
Tiap hari, kekacauan di dunia ini semakin parah. Semenjak Kerajaan Farnesse melibatkan para Iblis dalam aktivitasnya, maka dunia ini semakin gelap.
Semakin banyak dungeon yang tersebar di segala penjuru dunia sebagai dampak dari pemanggilan Iblis ke dunia ini. Karena itulah, semua penyihir yang ada di dunia ini sangat disibukkan aktivitas penyelesaian dungeon atau pun membasmi para monster yang bermunculan di sekitar dungeon.
Selain itu, banyak orang yang juga sudah berkontrak dengan iblis demi mendapatkan kekuatan yang lebih. Pengetahuan ini telah disebarkan oleh para utusan Raja Julian yang menyebar ke seluruh penjuru dunia secara diam-diam, sehingga dunia ini lebih kacau lagi.
Belakang Gedung Sekolah Akademi Raftel
Istirahat ke 2, pukul 12.00
"Buagh!!" Satu pukulan mendarat di perut lelaki lemah, hingga membuat tubuhnya terjerembab ke tanah.
"Yes! Seperti nya aku yang menang. Hahaha," kata lelaki bertato di lehernya yang baru saja memukul.
"Hah, mana bisa begitu… itu baru percobaan pertama," ucap lelaki satunya yang memakai tindik di telinganya. Lelaki bertato itu hanya mengidikkan bahu tidak mengerti.
"Hei kamu! cepat berdiri lagi!" Perintah lelaki bertindik itu. Lelaki lemah itu mengikuti ucapannya dan berdiri kembali, tapi dengan sorot mata yang melotot.
"Hei! apa-apaan sorot mata itu? Kau menantang kami, hah!?" Teriak lelaki bertindik sambil mendekatkan wajahnya pada lelaki itu.
"Buagh!" Satu tinju tepat di perutnya dilayangkan oleh lelaki bertindik itu hingga jatuh terjerembab lagi ke tanah.
Tapi meski begitu lelaki lemah itu tetap memelototi mereka dengan wajah penuh amarah.
"Hei bocah, kau ingin ku congkel matamu itu, hah!?" teriak lelaki bertato itu, tapi tetap tidak diberi tanggapan olehnya.
"Wow, wow, wow… sepertinya kita harus memberi dia kenangan berharga yang tidak pernah dia lupakan," ucap lelaki bertindik kemudian menyuruh salah satu bawahannya menyiapkan spidol permanen.
Lelaki lemah itu kembali teringat, ketika dia menjadi target pembullian, dimana dia dibugili dan seluruh tubuhnya dicoret-coret dengan spidol permanen, kemudian dipamerkan ke dalam kelas. Selain itu, dia seringkali dijadikan samsak tinju oleh mereka hanya untuk bersenang-senang. Padahal, dia awalnya berteman dengan mereka supaya mendapat support kawan yang kuat, malah dia berakhir menjadi samsak tinju mereka.
"A.. aku tidak akan memaafkanmu," lirih lelaki lemah itu pelan.
"Hmm? Apa dia ngomong sesuatu?" Tanya lelaki bertindik itu karena suaranya yahh tidak begitu jelas.
Kemudian, lelaki bertato itu mendekati lelaki lemah. "Ngomong yang jelas, Bod*h!!" Satu tendangan kuat di arahkan ke perut lelaki lemah itu lagi.
Namun, saat ini lelaki lemah itu mencoba bangkit meskipun dengan perut yang teramat sakit.
"AKAN KUBUNUH KALIAN!!" Tiba-tiba, aura hitam muncul di sekitar lelaki kurus itu. Nafasnya tersengal-sengal dengan mata memerah hingga mengeluarkan air mata.
Kedua lelaki itu sempat merinding ketakutan setelah melihat lelaki itu. Tapi dia memaksakan logikanya jika sebenarnya si lelaki.lemah itu hanya ingin memberontak dan melawan dirinya dengan menggunakan sihir.
"Oh, kau mau beradu sihir? Silahkan!" Ucap lelaki bertindik dan bersiap ambil posisinya berkonsentrasi hingga mengeluarkan api di tangannya.
"Ku bakar kau bocah kurus ngga–" sebelum lelaki bertindik itu melancarkan serangannya, kepalanya sudah tidak ada di tempatnya. Sekejap terlihat bayangan hitam yang melewati lehernya, dan tiba-tiba saja terpenggal.
