulah, aku pikir beliau tidak akan berani mengambil langkah berisiko seperti membunuh atau memburu kita. Untuk itulah, supaya Sang Raja mendengarkan suara kita, kita harus lakukan ini,” jelas Ryan.


“Terus kita apakan Tuan Putri ini?” ucap Kembali Alfred. Semuanya memandang ke arah Lily dan Lizbeth. 


“Bukk!!” Tiba-tiba saja Vaness memukul perut Lizbeth hingga tidak sadarkan diri.


“Lizbeth!!”


“Maaf Tuan Putri, tapi kami harus melakukan ini.” ucap Ryan.


Tidak lama kemudian, salah satu rekannya mengambil tali dan memberikannya pada Ryan.


“Sekali lagi, saya ucapkan maaf.. Saya janji akan tetap menjaga Anda dengan baik,” lanjut Ryan yang kemudian mengikatkan tali itu pada tangan dan kaki Lily.


Setelah itu, dia mendudukkan Lily ke atas kursi kemudian diikat hingga membuat gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa.


Lily baru sadar jika semua itu hanyalah jebakan mereka. Dia terlalu naif sehingga dirinya mudah tertipu oleh orang-orang semacam mereka. Dia hanya bisa berharap, semoga orang yang menculiknya dapat menepati janjinya. 


Sekejap, terbesit wajah Dias dalam pikiran Lily.


“Ahh, apa yang kau pikirkan?? Kenapa kau berharap jika lelaki itu akan menolongmu? Sadar Lily, sadarr!!” Batin Lily.

__ADS_1


***


__ADS_2