Adias Floryn : Get Back The Kingdom

Adias Floryn : Get Back The Kingdom
Bagian 38 : Bos Monster Lantai 1 bag. 2


__ADS_3

“Matilah dengan tenang, wahai manusia bodoh.” Veela segera menusuk pedang yang sangat tajam tepat ke arah kepala Blaire.


Namun, Thea dengan cepat berlari mendekati Blaire dan mengucapkan mantera singkat. “Dispel!!”


Seketika itu, sihir milik Veela langsung menghilang. 


“Sett–” Blaire langsung berguling dan menghindari tusukan pedang tajam milik Veela. 


“Hoo..” Veela sedikit kagum dengan sihir yang digunakan oleh Thea.


“Kau lengah!!” Seru Velde.


Melihat Thea yang tiba-tiba maju ke depan, Velde langsung berpindah tempat dengan cara menghilang dan muncul lagi dari bayangan milik Thea. 


“Awas, Thea!!”


Velde berdiri tepat di belakang Thea dan segera menusuk Thea dengan cepat. Tapi..


“Blarr!!” Iaros dengan cepat menampar Velde hingga terpental dan menghantam tembok dengan sangat keras. 


“Maaf, bisakah kalian berfokus pada lelaki api dan wanita kucing itu? Kalian boleh menyerang dengan bebas kecuali gadis satu ini,” ucap Iaros dengan santai. Berbeda dengan Thea yang sangat terkejut dengan kedatangan Iaros. 


“Sialan! Bagaimana mungkin pria itu memiliki kekuatan sebesar itu?” ucap Velde dengan kaki yang tiba-tiba bergetar setelah menerima tamparan yang sangat kuat. 


“Kecepatan Paman sepertinya sudah melebihi penglihatanku, sungguh mengerikan,” seru Dias yang sempat memperhatikan aksi Iaros tadi menggunakan kemampuan Clairvoyantnya. 


“Gawat, jika begini bagaimana bisa kami menang di hadapan monster itu?” gumam Velde dengan cemas sambil menatap Iaros. 


Sementara itu, di tempat lain*


“Ayo cepatlah..” ucap Gregory sambil berlari ke tempat dimana terjadi pertarungan, yakni di dungeon lantai 1.


“Haduh, kenapa tidak menonton dari atas saja sih, merepotkan sekali,” balas Krakera sambil memasang ekspresi malas. 


“Feelnya beda lah. Tentunya lebih seru kalau menonton secara langsung daripada menonton dari jauh. Selain itu..” ucap Gregory yang kemudian dia jeda sebentar.


Selain itu?”


“Selain itu, kita bisa terlibat secara langsung, hehe..” Tiba-tiba Gregory tersenyum lebar.


“Halah, bilang saja kalau kau sudah tidak sabar bertemu dengan Idolamu. Iaros kan?” Krakera sudah menyadari maksud awal dari Gregory.


“Yah, itu juga termasuk sih. Tapi yang lebih penting, kurasa anak buahku tidak bakal bisa mengalahkan Iaros. Nanti kalau memang mereka benar-benar membutuhkan bantuan, barulah kita muncul,” lanjut Gregory. 


“Nah, kita sudah sampai..” Mereka berdua pun telah sampai di goa yang luas, tempat dimana pertarungan tim Iaros melawan Velde terjadi. 


“Kita memperhatikan dari sini saja,” ucap Gregory sambil mencari tempat untuk duduk di tempat yang gelap supaya tidak diketahui oleh orang-orang yang sedang bertarung disana. Krakera kemudian juga ikut duduk disampingnya.


Mereka berdua mengamati pertarungan yang begitu sengit, hanya saja Gregory sedikit kecewa karena Iaros tidak turun tangan, melainkan hanya ketiga bocah asing yang tidak dikenalnya. 


Blaire menerjang kembali Veela dengan kecepatan penuh, namun dia harus terbanting lagi ke tanah karena kemampuan gravitasi milik Veela. 


“Ugh..”


“Dispel!!” ucap Thea dan lagi-lagi membuat Blaire terbebas. Blaire kembali menyerang Veela dengan lincah.

__ADS_1


“Trangg!!” Cakaran Blaire berhasil ditangkis oleh Veela dengan pedangnya. Kemudian Blaire kembali menjaga jarak dan meloncat lagi ke arah Veela dengan cepat. 


