Adias Floryn : Get Back The Kingdom

Adias Floryn : Get Back The Kingdom
Bagian 46 : Penyelamatan Lily 2


__ADS_3

"Hmmmpphh.." Lily kaget, namun sama sekali tidak bisa berteriak karena mulutnya ditutup oleh lakban. 


"Putri!!" Teriak Ryan yang tidak sempat menggapai tangan Lily. 


Dalam detik itu juga, semua orang menatap ke arah tebing itu dengan perasaan cemas. Begitu pula Raja Obeyron yang melotot melihat kejadian itu. 


"Oke, kesempatan," ucap Dias yang kemudian meluncur ke arah dimana Lily sedang terjatuh. Dia berlari dengan sangat gesit, menghindari kerumunan-kerumunan itu, kemudian melompat dan menangkap Lily. 


"Happ.." Tubuh kecil itu pun berhasil ditangkap dengan sempurna oleh lelaki itu. Kedua mata dua insan saling bertemu dan saling menatap satu sama lain. 


"Dias?" Batin Lily yang tidak bisa berucap kata karena mulutnya yang masih tertutupi oleh kain. 


"Fyuh, hampir saja," kata Raja Obeyron sambil menghela nafas.


"Hehe, dengan begini harusnya mereka sadar jika menawan Putri Lily itu adalah tindakan yang salah," batin Dias sambil tersenyum. 


Dias berfikir jika kejadian ini membuat mereka merasa sedikit bersalah karena telah mengancam keselamatan Putrinya sehingga tidak akan melanjutkan demo ini lagi. 


"Ma-manusia ini menculik Tuan Putri!" Teriak Ryan sambil menunjuk ke arah Dias. Dia baru sadar jika telinga palsu yang dipakainya telah lepas karena aksinya tadi. 


"Hah? Kau sudah tidak waras ya?" Balas Dias. Namun tidak sesuai dengan dugaan, banyak orang disana yang mendukung Ryan. 


Semua pendemo disana menatap Dias dengan wajah penuh curiga. 


"Hei! Kalian tidak lihat jika aku baru saja menyelamatkan Tuan Putri kalian?" balas Dias membela diri dari tatapan dingin dari orang-orang disana. 


"Hah? Kau pikir aku tidak tahu? Kau sendiri yang melempar sesuatu ke arah tebing ini hingga pijakan yang ada di bawah Tuan Putri hancur, kemudian kau seolah-olah menyelamatkan Tuan Putri, padahal kau ingin menculiknya!" Seru Ryan.


"Hah? Alasan konyol macam apa itu? Mana mungkin orang-orang disini percaya dengan alasan konyol seperti itu," balas Dias. 


Namun, pandangan para pendemo itu tidak berubah, atau lebih tepatnya tidak mau berubah. Mereka sudah terlanjur yakin jika manusia akan membawa kehancuran bagi kaum mereka. 


Mau elf atau pun manusia, mereka pasti cenderung membenarkan diri sendiri dan menyalahkan pihak yang tidak disukainya, bahkan jika itu fakta yang sebenarnya. 


"Semuanya! Tangkap manusia itu! Dia pasti akan menjadikan Putri Lily sebagai tumbal berikutnya!" Teriak Ryan mengompori yang lain. Akhirnya pada pendemo itu mulai berlari mengejar Dias. 


"Ah, gawat.." Dias terpaksa harus lari sambil menggendong Lily. 


Dia tidak mungkin menyerang orang-orang itu dengan sihirnya, karena pasti akan menyebabkan munculnya rumor-rumor yang lebih parah lagi. Dia harus bisa menahan diri dan kabur dari sana secepat mungkin. 


Dias melompat naik ke atas pohon dan melompat dari pohon ke pohon untuk menghindari kerumunan itu. Namun, Orang-orang elf ternyata memiliki gerakan yang cukup gesit, sehingga dapat mengikuti gerakan Dias yang sudah cukup cepat itu. 


"Aduh, berat sekali.. jika begini terus aku tidak bisa bertahan lama," gumam Dias karena dia harus menggendong Lily.