“Re … Reza?” Lelaki bertato terkejut melihat lelaki di sampingnya kepalanya terpenggal seketika. Lelaki itu langsung bergetar ketakutan dan bermaksud untuk lari dari sana.
Namun, dia sama sekali tidak ada waktu sama sekali untuk menghindari serangan yang dilancarkan oleh lelaki lemah yang berubah menjadi iblis disana. Sebuah tentakel bewarna hitam langsung menghujam jantung lelaki bertato itu.
“Aaaaargh!!” Teriak lelaki itu hingga mengeluarkan darah dari mulutnya.
Lily dan Halvar yang kebetulan tidak jauh dari sana langsung mendatangi sumber suara tersebut.
“A-apa yang terjadi disini?” Lily tidak percaya melihat pemandangan pembantaian sadis yang dilakukan oleh lelaki yang sudah berubah menjadi monster itu.
“Gawat, dia sudah menjadi Iblis!” Ucap Halvar yang sudah pernah diberitahu oleh pengawal lainnya saat rapat bersama yang membahas tentang urgensi Iblis.
__ADS_1
“Hahahahaha!! Akhirnya, mati juga!! Hahahaha!!” Ucap lelaki Iblis.
Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah Lily dan Halvar. “Ah, ada murid lain juga yang melihatnya ya.”
“A-aku, membunuh? Apakah dengan begini aku resmi menjadi seorang pembunuh?” Ucapnya sambil melihat kedua tangannya yang penuh dengan darah.
“Kurang… Ini masih kurang… HUAAAHHH!!” Teriak suara lelaki itu dengan suara yang berubah. Tiba-tiba saja lelaki Iblis itu hilang kendali dan mengeluarkan aura hitam yang sangat banyak.
“Cepat! Panggil guru! Aku akan menahannya!” Perintah Lily pada Halvar. Mungkin, bisa saja mereka berdua pergi dari sana dan memanggil guru agar lebih aman. Tapi mereka tidak tahu kapan Iblis itu akan pergi dari sana dan membantai lebih banyak orang.
“Tuan Putri, tetap di belakangku!” Ucap Halvar yang melangkah ke depan Lily.
“Apa yang kau lakukan?” Lily tidak menyangka jika Halvar menentang perintahnya. Tiba-tiba tentakel yang tajam meluncur ke arah Halvar.
“Trangg!!” Halvar dengan cepat mengeluarkan pedangnya dan menangkisnya.
“Tenang saja, selama kita ribut, para Guru pasti akan menyadarinya,” ucap Halvar dengan percaya diri.
Serangan itu tidak selesai dari sana, tentakel yang lain menyerang Halvar dari atas.
“Awas kepalamu!” Teriak Lily.
“Trangg!!” Tiba-tiba muncul perisai di tangan kirinya dan menangkis tentakel yang melesat ke arah kepalanya.
“Tuan Putri tidak perlu khawatir, Saya akan menahannya dan segera panggil Guru.”
Lily mengangguk. Dia berlari meninggalkan tempat itu.
“MAU KABUR KEMANA?” Sang Iblis melompat sangat jauh hingga sampai di hadapan Lily. Halvar tidak sempat mengikutinya dan Iblis itu lepas begitu saja. Perempuan itu terpaksa menghentikan langkahnya dengan terkejut.
“Swipe!!” Tiba-tiba, posisi Lily bertukar tempat dengan Halvar. Akhirnya, Halvarlah yang menerima serangan itu.
“Trakk!!” Terdengar suara benturan yang sangat keras dari perisai milik Halvar. Bahkan, perisai Halvar sampai retak menahan serangan tersebut. Sang Iblis terkejut melihat gadis itu berpindah tempat dengan cepat.
“Halvar!” Teriak Lily.
“HOH, JADI KAU LEBIH MEMILIH UNTUK DIHABISI DULUAN YA?” Tiba-tiba, lelaki Iblis itu menyerang Halvar bertubi-tubi.
“MATI KAUU, MATII!!”
“Cratt!” Tiba-tiba, anak panah yang dikeluarkan oleh Lily melesat pas ke perut Iblis itu.
“Sialan..” Seakan tidak terpengaruh apa-apa, Iblis itu kembali menoleh ke arah Lily dan melesatkan tentakelnya ke Lily.
