
Tidak lama kemudian, tiba-tiba saja semua pasukan mulai terpencar karena sibuk menghabisi monster-monster yang terus bermunculan. 4 orang healer sampai kuwalahan karena sibuk menyembuhkan orang-orang yang tersebar di berbagai tempat. Mereka berlarian kesana kemari, memberikan penyembuhan, kemudian mengisi kembali Mananya dengan meminum Mana Potion dari Cyntia baru kembali lagi ke medan pertempuran.
Dann yang awalnya bersama dengan Dias, dia harus memisahkan diri karena terdapat monster yang sangat kuat dan memiliki kemampuan berpedang yang dapat menyainginya. Dann memancing monster itu menjauh dari kawanan dan memilih tempat yang bagus untuk bertarung.
Pertempuran itu berlangsung cukup panjang. Selama 3 hari berturut-turut mereka melakukan pertempuran yang mempertaruhkan nyawa antara hidup dan mati itu bersama-sama.
Dan setelah 3 hari berlalu, kondisi mereka sudah mulai memburuk dengan tubuh yang sudah sangat kelelahan. Meskipun mereka semua yang berada disana dapat meminum ramuan pemulih stamina, namun tetap saja secara mental mereka sangatlah kelelahan.
Semuanya sudah terpencar tanpa mengetahui kondisi masing-masing. Para Healer yang sebelumnya berlarian sudah tidak lagi nampak batang hidungnya sama sekali. Kecuali Steve yang sudah berada bersama dengan Iaros disana. Berbeda dengan Dias yang sangat sibuk melindungi Cyntia dari serangan para Monster.
Dann menghilang entah kemana dan tidak ada tahu. 4 healer kecuali Steve juga tidak nampak sama sekali. Namun jumlah monster di sekitar mereka nampak tidak berkurang, melainkan terus bertambah kuat dan bertambah kuat.
Franca sangatlah sibuk menghancurkan semua monster yang muncul menggunakan semua binatang buas yang dimilikinya ke seluruh tempat di wilayah ini. Jumlah binatang buas yang dikeluarkan Franca bisa mencapai 100 ekor, dan dengan dikurangi oleh beberapa binatang buas miliknya yang telah mati sehingga tersisa 34 ekor saja. Dia mengerahkan segala kekuatan yang dimilikinya, karena Monster-monster itu juga lambat laun semakin kuat.
“Cyntia, minta air,” Ucap Dias yang mengistirahatkan tubuhnya di balik pohon. Cyntia menurutinya dan segera memberikan air yang dia ambil dari portal sihir. Dias segera menerimanya dengan terburu-buru dan meminumnya.
“Uhuk, uhuk!!” Dias sedikit tersedak setelah meminumnya.
“Pelan-pelan saja minumnya,” Ucap Cyntia.
“Sial, sampai kapan ini akan terus berlangsung,” Ucap Dias yang sudah lelah dengan semua ini. Dias terlihat sangat berputus asa, mengingat semua Monster-Monster itu masih saja bermunculan meskipun sudah tiga hari lamanya mereka semua mencoba menumpasnya. Tapi seakan-akan semua yang dilakukannya hanyalah sia-sia.
“Tenang saja. Kau harus percaya jika kita semua pasti bisa menyelesaikan semua ini. Kita semua bukanlah seorang pemula yang mencoba untuk menaklukkan dungeon ini dengan ceroboh. Itu cari mati namanya.” Ucap Cyntia mencoba mengembalikan semangat Dias.
“Groaa!!” Giant Ogre tiba-tiba saja muncul dari balik pohon dan kemudian menghajar pohon yang digunakan untuk bersembunyi mereka berdua.
“Blarr!!”
Untung saja Cyntia dan Dias bisa menghindar dengan tepat waktu. Namun sialnya mereka berdua sudah dikepung oleh banyak monster disekitarnya. Giant Ogre, beberapa goblin hitam yang sudah menjadi Hob Goblin, dan burung bayangan yang sebelumnya juga ikut mengepung mereka.
“ClairVoyant!” Dias mencoba mengamati monster yang ada di depannya, dan ternyata benar jika tiap waktu monster yang dihadapinya terus bertambah kuat. Level monster terus meningkat, sehingga status milik mereka cukup tinggi.
"Cyntia, tetaplah dibelakangku." Ucap Dias sambil mengarahkan pedangnya ke depan.
"Belakang? Masalahnya di belakangmu pun juga tidak aman." Balas Cyntia yang juga melihat beberapa monster di depannya yang sudah bersiap untuk menyerang dirinya. Cyntia menodongkan pisaunya sebagai senjata utamanya kepada beberapa monster yang sudah lama menanti.
