Adias Floryn : Get Back The Kingdom

Adias Floryn : Get Back The Kingdom
Bagian 36 : Memasuki Dungeon bersama dengan Blaire


__ADS_3

“Ge-gelap sekali disini,” ucap Thea sambil mengamati sekeliling yang hanya nampak warna hitam saja. 


“Light magic : Orb,” ucap Pak Ruky, kemudian muncul orb bercahaya yang menyinari di sekeliling mereka dari telapak tangannya. Akhirnya, mereka semua dapat melihat dengan lebih jelas. 


“Apa kita sekarang berada di goa?” Tanya Thea sambil mengamati sekitar.


“Hmm.. sepertinya begitu..” ucap Iaros. 


“Mioww, Miaowww..” kucing itu turun dari gendongan Thea kemudian menempelkan kepalanya diantara kaki-kaki Thea.


“Miaoww, Miaoww..”


“Ahahaha.. Geli sekali..” Ucap Thea sambil tertawa kecil.


“Sudahlah Blaire, kami sudah tahu jika itu kau,” ucap Dias sambil mengamati kucing itu. 


Kucing hitam itu seketika langsung terkejut dan berkeringat dingin karena identitas aslinya telah diketahui oleh Lelaki bermata biru itu. kemudian kucing itu mundur beberapa langkah ke belakang. 


“Hmm? Kak Blaire? Masa sih?” Thea mencoba mengamati kucing itu dari dekat, dan memang benar jika kucing itu sedikit mirip. Matanya yang coklat, bulu bewarna hitam dengan pita merah yang terikat di ekornya.


“Hmm, kalau dilihat sekilas emang mirip sih,” ucapnya.


“Bukan mirip, dia memang Blaire. Aku sudah mendeteksinya dengan menggunakan kemampuan mataku.” Dias kembali mengaktifkan matanya hingga akhirnya seluruh informasi mengenai kucing hitam itu mencuat keluar. 


Karena sudah terlanjur ketahuan, akhirnya Blaire pun menampakkan dirinya.


“Zunggg..” muncul sinar yang melingkari kucing itu, kemudian menampakkan seorang gadis cantik yang berlahan-lahan tumbuh dari tubuh kucing itu. Beberapa detik kemudian, gadis bernama Blaire sudah nampak di depan mata mereka semua. 


“Kak Blaire!?”


“Ma-maafkan aku jika aku lancang mengikuti kalian. Aku berjanji tidak akan mengganggu kalian, justru aku akan membantu kalian semaksimal mungkin semampu yang aku bisa. Jadi, kumohon jangan bawa aku pulang kembali,” ucap Blaire sambil membungkukkan badannya. 


“Haduh, dasar bocil,” ucap Iaros. Kemudian dia mengeluarkan sebuah kapsul yang ada di sakunya dan melemparkannya ke tanah.


“Zungg..” Tiba-tiba muncul item-item seperti baju zirah, sepatu, cincin, kalung, dan pedang yang cukup tajam.


“Cepat pakai semua item itu. Setidaknya barang-barang itu dapat meningkatkan statusmu supaya bisa bertahan di dungeon ini,” ucap Iaros. 


“Te-terima kasih tuan Iaros,” balas Blaire yang membungkukkan tubuhnya sebagai bentuk ungkapan rasa terima kasih.


Setelah itu, Iaros menyentuh tanah di bawahnya dan merapalkan mantra. 


“Earth magic : wall.”


Tiba-tiba tanah di sekelilingnya bergetar, dan menumbuhkan tembok yang terbuat dari batu. Mereka sedikit terkesima dengan kemampuan Iaros, termasuk Blaire yang tidak menyangka jika Iaros juga merupakan penyihir tanah sama sepertinya.


“Cepat ganti disana. Thea, bantu dia,” perintah Iaros.


“Oky Doky!!,” balas Thea sambil hormat ke hadapan Iaros, kemudian segera membantu Blaire memakai beberapa equipment itu.


Tidak lama kemudian, Blaire telah selesai ganti baju, dan baju yang sebelumnya dia pakai dimasukkan kembali oleh Iaros dengan kapsul tadi. 


“Sudah? Bagaimana perasaanmu setelah memakainya?” Tanya Iaros.


“Hmm.. seperti ada kekuatan yang mengalir dalam tubuhku,” ucap Blaire sambil mengamati telapak tangannya.


