
"Ey Ted, sekarang aku sudah tahu siapa pelakunya. Hanya saja aku tidak tahu bagaimana cara meringkusnya." Ucap Dias di saat jam istirahat pertama berlangsung. Mereka berdua berada di kantin di tempat yang sama seperti kemarin untuk menyantap roti bakar bersama.
"Tuh kan, pasti guru seni yang tadi pagi kan?" Ujar Tedy sambil memakan roti bakar isi coklat yang masih hangat.
"Iya, kok kau bisa tahu?"
"Sebenarnya polisi juga sudah menginterogasinya, namun tidak ada bukti-bukti yang cukup jika dirinya bersalah. Dia bisa mengontrol emosinya dengan baik, sehingga dia mampu menipu dengan sempurna. Bahkan alat detektor kebohongan pun tidak mampu mengungkap kebohongannya." Ungkap Tedy.
"Hmm, kemudian kalau bukti-bukti di TKP saat mereka semua hilang?"
"Polisi menduga jika tempat mereka di culik berada di ruang seni, namun setelah tempat itu diselidiki ternyata tidak ada apa-apa."
"Hmm, bisa jadi dia menggunakan sihir ruangan untuk membuka dimensi lain, kemudian si korban di letakkan disana."
"Jika begitu, harusnya ada lingkaran sihir yang dapat mengaktifkan ruang dimensi tersebut."
"Tidak juga, Tante yang merawatku bisa membuka ruang dimensi lain tanpa perlu membuat lingkaran sihir." Ucap Dias yang dimaksud adalah Iris yang pernah membuka portal sihir saat menghukum Iaros.
"Hah? Mana ada orang yang seperti itu? Kalau ada orang yang seperti itu, hanyalah para kesatria saja, atau bisa jadi dia adalah petualang rank SS di guild yang bisa melakukannya." Balas Tedy.
"Hadeh, di bilangin tidak percaya." Ujar Dias.
Namun, apabila diperbandingkan antara level Pak Sata si pemuja iblis dengan level Iris, maka akan jauh berbeda. Sehingga bisa jadi orang itu harus menggunakan lingkaran sihir yang disembunyikan di suatu tempat yang tidak diketahui oleh siapapun.
Tidak lama kemudian, Lily Obeyron datang menemui Dias dengan terburu-buru bersama dengan Halvar.
"Ikut aku, sekarang." Kata Lily sambil berjalan melewati Dias. Dias dan Tedy yang tidak tahu apa-apa langsung saja mengiyakan ucapan Lily dan mengikutinya.
Setelah itu, mereka berempat duduk di gazebo yang berada di taman sekolah. Tempatnya cukup indah dan teduh karena terdapat banyak pepohonan yang tinggi dan rimbun, beserta bunga-bunga yang menambah warna. Dan juga tempatnya tidak begitu ramai, karena berada di belakang gedung sekolah yang jauh dari kantin.
Dias berinisatif untuk meminta maaf terlebih dahulu mengenai kejadian kemarin. Dia berkata, "Sebelumnya, aku minta maaf soal masalah yang kemarin, aku–"
"Kamu, Dimanakah kau temukan Pita merah yang kau selipkan di sakumu?" Tanya Lily yang langsung memotong ucapan Dias.
"Pita merah? Oh.. maksudmu ini?" Dias mengeluarkan pita merah itu dari sakunya.
Melihat pita tersebut, Lily dan Halvar sangat terkejut bukan main.
"Kenapa dengan kalian berdua? Ini milikmu kah? Haruskah ku kembalikan sekarang?" Kata Dias yang bingung dengan ekspresi mereka berdua.
"Itu sebenarnya milik adikku. Harusnya dia sudah pulang ke rumah setelah pulang sekolah, namun entah mengapa dirinya tidak pulang-pulang, bahkan hingga hari ini tidak ada kabar sama sekali tentangnya. Padahal sudah kutanyakan kepada teman-temannya, namun tidak ada yang tahu sama sekali kemanakah dirinya pergi," Ungkap Lily.
"Hmm, Dimanakah kau bertemu dengan dirinya terakhir kali?" Tanya Dias.
"Kalau itu sih, pada saat jam istirahat kedua kemarin, kami masih sempat bertemu. Harusnya kami pulang bersama kemarin, tapi entah mengapa setelah di tunggu-tunggu dirinya tidak muncul-muncul, sehingga ku kira dirinya sudah pulang duluan atau pergi ke rumah teman."
"Ohh, begitu ya. Kalau begitu aku tanya sekali lagi, apakah mata pelajaran terakhir adikmu di hari kemarin adalah Seni Budaya?"