“Tahan, mungkin akan sedikit panas,” Dias megangkat tangannya tinggi-tinggi dan tiba-tiba muncul api di tiap-tiap tubuh monster di sekitarnya.
"Bwoosshh!!" Dengan sekejap tubuh monster disekelilingnya langsung terbakar semua. Namun hal itu membutuhkan mana yang cukup banyak sehingga dia membutuhkan ramuan pemulih mana yang lebih banyak lagi kepada Cyntia.
“Baiklah, kita lanjut ke depan,” Kata Dias sambil meminum Ramuan pemulih Mana.
Namun, sebelum Dias sempat melangkahkan kakinya ke depan, tiba-tiba muncul batang pohon berduri dari dalam tanah dengan sangat cepat dan menusuk tubuh Cyntia yang kecil itu.
__ADS_1
"Ahkh.." Cyntia mengeluarkan darah segar dari mulutnya.
"Cyntia!" Dias segera memotong batang kayu itu dan mencabut batang itu dari tubuhnya.
“Akh.. Huekk..” Darah segar keluar dari mulut Cyntia sekali lagi ketika Dias mencabut batang kayu itu.
"Cyntia, bertahanlah.." Ucap Dias yang memangku tubuh Cyntia yang mulai melemas. Kemudian Cyntia berusaha mengeluarkan Health Potion dari portal sihirnya dan mengambil potion itu dengan tangan yang masih bergetar.
"Uhuk!! Klangg.." Cyntia menjatuhkan potion itu dan Dias segera menangkapnya. Dias segera membuka potion itu dan meminumkannya secara perlahan kepada Cyntia.
"Clairvoyant!!" Dias melihat Health Point yang dimiliki oleh Cyntia yang terus bertambah sedikit demi sedikit.
"Kau tidak apa-apa?" Ucap Adias.
"Iya, Terima kasih." Dias akhirnya bernafas lega. Dan mereka berdua kembali berdiri.
Dan lagi-lagi sebelum mereka kembali melangkah, terdapat batu besar yang muncul dari atas langit mengarah kepada mereka.
Karena sudah tidak sempat lagi untuk menghindar, Cyntia mendorong tubuh Dias menjauh.atu
Sejenak Dias menatap wajah Cyntia yang tersenyum. Dia masih tidak mengerti apa maksud dari senyumannya itu.
Blarr!!"
"Cyntia!!" Teriak Dias. Dia segera menyingkirkan batu itu dari tempatnya. namun, sebelum dirinya melakukan itu, beberapa monster datang menerjangnya, dan tempat itu pun juga di jatuhi batu-batu besar yang sepertinya bersumber dari Iblis hitam tersebut.
"Blarr!! Blarr!! Blarr!!" Batu-batu itu berjatuhan secara acak, meskipun mengenai monster-monster yang telah diciptakannya sendiri, tapi diri Iblis itu sudah tidak peduli lagi.
"Sialaaann!!" Dias mulai murka. Kali ini dia melesat ke arah iblis hitam dengan menerobos monster-monster lain dengan apinya yang sangat panas.
"Bwooosshh!!" Tiap-tiap monster yang dia lewati akan langsung terbakar. Hingga akhirnya dia berhasil sampai ke tempat Iaros berada, dan menebaskan pedangnya ke arah Iblis hitam itu berdiri.
"Blarr!!" Ledakan besar terjadi. Sepertinya Adias tidak bisa mengendalikan kekuatannya sekali lagi.
"Dias!?" Ucap Iaros yang masih berdiri tidak jauh dari tempatnya. Beberapa orang juga masih memantau Dias yang meledakkan monster itu berkali-kali dengan pedangnya.
"Blarr!! Blarr!! Blarr!!" Hanya bara api dan asap yang tertampak di pertarungan keduanya. Iblis itu sempat disibukkan oleh Dias meskipun serangannya tidak terlalu berdampak bagi monster itu. Tapi karena sebelumnya sudah menerima banyak luka dari Iaros dan kawan-kawan, sehingga Iblis itu sedikit melunak.
"Groaa!!" Iblis itu langsung mementalkan Dias menjauh dari dirinya hingga Dias terhempas jauh ke langit. Tapi, Dias masih bisa sadar dan melesatkan dirinya ke Iblis itu dengan kecepatan penuh hingga membentur ke Iblis itu dengan sangat keras.
"Blarr!!" Lagi-lagi ledakan besar itu terjadi. Membuat monster itu menghentikan kemampuan pemroduksian monsternya untuk sementara waktu.
“Graaa!!” Iblis itu mengeluarkan akar pohon yang sangat tajam dari bawah, hingga membuat kaki Dias tertusuk dan membuatnya terjungkal ke depan. Akar pohon itu terus menyerbu Dias dan Dias yang sudah menyadari itu terus-terusan menangkis dan membakarnya.