“Swipe!” Sekali lagi, Halvar berhasil menyelamatkan Lily dari kematian dengan menangkis tentakel yang sangat tajam itu menggunakan perisainya. Tiba-tiba saja luka tusuk yang ada di perut Iblis itu menghilang dengan cepat. Halvar dan Lily sama-sama terkejut, tapi tidak ada waktu untuk itu.
Iblis itu kembali menyerang Halvar bertubi-tubi. Cukup lama Halvar menangkis semua serangan Sang Iblis, meskipun sempat lolos hingga menggoreskan luka yang cukup dalam di bagian paha, kaki dan wajahnya.
“Wushh..” Lily kembali memanah Sang Iblis dari tempatnya berdiri dengan jumlah anak panah yang cukup banyak. Namun kali ini Sang Iblis sadar akan serangan Lily dan mencoba menangkisnya.
“Arghhh!!!” Meskipun Sang Iblis menangkisnya, tetap saja panah itu tetap bisa menembus seluruh tentakelnya.
“Percuma saja, kau tidak akan bisa menangkis cahaya,” ucap Lily yang sedari awal dia menciptakan anak panah dari kumpulan-kumpulan cahaya dan menyatukannya.
“GROAAA!!” Sang Iblis semakin lepas kendali. Dia memegangi kepalanya yang terlihat amat sakit, kemudian terbang ke langit.
“AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUNUH KALIAN BERDUA!” Ucapnya. Dia pun langsung melancarkan serangan tentakelnya dari udara dengan sangat cepat dan bertubi-tubi, hingga seperti gatling gun.
__ADS_1
“drtdtrdtrtdrtdrtdrtrdtdrt…” Serangan itu berhasil di tangkis oleh Halvar, namun tidak untuk Lily. Lily sempat menghindarinya, namun karena terlalu banyak akhirnya menggoreskan luka di kakinya.
“Tuan Putri!!” Teriak Halvar ketika tentakel itu sudah sangat dekat ke kepala Lily.
“Blarr!!” Tiba-tiba saja Sang Iblis itu terbakar dan berteriak kepanasan. Tentakel itu tidak sempat melubangi kepala Lily.
“Kalian tidak apa-apa?” Ucap lelaki bertindik dengan rambut merah dan pupil warna biru sambil mendekati tempat mereka berdiri.
“Dias!” Lily berteriak senang, karena ada bantuan yang datang.
“SIALANN AWAS KALIAN!!” Teriak Iblis sambil memadamkan api yang membakarnya dengan sihirnya. Dia kembali lagi menghujam mereka bertiga dengan serangan bertubi-tubi.
“Hadeh, berisik banget dah,” ucap Dias sambil mengangkat tangannya ke arah Iblis itu, mengepalkan tangannya seakan-akan menggenggam sesuatu.
“Terbakarlah! Blarrr!!” Setelah Dias mengucapkan itu, Iblis itu terbakar dengan api yang membara. Namun api itu kembali berhasil dipadamkan. Dias tidak menyerah dan membakarnya lagi. Iblis itu berhasil memadamkannya, namun Dias tetap membakarnya dengan api yang lebih besar lagi. Iblis itu sekali lagi memadamkannya. Dias membakarnya lagi namun dengan ledakan, sehingga Iblis itu berteriak kesakitan merasakan tubuhnya yang meledak.
Tidak hanya satu ledakan, melainkan berkali-kali ledakkan itu bergema di langit-langit Akademi. Tidak lama kemudian, Iblis itu langsung lenyap.
“Akhirnya, dia lenyap,” ucap Lily sambil meringis kesakitan merasakan luka robek di pahanya.
“Tidak, dia belum lenyap,” kata Dias yang sebelumnya sudah mengaktifkan sihir ClairVoyantnya saat bertarung tadi. Dia tadi sempat melihat jika HP-nya masih saja pulih ketika masih dalam keadaan terledakkan. Mungkin karena tersudut, akhirnya Iblis itu kabur dari sini dan mencari tempat yang lebih aman.
“Apa yang terjadi disini?” Teriak salah satu guru yang bernama Leo yang datang menghampiri mereka karena mendengar kegaduhan di belakang gedung sekolah. Dia datang bersama dengan Tedy yang tadinya bertugas memanggil guru karena mendapat arahan dari Dias.
“Bapak lama sekali sih!?” Ucap Dias kesal.