“Benar sekali. Equipment yang kau pakai adalah salah satu harta yang ku temukan di dalam dungeon. Tentunya equipment yang didapatkan dari dungeon bukanlah equipment biasa, melainkan terdapat energi sihir yang mengalir di dalamnya. Tentunya kau harus bisa pintar-pintar memilih juga,” jelas Iaros memberikan pengajaran pada mereka semua yang ada disana. 


“Tapi, apa Kakak bisa menggunakan pedang itu?” Tanya Thea pada Blaire sambil mengamati pedang yang menempel di samping pinggang Blaire. 


“Hmm.. sebenarnya tidak terlalu butuh sih, karena sihirku adalah sihir perubahan. Aku bisa menjadi hewan apa saja apabila dibutuhkan,” balas Blaire.


“Bawa saja buat jaga-jaga. Kalau kau masuk dungeon tanpa membawa senjata, itu sama saja cari mati,” sekali lagi Iaros menasehati mereka yang dibalas dengan anggukan.


Tidak lama kemudian, mereka melanjutkan perjalanan. Iaros bersama dengan Pak Ruky berjalan paling depan, sedangkan yang lainnya berada di belakang. 


“Paman, menurutmu butuh berapa lama kita bisa menyelesaikan dungeon ini? Yang pasti tidak selama dulu ketika kita menjelajahi dungeon bersama kan?” Dias teringat kembali pada saat pertama kalinya dia ikut dungeon, dan dalam penyelesaiannya membutuhkan waktu selama lebih dari 5 tahun lamanya.


“Nggak lah. Mungkin tidak sampai satu minggu kita dapat menyelesaikan semua ini,” ucap Iaros dengan percaya diri.


“Kau dulu pernah ikut memasuki dungeon?” Tanya Blair pada Dias.


“Pernah, sekitar 5 tahun yang lalu,” balas Dias seadanya.


“Hmm? jadi.. kau memasuki dungeon pada saat masih berumur 10 tahun!?” Blair masih tidak percaya bocah sepertinya bisa memasuki dungeon dan dapat keluar dengan selamat. 

__ADS_1


“Iya, emang kenapa? masalah?” Balas Dias dingin.


“Aish, kenapa sih jutek amat. Kau cowok atau cewek sih?” Balas Blaire tidak mau kalah.


Tiba-tiba Iaros memiting kepala Dias dengan erat. “Hahahaha, tentu saja itu semua berkat perlindunganku sehingga dia dapat aman sentosa hingga keluar dari dungeon itu.”


“Aww.. Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!” Teriak Dias yang sudah mulai merasa jengkel. Melihat Dias yang sepertinya ingin menggigit tangan Iaros, dia langsung melepaskan pitingannya.


“Huh, ini bocah kenapa galak banget? Kau lagi PMS kah? Bahkan lebih galakan kau daripada Anjing Penjaga. Hahahaha.” Balas Iaros yang tertawa terbahak-bahak menggoda Dias. Dias mukanya merah karena merasa jengkel, dan untung saja dia masih bisa sabar dan menjaga emosinya supaya tidak melakukan kekerasan.


“Grrrr…” Tiba-tiba tepat di depan mereka terdapat serigala kelaparan yang siap memangsa di depannya. Jumlahnya sekitar  6 buah dengan diselimuti oleh aura hitam yang kuat.


“Oke Dias, sekarang waktunya dirimu menunjukkan kemampuanmu. Aku ingin lihat kau sudah berkembang sampai mana,” perintah Iaros pada Dias.


Mendengar hal itu, ekspresi Dias berubah menjadi tersenyum dengan penuh semangat. “Baiklah jika kau memaksaku,” ucap Dias sambil mengeluarkan bola api di tangannya. 


“Eits, tapi jangan pakai sihir apimu.”


“Tapi Paman..” ucap Thea yang tidak yakin sambil memandang Iaros. Menurut buku yang pernah dia baca, apabila ada monster yang memiliki aura sihir disekitar tubuhnya, berarti itu bukanlah monster biasa. Melainkan monster sihir yang memiliki kekuatan supranatural. 


“Tenang saja. Nanti kalau Dias terluka kan tinggal kau sembuhkan saja,” ucap Iaros seolah-olah menyembuhkan luka seperti membalik telapak tangan saja, padahal tidak semudah itu. Apalagi jika lukanya cukup parah.


“Hahahaha, bahkan aku tidak akan menggunakan pedangku,” ucap Dias dengan percaya diri dan melangkah maju ke depan. 


“Akan ku bunuh mereka dengan tangan kosong.” 