"Ya! bagaimana kau bisa tahu?"
Setelah itu, Dias menceritakan kejadian aneh yang dialaminya kemarin di saat dirinya bersama Tedy berlari ke ruang seni. Dengan di bantu oleh Teddy, akhirnya mereka berdua paham.
__ADS_1
"Jadi, pelakunya adalah si guru seni itu?" Lily sedikit tidak percaya dengan tuduhan tanpa bukti yang dilayangkan oleh Dias kepada Pak Sata yang terlihat seperti guru yang baik-baik.
"Kau tidak percaya dengan kemampuan penglihatanku ya? Tunggu sebentar, ClairVoyant!" Dias mencoba melihat status yang dimiliki oleh Lily dengan memandang ke arah depannya.
"Namamu adalah Lily Obeyron, murid di Akademi Raftel sekaligus putri dari Kerajaan Valignar, memiliki kemampuan pengendalian atau manipulasi alam dan angin, kemampuan memanah level master, bisa melakukan seni bela diri Elvarion yang mengandalkan tendangan untuk melumpuhkan lawan." Ungkap Dias yang membuat Lily sedikit kagum dengan kemampuannya. Setelah itu, Dias menurunkan pandangannya sedikit ke bawah untuk melihat levelnya.
"Wah, ini tidak mungkin.. besar sekali.." Kata Dias yang secara tidak langsung pandangannya mengarah ke dada Lily yang akhirnya menjadi salah paham.
"Kau lihat kemana, mesum!? Plakk!!" Ucap Lily yang kemudian menutupi dadanya setelah menampar Dias dengan keras.
"Awww, aku lihat levelmu woyy, kenapa kau menamparku!? Dasar Wanita gorila!!" Kata Dias yang keceplosan keluar dari mulutnya.
"Apaaa!? Monyet katamu!?" Lily semakin murka.
"Bukan, dia bilangnya gorila." Kata Tedy membenarkannya yang daritadi memperhatikan percakapan mereka berdua.
"Apaa!? Kuhajar kauu!!" Lily ingin segera menghajar mereka berdua. Namun sebelum dirinya melayangkan kepalan tangannya, dirinya sudah dihentikan dan di tahan oleh Halvar dari belakang.
"Sabar Tuan Putri, sabar.. Jangan gunakan kekerasan disini. Tetap jaga citra Anda, ingat?" Kata Halvar yang menahan Sang Putri dengan sekuat tenaga. Lily yang menyadari hal itu, kembali mengontrol emosinya dan memperbaiki ekspresi wajahnya.
"Ehm.. Baiklah, kalau begitu maukah kalian membantuku? Kalau kalian berhasil, pasti akan kuberikan imbalan yang pantas untuk kalian berdua." Ujar Lily sambil menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Ah, sudah menjadi tugasku untuk meringkus penjahat itu," Ucap Dias sambil membalas jabatan tangannya. Namun, Tiba-tiba saja Lily meremas tangan Dias dengan sangat kuat hingga membuat Dias meringis kesakitan.
*****
Jam istirahat kedua, mereka berempat mencoba mendatangi kelas seni dimana kejadian kemarin itu terjadi. Beruntungnya, kelas itu sedang tidak dipakai oleh kelas manapun, sehingga mereka berempat bebas ingin melakukan apa saja disana.
Sambil mencari, Dias berkata kepada Tedy, "Ey Ted, kalau memang benar-benar ada lingkaran sihir disini, harusnya polisi sudah menemukannya sejak lama dong."
"Yah, berarti dia menyembunyikannya dengan sangat baik. Coba cari terlebih dahulu." Kata Tedy yang juga ikut mencari lingkaran sihir itu di bawah kolong meja.
Setelah mencari selama 15 menit, mereka tidak menemukan apa-apa sama sekali. Di lantai, atap, almari, atau pun di belakang lukisan, mereka sama sekali tidak menemukannya.
"Hadeh, susah sekali." Kata Dias sambil membaringkan tubuhnya di atas lantai.
"Capek banget aduh." Tedy juga mulai menyerah dengan duduk di kursi dan menselonjorkan kakinya.
"Ted, bagaimana kalau langsung ku hajar saja Pak Sata?"
"Hah? Kau mau di penjara ya?"
"Nggak lah, kan aku masih di bawah umur?" Balas Dias.
Menghiraukan ocehan mereka berdua, Lily masih mengamati di tiap-tiap lukisan yang berada di ruangan seni. Setelah sampai di salah satu lukisan yang tampak cukup mencurigakan, dia mengamati dalam-dalam lukisan bergambar manusia berkepala kambing yang sedang duduk bersila tersebut.
