Adias Floryn : Get Back The Kingdom

Adias Floryn : Get Back The Kingdom
Bagian 44 : Lily di tawan


__ADS_3

Kakak, sekarang aku sudah bisa melakukan sihir teleportasi loh,” ucap Thea sambil menghampiri Dias yang sedang push up. Mereka saat ini sedang berada di halaman rumah mereka.


“Teleportasi? Seperti sihir milik Maine? Wah, keren juga. Coba praktekkan!” ucap Dias yang kemudian menghentikan latihan push upnya. Kali ini dia berhenti dan berganti pose gaya sit up untuk melanjutkan latihan fisiknya. 


“Huh, Kakak memperhatikan nggak sih,” balas Thea.


“Iya iya, aku selalu disini kok.”


“Hmm, oke deh.. Bersiap ya.. Thea gambar lingkaran sihir dulu.”


Thea mengambil sebatang kayu yang kebetulan jatuh dari pohon. Setelah itu dia menggambar lingkaran sihir yang ukurannya cukup untuk mereka berdua masuk di dalamnya. 


“Oke, sudah. Sini Kak,” ucap Thea sambil menarik tangan Kakaknya. Akhirnya terpaksa Dias harus ikut permintaan Thea dan berteleportasi dengannya.


“Siap?”


“Gas.”


“Oke.”


Setelah itu, Thea mengangkat tongkat sihirnya tinggi-tinggi sambil memejamkan mata. Dia membacakan mantera dengan sangat cepat sehingga membuat cahaya lingkaran sihirnya semakin kuat sinarnya. 


“Woahh..” Dias kagum merasakan sihir Thea yang baru saja dipelajarinya. 


“Teleportation!!” Dalam hitungan detik, mereka pun hilang seketika. 


“Zungg..” Akhirnya mereka pun sampai di suatu kamar yang tidak asing bagi mereka. 


“Ini.. bukannya ini ruang istirahat saat kita di Kerajaan Rifendell?”


“Eng? Oh iya! Thea lupa.. Lupa belum memikirkan tempatnya akhirnya kita malah berpindah ke tempat secara acak,” balas Thea. 


“Hadeh, kalau gitu segera kembali, sebelum kita di cap sebagai penyusup,” ucap Dias pada Thea.


“Ah, kalau itu sepertinya tidak mungkin sih, Kak..” balas Thea grogi.


“Hmm? Kok bisa gitu?"


“Iya, penggunaan sihir teleportasi ini tidak bisa digunakan berkali-kali. Kita harus menunggu hingga sihir ini bisa siap kembali digunakan.”


“Aduduh, apakah ini akhir dari perjalananku?” ucap Dias pasrah. 


Drap.. Drap.. Drap.. tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang cukup banyak sedang melangkah ke arah mereka dengan tergesa-gesa.


“Gawat, kita harus sembunyi!” ucap Dias. 


Brakk.. pintu terbuka dengan sangat kencang.


“Cepat cari sampai di ujung ruangan! Segera lapor jika ada petunjuk apapun itu!” Teriak Halvar. Beberapa prajurit Kerajaan pun masuk ke dalam ruangan itu dan mulai melakukan pencarian.


“Komandan! Saya melihat ada jejak teleportasi disini!” ucap prajurit yang memiliki rambut gondrong. 


Mendengar hal itu, Halvar segera bergegas dan mengecek kesana. Dia menunduk dan mengamati lingkaran sihir bewarna biru itu. 


“Lingkaran sihir ini!? Ini bukan buatan elf! ini buatan manusia!” Teriak Halvar karena cukup terkejut menerima kenyataan jika sihir teleportasi mampu menembus pelindung tidak kasat mata di Istana Kerajaan ini.


 “Cepat cari sampai ketemu!” Perintahnya kepada seluruh anak buah yang berada disana.


“Lingkaran sihir ini masih hangat, pasti mereka tidak jauh dari sini!” Ucap Halvar sambil menyentuh lantai yang tergambar lingkaran berlambang bintang di dalamnya. 


“Tapi komandan, bisa jadi mereka menggunakan lingkaran sihir teleportasi ini untuk kembali?” 


“Ah, iya.. kau benar juga,” Balas Halvar.


