Adias Floryn : Get Back The Kingdom

Adias Floryn : Get Back The Kingdom
Bagian 23 : Pergi Menjenguk


__ADS_3

"Fiona, ini aku bawakan sarapan pagi. Boleh aku masuk?" Ucap Lily di depan pintu kamar Fiona. Namun sama sekali tidak ada jawaban darinya. 


"Fiona, aku masuk ya?" Kata Lily, kemudian mendorong pintu kamar tersebut. 


"Cklek.." Ketika terbuka, keadaan di dalam kamar sangatlah suram. Semua tirai yang menutupi jendela kamar tertutup rapat. Hanya ada seorang gadis menyedihkan yang terkungkung dalam sepi dan terpaku melihat ke depan dengan pandangan kosong. 


"Fiona.." Gumam Lily dengan wajah muram. Setelah itu, dia segera merubah ekspresinya menjadi lebih bersemangat dan positif. 


"Pagi yang indah!! harus diawali dengan senyuman yang cerah!!" Ucapnya. 


Lily segera meletakkan sarapan pagi milik Fiona diatas dipan, dan membuka tirai jendela, sehingga tempat itu menjadi terang terkena mentari yang menyilaukan. 


Setelah itu, Lily pergi ke kamar mandi dan mengisi bak mandi milik Fiona dengan air hangat. Tidak hanya sampai disitu, dia juga membersihkan dan menata keseluruhan kamar milik Fiona sambil bernyanyi-nyanyi.


"Fiona.. Aku suapin ya. Ini.. Aaaaa.." Lily mengarahkan sendok yang penuh dengan bubur itu ke bibir Adiknya. Gadis itu secara perlahan membuka mulutnya, dan menelan bubur itu dengan pandangan kosong. Lily menyuapinya sampai habis tak bersisa, kemudian meminumkannya dengan segelas air putih. 


"Oke.. Makan sudah, jadi sekarang tinggal mandi." Berikutnya, Lily membawa adiknya ke kamar mandi yang sudah dipersiapkan. Lily segera membuka baju adiknya dan membilas kulit mulus adiknya itu secara perlahan. Meskipun Fiona terlihat tidak menikmatinya, lebih tepatnya tidak diketahui apa yang sebenarnya dia rasakan sekarang, namun Lily tetap berusaha tegar dengan terus tersenyum.


"Akhirnya selesai juga. Kakak berangkat dulu ya.." Ucap Lily. Untung saja dirinya sudah mempersiapkan semua kebutuhannya untuk berangkat ke sekolah, sehingga tidak perlu repot-repot untuk menata buku, sarapan, atau pun mandi. Lily segera keluar dari kamar Fiona. 


"Selamat pagi, Tuan Putri.." Sambut Halvar kepada Lily yang berjalan melintasinya yang bermuka muram. Halvar kemudian membuntuti Lily dari belakang. 


"Halvar, apakah keputusan yang tepat untuk tetap mempertahankan sekolah ini? Apakah Para elf masih bisa tenang saat bersekolah di sekolah ini setelah kejadian kemarin?" Tanya Lily dengan ekspresi gelisah.


"Tuan Putri, Akademi Raftel telah menjadi simbol perdamaian antara ras elf dengan ras manusia. Apabila kita merusaknya, yang terjadi adalah peperangan antar ras yang menghabiskan setengah populasi di dunia ini seperti yang terjadi seratus tahun yang lalu." Ungkap Halvar. 


Lily masih kurang puas dengan jawaban Halvar. Sebelumnya, Raja Obeyron, Ayah dari Lily memintanya untuk mengundang Dias ke istana Kerajaan untuk makan malam bersama. Sang Raja ingin memberikan hadiah spesial karena telah menyelamatkan salah satu Putrinya yang dicintainya. 


Tapi setelah itu, Lily tidak sengaja mendengar Sang Raja yang sedang berdiskusi dengan penasihat Raja, bahwa sudah banyak rakyat elf yang tidak Terima setelah kejadian tersebut. 


Massa banyak yang protes, jika sekarang Akademi Raftel sudah tidak bisa lagi dijadikan tempat yang aman untuk belajar bersama dengan ras manusia. Apalagi ketika mendengar berita bahwa Ras Manusia yang bekerja sama dengan para Iblis. Kepercayaan mereka terhadap ras manusia semakin luntur. Lily sangat penasaran keputusan yang akan diambil oleh ayahnya itu. 


