Adias Floryn : Get Back The Kingdom

Adias Floryn : Get Back The Kingdom
Bagian 33 : Tetangga, Blaire dan Azka


__ADS_3

Seperti yang terjadi sebelumnya, jika menara dungeon telah muncul di tengah-tengah sekolah Akademi Raftel. Bahkan tidak hanya di akademi Raftel, melainkan di berbagai tempat di seluruh penjuru bumi. Benua bagian Barat, Timur, Utara atau pun Selatan. Tempat satu-satunya yang tidak bisa ditumbuhi oleh Menara Dungeon hanyalah Kerajaan Rifendell terus ke Barat, yakni tempat tinggal elf yang jauh dari sentuhan Para Iblis. 


*Kerajaan Farnesse


“Lapor!! Menara dungeon yang berada di tengah-tengah Akademi Raftel telah dibangkitkan.” ucap seseorang tentara yang memakai baju zirah kepada seseorang yang duduk di singgahsananya. Dia adalah Julian yang saat ini menjadi Raja Farnesse yang tirani. Sedangkan disebelahnya, tedapat pria berkacamata satu yang bernama Tobias sedang berdiri.


“Udah bangkit? Hmm.. siapa yang membangkitkan? Bukannya Dara Mughti dan Ida gagal melakukannya?” ucap Tobias sambil menatap prajurit itu dengan heran. 


“Siap Raja!! Dia adalah Krakera. Salah satu Prajurit milik Raja Iblis yang saat ini merasuki tubuh anak SMA.”


“Krakera? Ohh.. Si gurita itu.. Iya dah.. Aku sudah pernah baca di buku.” Balas Tobias dengan santai.


“Lapor!!” Prajurit lain datang dengan membawakan laporannya. “Beberapa orang yang kita kirim sudah sampai di tujuan mereka masing-masing. Proses penyusupan berjalan dengan lancar, Tuan Toby.” ucap Prajurit kemudian menyerahkan setumpuk kertas berukuran kamus bahasa inggris. “Ini tuan untuk rincian laporannya.”


“Hmm, bagus-bagus..” Tobias menerimanya dengan senang hati. 


Kerajaan Farnesse telah menyusupkan pasukannya yang memiliki kemampuan lebih untuk membangkitkan menara dungeon dengan lebih cepat. Ada sekitar 100 orang yang sudah tersebar dengan terbagi menjadi 24 kelompok. Dari sinilah, kekacauan semakin parah terjadi di semua wilayah. Kemampuan lebih itu didapatkan setelah berkontrak dengan Iblis, sehingga mereka memiliki kemampuan yang lebih kuat daripada sihir biasa.


“Bagaimana, Raja? Bukankah ini waktu yang pas untuk menyatakan peperangan dengan Kerajaan Valinor?” Tawar Tobias kepada Julian.


“Hmm.. Bagaimana dengan proses kebangkitan Raja Iblis?” Tanya Julian pada Tobias.


“Mungkin sudah sekitar 50 persen. Kurang 50 persen lagi, kita dapat membangkitkannya dan berkontrak dengannya. Kurang sekitar 3 bulan lagi, mungkin Raja Iblis sudah bisa dibangkitkan.”


“Hmm.. ku rasa jangan dulu. Meskipun pasukan kita sudah banyak, dan sudah memperoleh kekuatan dari sang Iblis, tetap saja menyerang Kerajaan Valinor terlalu gegabah. Terutama ada Guild Valkrie disana, dan mereka juga berdampingan dengan Kerajaan Rifendell, tempat tinggalnya para Elf.” ucap Julian yang sudah sangat berpengalaman di medan perang. 


“Hmm.. baiklah, kalau begitu, kita lakukan rencana yang sebelumnya saja.” ucap Tobias.


“Panggilkan Ezel!” Perintah Tobias pada Prajurit yang sedang bersimpuh di depannya.


“Baik, Tuan!” setelah itu, prajurit itu pergi dan memanggil orang yang dimaksud. Tidak lama kemudian orang itu datang.


“Ampun Paduka Raja, ada apa Paduka memanggil hamba?” Ungkap perempuan itu berambut coklat dengan mata bewarna hitam.


“Lakukan rencana itu sekarang juga!” perintah Tobias yang kemudian di balas dengan anggukan.  


