
"Thea? Bangun oy.. Hoaamm.." Ucap Dias kepada Thea yang berada tepat disamping Dias.
"... Hmm? Udah pagi?" Thea membuka perlahan matanya sedikit demi sedikit dan menatap wajah Kakaknya sejenak. Setelah itu, mereka berdua bangun, dan menyiapkan makan pagi.
"Thea, sampai kapan kau mau nempel terus. Sudah tiga hari loh. Haduh.." Kata Dias yang jengkel karena tiap kali mau ke mana-mana selalu saja diikuti dengan bajunya yang terus di pegangin oleh Thea.
"Tapi.. Aku takut." Kata Thea yang masih trauma kejadian 3 hari yang lalu.
Dias merasa kasihan dengan keadaan Thea yang sekarang. Karena tiap kali bertemu dengan orang asing, dia langsung ketakutan dan bersembunyi di belakangnya. Tiap malam pun dirinya tidak bisa tidur nyenyak, karena mimpi-mimpi buruk yang dialaminya. Sehingga terpaksa Dias membolehkan dirinya untuk tidur bersamanya.
"Tok-tok-tok.." Suara ketukan pintu dari luar. Thea langsung bersembunyi di belakang Dias.
"Iya sebentar." Ucap Dias, kemudian membukakan pintu itu.
"Heyy, selamat pagi. Sudah sarapan belum?" Ucap Cyntia yang membawakan bekal untuk dimakan bersama.
"Ah, ini masih mau bikin." Ucap Dias. Sudah tidak kaget melihat Cyntia yang datang sepagi ini, karena setelah kejadian penculikan itu, dia langsung datang dan membantu pemulihan dirinya dan juga Thea.
"Nggak usah bikin, ini aku udah bawa."
Setelah itu, Dias mempersilahkan Cyntia masuk ke ruang tamu. Cyntia segera membuka bungkus tempat bekal itu, dan menatanya ke atas meja.
Dias mengambil piring dan sendok. Tidak lupa juga membawakan air putih, kemudian meletakkannya di atas meja. Setelah itu, mereka duduk bersama.
"Thea, kalau kau bergelantungan begini terus, gimana caranya Kakak makan?" Ucap Dias. Thea masih saja bergelayut di lengan kiri Dias dan menatap Cyntia dengan tidak suka.
"Hemmm.. sudah tiga hari loh aku mampir disini. Kau melihatku seakan-akan aku akan merebut Kakakmu."
"....." Thea masih memandanginya. Meskipun dengan orang asing takut, tapi entah mengapa apabila ada Cyntia, Kakaknya serasa akan direbut darinya.
"Tenang saja, aku nggak akan merebut Kakakmu kok. Makan aja yang tenang ya." Ucap Cyntia yang tersenyum sambil mengambilkan nasi dan lauk pauk di atas mangkuk Thea.
"Nih," Cyntia menyodorkan mangkuk Thea di depannya. Setelah itu Thea menerimanya dengan galak.
"Eh, anjir.."
Cyntia sedikit emosi, tapi masih bisa berusaha untuk bersabar.
"Selamat makan." Ucap Dias dan Cyntia serentak, kemudian mereka pun makan bersama.
***
Keadaan di sekitar Kerajaan Valinor sudah semakin gawat. Di berbagai penjuru dunia, sudah banyak sekali Menara Dungeon yang bermunculan, dan menara itu memproduksi berbagai macam jenis monster yang mengganggu peradaban semua ras.
Selain itu, di berbagai tempat juga banyak sekali yang mencoba melakukan pemanggilan iblis. Sesuai dengan desas-desus yang ada, bagi siapapun yang menjadi pemuja iblis, maka dirinya tidak akan diserang oleh para monster yang keluar dari dungeon. Karena itulah, banyak yang menjadi pemuja iblis dan melakukan ritual sesat seperti yang pernah terjadi di Akademi Raftel.
Karena kondisi yang demikian, guild petualang jadi kebanjiran misi di berbagai tempat. Iaros dan Iris tidak bisa pulang karena juga harus menerima banyak misi dari guild.
*Di tempat lain..
"RAAAWRR!!" Nampak harimau raksasa bewarna putih dengan api biru yang menyelimutinya sedang berusaha membebaskan diri dari jeratan es yang membekukan kakinya.
"Iaros!! Cepat selesaikan!!" Teriak Iris pada Iaros.
"Ice Prison.." Muncul balok es dari bawah, kemudian es itu membekukan seluruh tubuh harimau itu.
"Heahh!!" Iaros menebas berkali-kali Harimau yang sudah jadi es itu hingga pecah berkeping-keping.
"Plarr.."
"Ahh.. Selesai juga." Ucap Iris.
