Adias Floryn : Get Back The Kingdom

Adias Floryn : Get Back The Kingdom
Bagian 26 : Undangan Kerajaan Rifendel


__ADS_3

“Pengumuman bagi semuanya, karena banyak masalah yang terjadi selama kegiatan kegiatan belajar mengajar di sekolah, maka dengan ini saya nyatakan mulai minggu depan, sekolah akan libur,” ucap Bu Alfa selaku wali kelas di hadapan para murid. 


“Hiyeeeyy!” Teriak para Siswa yang berada di barisan belakang.


“Minggu depan? kenapa nggak besok aja bu?” Tanya Tedy blak-blakan. 


“Yaelah, kamu lupa ya? Besok itu waktunya ulangan tengah semester! Jangan sampai kalian membolos ya. Saya pastikan bagi siapapun yang tidak ikut ulangan pasti tidak akan naik kelas,” ancam Bu Alfa kepada mereka semua. Mereka semua hanya dapat menghela nafas pasrah. Setelah itu, mereka kembali menyimak pelajaran yang dibawakan sendiri oleh wali kelas mereka. 


Bel istirahat berbunyi, dan semua siswa pun segera menyibukkan diri untuk mengisi perutnya di sekitar Akademi. 


“Jadi, gimana PRmu? sudah kamu kerjakan?” Tanya Dias ke Tedy sambil memakan roti isi coklat yang masih hangat.


“Hmm? Emangnya ada PR kah? Perasaan minggu lalu tidak ada yang ngasih tugas deh. Pak Leo kemarin hanya mengajar saja sambil menggali emas di hidungnya.”


“Aduh, capek deh,” ucap Dias sambil menepuk jidatnya. “Kayaknya kamu kemarin ketiduran deh, akhirnya nggak dengerin ucapan guru.”


“Hmm..” Tedy mencoba mengingat-ingat kembali kejadian satu minggu lalu. Dan ternyata benar jika dia tiduran, bahkan sampai mengigau minta digorengin tahu telor. Hanya saja tidak ada satu pun yang membangunkannya.


“Ahh, gawat. Kenapa kau tidak memberitahuku?”


“Yah, aku kira kau sudah bertanya-tanya ke teman-teman,” ucap Dias mengidikkan bahu.


“Ahh, harus beralasan apa lagi ini? Sudah pasti kalau buku ketinggalan karena lupa dia tidak akan percaya. Alasan itu terlalu klasik. Bisa jadi aku nanti disuruh pulang ke rumah untuk mengambilnya,” keluh Tedy sambil memegangi kepalanya yang pusing.


“Hmm, gimana kalau beralasan jika bukumu jatuh ke sungai dan hanyut entah kemana? Tidak mungkin kan kau di suruh mencari buku yang tidak tahu tempatnya karena terhanyut?” Jawab Dias asal.


“Hmm, kurasa masih bisa tuh,” balas Tedy dengan wajah serius.


Tidak lama kemudian, Lily datang menghampiri Dias bersama dengan Halvar. 


“Oh, hai Tuan Putri, bagaimana lukamu kemarin?” Tanya Dias pada Lily. Namun setelah Dias bertanya seperti itu, wajah Lily malah memerah dan memalingkan muka.


“Eng.. itu.. Aku mau berterima kasih.. Nanti.. Maukah kau ikut makan malam denganku ke tempatku?” tawar Lily terbata-bata yang masih melihat ke sekeliling tanpa melihat raut wajah Dias dan Tedy yang terkejut setelah mendengar Lily berkata seperti itu.


“Ja.. Jangan salah paham! Ayahku hanya ingin berterima kasih karena dulu kau pernah menyelamatkan Adikku dari penculikan Pemuja Iblis,” ucap Lily dengan nada tinggi pada Dias. 


“Lahh, kok ngamok?” Ucap Tedy yang kebingungan dengan sikap Lily.


“Hah? Siapa yang marah?”


“Ehem..” Halvar berdehem di belakang Lily untuk menyadarkannya bahwa dia harus jaga ekpresi. 


