
“Kakak!! hati-hati!!” Ucap Thea sambil melambaikan tangan kepada Dias yang sudah berjalan menjauh dari rumah bersama dengan Iaros. “Jangan lupa janji kita!!”
“Iya!! Aku pasti kembali!” Balas Dias dengan berteriak pula dan melambaikan tangannya.
Thea yang melihat punggung kakaknya secara perlahan menghilang, membuat ekspresinya terlihat kesepian. Melihat hal itu, Iris langsung membawa masuk Thea ke rumah dan mengingatkannya untuk terus berlatih sehingga dirinya nantinya bakal bisa menyaingi kakaknya.
Dalam perjalanan Iaros kali ini dirinya tidak membawa peralatan yang terlalu banyak. Dia hanya cukup membawa pedang saja yang disarungkan di samping pinggangnya sebagai alat pertahanan dirinya. Berbeda dengan Dias yang membawa sebuah tas berisikan bekal, buku sihir, dan juga pedang milik Iaros yang pernah dipakainya semasa waktu kecil.
“Ngapain kau bawa bekal? Memangnya kita mau piknik?” Ucap Iaros.
“Lah, memangnya kita tidak akan makan sama sekali hari ini?” Balas Dias.
“Dias, nanti kita bisa menemukan berbagai macam bahan makanan saat sudah sampai di dalam hutan.”
“Hooh, emangnya diantara kita ada yang bisa masak?”
“Kau meremehkanku ya?”
Disaat mereka sedang asyik-asyiknya mengobrol, tiba-tiba saja banyak orang yang bergerombol di tengah-tengah alun-alun sama seperti kejadian dimana Dias dan Thea kehilangan kedua orang tuanya. Dias yang melihat itu menjadi teringat kembali akan tragedi yang sangat mengerikan di depan matanya. Namun meskipun begitu, bukan lagi rasa depresi dan rasa takut yang muncul, melainkan rasa kebencian dan emosi yang memuncak ketika melihatnya.
Ketika mereka berdua hampir meninggalkan tempat tersebut, tiba-tiba saja muncul hologram di tengah-tengah alun-alun. Dalam hologram kali ini menunjukkan Raja Julian dan Tobias sang Pengkhianat itu muncul kembali dengan memperlihatkan beberapa orang yang sudah diikat di tiang kayu. Di tempat itu juga ramai banyak orang yang ikut menyaksikan aksi kedua orang itu secara langsung. Dias merasa seperti mengetahui beberapa orang yang terikat disana. Dias hanya bisa menatap proyeksi tersebut dengan pandangan penuh dendam.
“Ada apalagi dengan Raja gila itu? Kenapa dirinya bisa dengan bebas menyiarkan kejadian di kerajaannya ke kerajaan kita?” Ucap salah satu penonton disana.
__ADS_1
“Iya. Bagaimana mungkin dirinya bisa melakukan hal semacam itu?” Balas yang lainnya.
Pasalnya, mereka cukup geram karena hampir 3 kali seminggu Sang Penguasa Farnesse tersebut menyiarkan kejadian yang tidak seharusnya diperlihatkan. Seperti pembunuhan para bangsawan yang masih memihak kepada Raja yang lama dan itu masih saja dilakukan sampai sekarang.
“Lihatlah, sepertinya dirinya sudah mulai berbicara.” Balas juga yang lain yang memperhatikan seorang Pria bertubuh besar menggunakan mahkota di atas dengan rambutnya yang bergaya reggae. Dia adalah Raja Julian.
“Wahai semua penduduk di seluruh muka bumi ini, kali ini kami cukup kesulitan untuk melawan para pembelot-pembelot yang sudah memporak-porandakan kerajaan kami. Beberapa bangsawan banyak yang melakukan pertentangan dan perlawanan karena tidak terima atas kepemimpinan yang baru dan lebih kuat ini. Mana rasa terima kasih kalian karena kami telah membasmi para penguasa yang lemah yang malah menyalahgunakan kekuasaan itu?” Kemudian, Raja Julian mendatangi beberapa orang yang diikat di atas panggung eksekusi.
“Kami tidak akan membiarkan lagi seorangpun yang berani merongrong kerajaan kami yang sudah sempurna ini. Karena tujuan kami yang sebenarnya akan terganggu dan cita-cita kerajaan yang telah kami susun tidak akan terwujud.”
Mereka yang terikat disana tidak dapat membela diri, karena mulutnya yang sudah dilakban dengan kuat, sehingga mereka tidak dapat mengeluarkan suaranya sama sekali. Mereka bergerak menggeliat berusaha lepas dari ikatannya, namun hal itu hanyalah sia-sia.
