
Dias meletakkan gelas emas yang berisikan ramuan penambah kekuatan itu di atas meja kamarnya, setelah itu dia membuka pintu kamarnya.
“Kakak mau kemana?” Tanya Thea.
“Jalan-jalan sebentar..” Balas Dias.
“Thea ikutt.” Kemudian Thea segera membuntuti Dias.
Tidak lama kemudian, mereka berdua berpapasan dengan pelayan yang tadinya mengawal mereka.
“Tuan dan Nyonya, mau kemana malam-malam begini?” Tanya pelayan tersebut.
“Aku ingin pergi untuk membaca buku. Apa disekitar sini ada perpustakaan istana?” Tanya Dias.
“Kalau itu silahkan Anda lurus, kemudian berbelok ke kiri. 10 meter berikutnya baru Anda belok kanan. Nanti Anda akan melihat perpustakaan yang di depan pintunya terdapat monumen buku dan globe,” jelas pelayan itu.
“Baiklah, terima kasih,” Dias dan Thea meninggalkan pelayan itu dan segera berjalan menuju ke tempat yang di maksudkan oleh si Pelayan itu.
“Kakak, memangnya mau cari buku apa?” Tanya Thea.
“Hmm, aku pernah mendengar jika di Hutan Elf terdapat tempat yang memiliki medan sihir yang sangat kuat. Konon katanya apabila kita berada disana dan bermeditasi, kita akan mendapatkan kekuatan yang luar biasa besar,” jelas Dias.
Dia masih ingat apa yang diucapkan oleh Demitry ketika masih berada di dalam dungeon 3 tahun yang lalu. Dia memberitahukan sebuah tempat yang penuh dengan energi sihir dimana tempat itu adalah tempat berkomunikasi dengan Dewi Hutan.
Tidak lama kemudian, mereka telah sampai di perpustakaan yang sangat luas. Disana tertuliskan terbuka 24 jam dan diperbolehkan bagi siapapun untuk masuk dan menikmati buku di dalamnya.
“Memang apa hubungannya cerita Kakak sama buku yang ingin Kakak cari?”
“Kita cari informasi dulu. Barangkali kita dapat menemukan sesuatu yang berharga daripada menganggur di dalam kamar,” ucap Dias kemudian langsung masuk ke dalam perpustakaan itu.
“Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?” ucap petugas Perpustakaan yang di sakunya terdapat tanda pengenal bertuliskan nama Ghea.
“Ah, saya sedang mencari buku yang membahas tentang tempat suci untuk berkomunikasi dengan Dewi Hutan. Apakah ada buku semacam itu di sekitar sini?” Tanya Dias pada petugas yang memakai seragam bewarna biru dan kacamata tebal.
Namun, setelah mendengar pertanyaan Dias, dia sedikit terkejut. “Mohon maaf, sepertinya tidak ada buku yang semacam itu di sekitar sini,” ucap Pegawai Perpustakaan itu sambil mengontrol ekspresinya.
Terlihat seperti ada yang disembunyikan, akhirnya Dias memutuskan tetap masuk dan melihat-lihat buku di sekitar perpustakaan itu.
“Kakak yakin dapat menemukan buku yang Kakak maksud?” Tanya Thea sambil menoleh kanan kiri melihat buku-buku di sekitar.
__ADS_1
“Yah, daripada bengong di kamar, mending jalan-jalan disini sekalian liat-liat buku, kan?” Balas Dias, setelah itu lanjut mencari-cari. Memang tidak mungkin mencari satu buku langka diantara jutaan buku yang tersusun rapi di dalam rak-rak yang tersusun seperti labirin panjang.
Akhirnya, mereka telah sampai di ujung perpustakaan. Disana, mereka melihat buku yang tergeletak di lantai.
Dias memungut buku tersebut. “Hmm, buku apa ini?” Ucap Dias sambil memperhatikan judul buku yang tidak dapat dibaca. Buku itu ditulis menggunakan bahasa yang biasa digunakan oleh Dark Elf, atau suku pedalaman elf yang bertempat tinggal di hutan paling ujung dari Kerajaan Rivendell. Karena penasaran, akhirnya dia membawa buku itu ke dalam kamar.
