Adias Floryn : Get Back The Kingdom

Adias Floryn : Get Back The Kingdom
Bagian 37 : Bos Monster Lantai 1


__ADS_3

“Sayangku, kau tidak melihat Blaire?” Tanya Rein yang dari tadi pagi mencari-cari satu-satunya anak kesayangannya itu kesana kemari. 


“Tidak tahu, sayang. Mungkin saja dia pergi ke kebun belakang rumah?” Balas Rhea yang juga bingung dengan keberadaan anaknya itu. 


“Tidak ada, aku sudah mencarinya kesana tapi tidak ada siapapun.”


“Hmm? Jadi dia kemana sebenarnya?” Tanya Rhea.


“Aku juga tidak tahu.”


Tidak lama kemudian, seekor burung dara datang menuju mereka berdua. Di kakinya terikat gulungan kecil yang sepertinya berisikan pesan. Rein segera mengambil gulungan itu dan membacanya. 


“Ini, dari Tuan Iaros,” ucap Rein sambil membuka gulungan itu.


“Apa isinya?” tanya istrinya.


“Sebentar.. Tuan Rein, sepertinya anakmu kabur dari rumah dan tiba-tiba saja muncul di hadapanku dalam wujud kucing. Dia mengikuti kami dan setelah ini kami akan masuk dungeon. Semoga saja dia tidak merepotkan kami. Tertanda, Iaros.”


“Apa!! dia masuk ke dalam dungeon? Bukankah itu terlalu berbahaya untuknya?” kata Rhea terburu-buru dengan ekspresi cemas. 


“Dasar, anak itu masih saja nekat seperti biasa,” timpal Rein dengan ekspresi yang juga tidak kalah cemasnya. Dia meremas kertas itu erat-erat, namun setelah itu melemaskan kembali eratannya. “Tapi mau bagaimana lagi, kita serahkan saja semuanya pada Iaros.”


Mereka berdua hanya bisa menghela nafas pasrah melihat kelakuan anaknya yang ceroboh sekali. 


“Lihat saja ya, akan kuhukum apa ya dia nanti?” ucap Rhea dengan mata yang berapi-api.


“Haaaacuihh!!” Tiba-tiba Blaire bersin.


“Kak Blaire kenapa? Kakak tidak apa-apa?” Tanya Thea pada Blaire yang berjalan di sampingnya.


“Entahlah.. Tiba-tiba saja tubuhku menggigil kedinginan,” balasnya. Thea memandang Blaire dengan ekspresi penuh tanya. 


Setelah berjalan lebih dari 5 jam sambil memberantas monster-monster yang kebetulan menyerang mereka, mereka pun beristirahat sejenak dan duduk di pinggiran goa. Pak Ruky meletakkan orb cahaya itu di samping goa sehingga membuat Thea terkejut.


“Wah, orb cahaya itu ternyata bisa dilepas begitu saja ya,” ucap Thea yang terkagum dengan sihir Pak Ruky.


“Iya dong, berguna sekali bukan?” Balas Pak Ruky sambil tersenyum bangga. 


“Hah, haus sekali. Apakah disini tidak ada sumber air terdekat?” ucap Dias yang duduk bersandar di tembok sambil melihat ke sekeliling. 


“Seperti yang kau lihat. Memang di dalam dungeon tidak selalu ada kebutuhan yang benar-benar kita butuhkan. Kita harus persiapkan sejak awal untuk menghadapi segala kemungkinan di masa yang akan datang,” kata Iaros sambil mengeluarkan pil bewarna merah putih. Setelah itu, dia melemparkannya ke tanah.


“Poff!!” Tiba-tiba, muncul air mineral berjumlah 3 buah, dan membaginya kepada mereka semua yang ada disana. 


“Terima kasih, glup-glup..” Kata Dias yang langsung meminumnya dengan cepat. 


“Oy, jangan lupa berbagi dengan yang lain! Ini, Pak Ruky.” Iaros memberikan botol itu pada Ruky dengan sopan. 


“Terima kasih,” balasnya.


“Blaire, mengapa kau harus menyelamatkan si Azka? Apa memang dia orang yang benar-benar berharga bagimu?” Tanya Dias pada Blaire yang juga duduk bersandar di dinding goa tepat di samping Dias. 


Mendengar perkataan Dias, wajah Blaire memerah dan kenangan masa lalu pun terbuka.


*Flashback..


“Uhukk-uhukk..” Azka mengeluarkan sepercik air setelah diberi nafas buatan oleh Blaire. Kesadaran milik Azka mulai kembali setelah tenggelam dengan punggung yang terluka. Hanya saja dia masih tidak bisa berdiri karena lukanya yang parah di punggungnya. 


“Blaire..” ucap Azka dengan lemah. Tiba-tiba air mata Blaire menetes perlahan mengenai pipi milik Azka. Azka menatap wajah cantik nan polos dengan ekspresi sendu. 


“Hiks, hiks.. ke-kenapa kau senekat itu?” ucap Blaire.