“Sebagai bentuk ketegasan kami, agar kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi, kami akan menghukum mati 10 orang kepala keluarga bangsawan yang diduga telah membelot kerajaan dan malah melakukan perlawanan.” Ucapnya. Tidak lama setelah itu, sekitar sepuluh orang algojo naik dan mengisi posisinya masing-masing. Mereka membawa sebilah pisau tajam di tangannya yang siap untuk dihunuskan kepada masing-masing orang yang masih terikat itu.
“Dasar orang-orang kuno yang primitif! bunuh saja mereka daripada jadi beban negara!” ucap yang lainnya.
Sementara itu, beberapa anggota keluarga bangsawan mencoba menerobos masuk melewati pintu yang dijaga oleh para pengawal kerajaan. Tentunya mereka tidak bisa menerobosnya, karena Pengawal yang dimiliki oleh Kerajaan Farnesse cukup kuat.
"Jangan bunuh suamiku.. Kumohon!!" Ucap salah satu istri dari orang-orang yang akan di eksekusi mati tersebut. Dia berusaha mendorong-dorong pengawal kerajaan agar dirinya bisa masuk. Bukan hanya dia saja, namun beberapa anggota keluarga juga banyak yang mendesak masuk ke dalam, tapi tidak diperizinkan. Mereka hanya bisa melihat kejadian itu dari sebuah hologram yang ditampilkan di alun-alun kota tanpa perlu mengucapkan salam perpisahan kepada mereka-mereka yang tersayang.
Sebenarnya, ingin sekali mereka menggunakan kemampuan sihirnya untuk menerobos para pengawal dan menyelamatkan anggota keluarganya yang sedang diikat disana. Hanya saja mereka terlalu takut dengan orang yang mampu mengalahkan Raja dan Ratu terkuat yang telah melindungi Kerajaan ini dari marabahaya selama beberapa tahun lamanya. Mereka takut jika seluruh keluarganya akan dilenyapkan apabila dicap sebagai pemberontak di Kerajaannya sendiri.
Semua orang yang berada di Stadion berteriak semakin kencang dan menggebu-gebu karena tidak sabar melihat orang-orang di depan mereka di eksekusi. Tuduhan-tuduhan tidak benar telah dilayangkan kepada mereka yang tertawan, dan mereka tidak dapat membela diri, atau pun dibela. Karena desakan dari orang-orang, membuat Julian sudah tidak sabar untuk segera mengeksekusi mereka semua.
“Baiklah, eksekusi sekarang!” Ucap Julian kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
"Hmmpphh.. Hmmpphh.." Semua kepala keluarga disana tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa pasrah menunggu pisau itu memenggal lehernya.
"Craatt!!" Tidak sesuai yang mereka harapkan, alih-alih mereka disembelih, Algojo itu malah langsung menusuk perut lelaki itu dan merobeknya ke arah samping. Seketika darah yang keluar dari perutnya menyembur keluar dengan luka yang menganga.
Tawanan terikat yang lain semakin menggila ketika melihat salah satu rekannya itu dibunuh di depan kedua mata mereka. Mereka menggeliat dan mengerang tanpa suara.
"Tenang saja, setelah ini giliran kalian.." Ucap salah satu algojo disana.
"Cratt!!"
Tragisnya, darah segar tidak dapat keluar dari mulutnya, karena mulutnya telah dilakban, sehingga darah itu keluar dari hidung dan mata mereka. Pendarahan yang hebat juga terjadi di perut mereka seperti balon air yang bocor.
"Oi broh, kamu nggak merasa kepanasan disini?" Ucap salah seorang yang berada di alun-alun dengan keringat yang menetes.
"Iya broh, kok panas sekali disini?" Balas lainnya.
Kemudian mereka melihat ke arah belakang, dan ternyata nampak seorang anak kecil yang sedang menahan emosinya dengan mata yang penuh kebencian. Tiba-tiba beberapa rumput di sekitar Dias juga ikut terbakar merasakan panas aura yang dikeluarkan oleh Dias.
"Dias, kontrol emosimu. Luapkan saja nanti saat kita mulai memasuki dungeon," Ucap Iaros. Dias memahami apa yang di katakan Iaros dan mencoba sabar sebisa mungkin.
Namun bagaimanapun, apa yang dilakukan oleh Raja Julian dan Si Penghianat Tobias itu sudah melewati batas. Otak mereka sudah tidak waras, dan kemanusiaan mereka telah lepas. Mereka adalah iblis berwujud manusia yang seenaknya memainkan nyawa manusia yang menari di atas telapak tangannya.
Dias bersumpah dalam hatinya, akan menghukum mereka semua sesuai dengan apa yang telah mereka lakukan pada orang-orang yang disayanginya. Dia tidak akan langsung membunuh mereka sebelum mereka mendapatkan penderitaan yang sama seperti orang-orang yang telah mereka bunuh.
"Dendam ini tidak akan mati, hingga kalian semua mati!" Ucap dalam hati kecil Dias.
__ADS_1