“Yah, intinya begitu. Pokoknya kamu nanti harus datang. Nanti kita akan pergi bersama-sama menuju ke Istana Kerajaan Rivendell. Oh iya, jangan lupa mengajak adikmu juga,” lanjut Lily kemudian berjalan meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


“Hiyeyy, makan gratis!” Kata Tedy dengan bersemangat sambil berdiri dan mengangkat tangannya.


“Oh iya, kau tidak perlu ikut karena tidak diajak,” kata Lily sambil menoleh ke arah Tedy sebentar, kemudian kembali melanjutkan langkahnya.


Mendengar hal itu, Tedy langsung diam mematung tidak bergerak sambil mempertahankan posenya. Beberapa detik kemudian, dia kembali duduk dan menghabiskan roti dan susu yang dibelinya.


“Yang sabar ya, kawan,” Dias mencoba menghibur Tedy sebisa mungkin supaya tidak terlalu memendam rasa.


Sepulang sekolah, akhirnya mereka berempat berangkat ke Kerajaan Rivendell untuk makan malam disana atas undangan Raja Obeyron. Mereka berangkat menggunakan kereta kuda yang biasa dinaiki oleh Lily dan Halvar.


“Kita akan kemana, Kak?” tanya Thea pada Kakaknya yang duduk di sampingnya.


“Kita akan ke rumah wanita yang ada di depanmu ini,” ucap Dias. Mereka bercengkerama cukup lama selama di dalam kereta kecuali Dias. Dias lebih memilih membaca buku yang dia pinjam di perpustakaan daripada mendengarkan ocehan mereka bertiga yang tidak penting. 


“Tuan Putri sudah datang!” Sesampainya di gerbang Istana Kerajaan, mereka disambut oleh para penduduk ras elf yang membungkukkan kepalanya disaat kereta kuda milik mereka itu melewati mereka. 


“Wahh, ternyata budaya disini sangat berbeda sekali di tempat tinggal kami,” ucap Thea sambil melihat orang-orang yang membungkuk sebagai tanda penghormatan. 


Mendengar Thea yang berkata seperti itu, Lily mengernyitkan keningnya. “Memang beginilah budaya Kerajaan ras Elf. Namun, sayangnya kita tidak akan tahu apa isi hati orang-orang karena tersembunyi oleh budaya sopan santun mereka. Kita tidak akan bisa menilai, apakah mereka saat ini bahagia atau malah menderita? Apakah mereka sedang tertimpa masalah? Kadang mereka hanya menyembunyikan kekesalan di dalam hati mereka dan lebih memilih melimpahkannya pada orang lain yang dekat dengannya,” ucap Lily menjelaskan.


Thea mengangguk paham, dan kini Dias juga tertarik dengan pembicaraan Lily.


“Kak Lily, memangnya ada masalah apa?” Tanya Thea pada Lily karena melihat ekspresi Lily yang sepertinya banyak masalah.


Lily menghela nafasnya dan mulai bercerita. “Kalian tahu sendiri kan? Jika ada sekitar 6 elf yang diculik oleh Pemuja Iblis sekitar satu hingga dua bulan yang lalu? Sekitar 4 orang berhasil kembali ke rumahnya masing-masing, termasuk adikku yang masih menjalani terapi mental di kamarnya. Namun, 2 orang sisanya masih belum kembali.” 


Tidak lama kemudian, akhirnya mereka berempat telah sampai di Istana Kerajaan. Mereka segera turun dari Kereta Kuda dan berjalan menuju ke aula Kerajaan. 


“Hormat pada Tuan Putri!” Ucap salah satu Prajurit yang menjaga di pintu masuk Istana, kemudian diikuti oleh Prajurit yang lain dengan menegapkan tubuhnya dengan posisi siap dan meletakkan tombaknya disamping kanannya. 


Setelah itu, salah satu Pelayan Kerajaan mendatangi mereka dan mendampingi mereka menuju ke tempat beristirahat. 