“Sudah hampir jam 12,” ucap Dias setelah melihat jam dinding di kamarnya.
Dias langsung membuka buku tersebut. “Ahh, aku tidak bisa membacanya. Thea, apa kau bisa membaca ini?” Tawar Dias dan Thea langsung mendekatkan wajahnya ke buku yang dibawa oleh Dias. Sedangkan Dias mengambil cangkir yang berisikan ramuan peningkatan kekuatan yang sudah diberikan oleh Ratu itu pada Dias.
“Hmm, Nya.. me wa.. fa me.. ben wo?” Ucap Thea yang tidak mengerti apa yang diucapkannya.
“Hmm? bagaimana caranya kau bisa baca tulisan ini?”
“Engg, aku juga gak yakin."
Tidak lama kemudian, muncul lingkaran bercahaya di sekeliling mereka. Mereka sempat kebingungan dan tiba-tiba menghilang dari tempatnya.
*Sementara itu…
“Istriku? Apa kau yakin tidak memberikan ramuan yang salah pada lelaki itu?” ucap Raja Obeyron yang mengecek tempat gudang harta rahasia kerajaan.
“Ah, gawat!! Ayo! segera pergi ke tempat anak itu!” Setelah itu, dia segera bergegas ke ruang istirahat yang ditempati oleh Dias dan Thea.
*Kembali ke Thea dan Dias.
“Thea? Kau tidak apa-apa?” Tanya Dias pada Thea yang juga mengamati tempat tersebut. Mereka telah dipindahkan di tengah-tengah hutan yang disekitarnya dipenuhi pepohonan dan dihiasi oleh ratusan kunang-kunang yang beterbangan. Tempat itu disinari oleh sinar rembulan yang terang, dan cahaya bulan itu terpantul di atas sungai yang berada di hadapan Dias.
“Wahh.. Apakah ini tempat yang dimaksud Kakak?” Tanya Thea yang takjub dengan pemandangan disekelilingnya.
“Yah, sepertinya begitu, tempat yang katanya membuat kita dapat berkomunikasi dengan Dewi pemilik hutan ini,” balas Dias sambil melangkah melihat-lihat ke sekeliling, hingga akhirnya dia sampai di sebuah altar dan berdiri di atasnya.
“Hmm, terus bagaimana caranya berkomunikasi dengannya?” Tanya Thea.
“Entahlah,” tanya Dias spontan. Setelah itu, dia segera menenggak cairan yang berada di cangkir emas yang daritadi dia bawa.
“Glek–” Dias langsung menghabiskan semuanya dalam satu tegukan.
“Degg–” Tiba-tiba saja jantungnya terasa sangat sakit. Tubuhnya bergetar hebat dan kakinya sudah tidak bisa menyangga tubuhnya lagi.
__ADS_1
“Kakak!!” Thea bergegas mendekati Kakaknya dan memegangi tubuh lelaki yang mengejang itu seakan-akan keracunan oleh racun Cobra.
“Arghh!!” Dias meraung kesakitan. Dias secara tidak sengaja mengaktifkan sihir Clairvoyantnya dan melihat indikator HP-nya yang terus turun dengan sangat cepat.
“Buff: Shell!!, Buff: Protect!!, Buff: HP Regen!, Heal!!” Thea dengan cepat mengeluarkan segala kemampuannya untuk menyelamatkan Kakaknya yang sekarat itu. Muncul cahaya bewarna hijau di sekitar tubuh Dias. Lingkaran kuning bercahaya juga muncul di sekitar altar tersebut.
Pandangan Dias semakin memerah, bahkan sampai mengeluarkan darah. Dia terus menerus melihat indikator HPnya yang turun drastis, namun disaat bersamaan HPnya juga naik karena Thea yang berusaha keras mengerahkan seluruh Mananya untuk menyelamatkan satu-satunya Kakak yang dicintainya itu.