Setelah itu, mereka segera memasuki kereta kuda miliknya dan berangkat ke Akademi Raftel. 


****


Di Akademi, tepatnya di kelas 1A menjadi riuh karena tidak adanya keberadaan Thea disana. Sudah 3 hari tidak ada kabar setelah kejadian mengerikan itu di sekolah. Tidak hanya itu, guru-guru pun juga bertanya-tanya mengenai keadaan Thea yang sudah tidak masuk selama ini sejak kejadian kemarin. 


"Naura, kamu kemarin menjenguk ke rumah Thea kan? Bagaimana kondisinya?" Tanya ketua kelas yang bernama Sarah kepadanya. 


"Hmm, sepertinya saat bermain bersama dengan kita dia terlihat sehat-sehat saja sih,  cuman.."


"Cuman apa?"


"Entahlah, dia terlihat lebih polos seperti biasanya. Caranya tersenyum, caranya berbicara, perilakunya hampir sama seperti anak kecil berusia 8 tahun yang masih bermain boneka-bonekaan."

__ADS_1


"Ohh, gitu. Yah, dia sejak dulu emang anak yang polos kan? Kalau sudah sehat begitu, kita harus menjenguk Thea. Bener nggak??"


"Ehh, jangan.. Kakaknya nggak ngebolehin."


"Hmm? emang kenapa?"


"Katanya Thea apabila bertemu dengan orang-orang yang tidak dekat dengannya, Dia akan ketakutan."


"Oh.. pasti trauma setelah kejadian itu." Balasnya dengan ekspresi sedih. Semua orang tahu kejadian yang menghebohkan itu dan sudah tersebar ke mana-mana. 


Setelah kejadian penyelamatan Thea kemarin, semua media menyoroti Akademi Raftel yang terlihat sedang tidak baik-baik saja. Berita tentang pemanggilan iblis di Akademi menjadi headline di koran-koran setempat. Tentunya hal ini akan berdampak buruk bagi masa depan Akademi. 


"Kringg, Kringg.." Bel masuk telah berbunyi dan semua siswa segera memasuki kelasnya masing-masing.


*Ditempat lain..


"Sstt.. Tuan Putri.. kau tidak ingin menjenguk pangeranmu kah?" Canda Tedy yang duduk sambil memainkan pulpennya di atas jarinya yang lihai.


"Hmm? apa maksudmu?" Tanya Lily yang bingung dengan ucapannya Tedy. Lily tetap berfokus mengerjakan soal yang sudah diberikan oleh gurunya.


"Aku nanti mau ke rumah Dias sih.. Kalau mau bareng, ayo kesana barengan." Tawar Tedy. 


"Hmm.." Lily menghiraukan ucapan Tedy. 


"Dukk.." Halvar melemparkan penghapus ke kepala Tedy. 


Sepulang sekolah, akhirnya Lily memutuskan untuk pergi menjenguk Thea dan Dias. Dan ketika di jalan, arah yang dilalui Tedy dan Lily kebetulan sama.


"Permisi!! Paket!!" Teriak Tedy, kemudian melemparkan tasnya ke dalam kereta kuda yang dinaiki oleh Halvar dan Lily. Lily dan Halvar terkejut saat tas milik Tedy masuk melalui jendela kereta. 


"Ahh, begini kan jadi nggak pegal." Lanjut Tedy, kemudian mengayuh sepedanya dengan kencang.


"Woyy, kurang ajar!!" Halvar marah-marah dan menengok Tedy keluar jendela. Tapi Tedy sudah terlalu cepat untuk di kejar. Mereka terpaksa membiarkan tas milik Tedy dibawa oleh mereka. 


"Tuan Putri, bolehkah aku membuangnya."


"Biarkan saja." Balas Lily. 


***


"Tok-tok-tok.." Tedy ketuk pintu Tedy.


"Cklek…" Dias membukakan pintu dan terkejut melihat Tedy yang muncul tiba-tiba. 


"Hadeh, ngapain kau kesini? Adikku masih pemulihan." Ucap Dias malas.

__ADS_1


"Lah, harusnya kau senang karena ada seseorang yang rela menggunakan waktunya untuk menengok keadaanmu." Balas Tedy yang heran dengan jawaban Dias. 


"Itu, siapa yang lagi ada di dalam?" Tanya Tedy mendongakkan kepalanya agar dapat melihat keadaan di dalam rumah Dias. Di dalam terlihat ramai, yang terdiri dari Thea dan 3 orang yang lainnya yang sepertinya teman-teman Thea. 