Lily sedikit kesal karena sempat mendengar gumaman Dias, hanya saja dia hanya bisa terdiam dan berusaha untuk tetap tenang supaya Dias tidak merasa terganggu. 


"Wah, kenapa jadi kacau seperti ini?" Ucap Halvar sambil melihat para kerumunan itu yang sibuk mengejar Dias dari jauh.


Belum selesai dari situ, Ryan kembali lagi berorasi dan berusaha menggerakkan massa. Karena dia memiliki banyak pengikut yang satu suara dengannya, maka kudeta pasti masih bisa dilakukan saat ini.


"Kami satu suara untuk membawakan ketenangan bagi ras kami sendiri, jika Sang Raja saat ini tidak setuju dengan rakyatnya sendiri, maka terpaksa kami sendirilah yang akan memilih Raja kami sendiri!"


"Semuanya! Maju!" Perintah Ryan. Akhirnya beberapa pengikut Ryan mulai mengawali untuk berusaha menerobos penjagaan disana. Tidak lama kemudian, beberapa orang juga mengikuti mereka di belakangnya. Mereka mencoba menerobos pintu masuk di depan istana Kerajaan. 


"Minggir! Biarkan kami masuk!" Teriak orang-orang yang berwajah marah sambil mendorong-dorong Prajurit penjaga gerbang yang membawa tombak disana. Para Prajurit hanya pasrah karena memang dilarang untuk menyakiti rakyatnya sendiri, kecuali jika ada perintah dari atasan.


"Raja, bagaimana keputusan Anda?" ucap si Perdana Menteri yang berdiri disampingnya dengan wajah gusar. 


"Jangan biarkan mereka masuk ke dalam," titah Raja Obeyron sambil mengernyitkan dahinya. Si Perdana Menteri hanya membalas dengan anggukan, setelah itu membisikkan sesuatu kepada anak buahnya. Barulah dia beranjak pergi dari sana.


“Kepada semua Prajurit, silahkan dorong mereka semua, kemudian pasang pelindung,” ucap anak buah itu menggunakan telepatinya.


Brukkk.. beberapa orang pendemo itu ambruk setelah didorong oleh para Prajurit yang berjaga di gerbang istana.


“Semuanya! lewat jalan lain!”seru pendemo yang lain. Mereka pun berpencar mencoba mengelilingi istana kerajaan.


Di sisi lain, beberapa penyihir di dalam istana Kerajaan mulai merapal mantra. beberapa detik kemudian, muncullah sebuah pelindung tidak kasat mata yang melapisi seluruh istana kerajaan. Siapapun orangnya tidak bakal bisa masuk atau pun keluar melintasi pelindung tersebut. 

__ADS_1


“Jangan menyerah! hancurkan pelindung itu!


Üwooo!!” Balas pendemo yang lain. Para Elf bekerja sama menghancurkan dinding tersebut dengan mendorongnya, menusuknya, dan memukulnya dengan benda keras dan tumpul. Sekitar 500 orang bersama-sama mengikis sedikit demi sedikit pelindung itu hingga memunculkan sebuah retakan besar yang tercipta. 


“Krakk.. Krakk..” Terdengar bunyi yang cukup keras dari balik Pelindung itu. 


“Sedikit lagi..” Gumam Ryan yang masih berdiri di atas tebing. 


“Ryan, lelaki itu masih bisa kabur menjauh, jika dibiarkan dia akan membawa Tuan Putri pergi dan itu akan berdampak buruk untuk rencana kita,” ucap perempuan yang berada disamping Ryan yang dari tadi mengawasi keadaan sekitar. 


“Baiklah, aku akan ikut mengejarnya,”ucap Ryan kemudian melompat dari tebing dan berjalan ke arah Dias dengan santainya. 


Sementara itu, Dias masih berlari menghindari para Pendemo yang rusuh. Mereka tepat berada di belakang Dias dan terus-terusan mengejarnya. Meskipun ada beberapa orang yang mencegat Dias, mereka masih belum bisa menangkapnya karena Dias yang terlalu gesit. 


Akhirnya, lebih dari sepuluh orang menghadang Dias tepat dihadapannya. “Heyy, mau kemana kau manusia?” ucap salah satu orang yang menghadang Dias. 