***


“Haahh!! Hahh!! Gambaran apa ini!? Masa depan.. Masa depan..” ucap Griamore yang tiba-tiba bangun tidur dengan nafas yang terengah-engah. Dia memiliki kemampuan melihat masa depan yang sangat acak. 


“Ada apa, Tuan Griamore?” Tanya Sisca yang kebetulan mendengar teriakan Griamore dari luar, kemudian dia masuk ke dalam.


“Iblis akan menghancurkan bumi dengan menyesatkan manusia secara keseluruhan. Ini benar-benar bencana..” 


“Apa yang Tuan lihat?” Tanyanya lagi.


“Pembantaian, penghancuran, penderitaan, dan kesedihan dilalui oleh semua manusia yang ada di muka bumi ini. Peperangan yang melibatkan semua ras.. Harus dihentikan!! Benar-benar harus dihentikan!! Sebelum semua kehidupan di muka bumi ini musnah!!” Ungkap lagi Griamore dengan wajah yang diselimuti rasa takut.


Sisca mendengar berita mengerikan itu hingga membuatnya berkeringat dingin. Dia menelan ludahnya kemudian berkata : “Apakah tidak ada kesempatan untuk kita semua?”


“Ada.. Tentunya masih ada kesempatan. Namun untuk menciptakan kesempatan itu, kita harus benar-benar mempertaruhkan nyawa kita demi mencegah kepunahan manusia.” ungkapnya sekali lagi. 


“Adias Floryn, aku melihatnya.. Dia sungguh terang  dalam mimpi itu. Mungkin dia yang akan menjadi kunci utama dalam Penghentian invasi Iblis di masa yang akan datang.”


Setelah itu, Griamore segera berdiri dan memakai jasnya. “Kumpulkan semua petualang ke Aula Guild sekarang juga!!”


“Tapi Tuan, hari ini tidak ada orang sama sekali di guild..”


“Hmm? Bagaimana bisa?”


“Iya, sebagian besar mereka sudah berangkat untuk menjalankan misi, baik di dalam benua ini atau pun di luar benua. Namun ada juga sebagian yang masih libur.”


“Ah iya, sampai lupa..” Griamore kembali duduk dan memijat kepalanya yang pening. 


“Ahhhh.. Ya sudahlah, panggil saja orang-orang guild terdekat di sekitar sini.” 


“Baik, Tuan.. Kalau begitu saya permisi dulu,” ucap Sisca kemudian pergi meninggalkan dirinya sendirian.

__ADS_1


***


“Dias, Thea, apa hari ini kalian menganggur?” Tanya Iaros kepada mereka berdua yang sedang menyantap nasi goreng di hadapannya. 


“Enggak juga, hari ini Aku kedapatan tugas take home, harus dikumpulkan hari ini juga.” Ucap Dias.


“Ohh, bagus.. Thea bagaimana?”


“Aku nantinya ada kerja kelompok sih. Emang kenapa, Paman?” 


“Itu, genting kita bocor. Nanti bantu tambal ya.”


“Ah, baik paman.” 


“Memang dimana bagian bocornya Paman?” Tanya Dias. 


“Plungg..” Tiba-tiba, sebuah benda asing jatuh ke dalam mangkuk sup milik Dias.


“Tepat di atasmu, hahahahahaha..” 


“Ahhh!! Paman!! kenapa tidak beritahu aku dulu sih, sial!” Dias berdiri dan memegang kepalanya yang pusing.


“Ya aku kan juga nggak tahu lokasi pastinya. Nggak apa-apa, Dias. Biasanya itu tanda keberuntungan loh.”


“Mana ada? Yang ada malah tanda kesialan yang muncul, huh.”


“Heh! Pagi-pagi kok berisik banget? gimana kalau ganggu tetangga?” Tiba-tiba saja Iris muncul dari balik tirai sambil menyikat giginya.


“Lah, kita kan nggak punya tetangga?” ucap Iaros yang bingung dengan perkataan Istrinya itu.


“Ada dong, lihat keluar sana!” Setelah Iris berteriak, dia kembali masuk ke dalam kamar mandi dan menyikat giginya.


“Iya kah?” gumam Iaros, kemudian keluar untuk memastikan. Dias dan Thea yang penasaran pun juga ikut memastikan.


