
*Kembali ke sekolah..
“Drrr…” Getaran yang mengguncang sekolah itu semakin keras. Barang-barang di dalam kelas mulai berjatuhan. Selain itu, lingkaran sihir yang bercahaya di lapangan itu semakin menyilaukan, membuat semua siswa disekitarnya harus segera pergi dari sana.
“Semua!! cepat pergi dari sini!” ujar salah satu guru yang masih berada di lapangan itu sambil berlari.
“Drrrr…!!” Tidak lama kemudian, muncul sebuah menara dungeon yang sangat besar dari dalam tanah di tengah-tengah lapangan. Bahkan, menara itu sampai menghancurkan bangunan-bangunan disekitarnya.
“Awass!!” Bangunan yang berada di sekitar lapangan ikut rubuh karena bergesekan dengan menara dungeon yang terus-menerus naik ke permukaan tanah. Semua orang memperhatikan betapa megahnya bangunan yang menjulang itu dengan perasaan khawatir.
“Papah, itu apa?” ucap anak kecil yang berada di luar Akademi sambil melihat penampakan bangunan besar menjulang secara perlahan ke langit. Sontak semua orang juga memperhatikan fenomena alam yang tidak pernah mereka lihat itu.
Bersamaan dengan itu, muncul monster-monster hitam yang bangkit dari dalam tanah. Mereka bangkit secara acak di seluruh bagian sekolah Akademi Raftel.
“Groaa!!” Monster itu bewarna hitam, bertubuh seperti manusia, hanya saja tangannya lebih panjang dan bungkuk. Mereka memiliki cakar panjang yang digunakan sebagai senjata mereka.
Semua orang semakin panik, dan semakin takut dengan keadaan yang sekarang. Untungnya, sudah ada beberapa guru yang mengawal tiap-tiap kelas, sehingga monster-monster yang muncul dapat dihancurkan.
Thea dan teman-temannya masih terjebak di dalam gedung, dan tidak bisa keluar karena dihadang oleh beberapa monster. Untung saja ada guru yang mendampingi mereka selama ini.
“Semuanya, tetap berdiri di belakangku,” ucap guru perempuan berkacamata sambil merapalkan mantera ke hadapan 4 monster yang menghalangi jalan Thea dan kawan-kawan.
“Light purification!” Muncul cahaya yang sangat terang di bawah monster itu. Seketika itu juga, 4 monster itu langsung menghilang begitu saja seperti uap air.
“Selalu diingat, bahwa mengetahui kelemahan musuh itu penting. Barusan kita melawan monster berelemen kegelapan, maka akan sangat efektif apabila kita menggunakan sihir berelemen cahaya untuk membunuh mereka,” ucapnya sambil membenarkan kacamatanya yang miring. Thea terkesima melihat gurunya yang sangat ahli dalam menggunakan sihir berelemen cahaya.
Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan mereka untuk keluar dari gedung sekolah yang sepertinya akan roboh itu.
Di beberapa tempat, juga terjadi berbagai macam pertarungan. Untung saja pihak sekolah lebih unggul daripada para monster tersebut. Hanya saja, beberapa murid yang tidak di dampingi oleh gurunya sedikit kesulitan ketika menghadapi para monster itu.
“Groaaa!!” Beberapa monster menghadang kelompok Uzra dan teman-temannya, dan sayangnya sama sekali tidak ada guru yang mendampingi mereka.
“Gawat.. Bagaimana ini?” ucap salah satu siswa yang berada di belakang Uzra.
“Tenang saja. Berikan aku penggarismu!” ucap Uzra kepada lelaki yang sedang ketakutan dibelakangnya. Lelaki itu menurutinya dan memberikannya penggaris yang digunakannya sebagai senjatanya.
“Hah? Kau ingin melawan segerombolan monster itu hanya dengan menggunakan sebuah penggaris? Kau sudah gila ya?” ucap perempuan yang juga berada di belakang Uzra.
“Kita tidak akan tahu sebelum mencoba.” Ungkap Uzra, setelah itu memasang kuda-kuda dan mengacungkan pedangnya ke hadapan para monster itu.
__ADS_1
“Oke, majulah kalian semua! Wind enchant!!” ucap Uzra sambil membacakan mantra pada penggarisnya sehingga penggaris itu diselimuti angin tipis yang tajam. Semua monster yang berjumlah lebih dari 8 itu datang menerjang Uzra.
Para guru saling bekerja sama untuk membunuh semua monster yang menghadang para siswanya. Para siswa pun juga ikut membantu demi keselamatan semua orang. Untung saja tidak ada guru yang lemah di akademi ini, sehingga proses evakuasi dapat berjalan dengan lancar.
“Suasana disini semakin kacau..” Ucap Dias yang awalnya berjalan menuju ke UKS, namun tidak jadi karena semua orang diharuskan untuk segera pergi meninggalkan tempat ini. Dia bersama dengan Lily, Halvar dan Tedy juga harus mengevakuasikan diri mereka keluar dari sekolah ini.
Meskipun monster-monster itu datang menghadang tim Dias, tapi disaat Dias melewati para monster itu, yang ada mereka malah terbakar tak bersisa.
“Groaaaahhh Groaaahh!!” Teriak salah satu monster hingga habis terbakar.
“Wah, udah gila teman aku ini,” ungkap Tedy.