“Kamu nanya aku mau kemana?” Sambil berucap kata, Dias langsung meloncati 10 orang itu dengan kemampuan kakinya yang cukup kuat hingga menimbulkan sedikit retakan pada tanah yang dipijakinya.


“Cepat kejar! Jangan biarkan dia menculik Putri kita!” mereka kembali mengejar Dias tanpa lelah.


Beberapa saat kemudian, akhirnya Dias terhalangi sebuah tebing tinggi yang menjulang ke atas, sehingga dia sudah tidak bisa kabur kemana-mana lagi. Dia menoleh kebelakang, dan nampak segerombolan orang yang sudah siap melampiaskan kemarahannya padanya. 


“Penculik! Kau sudah tidak bisa kemana-mana lagi! Sekarang kembalikan Tuan Putri, atau kami akan ambil dengan paksa!”


Dari balik gerombolan itu, muncullah Ryan yang berjalan melewati kerumunan-kerumunan itu. “Tuan Putri, jangan takut, Saya ada disini. Saya janji akan membawa Tuan Putri pulang dalam keadaan selamat,” ucap Ryan sambil tersenyum.


“Plarrr!!” namun tiba-tiba terdengar suara pecahan kaca yang sangat keras yang berasal dari Istana Kerajaan. 


“Raja! Pelindungnya pecah!’’ 


“Kerahkan seluruh prajurit untuk menghentikan mereka!’’


Semua prajurit langsung berpencar untuk menghadang para perusuh yang ingin memasuki istana. 


”Äpakah tidak ada cara lain selain kekerasan?” Gumam Sang Raja. Tapi dimanapun tempatnya, kekerasan adalah cara terakhir yang harus dilakukan untuk meredam masalah.


‘’Minggir Para Prajurit sialan! Kami lakukan ini demi kebaikan Kerajaan juga!’’ ucap salah satu perusuh yang sedang mendesak Halvar dengan mendorong-dorong dirinya. 


‘’Tidak ada cara lain, semuanya minggir!’’ ucap salah satu perusuh dibelakangnya.


“El Fula…’’ Tiba-tiba angin berkumpul di telapak tangannya. Setelah terkumpul banyak, dia langsung melepaskannya sehingga memunculkan angin yang terpusat dan mampu mendorong ke enam Prajurit yang sedang menghadangnya.


“Brakk..’’ Halvar terdorong jatuh meskipun luka yang ditimbulkan tidak terlalu parah. Namun hal itu membuat para perusuh itu berhasil melewati penjagaan.


‘’Jangan ragu menggunakan sihir kalian! Gunakan saja asal semuanya demi keadilan!” perusuh yang tadinya menggunakan sihir. 


‘’Baiklah jika kalian memaksa kami menggunakan sihir!’’ teriak Halvar yang mulai menggunakan tekniknya untuk menghalau para perusuh itu.


‘’Swipe!!’’ dengan sekejap, posisi perusuh yang sudah melewati penjagaan berpindah posisi dengan Halvar yang tadinya masih tersungkur.


Si Perusuh itu sempat kebingungan. “Kenapa aku disini?”


‘’Gunakan sihir angin untuk mendorong mereka semua!’’ perintah Halvar kepada pasukannya yang berada di depan. 


“Baik!’’ 


Akhirnya, terjadi pertarungan sihir antara pendemo dengan para Prajurit dengan menggunakan sihir angin untuk saling mendorong. Dalam proses pertarungan, tentunya Prajurit lebih diunggulkan karena kemampuan mereka yang sudah terlatih, sehingga mereka bisa mendorong para perusuh itu dengan mudah.


Kacau.


Tidak hanya ditempat Halvar, melainkan diseluruh bagian Istana Kerajaan juga terjadi pertarungan. Pos yang berjaga di bagian depan, belakang, kanan, dan kiri sudah dikepung oleh Para Perusuh yang mencoba masuk. Mereka mulai menggunakan sihir mereka, dan para Prajurit membalas serangan tersebut juga dengan sihir mereka. 


Hal ini membuat lingkungan disekitar mereka menjadi rusak. Pepohonan-pepohonan banyak yang rusak, halaman disekitar istana menjadi berantakan.