“Mana? Apa orang yang berdiri di tanah kosong itu? Mana rumahnya?” Ucap Iaros yang memperhatikan seorang lelaki berumur 40-an sedang mengamati tanah kosong itu dengan serius.


“Apa dia  miskin?” ucap Thea dengan polosnya.


“Tunggu sebentar, sepertinya dia mengucapkan sesuatu?” ucap Dias yang memperhatikan gerak bibir dari pria itu. 


Benar saja, Pria itu sedang membacakan mantra. Kemudian dia mengarahkan tangannya ke depan dan membuka telapak tangannya. Setelah itu, muncul cahaya terang yang melingkar di tanah.


“Drrttt.. Drrtttt…” Tanah itu bergetar, dan tiba-tiba muncul rumah yang berlahan naik dari dalam tanah. 


“Whattt!?” Iaros melongo tidak percaya kepada pria itu. Pria itu tidak perlu susah-susah mengeluarkan uang sebegitu banyaknya hanya untuk membangun rumah, karena dia dapat membuat rumah instan dengan sihirnya.


Rumah itu terbuat dari tanah. Baik pintu, tembok, atap, jendela, dan semuanya. Bahkan, arsitekturnya juga lumayan bagus, baik dari segi keindahan atau pun ergonomi. 


Lelaki itu terlihat puas setelah menciptakan mahakaryanya, kemudian menoleh ke arah Iaros.


“Hai tetangga!! Hahahaha.. Apa kau melihat aku membangun rumah ini barusan!! Hahahaha!! Keren kan? Hahahaha,” ucap tetangga itu dengan berteriak kencang.


“Iya broh!! Hahahaha!! Keren sekali sihir kamu.. Hahahaha!! Selamat pagi tetangga!! Hahahaha!!” Balas Iaros yang juga berteriak sambil tertawa-tawa nggak jelas.


“Sebentar, emangnya dengan jarak rumah 20 meter seperti ini bisa dikatakan sebagai tetangga?” ucap Dias yang tidak habis pikir. 


“Hahahaha!! Gimana kalau Anda mampir dulu ke rumah saya sebentar? Hahahaha!!”


“Nggak perlu broh!! Hahahaha!! takutnya nanti Akunya yang bau tanah setelah masuk ke rumahmu!! Hahahahaha!!”


Si tetangga itu sedikit tersinggung. “Hahahahaha!! Bukannya itu karena usia Anda ya, sepertinya usia Anda yang membuat diri Anda berbau seperti tanah. Hahahahaha!!”


“Hahahahaha!! Sepertinya juga tidak beda jauh seperti Anda, Hahahahaha.” sindir Iaros.


Kemudian, mereka berdua tertawa bersama-sama. “HAHAHAHAHA!!”


Thea hanya bingung sendiri karena keduanya sama-sama tertawa tidak jelas. “Kakak, kalau Kakak jadi bapak-bapak apa nanti Kakak juga menjadi seperti mereka?”

__ADS_1


Dias hanya diam sambil memasang emot batu.


“Ayah!! Apa rumah kita sudah jadi?” teriak gadis kecil yang menyusul ayahnya dengan berlari. Dia memiliki rambut hitam dan mata coklat dengan kulit vanilla. 


“Hmm? Bukannya dia adalah gadis yang menerobos masuk ke dalam lukisan kemarin?” gumam Dias yang juga didengarkan oleh Thea.


“Hm? Siapa mereka Yah?” tanya gadis itu pada ayahnya.


“Oh, mereka tetangga kita. Tapi kita masih belum perkenalan kok.”


“Ohh, baiklah.” Setelah itu, gadis itu memperkenalkan diri dengan sopan. “Hallo, namaku Blaire Vaness, salam kenal.” ucap Blaire itu sambil tersenyum lembut.


“Kalau saya Rein Balagor, panggil saja Rein biar gampang. Salam kenal ya,” lanjut pria umur 40 an itu sambil membungkuk sedikit sebagai anda hormat.


Akhirnya, mereka pun saling memperkenalkan diri. Namun, setelah mendengar nama Iaros, Rein pun terkejut. Pasalnya dialah yang sudah membebaskan desa Zoldyk dari monster-monster biadap yang membunuh warga di desa itu. Dan desa itu adalah tanah kelahirannya.