“Sudahlah, aku tidak bisa berkata banyak karena luka dipunggungku sangat sakit,” balas Azka sambil tersenyum kesakitan. 


“Huu..huuu.. hiks hiks..” Meski begitu Blaire masih menangis, padahal dia tidak terluka sama sekali. 


“Hah..” Azka mendengus kesal sejenak. Setelah itu mencoba bangkit sedikit demi sedikit meskipun itu agak sakit. 

__ADS_1


Tiba-tiba Azka memeluk tubuh kecil itu. “Huh? A-Azka?” ucap Blaire dengan tergagap. Mukanya memerah dengan tiba-tiba meskipun masih ada air mata yang berlinang di matanya. 


“Blaire, aku janji akan selalu melindungimu. Makanya, jangan nangis ya, Oke?”


Mendengar hal itu, Blaire membalas pelukannya dan menghentikan tangisannya. 


“Hmm.. Maafkan aku, Azka,” Balas Blaire. 


***


“Woy, kok ngelamun?” ucap Dias sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan muka Blaire. 


“Ahh, iya ya. Kenapa ya? Hahahaha, hahaha,” tiba-tiba Blaire tersadar dan tertawa-tawa sendiri.


“Apa sih gak jelas banget,” batin Dias. “Ya sudahlah kalau nggak mau cerita, aku nggak maksa juga,” ucap Dias, kemudian meneguk air di botol mineral itu lagi. 


“Apakah masih jauh lagi?” Tanya Pak Ruky pada Iaros yang duduk disampingnya.


“Entahlah. Kita lah petualang pertama yang menelusuri dungeon ini, dan kita tidak mendapatkan informasi apapun. Namun jika dinilai dari monster lemah yang dibasmi oleh Dias dan anak-anak, mungkin dalam satu minggu kita sudah selesai,” balas Iaros.


Memang, sedari tadi Iaros dan Pak Ruky sama sekali tidak turun tangan, melainkan semua monster yang berdatangan telah dibasmi oleh Dias dengan dibantu oleh Thea dan Blaire. Thea sebagai support, sedangkan untuk membasmi monster semuanya diserahkan oleh Dias. Blaire ingin membantu tapi tidak sempat.


“Sudah cukup istirahatnya. Ayo lanjut,” ucap Iaros sambil berdiri dan melangkah ke depan. Setelah itu diikuti oleh Pak Ruky, baru kemudian anak-anak yang lain.


Tidak lama kemudian, akhirnya mereka sampai di ruangan goa yang lebih luas lagi. Disana terdapat seorang lelaki yang duduk di singgasananya dengan didampingi oleh perempuan yang berdiri di sampingnya.


“Ho.. sudah datang rupanya, tamu pertama kita,” ucap Velde yang duduk sambil menopang dagu. Sedangkan Veela yang merupakan asistennya hanya berdiri sambil memandang ke arah Iaros dkk. 


“Oke anak-anak, ini giliran kalian untuk menunjukkan kemampuan kalian semua,” ucap Iaros yang percaya dengan kemampuan Thea dan Dias.


“Aku akan tunggu disini sampai kalian membereskan mereka berdua,” lanjutnya. 


“Hahaha, ide bagus,” balas Dias yang bersemangat sambil mencabut pedangnya dari sarung yang berada di pinggang sebelah kirinya. Sedangkan Thea sudah mempersiapkan tongkatnya sedari tadi.


Blaire meletakkan pedang miliknya ke tanah, setelah itu menggunakan kemampuan perubahannya. “Transform : Wild Cat Mode!” 


“Hmm? Kenapa kau berfikir jika ketiga bocah itu dapat mengalahkan kami? Kau meremehkan kami, Hah?” ucap Velde dingin. Kemudian dia segera berdiri dari singgahsananya sambil mengeluarkan aura bewarna hitam khas milik ras Iblis. 


“Tidak akan kubiarkan kalian masuk lebih dalam lagi, Veela, cepat habisi mereka!” lanjut Velde. Namun Veela malah terlihat kebingungan dengan pernyataan Velde.


“Kok aku yang menghabisi mereka? Kamu lah, kan aku punyanya sihir untuk support,” ucap Veela membenarkan pernyataan Velde.


“Ah, iya juga. Kalau begitu, ayo sama-sama..” Setelah itu, Velde melangkah maju ke depan sambil mengeluarkan pedangnya yang tiba-tiba muncul dari telapak tangannya. 


 “Buff : protect, Buff : Shell, Buff : Haste!!” Teriak Thea kemudian muncul cahaya kuning dan biru di sekitar tubuh Blaire dan Dias. 


“Wah, aku merasa tubuhku sangat ringan,” ucap Blaire sambil menggerak-gerakkan ekornya. Demikian pula Dias yang merasakan hal yang sama. 


“Clairvoyant!!” Dias kembali mengaktifkan kemampuan mata yang dapat melihat masa depan. 