“Ya tadi masih ada rapat guru sih, kesampingkan hal itu, saya panggil dulu petugas UKS kesini,” ucap Leo.
“Permisi, izinkan saya membantu,” tiba-tiba Thea datang di waktu yang tepat entah darimana. Setelah itu, dia segera menyembuhkan Halvar dan Lily.
“Heal..” Thea mengeluarkan cahaya hijau dari tangannya yang diarahkan di luka robek milik Halvar. Tidak lama kemudian, luka itu tertutup sedikit demi sedikit.
“Terima kasih, Thea. Sepertinya kau sudah seratus persen sembuh dari traumamu ya? Hahaha,” ucap Halvar.
“Diamlah, aku sedang berkonsentrasi,” ucap Thea karena luka Halvar yang cukup parah disekujur tubuhnya. Setelah luka milik Halvar sembuh, dia segera menghampiri Kakaknya.
“Kakak nggak apa-apa?” Tanya Thea yang mengkhawatirkan keadaan Dias.
“Hmm, memangnya Iblis lemah seperti itu bisa melukaiku?” Ucap Dias dengan sombongnya.
“Ah, syukurlah,” balas Thea tersenyum. Beberapa petugas medis pun datang dan membantu proses penyembuhan bersama dengan Thea. Yang paling parah adalah lelaki bertato yang tubuhnya sudah berlubang terkena luka tusuk dari tentakel Iblis tadi. Sedangkan temannya yang bertindik sudah meninggal dengan kepala yang terpenggal.
Setelah itu, Halvar, Lily, dan Dias segera melaporkan kejadian itu ke kepala sekolah dengan di dampingi oleh Pak Leo. Mereka mengatakan jika lelaki yang berubah menjadi Iblis karena melakukan kontrak dengan Iblis itu pasti berhubungan dengan keluarganya, sehingga keluarganya perlu untuk diselidiki. Namun, kepala sekolah tidak bisa berbuat apa-apa, karena penyelidikan itu bukanlah wewenang pihak sekolah.
Masalah berkontrak dengan Iblis adalah masalah pribadi masing-masing siswa, tidak ada peraturan yang mengatur hal tersebut di Buku Pedoman Tata Tertib Siswa. Satu-satunya hal yang dapat dilakukan oleh Kepala Sekolah adalah meliburkan sekolah ini hingga kondisinya menjadi normal kembali. Akhirnya, mereka bertiga pun kembali ke kelas mereka.
Setelah kejadian itu, berbagai macam protes dilayangkan pada Pihak Sekolah. Konon, anak yang mati karena terpenggal itu adalah anak dari seorang Walikota yang kekuasaannya berada di Utara Kerajaan Valinor. Selain itu, anak yang berubah menjadi Iblis itu telah kabur, sehingga Pihak Sekolah mendapatkan banyak hujatan dari para wali murid. Apalagi kasus penculikan yang pernah terjadi satu bulan lalu. Amarah wali murid sudah memuncak dan meminta untuk ditutup saja sekolah ini. Namun, setelah Pak Gala melakukan negosiasi bersama dengan mereka, akhirnya mereka paham dan setuju untuk segala kegiatan pembelajaran diliburkan saja, dan akan diganti belajar secara mandiri di rumah masing-masing.
*Di sisi lain..
“Aku.. telah menjadi Iblis, Apakah.. aku tidak bisa kembali lagi menjadi manusia?” ucap lelaki yang duduk bersandar di balik pohon dengan diterangi oleh sinar rembulan.
“Apa maksudmu? Bukankah kau sudah berjanji untuk memberikan jiwamu padaku?” Balas Iblis yang berada di dalam pikirannya. Meski begitu, Iblis itu sudah mengambil alih sebagian besar kesadarannya, sehingga ketika Iblis itu ingin berbicara, dia akan menggunakan mulut lelaki itu untuk berbicara.
“Tapi, aku tidak mau.. Aku tidak mau jadi pembunuh lagi. Aku takut..” ucap lelaki itu sambil menggertakkan giginya.
“Maaf, Nak. Semuanya sudah terlambat,” ekspresi lelaki itu tiba-tiba berubah drastis. Dari yang awalnya terlihat sangat tertekan, sekarang dia menampakkan senyum jahatnya yang lebar. “Tubuhmu sudah menjadi milikku, hehe,” ucapnya sambil tertawa kecil.
__ADS_1