“Semuanya, tolong hentikan!” Tiba-tiba, terdengar suara teriakan perempuan yang berasal dari langit. Suara itu cukup keras, hingga semua orang yang berada disana bisa mendengarnya dengan jelas.


“Lihatlah ke atas!” teriak salah satu elf yang ada disana. 

__ADS_1


“Hentikan tindakan kalian semua, harusnya kalian malu..’’ ucapnya lagi. Mendengar suara tersebut, tiba-tiba mereka semua berhenti dan mendongak ke atas.


‘’Itu… De-dewi Artemis!?” ucap Raja Obeyron yang terkejut ketika melihat wujud siluet wanita bercahaya sedang melayang di atas langit Kerajaan. Tidak hanya Raja Obeyron, melainkan semua orang yang berada disana juga ikut terkejut, karena sudah ratusan tahun mereka tidak pernah melihat Dewi yang menjaga hutan di bumi ini.


“Semuanya, harap dengarkan titahku, apa yang kalian lakukan ini benar-benar tindakan bodoh dan tidak masuk akal. Kalian tanpa sadar telah melukai ras kalian sendiri! Harusnya kalian paham jika di luar sana sedang ada pertengkaran yang melibatkan semua ras. Jika kalian terus seperti ini, sudah dipastikan lagi kalian akan musnah..” ucap Dewi itu dengan suara yang bisa didengar oleh seluruh ras elf.


“Perintahku saat ini adalah, kalian harus bersatu melawan kejahatan dengan ras manusia! Iblis adalah lawan kalian, bukanlah manusia atau pun diri kalian sendiri! Usir semua iblis di dunia ini! Selesaikan krisis yang terjadi di seluruh dunia!’’


‘’Baiklah, itu saja yang ingin kusampaikan. Jangan sampai ketika aku kembali ke dunia ini, kalian membuat kerusuhan seperti ini lagi. Aku mencintai kalian dan dunia ini. Tapi jika kalian memang ingin dunia ini hancur.. maka berbuatlah kekacauan.. aku akan datang dan siap membantu menghancurkan kalian..” ucapnya dengan nada mengancam. 


Mendengar Dewi Artemis berkata seperti itu, membuat detak jantung semua orang berdetak hebat. Mereka takut sekaligus takjub dengan pemandangan yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Mereka-mereka yang mendengar Dewinya sendiri berbicara, tentunya tidak mungkin dapat mereka bantah. 


Mereka dengan senang hati menerimanya, sehingga lunak perasaannya dan memperbaiki kembali pandangannya terhadap manusia. Tidak lama kemudian, Dewi itu langsung menghilang tiba-tiba dari langit Kerajaan Rifendell.


Dewi Artemis yang tadinya menghilang, saat ini berpindah tempat ke tempat dimana Thea dan Dias bertemu pertama kalinya dengan dirinya. Yakni di atas altar dekat danau yang dikelilingi oleh pepohonan. 


‘’Terima kasih anak muda, jika kau tidak datang kemari dan memberitahuku, entah apa yang terjadi dengan ras elf yang selama ini kujaga.’’ Ucap Dewi itu pada Thea yang saat ini sedang berdiri di hadapannya.


‘’Syukurlah..’’ ucap Thea yang tadinya perasaannya begitu cemas, sekarang sudah tidak lagi demikian. 


“Memang tidak salah jika aku memilih seseorang yang layak untuk mencegah kehancuran dunia ini,’’ ucap Dewi Artemis sambil tersenyum.


Mendengar ucapan Dewi Artemis, Thea mengernyitkan keningnya sebagai tanda berfikir keras. ‘’Ha-hancur? Apa dunia ini akan hancur?’’ ucap Thea dengan wajah tidak percaya.


‘’Iya, tapi.. Haah~’’ Sang Dewi menghela nafas berat, seakan-akan hari-hari yang dilaluinya sangatlah berat sebelumnya. Dia segera duduk di altar sambil memegangi kepalanya yang pening.


‘’Tapi.. tapi kenapa?’’ Tanya Thea yang tidak tahu apa-apa.