“Komandan! Kami menemukannya!” ucap salah satu anak buah Halvar yang telah membuka almari. Semua anak buahnya langsung mengerumuni tempat itu dengan ekspresi garang.


Setelah melihat isi almari tersebut, Halvar terkejut. “Kalian!?”


“Eng, ehehe.. Saya bisa jelaskan..” ucap Dias sambil tersenyum kecut karena telah tertangkap basah. Sedangkan Thea masih ketakutan sambil memeluk lengan Kakaknya. Semua prajurit memandang ke arah mereka sehingga membuat mereka berdua merasa grogi. 


“Hmm.. Baiklah. Kalian semua, segera cari ke tempat lain! Biar aku yang menjaga mereka berdua,” perintah Halvar yang kemudian diberi anggukan oleh anggota yang lain. Berikutnya, mereka semua segera pergi dari ruangan itu. 


Halvar segera duduk dan mempersilahkan mereka untuk duduk.


“Baiklah, coba jelaskan,” ucap Halvar. 


Mereka berdua pun menjelaskan dengan singkat dan padat. 


“Hadeh.. bagaimana bisa kalian sangat ceroboh sekali? Andai bukan aku yang menemukan kalian berdua, pasti kalian sudah terpenjara saat ini juga,” ucap Halvar tidak habis pikir. 

__ADS_1


“Memangnya ada disini? Kenapa begitu ramai dan banyak prajurit yang berpatroli?” ucap Dias yang penasaran dengan keadaan Istana Kerajaan ini. 


“Tuan Putri menghilang.”


“Apa? Menghilang!?” Seru Dias sambil berteriak.


“Dih, nggak usah sok peduli kau..”


“Ya nggak apa-apa biar tegang.”


“Jadi, bagaimana rencanamu selanjutnya?” Tanya Dias.


“Hmm.. untuk sementara ini kami sedang mencari petunjuk kemana menghilangnya Sang Putri.” 


“Ohh, begitu, dan sekarang apakah kalian sudah menemukan beberapa petunjuk?”


‘Belumlah, kan baru saja mulai pencariannya?” 


“Oalah.. Baiklah, tetap semangat!”


“Aish, buang-buang waktu saja.”


Setelah itu, Halvar segera pergi meninggalkan mereka berdua dan mereka dipersilahkan untuk beristirahat sementara waktu disana. 


“Butuh berapa lama lagi hingga teleportasimu siap?”


“Hmm, mungkin 10 jam lagi?” ucap Thea.


“Yah, masih lama dong.” 


“Iya emang..”


Mereka pun akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak sambil mengamati sekitar ruangan. Ketika sampai di suatu jendela, mereka mengamati keramaian di depan Istana Kerajaan dari jauh.


“Tolak manusia! Tolak makhluk barbar! Tolak kepunahan!” Teriak para pendemo tersebut dari jauh. Dengan jelas, Dias mendengarkan suara itu. 


“Kakak, apa yang sebenarnya terjadi disini?” ucap Thea yang ketakutan karena suara orang-orang itu sangatlah keras dan kompak. Terbesit suara kemarahan dan kepedihan yang ikut mengalun dalam teriakan itu. 


“Hmm.. Sepertinya Kerajaan ini sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi,” ucap Dias pesimis.


Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan ketika mereka berjalan ke arah timur, mereka bertemu dengan Sang Raja Obeyron yang kebetulan berjalan bersama dengan Duta Besar perwakilan Valinor. 


“Iya, Aku ngerti kok,” balas Thea.


“Hum? kedua bocah itu?” Batin Raja.


Mereka berdua langsung menunduk ketika Raja sudah mendekati mereka. 


“Wah, Dias dan Thea ya? Hohohoho, bagaimana caranya kalian datang kemari? Bukannya diluar lagi ricuh-ricuhnya?”


“Mohon maaf, Raja Obeyron sebenarnya.." Akhirnya Dias menceritakan kejadian sebelumnya sama seperti yang dia ceritakan pada Halvar. 


"Hohohoho.. Menarik sekali!" Seru Sang Raja sambil memegangi perutnya. 


"Wahai Paduka Raja, sudah waktunya," kata si Perdana Menteri yang mengingatkan Raja. 