Veela menusukkan pedangnya ke arah Blaire, namun Blaire bisa menunduk dengan cepat, sehingga serangan itu meleset. Blaire segera menusuk Veela tepat ke arah perutnya.


“Brakk!!” Lagi-lagi, sebelum tusukan itu mengenai perutnya, Veela sudah berhasil terlebih dahulu membanting Blaire ke tanah dengan sihir gravitasinya. Dengan segera dirinya menusukkan pedangnya ke kepala Blaire.


“Dispel!” Namun, meskipun Veela berhasil mengekangnya, tetap saja Blaire masih bisa terbebas karena ada Thea yang selalu membatalkan sihirnya. Blaire langsung berguling untuk menghindari tusukan kemudian melangkah mundur. 


“Sial, jika begini terus tidak akan ada habisnya,” ucap Veela sambil memasang ekspresi jengkel. 


“Tinggal sedikit lagi, aku bisa mengenainya,” ucap Blaire dengan percaya diri. 


“Yang aku tahu, pasti sihirnya ada batas waktu pemakaiannya. Jika tidak demikian tidak mungkin setelah sihirnya di hilangkan oleh Thea, dia tidak memakai sihir gravitasinya lagi dengan cepat,” batin Blaire.


“Satu-satunya cara adalah, menyerangnya dengan cepat dan bertubi-tubi.” 


Blaire mengubah pola serangannya dengan lebih galak lagi. Kali ini dia tidak bergerak meloncat kesana-kemari untuk mencari titik buta Veela, melainkan langsung menyerang dengan membabi buta. 


“Heahh..!!” Teriak Blaire maju ke depan. 


“Gravity : Zero..” ucap Veela sambil mengarahkan telapak tangannya ke arah Blaire yang sedang melompat ke arahnya. 


Kemudian, tiba-tiba saja tubuh Blaire menjadi sangat ringan. Dia kehilangan keseimbangan dan melayang dengan cepat ke arah Veela. 


“A-apa yang terjadi?” Ucap Blaire yang kebingungan.


“Rapatkan gigimu, manusia..” Veela langsung menendang dagu Blaire dengan sangat kuat, hingga menghantam atap goa yang sangat tinggi. 


“Brakk!!”


“Hmm? Kenapa tidak aku tusuk saja dia?” kata Veela yang mengevaluasi dirinya sendiri. 


“Brakk!!” Blaire jatuh setelah menghantam bongkahan batu yang sangat keras. 


“Blaire!!” Teriak Thea. Kemudian mengobati Blaire dengan kemampuan Healnya dari jarak jauh. 


Setelah itu, Blaire segera bangkit lagi dengan tertatih-tatih. “Baru satu serangan saja sudah membuatku sulit bergerak. Kekuatan macam apa ini?” batin Blaire.


“Sudahlah, menyerah saja, manusia. Kau sudah sangat berantakan sekali,” ucap Veela yang sudah berada di atas angin. 


“Menyerah? Memangnya ada jalan untuk menyerah?” Tanya Blaire pada Veela. 


“Ya tidak ada. Setelah ini kau juga akan mati dan ikut bergabung dengan fosil-fosil yang ada disana,” ucap Veela sambil menunjukkan ke arah tulang-tulang manusia yang berada tepat di belakangnya. 


Sementara itu, Dias dan Velde masih beradu pedang dengan sangat sengit. Hanya saja sepertinya Dias lebih unggul karena dapat membaca semua pola serangan yang dimiliki oleh Velde. 


Velde berkali-kali berpindah tempat untuk mengecoh Dias, namun Dias selalu tahu kemanakah dia berpindah, sehingga Dias masih dapat mengejar Velde. 


Hanya saja, Velde juga sangat sulit disentuh karena kecepatannya yang sangat tinggi berkat kemampuan enhance yang sudah diberikan oleh Veela kepadanya. 


“Hei, kenapa kau terus saja kabur? Aku belum menggunakan sihirku sama sekali loh,“ ucap Dias yang mulai besar kepala. 


“Bocah, seranganmu pun sama sekali tidak pernah mengenaiku. Apa pantas kau berkata seperti itu?” Balas Velde.


“Baiklah, kali ini aku akan mengeluarkan sihirku,” ucap Dias. 

__ADS_1


“Silahkan saja, tidak akan kubiarkan kau merapal,” Teriak Velde sambil melesat ke arah Dias dan menyerangnya supaya tidak memberi celah Dias mengeluarkan sihirnya. 