Dias mengepalkan tangannya dan mengaktifkan kemampuan mata Clairvoyantnya. 


“Clairvoyant!” Mata itu berubah menjadi ungu terang bercahaya yang indah. Sekarang Dias dapat melihat gerakan musuh selama 1-2 detik ke depan. 


“Kakakk!!” Teriak Thea yang mengkhawatirkan Kakaknya. 


“Groaaa!!” Anjing-anjing itu mulai menyerang Dias secara bergantian. Namun, dengan mudahnya Dias menghindarinya. 


“Eits, nggak kena, nggak kena, nggak kena,” Dias menghadapi pertempuran itu seakan-akan sedang bermain dengan anak kecil yang nakal. Meskipun anjing-anjing itu bergerak dengan lincah, tapi itu sudah tidak berguna karena Dias dapat memprediksi semua gerakan hewan itu. 


“Groaaa!!”


“Hmm.. Lumayan lah..” ucap Iaros sambil manggut-manggu.


“Bukk!!” Dias tepat memukul perut si anjing dengan sangat keras hingga membuat monster itu langsung tidak sadarkan diri. 


“Lanjut!!” Ucapnya sambil tersenyum puas. Beberapa orang yang melihatnya sedang bertarung merasakan ngeri sendiri.


“Duakk..” Pukulan Dias persis mengenai salah satu anjing yang baru saja menerjangnya. Seketika anjing itu langsung menggelepar, namun masih bisa bangkit lagi. 


“Hahaha, kau benar-benar anjing yang tangguh.. Ku puji kau! Berikutnya!” 


“Brukk..” Kali ini Dias menendang perut anjing yang lain dengan keras hingga terpental jauh.


“Dasar lemah.. Oke, Berikutnya..”


“Dasss..” Pukulan mengarah ke kepalanya hingga membuat kepala anjing itu berdarah.


“Kaingg-kaingg..”


“Berikutnya..” 


“Krakk..” Dias berhasil mematahkan kakinya hanya dengan menendangnya dengan kuat. 


Mereka yang melihat pemandangan itu terasa sedikit ngeri dan kasihan dengan para anjing-anjing itu karena pasti tersiksa terkena pukulan dari tangan Dias yang tumpul bersamaan dengan tendangan yang tidak ada ampun tersebut. 


“Kakak!! Sudah cukup!! Kasihan anjing-anjingnya Kak..” ucap Thea memelas yang kemudian dibalas oleh anggukan dengan yang lainnya, pertanda mereka juga setuju jika Dias harus menghentikan aksinya.


“Oi.. yang benar saja. Kenapa malah kalian yang kasihan dengan monster-monster ini sih. Mereka itu monster dan harus dibunuh,” ucap Dias sambil menghela nafas. 


“Memang anjing-anjing itu adalah monster, tapi orang yang menyiksa monster-monster itu juga monster!!” Ucap Blaire yang mendukung argumen Thea. 


“Hadeh, perempuan ini ngomong apa sih,” Dias merasa jengkel karena aksi psikopatnya harus terhenti sejenak. 


Melihat Dias yang lengah, anjing-anjing itu segera kabur meninggalkan Dias. 


“Whoff whoff..”


“Heii, tunggu!! Jangan pergi!!” Dias mencoba mengejarnya, namun anjing-anjing itu sudah berlari terbirit-birit dengan sangat cepat seakan-akan melihat hantu yang nongol tepat di depan mukanya. Dias merasa sedikit kecewa karena tidak sempat menghabisi mereka.

__ADS_1


“Hiyeyy!!” Teriak Blaire dan Thea secara bersamaan sambil melakukan tos ria. Sedangkan Dias memasang ekspresi wajah kecewa.


“Tidakk.. Mainankuu..”


“Hiye– tunggu, dia baru saja berkata mainanku?” gumam Blaire sambil memandang Dias dengan ekspresi aneh.


“Yup.. Baiklah, aku sekarang dapat menilai jika refleksmu sudah sangat bagus. Hanya saja untuk nilai-nilai kemanusiaanmu adalah nol besar. Mohon belajar lagi,” kata Iaros.


“Whatt??” Balas Dias sambil memasang wajah kecewa.


*Di tempat lain, tapi masih di dalam dungeon..


Lantai 5 Menara Dungeon Akademi Raftel..


“Hmm.. sepertinya aku mengenal lelaki ini.. Sebentar ya.. Hmm..” ucap Gregory sambil mengamati layar yang mengambang di depannya. 