"Haah.." Dias menghela nafas dalam-dalam, kemudian keluar rumah. Dias lebih memilih mengobrol di teras rumah daripada membiarkan Thea ketakutan melihat Tedy. Dias segera menutup pintunya dan mengajak Tedy duduk bersama di gazebo dekat rumah. 


“Kenapa kau tidak membolehkanku masuk? Aku kan juga mau tahu kondisi Thea..” Tanya Tedy.


“Haduh, kau tidak baca di koran kah? Adikku mengalami trauma setelah kejadian kemarin. Setiap kali bertemu dengan orang yang tidak dikenalnya, atau bertemu dengan orang yang tidak dekat dengannya, pasti dia akan ketakutan.” Jelas Dias.


“Ohh, begitu..” Tedy pasrah sambil melihat langit yang sudah menguning.


Tidak lama kemudian, kereta kuda bewarna putih berhenti tepat di depan rumah Dias. Muncul seorang Pria berambut putih bermata ungu keluar dari kereta itu dan membukakan pintu kereta disisi yang lain. Setelah itu, muncul wanita cantik berambut pirang bermata hijau yang tidak lain adalah Lily Obeyron. Dia turun dari kereta kuda dengan anggun dan berjalan mendatangi Dias. Berbeda dengan Halvar yang berjalan cepat seperti orang yang terburu-buru.


“Bruakk!!” Halvar melempar tas milik Tedy dengan keras ke arahnya. 


“Heii.. santai dongg..” Ucap Tedy.


“Sialan kauu, berani-beraninya berperilaku tidak sopan dengan Tuan Putri?”


“Woah.. Aku cuman menguji kesabaran kalian saja. Sebagai anggota keluarga kerajaan harusnya bisa menjaga sikap kan? Makanya, aku ingin tahu saja bagaimana reaksi kalian kalau dijahilin seperti itu. Yang jelas, untuk kau, kau gagal. Beda dengan Tuan Putri yang tetap tenang dan anggun.” Jelas Tedy.


“Hoh, kau menguji aku ya? Apa kau berkenan untuk menguji kemampuanku juga?” Ucap Halvar yang sudah tidak sabar menghajar Tedy.


"Hahaha, jangan pandang aku dengan sebelah mata ya.. Meskipun Aku terlihat seperti karakter figuran yang bertugas sebagai penjelas karakter utama, tapi aku sengaja demikian agar tidak mencolok loh.." Balas Tedy dengan sombong. 


“Kalian berdua, bisa tenang sedikit?” Lily mulai angkat bicara sambil tersenyum lebar. Entah mengapa mereka berdua malah merinding melihatnya dan menghentikan pertengkaran kecil mereka. 


“Baiklah, ehm.. bagaimana kabarmu, Dias? Apakah kau dan adikmu baik-baik saja?”


“Tidak terlalu juga. Adikku harus menjalani rehabilitasi terlebih dahulu sebelum bisa kembali masuk sekolah. Mungkin satu bulan lagi dirinya sudah bisa masuk ke sekolah lagi.”


“Oh, begitu..” Balas Lily yang turut prihatin dengannya. Tapi hal itu tidak beda jauh dengan apa yang dialami Lily sekarang. 


Tidak lama kemudian, dua orang pengawal Lily membawakan 2 tas yang berisikan buah-buahan dan beberapa kue. Kedua pengawal itu meletakkannya tepat di depan Dias. 


"Wah, apa ini?"


"Ya, kalau menjenguk pasti harus bawa kue dan buah-buahan kan?" Ucap Lily. 


"Ah, iya Terima kasih. Tapi ya tidak perlu sebanyak ini sih," Balas Dias yang keheranan. 


Tidak lama setelah itu, Teman-teman Thea pulang ke rumah karena harus ikut les tambahan. Mereka berpamitan kepada Thea, dan berpamitan dari jarak jauh kepada Dias. 


"Ahh, karena mereka sudah pulang, ini waktunya aku yang harus menjaga Thea. Terima kasih ya kalian repot-repot sudah datang." Ucap Dias sambil membawa dua bungkus yang berisi buah-buahan dan kue itu ke dalam rumah. 

__ADS_1


"Tunggu.." Sela Lily menghentikan langkah Dias. Dias menoleh ke arahnya.


"Kau pasti lapar kan? Mau aku masakin sesuatu?" Tawar Lily. 


__ADS_2