Adias Floryn : Get Back The Kingdom

Adias Floryn : Get Back The Kingdom
Bagian 15 : Mencari Pelaku


__ADS_3

"Ahh, memangnya aku masih ada waktu untuk melakukan ini?" Ucap Dias yang sedang memasukkan buku ke dalam tas selempangnya. Setelah itu segera sarapan pagi sendirian, karena dirinya hampir terlambat masuk ke Akademi. Dia cukup mengambil roti dan meminum air satu gelas.


"Aish, kenapa Thea tidak membangunkanku tadi pagi?" Ucap Dias. Dia tidak sadar jika sebenarnya jam setengah enam pagi Thea sudah membangunkannya. Dia malah mendengkur keras dan tidak bergerak sama sekali saat Thea menggerak-gerakkan tubuh Dias dan memanggil-manggil namanya. 


Dias terpaksa berlari menuju ke akademi dengan terburu-buru.


Saat akan sampai di pintu gerbang, dia melihat pintu gerbang itu segera ditutup oleh satpam penjaga sekolah. Dias mempercepat larinya.


"Ah sial, apakah aku harus menggunakan sihir?" Ucap Dias. Namun jika dipikir kembali, selama dia berlari menuju ke sekolah tidak ada sama sekali yang menggunakan sihirnya untuk bisa sampai ke sekolah dengan tepat waktu. Pasti ada alasan lain yang melatar belakanginya.


"Wusshh.." Tiba-tiba terdapat seorang laki-laki yang berlari dengan sangat cepat seperti angin dan melewati Dias dengan mudahnya.


Melihat hal itu, Dias tidak ingin kalah dan mempercepat langkahnya dengan membuat sihir ledakan di bawah kakinya dan meluncur melewati pintu gerbang sekolah.


"Duarr!!" Dias terbang dengan sangat cepat melesat dan berhasil melewati pintu gerbang itu dengan mudah, bersama dengan lelaki angin itu. 


"Yeahh!!" Teriak Dias kegirangan. 


"Priiitttt—" Satpam yang sudah menutup gerbang pintu depan itu membunyikan peluitnya, tanda jika ada yang melanggar aturan. Berikutnya, dia mendekati Dias dan lelaki angin itu.


"Heh, siapa yang membolehkan kalian menggunakan sihir ditempat umum?" Kata satpam. Dias dan lelaki tadi yang tidak tahu apa-apa hanya kebingungan.


"Heh, diajak ngomong malah melongo! Kalian berdua, push up 30 kali!" Kata Satpam yang di baju tertulis nama "Horus" di dada sebelah kanannya. Terpaksa Dias dan Lelaki angin itu menuruti kata si Satpam dengan pasrah. 


"Eh tunggu sebentar, hmm.. kalian anak baru? Iya sudah, 20 kali saja." Kata Pak Horus memberikan toleransi pada mereka. Selama mereka Push Up, Pak Horus juga sekalian berceramah menjelaskan tata tertib di Akademi ini. 


"Hadeh, harusnya kalau sudah diberi buku pedoman itu dibaca. Ayo, hitung yang keras!!" Kata Pak Horus.


"Ngiiikkk–" Tidak lama setelah itu, muncul kereta kuda yang datang di balik pintu gerbang depan.


Dari kereta kuda itu, seorang perempuan elf yang cantik itu turun dengan anggun setelah seorang lelaki yang sepertinya pengawalnya itu membukakan pintu untuknya. 


Dengan entengnya, dia melewati gerbang dan para Satpam tanpa terkena hukuman pelanggaran keterlambatan. Anehnya, Satpam yang lain malah memberikan penghormatan kepadanya. Dias merasa tidak adil dengan kejadian tersebut. 


"Woyy, kau Pak Satpam kan? kenapa dia tidak dihukum karena terlambat?" Ucap Dias dengan keras hingga terdengar oleh gadis elf tersebut. Tapi satpam itu tidak mempedulikannya.


"Ssstt… Jaga ucapanmu, kau tidak tahu ya jika dia yang sedang berjalan anggun disana adalah Putri dari Raja Obeyron?" Ucap lelaki yang masih dalam posisi push up disebelah Dias.


"Nggak tahu. Emang apa peduliku?" Kata Dias cuek. 


"Kalau kau kena masalah, jangan salahkan aku ya." Balasnya. 


"Iya, iya." Balas Dias. 