“Haha, aku tidak perlu merapal.”


“BLARR!!” Tiba-tiba tubuh Velde langsung terbakar di tempat.


“Arghh!!” Velde berteriak kepanasan. 


Tapi dia segera masuk ke dalam bayangannya sendiri. Dengan demikian, api itu langsung menghilang ketika dia terhisap ke dalam bayangannya. Setelah itu, Velde langsung muncul dari bayangan milik Dias. 


“Sialann!!” 


Velde menyerang Dias dengan bertubi-tubi menggunakan pedangnya, namun hasilnya masih sama seperti sebelumnya. 


Dias mampu menghindari semua serangan yang dilancarkan olehnya, karena dia sudah mampu membaca pola serangan itu dengan menggunakan matanya. 


“BLARR!!” Lagi-lagi tubuh milik Velde terbakar hingga mengoyak baju yang dipakainya. Sekali lagi dia harus masuk ke dalam bayangan, baru menyerang lagi. 


“Trangg!!” Dias berhasil menangkis sabetan yang mengarah ke punggungnya. 


Velde langsung mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak, tapi sekali lagi dia malah terbakar api panas yang tiba-tiba meledak dari tanah yang dipijakinya.


“Bagaimana mungkin?” ucap Velde yang tidak percaya jika bocah kecil sepertinya mampu menyudutkan dirinya. 


“Aku telah memprediksi kemanakah dirimu melangkah. Dari sanalah aku bisa memasang jebakan sihir apiku. Kau tidak akan pernah bisa lari dari api panasku ini. Hahahaha!!” Teriak Dias sambil menyeringai jahat. 


“Veela! Bantu aku!” Teriak Velde. 


Hanya saja Veela sendiri sedang disibukkan oleh Blaire yang memiliki pergerakan yang sangat lincah, serta dipersulit oleh Thea yang selalu bisa membatalkan sihir gravitasinya. 


“Aku harus membatalkan sihirnya secepat mungkin sebelum efek dari sihir miliknya mengenai Blaire..” Ucap Thea.


“Gravity : Zero!!” ucap Veela.


“Dispel!” Sekali lagi, Thea berhasil membatalkan sihir milik Veela. 


“Trangg!!” Akhirnya, Veela terpaksa harus mengadu pedangnya dengan cakar keras milik Blaire. 


“Bisa-bisanya kalian..” ucap Veela terdesak. 


“Maaf, tidak ada waktu untuk berbasa-basi,” ucap Blaire kemudian menyerang Veela dengan cepat. Cakaran demi cakaran saling berbenturan dengan pedang tipis milik Veela, dan Blaire lebih unggul karena terkena efek haste milik Thea yang dapat mempercepat gerakannya. 


“Hadeh, kenapa Velde dan Veela begitu lemah? Apa perlu kita berikan pelatihan lagi?” ucap Gregory yang kecewa dengan kedua orang itu. 


“Hmm, kalau menurutku mereka lumayan sih, cuman bocah-bocah itu ternyata boleh juga kemampuannya,” balas Krakera dengan wajah menganalisa. “Terutama si bocah api itu. Dia berhasil membakarku berkali-kali ketika pertemuan pertama kami. Itu sangat memalukan sampai terbawa mimpi.”


“Hahaha, kau kalah dengan bocah? Tidak disangka-sangka rupanya,” ejek Gregory sambil tertawa.


“Jangan meledek! Itu kan sebelum aku bisa mengeluarkan kemampuanku 100 persen!?” Elak Krakera sambil marah-marah karena jengkel setelah mendengar ucapan Gregory. 


“Hmm?” Iaros melirik ke arah pojok kanan atas, sisi gelap dari gua itu, dimana tempat Gregory dan Krakera sedang menonton. Kemudian, dia tiba-tiba menyeringai dan melesat meninggalkan Pak Ruky seorang diri.


“Tuan Iaros?” Ucap Pak Ruky sambil memandang ke area sekitar untuk mencari kemanakah Iaros pergi, namun sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya. 


“Hehehe, selamat malam,” ucap Iaros yang tiba-tiba sudah berada di belakang Gregory dan Krakera. Iaros menepuk punggung mereka berdua hingga membuat mereka terkejut dalam diam.

__ADS_1


“Se-selamat malam,” balas Gregory.


__ADS_2