Gambar itu terlihat unik dan menakutkan. Dia mengamati baik-baik, dan terasa seakan-akan lukisan itu hidup. Bahkan ketika diamati lagi, lukisan itu berkedip satu kali yang membuat Lily terkejut.
"Huwaa!!" Lily memundurkan langkahnya, namun dengan tidak sengaja kakinya malah menginjak perut Dias yang sedang berbaring itu. Lily pun terpleset tepat di atas perut Dias.
"Brakk!!" Lily terjatuh dan menduduki Dias.
__ADS_1
"Aduduh.."
"Ka-kamu ngapain sih!?" Ucap Dias dengan posisi perutnya yang di tindih oleh Lily. Lily yang menyadari hal itu langsung berdiri.
"Ka-kamu yang ngapain asal berbaring sembarangan saja! haduhh!!" Ucapnya.
"Aku lagi istirahat karena capekk!!"
"Hei, heii, sudah sudah, jangan berteman.." Lerai Tedy.
Mendengar kegaduhan di dalam kelas, Pak Sata pun masuk mengecek keadaan di dalam kelas seni.
"Ehm.. permisi anak-anak, apa yang sebenarnya kalian lakukan disini?" Tanya Pak Sata kepada mereka berempat yang sedang berisik berdebat. Mereka semua terkejut dan mencoba berfikir keras untuk mendapatkan alasan yang tepat dalam hal ini.
'Engg, itu Pak.. sebenarnya kami berempat dihukum untuk membersihkan di ruang kesenian oleh guru BK." Ucap Tedy.
"Ohh, begitu ya. Tapi kenapa kalian tidak memegang sapu atau kemoceng?" Tanya guru berambut hitam itu sekali lagi.
"Kami baru saja selesai Pak. Tinggal meletakkan barang-barang itu sesuai dengan tempatnya." Timpal Tedy.
"Ohh, iya. Bagus kalau begitu. Yang bersih ya anak-anak. Bapak mau pergi dulu." Setelah itu, Pak Sata pergi meninggalkan tempat itu. Akhirnya mereka semua bisa bernafas lega.
Karena tidak menemukan apa-apa, akhirnya mereka pergi ke kantin untuk mengisi perutnya yang kosong.
*Sepulang sekolah..
"Thea, ayo pulang bareng bersama kami." Ucap Naura yang sedang berjalan bersama teman-temannya keluar gedung sekolah.
"Ah, kalian duluan aja ya. Ada barangku yang ketinggalan di kelas." Balas Thea yang terburu-buru masuk kembali ke gedung sekolah.
"Tunggu, Theaaa!! Kau tidak mau ku temenin?" Ucap Naura kembali yang menghentikan langkah Thea.
"Nggak usah, cuman sebentar kok." Balasnya.
" Iya sudah, jangan lupa nanti kerja kelompok di rumahku ya." Ucap Naura yang sedang melangkahkan kakinya meninggalkan gedung sekolah.
"Oke oke," Balas Thea yang kembali berjalan cepat dan masuk kembali ke gedung sekolah.
Thea bergegas dan kembali masuk ke dalam kelas. Rupanya dia tidak sengaja meninggalkan buku yang sempat dia pinjam di perpustakaan. Buku itu masih tersimpan rapi di kolong meja.
"Ahh, untung saja tidak hilang," Ucapnya. Dia segera memasukkan buku itu ke dalam tasnya dan segera pergi meninggalkan kelas itu.
"Krieeettt, Jeglek!"
Namun, sebelum dirinya meninggalkan kelas itu, Tiba-tiba saja pintu kelas tertutup rapat. Thea mencoba membuka pintu itu dengan kuat, namun apa yang dia lakukan percuma.
Thea melihat ke ruangan kelas sekitar yang sangat sepi dan suram. Entah mengapa sama sekali tidak ada suara yang masuk dari dalam kelas.
"Tol–" Sebelum Thea berteriak meminta tolong, Pria yang tiba-tiba muncul di belakang Thea menutup mulut Thea dan tidak lama kemudian mereka berdua secara perlahan tenggelam di lantai kelas, seakan-akan terjebak di lumpur hisap.
Thea berusaha memberontak, menggeleng-gelengkan kepalanya, menggerak-gerakkan tubuhnya, namun hal itu hanyalah sia-sia.
__ADS_1
"Kakak, tolong aku." Batin Thea yang ketakutan. Tidak lama kemudian, tubuhnya lenyap dilahap lantai kelas tersebut.