“Tuan Iaros!! Mari datang ke rumahku. Aku harus berterima kasih kepada orang yang sudah menyelamatkan tanah kelahiranku..” ucapnya sambil mempersilahkan.


“Hmmm.. Oke deh.” Iaros menyeujuinya dan berjalan menuju ke rumah lelaki itu bersama dengan Thea dan Dias..


“Lah, kok sepi? Kemana mereka semua?” Ucap Iris yang bermonolog sendirian di dalam rumah. Kemudian dia mengintip ke luar jendela. “Oalah, baguslah kalau mereka bisa menyapa tetangga.”


Tidak lama kemudian, mereka semua masuk ke dalam rumah yang baru dibuat itu. 


“Tuh kan, masih bau tanah,” ucap Iaros sambil mengamati ke arah sekitar..


“Hilih, tadi kau menyuruh Thea untuk berkata sopan, ternyata kau sendiri yang tidak sopan?” ucap Dias.


“Kasihan sekali, Pak Rein,” ucap Thea yang masih beranggapan jika Rein adalah kaum tidak berduit.


“Kalian ini ngomongin apa toh? Yah, pokoknya kalian adalah tamu, maka sebagai tuan rumah juga harus menjamu tamunya sebaik mungkin, bener nggak?” ucap Rein dengan semangat.


“Yaaa,” ucap mereka bertiga serentak. Kemudian mereka pun duduk di atas kursi yang terbuat dari tanah.


Tidak lama kemudian, Blaire membawakan buah-buahan dan beberapa kue, kemudian dia letakkan di atas meja. 


“Ah iya, jangan lupa masakin ya, bahan-bahannya sebentar lagi akan datang,” ucap lelaki itu.


“Permisi!” terdengar suara perempuan dari balik pintu. Kemudian Rein langsung membuka pintu itu.


“Ahh sayangkuu, ini bahan-bahan makanan yang kamu minta..” ucap Istri Rein yang dipersilahkan maksud oleh Rein itu.


“Ahh, terima kasih sayangku!!” 


“Hmm.. Kenapa Iris jarang sekali berkata sayang padaku?” gumam Iaros yang iri dengan kehidupan keluarga harmonis mereka. “Nggak apa-apa deh, yang penting cantik.”


Setelah itu, Blaire dan wanita itu segera bergegas menuju dapur untuk memasakkan sesuatu kepada mereka. 


“Bolehkah aku membantu?” Ucap Thea pada Rein.


“Oya silahkan saja,” balasnya mempersilahkan. Setelah itu, Thea segera bergegas menjemput mereka berdua.


Akhirnya, di ruang tamu itu tersisa mereka bertiga. Dias terjebak diantara perbincangan Bapak-Bapak yang membosankan dan menjenuhkan. Meskipun kedua Bapak-bapak itu terlihat menikmati perbincangan itu sambil tertawa haha-hihi, dia sama sekali tidak paham dengan perbincangan mereka. 


Setelah beberapa saat, Dias sudah mulai bosan dan memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka berdua. 


“Mau kemana, Dias?” Tanya Iaros.


“Mau ikut bantu masak.” Ucap Dias sekenanya. Kemudian kembali berjalan menuju dapur. 


“Kakak!” Sambut Thea kepada Kakaknya yang juga dibalas dengan senyuman. Thea terlihat sangat senang sekali memasak bersama mereka. 


“Wah, kelihatan sangat menyenangkan disini. Oh iya, kalian masak dimana ya?” Tanya Dias yang tidak melihat kompor sama sekali. 


“Hmm? Kau tidak lihat kah? Disini..” Ucap Rhea yang merupakan istri dari Rein. Dia menunjuk ke arah tungku yang terbuat dari tanah.


“Ohh, begitu.” Ucap Dias sambil mengamati keseluruhan dapur. Memang bangunan rumah ini sangat unik sekali, karena semuanya terbuat dari tanah. Meski begitu, cahaya terang masih bisa masuk karena ada jendela dan atap yang terbuka.

__ADS_1


Kembali pada perbincangan Iaros dan Rein. Mereka berdua tiba-tiba menjadi serius dalam berbincang.


“Aku mohon, selamatkanlah Azka!” Pinta Rein pada Iaros.


__ADS_2