"Oke, mari kita pulang.." Balas Iaros yang berlari tergesa-gesa karena rasa khawatirnya terhadap Dias dan Thea.
__ADS_1
"Mau lari kemana? kan nanti kita diteleportasikan ke ruang harta?"
"Ah, iya. Benar juga." Balas Iaros.
***
"Jadi, menurutmu kapan Thea bisa pulih?" Tanya Dias pada Cyntia. Thea sedari tadi hanya tidur-tiduran di pangkuan Dias.
"Hmm.. mungkin 1 bulan lagi? entahlah.. kalau soal masalah psikis aku tidak menguasainya. Mungkin aku cuman bisa buatkan ramuan supaya Adikmu bisa tidur dengan tenang, atau mengurangi kepanikannya."
"Ohh, gitu."
"Tapi Dias, kau harus tau jika psikis itu sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan sekitar. Sama halnya seperti trauma yang dialaminya, itu juga disebabkan oleh pengalaman yang mengerikan yang pernah dialami oleh si penderita."
"Eng.. bentar-bentar." Dias merenung sejenak memikirkan ucapan Cyntia.
"Ohh, jadi tinggal beri saja pengalaman-pengalaman baru yang menyenangkan, jadi dia bisa melupakan traumanya. Begitu kan?"
"Eng, ya hampir seperti itu sih. Intinya sering-sering aja buat Thea jadi terhibur."
"Yaelah, tinggal bilang gitu aja repot banget. Tapi gimana caranya?"
"Yahh, kalau itu kau pikirkan sendiri ya. Aku mau buka toko dulu." Ucap Cyntia mengakhiri percakapan mereka berdua, kemudian pamit dan pergi dari sana.
"Kak, aku bosan." Ucap Thea menghadapkan wajahnya ke atas.
"Hmm.." Dias berfikir keras supaya dapat menemukan hal yang dapat dimainkan berdua.
"Kalau main sihir nggak bisa, soalnya manaku belum pulih.. Main di luar pun Thea takut sama orang asing. Hmm.." Gumamnya.
"Ah iya, gimana kalau kita memasak bersama saja?" Ucap Dias yang sudah mengetahui jika Thea sangat suka memasak.
Mendengar hal itu, Thea langsung bangkit dari pangkuan Dias dan berdiri dengan semangat.
Setelah itu, Dias mengajaknya ke dapur dan mengecek bahan-bahan yang ada di dalam almari.
"Thea, tangkap ini dan cuci." Dias melempar bahan-bahan makanan itu ke Thea dan dia pun langsung mencucinya. Setelah dicuci, Thea meletakkannya di atas Meja.
"Okee, sekarang waktunya mencacah.. Yuhu~" Kata Dias sambil mengeluarkan pisau dapurnya.
"...." Thea menatap pisau dapur itu lekat-lekat. Tiba-tiba saja mengucur keringat dingin di dahinya. Setelah itu dia merunduk dengan ketakutan dan menutup telinganya dengan kedua telinganya.
Thea teringat kembali pemandangan mengerikan para elf yang di tawan dengan darah yang mengucur dari tangannya akibat sayatan dari pisau yang dibawa oleh Pak Sata. Selain itu, ingatan mengerikan ketika dirinya disiksa pun juga ikut mencuat seketika.
"Aaaaa.. Aaaaa!!" Thea menggeram tidak jelas dengan ekspresi sangat ketakutan. Tangannya mencengkeram kuat rambutnya yang mulai berantakan itu dengan nafas yang tidak beraturan.
Melihat hal itu, Dias langsung membuang pisaunya jauh-jauh dan memeluk Thea untuk menenangkannya.
"Maafkan aku, Thea. Aku tidak sengaja. Maaf.." Ucap Dias sambil menggertakkan giginya karena marah terhadap dirinya sendiri.
"Bodohnya aku.." Ucap Dias dalam hatinya yang pilu dan tetap memeluk Thea hingga dirinya tenang.
Setelah cukup tenang, Dias segera mengambilkan minum untuk Thea dan menidurkannya di atas kasur dengan obat penenang.
***
*Sore harinya..
"Tok-tok-tok.." Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Iya sebentar." Ucap Dias, kemudian segera membukakan pintu.
"Permisi Kak.. Thea nya ada?" Ucap salah satu dari 3 gadis yang mampir di rumahnya.
__ADS_1
"Kalian siapa? Temannya Thea?" Ucap Dias.
"Iya Kak."
Tiba-tiba, Thea memunculkan kepalanya dari balik punggung Dias.
"Theaa!!" Teriak salah satu dari mereka yang terlihat bahagia karena melihat Thea yang baik-baik saja. Mereka semua sangat khawatir setelah mendengar kejadian pemanggilan iblis dimana Thea menjadi tumbal dalam pemanggilan tersebut.