Tidak lama kemudian, mereka secara tidak sengaja bertemu dengan Uzra dengan kawan-kawannya yang sedang sibuk menghadapi para monster itu.
“Semuanya, minggir!” ucap Dias ke arah gerombolan kawanan Uzra. Mereka pun mendengarnya, kemudian langsung memberikan jalan pada Dias.
“Blarr!!” Monster-monster yang tadinya dihadapi oleh Uzra langsung terbakar tak bersisa. Semuanya kagum dengan aksi yang dilakukan oleh Dias, termasuk Uzra yang terheran-heran dengan sihir instan milik Dias. Dia mampu membantai monster-monster itu dengan sekejap mata.
Setelah sekian lama, akhirnya mereka pun sampai di luar akademi bersama dengan murid-murid yang lain.
“Theaa!!” Teriak Dias karena melihat Thea yang kebingungan seperti sedang mencari sesuatu.
“Kakak!!” Thea berlari ke arah Dias dengan ekspresi tersenyum. Namun setelah melihat dari dekat, senyumnya langsung berubah menjadi cemas. Ternyata Kakaknya terluka dengan baju yang sedikit berantakan.
“Terima kasih Thea.” Ucap Dias pada Thea.
“Eng? Udah gitu aja?” Lanjutnya karena heal yang dilakukan oleh Thea hanya memakan waktu 10 detik.
Eh, iya ya. Kok bisa gitu?”
“Yah, sepertinya vitalitasku cukup tinggi, jadi tubuhku dapat meregenasi dengan cepat,” jelas Dias.
Setelah itu, mereka semua kembali ke rumahnya masing-masing, termasuk semua murid yang berada di akademi.
*Sementara itu di dimensi lain..
"Ghahhhhahahahahaha!! Sudah bangkit! Tempat dimana aku bisa bertemu dengan teman lamaku! Hahahaha! Gregory! Aku akan datang menjemputmu!" ucap Azka sambil melangkah ke arah pintu masuk gerbang dungeon yang telah dibangkitkan di dimensi itu.
"Cepat, hentikan dia!" perintah Pak Ruky kepada yang lainnya.
__ADS_1
Pak Leo langsung menghilang sekejap mata dan menyerang kembali Azka dengan tendangannya.
"Duakk!!" Serangan itu berhasil di tangkis dengan tentakel Azka meskipun dia menghadap kebelakang.
Azka melirik ke belakang dan berkata, "Tentunya setelah membereskan mereka semua.."
Azka menyeringai jahat. Dia membalikkan badannya dan mencoba menangkap kaki yang tadinya mengenai tentakelnya.
"Zapp!!" Pak Leo mundur seperti kilat, sehingga kakinya tidak berhasil di tangkap.
“Seett..” Azka melesat mengejar Pak Leo dan menyerang dengan membabi buta. 8 buah tentakel dilayangkan seperti tombak-tombak yang menusuk-nusuk dengan cepatl
Pak Leo mencoba menghindari serangan itu. Dengan kemampuannya yang mengubah gerakannya menjadi secepat petir, membuat dirinya mampu menghindari serangan yang tidak dapat diikuti oleh gerakan mata.
“Pak Horus!”
“Sand manipulation, bind!!” Tiba-tiba, muncul pasir yang dapat mengikat kaki Azka, sehingga dia tidak mampu untuk melangkah.
Pak Horus menelungkupkan tangannya, kemudian menghantamkan kedua telapak tangannya ke tanah. “Sand thomb!”
Seketika itu, dataran yang dipijaki oleh Azka berubah menjadi pasir hisap. Lambat laun tubuh Azka mulai terhisap ke bawah, sedikit demi sedikit dengan kaki yang masih terikat oleh pasir yang sudah dimanipulasi tadi.
“Darr!!” Azka membenturkan ke delapan tentakelnya ke pasir hisap, sehingga dia dapat melompat tinggi, dan lepas dari pasir hisap.
“Hap!” Mumpung ada kesempatan, Pak Leo menyerang Azka dengan tendangan beruntun ketika masih berada di udara.
“Hehehe, segini saja?” semua serangan itu berhasil ditangkis. Terpaksa dia harus kembali dengan secepat kilat.
“Cringg..” Pak Leo hilang seketika dan kembali ke posisi awal.
“Sekarang giliranku!!” Serangan beruntun dilancar oleh Azka yang saat ini terbang di udara.
“Divine Shield!” Ucap Pak Ruky yang maju terdepan di antara mereka berdua dan mengeluarkan perisai cahaya raksasa ke langit dengan sangat cepat.
“Darr, Darr, Darr, Darr!!” benturan perisai yang begitu besar dengan tentakel tajam pun tak terelakkan. Mereka bertiga berlindung di balik perisai itu sambil membacakan mantra pengusiran kepada Iblis itu.
“Krakk, Krakk..” terdengar bunyi retakan pada dinding perisai cahaya yang sangat tebal itu.
“Cepatlah, aku sudah tidak dapat menahannya terlalu lama lagi..”
__ADS_1
“Ghahhhahahahaha!! Mati kalian semuaaa!! Mati!!” ucap Iblis itu dan terus melancarkan tusukkan tentakelnya ke arah perisai yang terlihat sangat kokoh itu, namun perlahan-lahan mulai merapuh. Mereka bertiga mulai berkeringat dingin karena takut gagal di misi kali ini.
“Plarr!!” Akhirnya perisai itu pun pecah.