Mendengar percakapan mereka berdua, Gadis elf itu hanya tersenyum ke arah Dias dan pergi meninggalkan mereka berdua. 


"Apaan sih, sok cantik banget." Ucap Dias.


Pengawal yang tadi ikut mendampingi gadis itu, mendatangi Pak Horus si Satpam dan membisikkan sesuatu. Setelah itu dia pergi dan kembali mengikuti gadis itu lagi. 


"Priittt– kalian berdua push up di tambah 20 kali lagi!!" Kata Pak Horus.


"Lahh, kok gituu!!" Kata Dias. Untung saja bagi Dias ini adalah hukuman yang ringan, karena dia setiap hari harus push up 200 kali di rumah sesuai dengan arahan Iaros. 


Setelah mereka berdua push up, mereka akhirnya dapat kembali ke kelasnya masing-masing. 


Dias kebingungan mencari kelasnya karena tempatnya yang begitu luas. Hingga akhirnya dirinya bertanya kepada salah satu orang yang kebetulan sedang berpapasan dengannya. 


"Permisi, kelas 11 A dimana ya?" Tanya Dias. 


"Ohh, kamu tinggal tengok saja di kanan kamu." Ucap gadis itu. 


"Ah iya, kau benar. Terima kasih." Balas Dias. Dias tidak mengira jika dia sudah berada di depan kelasnya sendiri. 


"Permisi.." Dias membuka pintu dan masuk ke dalam kelas. Semua pandangan mata menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Murid baru ya? sini-sini," Kata guru yang sedang mengajar di depan kelas. Dias mendekatinya dan berdiri disampingnya. 


"Silahkan mulai perkenalan ya." Lanjut lelaki berkacamata itu dengan ramah. Sebelum Dias mengenalkan diri, dia sedikit terkejut melihat gadis yang datang menggunakan kereta kuda tadi ternyata satu kelas dengannya. Tapi tanpa mempedulikan itu, dia tetap melakukan perkenalan seperti pada umumnya. 


"Perkenalan yang bagus, sekarang silahkan pilih tempat duduk kosong yang kau inginkan." 


"Tapi Pak, disana hanya ada satu kursi kosong, bagaimana bisa disebut sebagai pilihan jika pilihannya hanya satu?" Kata Dias sambil menunjuk ke arah bangku yang berada tepat di samping gadis elf tersebut. 


Pak guru itu membenarkan kacamatanya dan berkata, "Hmm, kau benar. Ya sudah, kamu duduk disana saja ya." Ucapnya. 


Dias mau tidak mau harus bersebelahan dengan gadis itu. Meskipun tidak ada masalah di antara mereka berdua, tapi entah mengapa Dias tidak menyukai gadis tersebut. 


"Hei broh, salam kenal.. Aku Tedy." Ucap lelaki berkacamata yang berada tepat di samping kiri Dias. 


"Ah, iya. Salam kenal juga." Balas Dias sambil menjabat tangan Tedy. Setelah itu, Dias segera mengeluarkan buku catatannya dan menyimak penjelasan gurunya dengan baik. Dias melirik ke arah kanannya, dan sepertinya gadis itu tidak memedulikan dirinya sama sekali.Tapi tentunya dia tidak akan membiarkan suasana di sekitarnya menjadi runyam hanya gara-gara tidak ramah dengan teman disebelahnya sendiri. 


Dias memutuskan untuk menyapanya terlebih dahulu.


"Halo, salam kenal." Kata Dias sambil menyodorkan jabatan tangannya ke gadis berambut pirang yang ada di samping kanannya itu. 


Gadis itu melirik ke arah Dias dengan matanya yang berwarna hijau zamrud. Dia sedikit terkejut karena ternyata masih ada cowok yang dengan berani mengajak bicara dirinya. Selama ini tidak ada satu pun cowok yang berani berbicara dengannya kecuali dengan pengawalnya sendiri yang berada tepat di belakangnya. Hal ini disebabkan oleh penjagaan yang ketat dan juga mereka semua sadar jika bagi siapapun yang berbicara dengannya pasti akan diawasi dari jauh demi keamanan gadis itu. 


Gadis itu tersenyum ramah dan menyambut jabatan tangan Dias dengan lembut. "Lily Obeyron," Ucapnya. Semua cowok memperhatikan Dias dan iri dengan kejadian di depannya. Terutama pengawal Lily yang masih saja memelototi Dias dengan pandangan yang menusuk. 