“Heyy, apa yang kau lihat, Gregory?” ucap Krakera yang juga penasaran dengan apa yang dilihat oleh Gregory. “Sebentar, sejak kapan menara ini punya CCTV?” Lanjut Krakera yang mengerti tentang CCTV dari ingatan yang dimiliki oleh Azka. 


“Diamlah.. ini bukan CCTV. Ini sihir yang dapat mengetahui lokasi seseorang yang sudah masuk ke dalam dungeon ini.” Balasnya dengan serius mengamati layar itu. 


“Ohh, begitu..” 


Namun Krakera terlihat tidak terlalu peduli, kemudian berjalan ke arah pojok ruangan tersebut. Di pojokan, dia melihat sebuah lemari es, dan menghampirinya.


“Wahh, ada es krim nih,” batin Krakera yang terkejut jika dalam dungeon bisa ada fasilitas seperti ini. 


“Ah iya.. aku ingat.. dia adalah Sang Penakluk Dungeon yang terkenal di alam bawah. Iaros Athens. Dia menguasai semua elemen dasar sihir. Baik api, angin, air, atau pun udara,” ucap Gregory dengan sangat antusias. Sangking seringnya Iaros menaklukkan banyak dungeon, hingga namanya pun terkenal di dunia Iblis yang mereka tempati. 


“Huh, kenapa kau sangat bersemangat sekali sih, hap.. nyem~ Pastinya kalau dia datang, kau akan pasti akan meminta tanda tangannya,” ucap Krakera sambil memakan es krim.


“Nggak lah. Musuh ya musuh. Yang ku kagumi itu kemampuannya, bukan orangnya. Mohon bedakan,” ucapnya, kemudian menoleh ke arah Krakera.


 Ey.. darimana kau ambil es itu?”


“Dari sana. Emang kenapa? Happ.. Awwww.. otakku beku!”


“Itu punyaku woyy!! Dan itu tinggal satu-satunya.. Bisa-bisanya kau ambil itu tanpa izin, hah!!”


“yaelah, tinggal bikin lagi kan bisa.” Balas Krakera dengan santainya. Tidak lama kemudian, mereka berdua pun bertengkar dan saling beradu pukulan.


“DRRRR…” Seluruh tempat di dungeon itu bergetar.


“Ada apa ini?” Ucap Thea yang merasakan getaran di kakinya. Begitu pula yang lain merasakan getaran seperti ada gempa di dalam gua itu.


“Hmm.. sepertinya ada benturan besar yang dapat menggetarkan seluruh tempat di dungeon ini,” balas Dias. 


"Glek– semoga saja goa ini tidak runtuh,” timpal Blaire sambil menelan ludah karena langit-langit gua yang mulai runtuh.


“Ayo cepat, lari dari sini!” Perintah Iaros. Tanpa basa-basi, mereka semua langsung berlari sambil menghindari bebatuan yang berjatuhan. 


Tidak hanya itu, di seluruh lantai, baik lantai 1 sampai lantai 5 pun juga demikian. Penghuni tiap-tiap lantai pun juga kebingungan dengan apa yang terjadi di menara ini. 


“Getaran apa ini?” ucap Velde yang merupakan penguasa di lantai 1 menara dungeon ini. 


“Apakah kau baru saja buang angin, Tuan?” Balas Veela yang merupakan asisten dari Velde.


“Eyy.. Mana sopan santunmu?” balas Velde dengan perasaan jengkel.


“Blarr!!” Krakera terbentur keras ke tanah hingga menggetarkan tempat itu.


“Waittt!! sudah cukup!!” Ucap Krakera sambil mengarahkan telapak tangannya ke depan. 


“Woy, ini masih belum selesai!!” 


“Eyy, kau ingin meruntuhkan tempat ini kah?” Setelah Krakera berkata demikian, akhirnya Gregory pun menghentikan pukulannya. “Ah, iya. Benar juga.”


Seketika itu juga, dungeon itu berhenti bergetar.


“Tapi kau harus ganti rugi es krimku!” ucap Gregory yang masih berapi-api.


“Iya, iya.. haduh..” Kata Krakera sambil berdiri dari posisinya yang tadinya menghantam tanah, tapi dia terlihat biasa-biasa saja. 


“Tanahnya berhenti bergetar..” ucap Thea.


“Ah.. iya juga..” timpal Blaire. Akhirnya mereka semua dapat berjalan lagi seperti biasa tanpa takut goa itu akan runtuh. 

__ADS_1


__ADS_2