‘’Kau tidak tahu sih, kami para Dewa juga harus menjaga kahyangan agar tetap aman dari gempuran utusan-utusan Dewa Iblis. Kesel banget.’’


‘’Ehh.. Kenapa bahasanya berubah menjadi informal?’’ batin Thea.


‘’Dan tidak hanya itu, yang paling menjengkelkan adalah harusnya aku juga diikutkan maju ke garis depan, tapi mereka malah menyuruhku diam di kahyangan sambil memperbaiki pohon-pohon dan tanaman-tanaman yang rusak, memangnya aku tukang kebun apa!?’’


‘’Ehh.. Aku baru tahu jika ada tukang kebun di kahyangan,’’ batin Thea sekali lagi. ‘’Baiklah, sang Dewi, aku sangat paham tentang hal itu, tapi apa hubungannya dengan kehancuran bumi?’’


‘’Ehem.. baiklah, kita kembali ke topik. Ya, kau benar.. Dewa Iblis berencana untuk mengirimkan utusan-utusan dari neraka yang lain untuk menghancurkan bumi juga. Padahal sudah jelas jika itu dilarang menurut perjanjian para Dewa-Dewi jika ikut campur urusan manusia, bahkan sampai ingin menghancurkannya.


‘’Untuk itulah, para Dewa kali ini sangat sibuk untuk menghentikan niat jahat Dewanya para Iblis itu.’’ Terangnya lagi. 


‘’Terjadi peperangan di negeri kahyangan antara sekutu Dewa Iblis dengan Dewa-Dewa yang lain. Dewa Iblis merasa jika manusia sudah selesai masanya dan sudah waktunya untuk dimusnahkan karena sudah merusak bumi yang sudah diciptakan untuk diri mereka sendiri. Tapi kami yakin itu hanya alasannya saja untuk melenyapkan seluruh kehidupan di muka bumi dan menyeret manusia ke dalam kesesatan.’’


‘’Dan berdasarkan penglihatan Dewi Clairvoyant, kau dan juga kakakmu adalah kunci untuk menghentikan malapetaka yang akan terjadi di bumi ini.’’


‘’Namun tenang saja. Coba perhatikan telapak tanganmu sekarang,’’ perintah sang Dewi.


Thea langsung mengangkat tangannya dan membaliknya hingga terlihat telapak tangannya yang bersih itu.


‘’Coba aktifkan sihir apapun itu,’’ ucapnya sekali lagi.


‘’Eng.. o-oke..’’ Thea sedikit bingung untuk menebak maksud dari Dewi yang ada di hadapannya. 


‘’Heal!’’ Tiba-tiba saja, dari telapak tangannya muncul simbol ‘tidak terbatas’ bewarna hijau seperti tato yang bersinar terang.


‘’Wahh, keren!’’ ucapnya.


‘’Itulah berkah yang kuberikan. Tato itu akan membuat dirimu tidak akan pernah kehabisan mana, yah.. meskipun kau harus mengatur besarnya pengeluaran manamu juga sih,’’ balas Dewi Artemis menjelaskan sambil tersenyum bangga. 


‘’Wahh..’’ Thea tidak henti-hentinya mengagumi lambang tato yang keren itu. Apalagi efeknya yang membuat dirinya mengeluarkan sihir yang tidak terbatas. 


‘’Terima kasih, Dewi,’’ ucapnya sambil tersenyum ke arah Dewi itu.


‘’Ya, ya.. tapi kau harus ingat, jangan sampai kau salah gunakan kekuatan itu. Kekuatan itu ku berikan hanya demi menghentikan kekacauan yang akan terjadi di masa yang akan datang.’’


‘’Baik, aku mengerti.’’ Balas Thea.


‘’Baiklah, kalau begitu aku kembalikan dirimu dulu ke asal.’’ 

__ADS_1


Sang Dewi akhirnya memulangkan Thea kembali ke Istana Kerajaan dengan selamat, tepatnya di ruang istirahat. Sang Dewi kembali ke kahyangan dan melakukan pekerjaannya seperti yang ditugaskan kepadanya. Sedangkan Thea menemui Kakaknya yang sudah kembali ke Istana Kerajaan bersama dengan Lily.


__ADS_2