Name : Velde Zaar


Ras : Iblis


Keahlian : Manipulasi Bayangan, Berpedang level master.


Lv. : 55 


Agility : 90


Defense : 40


Attack : 70


HP : 1000


“Hmmm, sepertinya cuman segitu saja statusnya. Tidak terlalu tinggi juga kecuali agilitynya saja,” ucap Dias dengan percaya diri sambil menyeringai.

__ADS_1


Kemudian, Veela yang berada di belakang Velde juga mulai membacakan mantra. 


“Enhance : All ability!!” Aura hitam menyelimuti tubuh Velde dengan sempurna, dan Velde sendiri merasakan terdapat kekuatan yang mengalir deras ke dalam tubuhnya.


“Terima kasih Veela, hahahaha, akan kupastikan kalian semua mati dengan tidak tenang disini,” ucap Velde sombong. 


“Apa!?” Tiba-tiba saja Dias berteriak karena tidak percaya jika status yang dimiliki oleh Velde tiba-tiba meningkat drastis sebesar dua kali lipat dari status awal. 


Name : Velde Zaar


Ras : Iblis


Keahlian : Manipulasi Bayangan, Berpedang level master.


Lv. : 55 


Agility : 90 + 90


Defense : 40 + 40


Attack : 70 + 70


HP : 1000 + 1000


“Tapi setidaknya dengan kemampuan Clairvoyantku, aku tidak akan terluka selama menghindari semua serangannya,” gumam Dias dengan percaya diri.


“Berhati-hatilah, kecepatannya akan sangat mengganggu!” Teriak Dias kepada semuanya. Blaire menelan ludah karena merasa merinding dengan aura kuat yang  baru saja dikeluarkan oleh Iblis yang ada di depannya. 


“Swosh..” Tiba-tiba Velde menghilang dengan cepat. 


“Trangg!!” dengan cepat, Velde berpindah ke belakang Dias dan menebaskan pedangnya ke punggungnya. Beruntungnya Dias masih bisa melihat pergerakannya dengan mata miliknya, sehingga dia dapat menangkisnya dengan mengarahkan pedangnya ke belakang. 


Velde sempat berfikir sejenak. “Hmm? bagaimana caranya dia bisa menangkis dengan posisi seperti itu?” batin Velde. 


Velde kembali menyerang Dias dengan sangat cepat, namun Dias menghindari serangan itu dengan sangat cepat dan akurat. Serangan itu datang bertubi-tubi seperti kipas angin yang berputar kencang, namun masih tetap bisa ditangkis dan dihindari oleh bocah itu.


“Untung saja ada sihir haste milik Thea yang dapat meningkatkan kecepatan dan refleksku, jika tidak, mungkin aku sudah mati sekarang,” batin Dias.


Blaire hanya mengamati dari jauh karena bingung, tidak ada celah sama sekali untuk membantu Dias di tengah-tengah pertarungan. Kemudian, dia beralih mengamati Veela yang sedang tidak dalam penjagaan oleh siapapun.


 


“Mungkin aku harus menyerang wanita itu,” batin Blaire, kemudian berlari ke arah Veela. 


“Awas!!” Teriak Thea yang melihat pergerakan Velde.


Velde menghilang tiba-tiba dari hadapan Dias, dan sekarang berpindah ke belakang Blaire. Velde segera menebas Blaire dengan cepat.


“Blarr!!” Namun, sebelum Velde sempat menebas blaire, tiba-tiba muncul api dari tanah tepat di bawah dirinya. Api itu membakar Velde dengan cukup panas, namun Velde bergerak dengan cepat kesana-kemari hingga api itu padam seketika. 


“Bocah, bagaimana bisa kau lakukan itu?” Ucap Velde yang takjub dengan kemampuan Dias.


“Hahaha, coba pikir sendiri,” balas Dias sambil berlari ke arah Velde. Dias langsung menebaskan pedang apinya ke arah Velde. 


Blaire yang tadinya sempat terkejut, kemudian melanjutkan langkahnya ke arah wanita yang sedang berdiri di samping singgahsananya.


“Hap, hap, hap..” Blaire meloncat kesana kemari untuk membuat bingung lawan yang ada di depannya, namun sepertinya perempuan itu sama sekali tidak memperhatikan. 


Ketika Blaire sudah tepat berada di belakangnya, Blaire meluncur dengan cepat dan berniat mencakarnya. 


“Brakk!!” 


Namun, sebelum cakar itu sampai ke kepala Veela, Blaire sudah jatuh tiba-tiba seakan-akan tertimpa sesuatu yang tidak terlihat. 


“Ke-kenapa ini?” ucap Blaire yang tidak bisa bergerak seperti tersedot ke tanah. 


“Ini yang namanya gaya gravitasi. Dasar manusia, begitu saja tidak tahu,” balas Veela. Kemudian dia mengeluarkan pedang yang seperti jarum.

__ADS_1


“Matilah dengan tenang, wahai manusia bodoh.”


__ADS_2