Mendengar hal itu, Raja Obeyron pun berniat pergi meninggalkan mereka berdua. 


"Baiklah, silahkan main-main di sekitar sini. Tapi usahakan jangan sampai kalian keluar dari istana ini. Kalian mendengar sendiri kan, kericuhan di luar?" 


"Baik Raja Obeyron, kami mengerti."


"Bagus." Setelah itu, Raja Obeyron segera meninggalkan mereka berdua. 


"Hmm.. sepertinya Raja Obeyron masih belum tahu jika anaknya menghilang," gumam Dias. 


***


Para pendemo masih saja menjamur di depan Istana Kerajaan. Tanpa kenal lelah, mereka terus-terusan berteriak untuk menolak manusia dan meminta memutus hubungan kerjasama dengan manusia. 


Jika memang keinginan mereka demikian, maka lambat laun akan terjadi permusuhan diantara kedua ras. Dan juga terjadinya peperangan antar ras tidak dapat dihindari lagi. 


Sosok perdana menteri pun keluar dari balkon istana kerajaan sambil membawakan gulungan. Setelah itu, dia segera membuka gulungan itu kemudian membacakannya. 


"Perhatian-perhatian! Dari hasil diskusi dengan para petinggi Kerajaan, menimbang dari pernyataan para rakyat yang ingin memutus hubungan dengan ras manusia, bahwa pernyataan itu tidak sesuai dengan realita karena tidak semua manusia melakukan kontrak dengan Iblis!"


"Huuuu!!"


"Keputusan macam apa itu!!"

__ADS_1


"Kami ingin aman! Kami takut masa depan kami suram!" Teriak pendemo yang lain. 


"Harap tenang!! Hari ini Kami mendatangkan Duta Besar sebagai perwakilan dari Kerajaan Valinor untuk angkat bicara disini. Semuanya, harap tenang!!" Tutup si Perdana Menteri.


Kemudian, dia mempersilahkan Dubes itu untuk berbicara. 


"Permisi Tuan, kalau bisa Tuan berbicara sambil berteriak, karena sihir pengeras suara ini tidak sekeras yang Bapak bayangkan," ucapnya. 


"Baik, saya mengerti," balasnya. 


Tidak lama setelah itu, Dubes itu mengambil nafas sedalam mungkin.


"SELAMAT SIANG SEMUANYA!!" Teriak si Dubes itu dengan sangat keras hingga semua orang yang berada di sekeliling Istana Kerajaan juga ikut mendengarnya. 


Seketika itu juga, keriuhan langsung menghilang dan mereka pun fokus mendengarkan. 


"PERKENALKAN!! SAYA RAMA GANESHA, SAYA ADALAH DUTA BESAR PERWAKILAN KERAJAAN VALINOR!"


Bahkan, markas tempat Lily di tahan pun yang jaraknya sekitar 5 kilometer juga dapat mendengarkan suara kencang itu. 


"SUDAH SEKITAR 100 TAHUN LAMANYA KERAJAAN KITA BERJABAT TANGAN MELAKUKAN KERJA SAMA TANPA ADA PEPERANGAN YANG MERENGGUT NYAWA. SEMUA SUDAH MERASAKAN KEDAMAIAN YANG SANGAT AMAN."


"HANYA SAJA SEKARANG KALIAN SUDAH MELIHAT KEBENARANNYA JIKA BANYAK MANUSIA YANG TELAH BERKONTRAK DENGAN IBLIS!"


"TAPI PERLU KALIAN CATAT JIKA KERAJAAN VALINOR SAMA SEKALI TIDAK ADA YANG MELAKUKAN PRAKTIK TERSEBUT!" 


"INI SEMUA BERMULA DARI KERAJAAN FARNESSE, YANG BERMAKSUD UNTUK MEMUSNAHKAN MANUSIA DAN MENJADIKANNYA MAKANAN ATAU BUDAK MEREKA!"


"KALIAN HARUS PERCAYA ITU! DAN LAMBAT LAUN KERAJAAN VALINOR JUGA AKAN DIGEMPUR OLEH KERAJAAN FARNESSE YANG SAAT INI SEDANG GENCAR-GENCARNYA MELAKUKAN PERLUASAN WILAYAH."