Thea sangat gembira ketika melihat teman-temannya datang. Thea tidak lagi bersembunyi di balik punggung Dias dan menyambut mereka. Setelah itu, Dias mempersilahkan mereka masuk dan duduk di ruang tamu.
"Theaa, aku bawakan banyak jajanan sama minuman nih, kau suka susu hangat kan?" Salah satu temannya yang bernama Naura itu mengeluarkan semua isi yang ada di tasnya yang ternyata semuanya adalah makanan-makanan ringan dan minuman susu berperisa anggur.
"Hih, jadi ini alasannya kau selalu meminjam bukuku?" Ucap Azka.
"Hilih, gitu aja ngomel-ngomel. Aku tadi yang cuman bawa satu buku ke kelas aja biasa aja." Ungkap Tasya, yang kemudian mengeluarkan papan permainan dari tasnya.
"Aduh, kalian berdua ini niat sekolah atau nggak sih. Untung aja tadi sama sekali tidak ada razia." Balas Azka yang menepuk jidat.
Setelah itu, mereka berempat bermain bersama dan sambil bercanda ria. Tidak disangka, jika Thea bisa tersenyum seperti itu ketika ada teman-temannya yang datang ke rumahnya. Thea terlihat sangat menikmati sekali ketika bermain game bersama dengan teman-temannya.
Tidak terasa langit mulai menggelap. Semua teman Thea berpamitan dan pulang kembali ke rumahnya masing-masing.
"Sampai jumpa lagi, Thea.." Ucap Naura sambil melambaikan tangannya. Thea membalas lambaian tangannya tersebut.
"Jangan lupa datang lagi," Ucap Dias.
Tiba-tiba saja Dias teringat perkataan Cyntia mengenai cara menyembuhkan trauma Thea.
"Eng, ya hampir seperti itu sih. Intinya sering-sering aja buat Thea jadi terhibur." Ungkapan Cyntia yang terlintas jelas dalam benak Dias. Karena mengingat hal itu, akhirnya Dias segera berlari dan menghentikan langkah mereka.
"Ada apa Kak?" Mereka terkejut melihat lelaki itu kehabisan nafas karena mengejar mereka. Ini disebabkan oleh Dias yang mananya benar-benar habis.
"Hosh, hosh.. Itu, kalau bisa, kalian jenguk Thea setiap hari."
"Engg, kalau itu sih." Ungkap Naura yang ragu-ragu menerima permintaan itu.
"Tenang saja, kalian ingin uang saku? Belajar sihir langsung dengan ahlinya? atau apapun itu? Pasti akan aku kabulkan. Pokoknya kalian harus menjenguk Thea setiap hari. Bagaimana?" Tawar Dias kepada mereka.
"Hooh, masalahnya uang sakuku itu cukup tinggi loh Kak." Tantang Naura kepada Dias.
"Emang berapa?"
"200 Coin."
"I-iya deh." Balas Dias sedikit ragu-ragu. Akhirnya, mereka pun sepakat untuk datang ke rumah Thea setiap hari.
"Ah iya kak, kalau aku ajak teman-teman kemari buat menjenguk Thea gimana kak? Boleh kah?" Tanya Naura.
"Tidak bisa, dia masih trauma dengan orang asing. Dia akan ketakutan ketika bertemu dengan orang-orang yang tidak dekat dengannya." Balas Dias.
Mereka semua mengangguk paham, dan segera pergi pulang ke rumahnya masing-masing.
"Anjir lah, Bisa-bisanya aku dipalak sama adik kelasku sendiri." Gumam Dias sambil berjalan pulang ke rumah.
*Sementara itu, di Kerajaan Farnesse..
"Tuan, mereka berdua mati ketika prosesi pemanggilan Raja Iblis." Ucap Lelaki berambut putih tadi sambil menunduk memberikan tanda hormat pada Raja.
"Mati? Bagaimana bisa?" Balas Raja Julian yang terkejut. Padahal dua orang yang diutus menyusup ke Akademi Raftel sudah termasuk Profesional dalam menjalankan tugasnya.
"Mereka berdua dibunuh oleh Bocah berambut merah yang ahli menggunakan sihir api. Dia juga dibantu oleh Putri Lily, anak dari Raja Obeyron dari Kerajaan Rifendell."
"Bocah api? Oh.. ternyata dia telah kembali. Hahahaha. Setelah menunggu selama 5 tahun, akhirnya aku punya kesempatan untuk menghabisi keturunan Raja Vyros. Dengan menggunakan tanganku sendiri! Hahahaha." Balas Raja Julian sambil tertawa jahat.
__ADS_1