__ADS_1
"Heal!! Heal!! Heal!!" Steve terus-terusan memberikan penyembuhan kepada Dias yang juga terus-terusan terkena serangan dari iblis itu.
Ledakan demi ledakan terus terjadi dan tanpa henti. Dan akhirnya, ada waktunya bagi Dias untuk mengakhirinya karena dirinya sudah mencapai batasnya. Tubuhnya mulai memerah, pertanda terkena luka bakar oleh apinya sendiri. Selain itu, muncul darah segar dari mulutnya yang kecil itu.
"Uhuk.." Namun meskipun darah itu keluar dari mulutnya, dirinya tidak peduli dan bermaksud menyerang dengan menggunakan serangannya yang terakhir.
“Heaahhh!!”
"Halbert!!" Ucap Iaros menyuruh Halbert untuk mengambil Dias kembali dari tempatnya. Iaros tahu jika Dias sudah melewati batas kemampuannya. Jika diteruskan, dia bakal mati termakan oleh Mananya sendiri. Halbert langsung meluncur ke arah Dias, menangkis serangannya, dan membawanya menjauh dari tempat tersebut.
"Dominic!!" Perintah Iaros yang mana Dominic menggunakan sihir pengikat bayangannya kepada iblis yang berada disana. Sebelumnya, dia sudah memasang lingkaran sihir yang sangat besar selama Dias membuat sibuk monster tersebut.
"Cepatlah! Aku tidak bisa menahannya lama-lama!" Kata Dominic yang terlihat kesusahan.
"All Element.." Begitu pula dengan Iaros. Dia sudah memasang semua lingkaran sihir di berbagai tempat mengelilingi monster hitam itu.
"Time for judgement.." Ucap Iaros. Kemudian muncul dari langit tombak es yang sangat besar, kemudian tanah yang dipijak oleh monster itu terangkat ke atas, dari depan Iaros melesat menghunuskan pedangnya yang bercahaya. Serangan itu semua bertabrakan, hingga menghasilkan ledakan yang sangat kuat.
"Blarr!!!"
Akhirnya, iblis itu pun lenyap seketika, dan mereka semua dapat bernafas lega setelah melewati pertarungan yang mengorbankan banyak nyawa.
Dari 16 orang yang masuk ke dalam dungeon, hanya tersisa 7 orang yang masih bisa bertahan. Iaros, Dias, Steve, Halbert, Franca, Dominic, dan Demitry. Sedangkan yang lainnya sudah tidak ada harapan lagi.
"Cyntia.." Kemudian Dias menutup matanya karena sudah tidak sanggup lagi menahan luka di tubuhnya yang sudah kehabisan Mana.
Semua monster-monster yang diciptakan oleh iblis hitam itu juga ikut menghilang, sehingga Franca dapat bernafas lega karena telah menahan ratusan monster bersama dengan puluhan monster miliknya.
Franca segera mengembalikan seluruh monsternya ke dimensi lain, dan segera berkumpul bersama dengan Iaros dan yang lainnya.
Tetapi, sebelum sampai ke tempat Iaros, dirinya sempat melihat tubuh yang sudah tertindih batu. Dia hanya dapat melihat tangannya saja, sedangkan seluruh tubuhnya sudah tertimpa batu. Akhirnya Franca memutuskan untuk menyingkirkan batu besar itu dengan pedangnya.
"Sringg!!" Batu itu langsung terbelah menjadi dua, dan dengan mudah Franca mengangkatnya bersama dengan kingkong yang sudah dibangkitkannya untuk membantunya.
"Cyntia!?" Ucap Franca. Akhirnya dia mengangkat tubuh itu bersamanya dengan mengeluarkan Badaknya dan berkumpul kembali dengan yang lainnya.
Tubuh Cyntia benar-benar hancur, kecuali organ-organ penting seperti jantung, paru-paru sebelah kanan, dan otaknya. Semua orang yang berada disana sangat terkejut ketika melihat kondisi Cyntia yang penuh dengan darah dan tulang-tulangnya yang hancur.
"Steve, kau harus bisa menyembuhkannya. Dia adalah alchemist terbaik sepanjang masa, dan kita sangatlah membutuhkannya hingga saat ini. jangan sampai kita kehilangan dia," Kata Franca sambil menurunkan Cyntia dari tunggangan dan membaringkannya di hadapan Steve.
"Akan ku usahakan." Ucap Steve.
Akhirnya, mereka berdelapan pun berhasil menyelesaikan dungeon itu dan mereka dapat bernafas lega setelah 5 tahun lamanya terperangkap di dalam dunia lain yang penuh ancaman itu.
__ADS_1
***