"SETELAH KERAJAAN VALINOR MUSNAH, MAKA KERAJAAN ELF INI JUGA AKAN MENJADI INCARAN SELANJUTNYA!!"


"JIKA KITA TIDAK MENYATUKAN KEKUATAN, MAKA KITA SENDIRILAH YANG MUSNAH!!"


Setelah itu, dia menceritakan keadaan dunia saat ini sejenak. 


Di saat dirinya berpidato, ekspresi mereka lambat laun ikut melunak karena mendengar fakta secara keseluruhan mengenai keadaan dunia. 


"Semuanya! Jangan dengarkan dia!" Tiba-tiba saja seorang lelaki elf yang gagah naik ke atas pohon kemudian ikut membuka suara.


"Kalian sudah tahu seberapa kejinya manusia sampai-sampai Putri Fiona mengalami kejadian mengerikan hingga membuat beliau trauma!" 


Ya, meskipun kejadian hilangnya Tuan Putri Fiona telah berusaha untuk disembunyikan, namun lambat laun mereka juga bisa mengetahuinya. Sosok Fiona yang seringkali melakukan tegur sapa dengan para penduduk di sekitar, tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak. Hingga akhirnya muncul desas-desus yang keluar dari Istana Kerajaan jika Putri Fiona telah mengalami trauma akibat diculik dan dijadikan objek pemanggilan Iblis oleh para manusia.


Semuanya semakin antusias mendengarnya.


"Tidak hanya itu! tiga orang elf yang lain yang ikut dijadikan tumbal untuk para Iblis juga mengalami trauma berat!


Bahkan terdapat 2 elf yang hilang sampai sekarang masih belum bisa ditemukan! Bagaimana hal itu bisa terjadi!?" Ucapnya sambil menggebu-gebu. 


"Memang manusialah yang Iblis!" Sahut salah satu pendemo disana dengan emosi yang berapi-api. 


"Ya benar!!" Timpal yang lainnya sambil mengangkat kepalan tangannya ke atas. 


"Tolak manusia! Tolak makhluk barbar! Tolak kepunahan!!" Tidak lupa mereka juga mengucapkan slogannya agar lebih memeriahkan suasana.


Akhirnya kerumunan itu pun kembali menjadi riuh setelah orasi yang diberikan oleh salah satu oknum tersebut. 


"Kami hanya ingin satu, yakni putuskan semua hubungan kerja sama dengan Ras Manusia yang biadab itu! Kami tidak ingin masa depan kita terancam karena manusia-manusia yang lemah dan bodoh itu telah bekerja sama dengan ras Iblis! Kami mohon, wahai para petinggi Kerajaan!! Biarkan kami hidup dengan tenang!!"


"Yaaa!! itu benar!!" sahutnya yang lain. 


Kerumunan pendemo itu semakin bersemangat dan bertenaga untuk menyuarakan suara mereka. Apabila dibiarkan, pasti lambat laun akan terjadi kericuhan. 


Akhirnya para prajurit Kerajaan pun semakin diperbanyak tepat di depan gerbang Istana Kerajaan untuk mencegah kericuhan disana. 


*Malamnya..


"Thea, bagaimana sihir teleportasimu? Apa sudah bisa digunakan?" Ucap Dias yang sedang duduk di ruang Istirahat bersama dengan Thea di sampingnya. 


"Sepertinya sudah bisa sih."


"Bagus, jadi kita bisa pulang sekarang. Tapi sebelum itu..” Ucap Dias yang tiba-tiba terpotong.


“Sebelum itu?” Timpal Thea penasaran.


“Seperti yang kita temukan tadi, didepan teras Kerajaan terdapat bekas teleportasi orang lain. Kemungkinan besar orang yang menangkap Lily telah berteleportasi dari tempat itu," Ucapnya. 


"Iya Kak. Memangnya kenapa Kak? Apa Kakak ingin menyelamatkan Kak Lily juga? Bukannya itu terlalu berbahaya, Kak?" Kata Thea yang mengkhawatirkan Kakaknya. 

__ADS_1


"Tenang saja, percayakan saja pada Kakakmu yang hebat ini. Semua masalah pasti ada jalannya," ucap Dias optimis. 


__ADS_2