Tapi tidak lama kemudian, Lily langsung mencabut kembali tangannya karena teringat dengan ucapan Dias sebelumnya saat di gerbang Akademi. Lily sebenarnya sangat tersinggung dengan apa yang diucapkan oleh Dias mengenai keterlambatannya saat masuk Sekolah. 


Dias yang melihat tingkah Lily hanya bisa bertanya-tanya dan bingung dengan sendirinya. Selain itu, Dias dapat merasakan tatapan permusuhan yang di lontarkan dari semua cowok di dalam kelasnya. Untung saja jam pelajaran masih berlangsung, sehingga dia tidak akan dieksekusi di kelasnya sendiri. 


"Kriingg–" Bel istirahat berdering..


"Baiklah, jangan buang-buang waktu lagi." Ucap Dias yang berniat segera meninggalkan kelas. Dia harus menemukan penjahat yang melakukan penculikan itu dengan kemampuan penglihatannya. 


"Kau mau kemana, Dias?" Tanya Tedy. 


"Mau nyari makan di kantin." Balas Dias.


Sesampainya di kantin, Dias memesan Roti Burger, sedangkan Tedy memesan nasi goreng ditambah dengan ayam goreng sebagai lauknya. Setelah mendapatkan makanannya masing-masing, mereka segera mencari tepat duduk dan mendapatkannya. 


“ClairVoyant!!” Gumam Dias sambil menatap ke arah Tedy yang sedang sibuk makan nasi gorengnya. Setelah itu, informasi singkat mengenai dirinya pun muncul.


Name : Tedy Ganesha


HP : 3.000


MP : 3.500


Lv : 25


Class : -


Skill : Silat (Basic), Manipulasi tanah.


Job : Student


"Hmm, aman." Ucap Dias.


"Kalau kau melototin aku terus, nanti orang lain jadi salah paham loh." Kata Tedy yang melihat Dias sedang membuka matanya lebar-lebar. 


"Tedy, apa kamu tau jika di sekolah ini telah terjadi kasus siswa hilang?" Kata Dias mulai serius. 


"Tahu lah. Semua orang di Sekolah ini tahu apa yang terjadi disini. Hanya saja kemanakah para murid itu menghilang masih belum ada penjelasan. Bahkan, pihak sekolah pun sampai bekerja sama dengan pihak kepolisian, tapi tetap saja hasilnya masih nihil." Jelas Tedy. 


"Dan sekarang pun total murid yang menghilang tanpa jejak sudah mencapai 5 orang. Bahkan, sudah 1 bulan kasus ini masih belum ada perkembangan yang lebih pasti. Hal ini membuat beberapa orang tua resah dan memilih untuk memindahkan anak-anaknya sekolah di tempat yang lebih aman." Lanjutnya. Namun tiba-tiba saja ayam goreng yang berada di atas piringnya menghilang seketika. Tedy menoleh ke kanan dan ke kiri untuk menemukan ayam gorengnya, dan ternyata nampak seorang kucing di bawah meja yang dengan nikmatnya memakan ayam goreng yang masih hangat itu. 


"Ahhh, kucing sialan! Kembalikan ayam goreng ku!" Ucapnya sambil mengejar kucing itu dan pergi meninggalkan Dias. 

__ADS_1


Karena jawaban yang diberikan oleh Tedy kurang memuaskan, akhirnya dia kembali mengecek status masing-masing murid yang berlaku lalang di kantin. 


"ClairVoyant!!" Dias mengaktifkan mata itu berkali-kali, namun masih tidak ada jawaban yang lebih pasti. Sudah hampir 50 orang yang Dias teliti dengan kemampuannya, namun masih belum ada jawaban.


"Ahh, capek banget." Ucap Tedy yang kembali duduk di depan nasi gorengnya yang sudah dingin. Dia lelah setelah mengejar kucing tadi hingga naik ke atap sekolah. 


Tedy kembali melihat Dias yang sedang memandangi semua siswa masing-masing. "Dias, sebenarnya kau ngapain sih?" Tanya Tedy.


"Aku sedang mencari pelaku yang menjadi penyebab hilangnya murid-murid di Sekolah ini." Balas Dias. "Gimana ayam gorengmu? Sudah ketemu?"


"Nggak, udah ku ikhlasin dah." Balasnya sambil menghela nafas. "Memangnya hanya pelotot-pelotot sana sini bisa nemuin gitu?" 