Dias tidak mampu menahan rasa sakit lagi. Tubuhnya jatuh lemas dan pingsan seketika di tempat itu juga. Tapi Thea tidak mau menyerah dan terus melakukan skill penyembuhannya, karena dia tahu jika nyawa Kakaknya sedang dalam bahaya. Cahaya hijau yang sangat cerah menyinari di seluruh area itu, hingga membuat beberapa binatang mendekati tempat tersebut karena penasaran.
“Di-dimana aku?” Ucap Dias yang tampaknya dia dipindahkan ke alam bawah sadarnya selama dirinya pingsan. Setelah itu, dia melihat wanita cantik berambut putih menggunakan mahkota kuning dengan matanya yang sangat indah bewarna ungu gelap.
“Kamu, siapa?” Tanya Dias pada gadis itu yang berjalan mendekatinya.
“Wahai anak Muda, lingkaran takdir mengerikan tentang nasib bumi ini berada di tanganmu. Mungkin perjalanan hidupmu akan terasa sangat sulit di kedepannya. Untuk itulah, aku datang kemari untuk memperingatkan sesuatu padamu.”
“Apa maksudmu? Kamu siapa? Dan mengapa kamu harus memberitahuku?” Tanya Dias dengan ekspresi heran.
“Aku adalah Clairvoyant. Dewi yang dapat melihat segala informasi di dunia ini.”
“Ah, iya iya. Kemudian, kenapa aku bisa ada disini?”
“Dengar, tidak lama lagi, bangsa Iblis akan menguasai dunia ini. Mereka akan terus menggempur semua makhluk hidup di bumi ini dan memusnahkan semua ras kecuali ras mereka sendiri. Namun, kami, para Dewi percaya, jika kau mampu menyelamatkan bumi ini dari kehancuran,” ucapnya. Kemudian dia mendekati Dias dan menempelkan telapak tangannya pada Dahi Dias.
“Kenapa ini? Kenapa aku tidak bisa bergerak?” Ucap Dias yang berusaha memberontak. Tidak lama kemudian, muncul cahaya terang bewarna ungu dari telapak tangan wanita itu.
“Akan ku anugerahkan dirimu dengan kekuatan ini.”
“Arghh!” Teriak Dias yang merasa kesakitan pada matanya. Pupilnya yang awalnya biru, berubah menjadi ungu, sama seperti mata indah milik wanita yang mengaku sebagai Dewi di depannya.
Setelah itu, Sang Dewi menurunkan tangannya dan mengamati mata Dias yang sepertinya pemberian kekuatan itu sudah berhasil.
“Apa yang kau lakukan pada mataku?” Dias merasa aneh dengan matanya bewarna ungu yang mana dia dapat melihat Dewi di depan matanya itu seperti berbayang-bayang.
“Sudah. Sekarang kembalilah ke duniamu dan jalankan takdirmu sebagai pahlawan di dunia ini. Ingat, dunia ini akan hancur jika dirimu diam saja dan abai terhadap semua masalah dihadapanmu. Jika dunia hancur, maka kau pun juga akan hancur. Jangan biarkan dirimu hancur dan jadilah kuat!” Ucap Dewi itu, kemudian Dias segera dikembalikan ke kesadarannya.
“Uhh..” Dias membuka matanya secara perlahan. Mengembalikan kesadaran yang sebelumnya hilang karena telah meminum ramuan yang diberikan oleh sang Raja. Tepat di depan matanya, dia melihat Thea yang sudah menunggu kesadaran Dias kembali. Tidak hanya itu, para binatang seperti kijang, tupai dan burung-burung pun juga mengamati mereka berdua.
“Kakak.. su-sudah sadar?” ucap Thea yang duduk disamping Dias dengan peluh membasahi tubuhnya. Tubuhnya bergetar seakan-akan tidak pernah makan selama 3 hari lamanya. “Syu–syukurlah..”
__ADS_1
“Brukk..” Tiba-tiba saja Thea ambruk karena kehabisan Mananya.