"Maaf saja ya, dengan mataku ini, aku bisa melihat status orang dengan sekali lihat. Jadi kau jangan banyak berkomentar dan habisin tuh nasi gorengmu. Mubadzir." Balas Dias. 


"Jika kau hanya pelotat-pelotot sana sini nggak bakal ketemu. Mending kau kerucutin dulu sesuai dengan hasil pengecekan kepolisian yang ada." Lanjut Tedy sambil menjelaskan berita yang sebelumnya dia baca di koran-koran.


"Pertama, polisi telah mewawancarai orang-orang terdekat korban sebelum kejadian mereka semua menghilang. Kabarnya, mereka hilang ketika mereka sedang sendirian dan sedang berada di area sekolah." 


"Hmm? jadi benar dong, kalau aku memeriksa semua orang yang ada di Akademi?" 


"Hoi, kau mau memeriksa seluruh orang di Akademi yang berjumlah 600 orang? Bisa-bisa matamu yang juling nanti." Kata Tedy.


"Oke lanjut, yang kedua setelah di wawancara ke beberapa orang yang melihat korban tersebut sebelum menghilang, mereka baru tahu menghilangnya pada saat pulang sekolah. Si Korban sama sekali tidak ada di rumah ketika di  cek, atau pun berjalan bersama teman-temannya."


"Hmm, jadi untuk pengamatannya lebih baik dilakukan saat pulang sekolah ya. Terus?" 


"Fakta yang ketiga, semua korbannya adalah cewek, dan mereka adalah ras elf." 


"Elf? kenapa dengan elf?"


"Entahlah. Kalau asumsiku sih, mereka mempunyai energi sihir yang lebih kuat daripada manusia biasa. Dan mereka juga berpenampilan lebih menarik, serta bisa hidup hingga berumur ratusan tahun. Jika memang elf memiliki ciri yang demikian, pasti akan berharga mahal apabila di jual sebagai budak atau di jadikan tenaga kerja. Yah, ini cuman asumsi aja sih," Jelasnya. 


"Hmm, apa ada petunjuk lagi? Seperti lokasi mereka saat menghilang begitu?" 


"Wah, kalau itu lokasinya acak sih. Tapi masih berada di lingkungan sekolah. Ada yang mengatakan menghilang di kamar mandi, di kelas matematika, atau pun di ruang seni. Intinya, mereka menghilang ketika sendirian dan tidak pernah kembali," Balasnya. 


Karena Dias sudah menemukan beberapa petunjuk, akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan penyelidikannya setelah sepulang sekolah. 


"Oke deh, ayo balik kelas," Kata Dias sambil berdiri dan memakan burger yang dari tadi belum Ia makan karena lupa. 


"Minggir!" 


Tiba-tiba saja sekelompok orang datang menemui Dias dengan ekspresi sangar. Terdiri dari 10 orang laki-laki dengan salah satunya adalah Pengawal Lily yang juga merupakan elf.


Semua orang yang berada disana langsung memberi jalan kepada mereka. Beberapa orang berbisik-bisik kepada temannya dan memberitahunya betapa sialnya si anak baru itu karena harus berhadapan dengan geng yang seringkali mencari masalah di sekolah ini. 


"ClairVoyant!" Dias mengamati orang yang paling berbeda yang sepertinya pemimpin dari gerombolan tersebut. 


Name : Halvar Sigrid


Lv. : 35


HP : 3.500


MP : 4.000


Skill : Chivalry, light magic


Class : Student, Bodyguard, Dark elf


"Dark elf?" Gumam Dias yang pertama kalinya melihat Dark elf. Sesuai dengan buku yang pernah dibacanya, Dark elf memiliki rambut berwarna perak dengan mata bewarna ungu. Mereka hidup di pedalaman hutan Kerajaan Rifendell yang bernama Hutan Melsvere.


Setelah itu, si Dark Elf itu memberikan isyarat kepada Tedy untuk segera meninggalkan tempat ini. Tedy yang kebingungan hanya mengiyakannya, karena tidak mau terlibat masalah dengan Pengawal Putri Kerajaan Rifendell itu yang terkenal sangat kuat.


Setelah mereka berhenti di hadapan Dias, salah satu dari mereka keluar dari gerombolan dan orang itu menginjak meja yang ada di depan Dias. Dirinya menatap tajam mata Dias dan mengatakan kalimat yang mengintimidasi. 

__ADS_1


"Hoh?, jadi cecunguk ini yang berani-beraninya menyinggung perasaan Tuan Putri tadi pagi?"


__ADS_2