Sesampainya di ruang istirahat, Lily dan Halvar berpisah dengan mereka dan membiarkan Dias dan Thea untuk beristirahat sejenak. “Kalian tunggu disini dulu ya, Aku akan bersiap-siap. Kalian bisa mandi terlebih dahulu atau langsung rebahan juga nggak apa-apa. Nanti akan aku jemput lagi kesini,” ucap Lily kemudian melangkah pergi dari sana. 


Thea dan Dias mandi bergantian. Setelah itu berganti pakaian yang sudah disediakan oleh Pelayan Kerajaan yang sudah menunggu mereka di ruangan istirahat tersebut. Beberapa menit berlalu, kemudian Lily kembali menjemput mereka.


“Permisi, apa kalian sudah selesai?” Ucap Lily sambil membuka pintu dan melihat mereka berdua yang sudah berganti baju. 


“Wahh, Kak Lily cantik sekali,” ucap Thea dengan matanya yang berbinar-binar melihat dress hijau yang dipakai oleh Lily.


“Terima kasih,” balas Lily. Kemudian dia melirik ke arah Dias dan menunggu tanggapannya. Dias sempat ternganga sejenak, namun dia langsung mengontrol ekspresi wajahnya.


“Apa liat-liat?” Balas Dias jutek dengan jantung yang hampir meledak. 

__ADS_1


“Bukan apa-apa,” balas Lily dengan ekspresi malas. Setelah itu, Lily segera mengantar mereka ke tempat perjamuan.


Sesampainya disana, ruangan itu begitu luas dan indah ala kerajaan zaman dahulu. Di tengah-tengah ruangan itu, terdapat meja panjang yang di atasnya terdapat berbagai macam makanan mahal yang telah dimasak oleh sang ahli. 


Disana, mereka melihat pria jakung yang memakai mahkota, beserta wanita cantik yang juga memakai mahkota sedang bercengkrama di depan tempat duduknya. Mereka berdua adalah kedua orang tua Lily. Setelah Lily masuk ke dalam ruangan itu, pria itu langsung menyambut kedatangannya.


“Ahh, anakku.. ayo masuk dan juga teman-temanmu juga.. Jangan sungkan-sungkan,” ucap pria itu yang tidak lain adalah Raja Obeyron. Mereka segera mengambil tempat duduk mereka masing-masing.


“Jadi, kalian yang bernama Adias dan Althea ya? Hohoho, Saya ucapkan terima kasih karena sudah menyelamatkan salah satu Putriku,” ucap Sang Raja kepada mereka berdua yang sedang duduk disana. Setelah berbincang-bincang sejenak, tidak lama kemudian salah satu pelayan Kerajaan datang memasuki ruangan itu dan membawakan hidangan utama.


“Silahkan dinikmati ya, mohon maaf jika hanya sekadarnya saja.” Meskipun Sang Raja berkata demikian, tetap saja makanan yang berada di atas meja ada berlimpah dan terdapat berbagai macam jenis makanan. Mulai dari ayam kalkun, ayam goreng, sate kambing, beberapa macam buah-buahan, dan untuk minumnya mereka menyediakan jus apel. Thea dan Dias memakannya dengan lahap. 


Selesai makan, akhirnya mereka memulai kembali obrolan mereka. “Jadi, kalian berdua anak dari Raja Vyros dan Ratu Neia ya?” Tanyanya. Hal itu bukanlah rahasia lagi, karena nama marganya yang sama-sama Floryn. Thea dan Dias hanya menjawab pertanyaan itu dengan anggukan, karena mereka jadi teringat kembali akan kedua orang tuanya. 


“Dulu aku sangat dekat dengan mereka berdua. Kita sempat berpetualang bersama dan menjelajahi berbagai macam tempat sebelum aku menjadi Raja. Bahkan, mereka berdua sudah ku anggap seperti keluarga sendiri, hohoho..” ucap Raja Obeyron sambil tertawa ketika mengingat-ingat kejadian di masa lalunya. 


“Dia adalah Raja yang sangat kuat. Dengan kekuatan apinya, dia mampu meluluh lantakkan satu kota, dan membakar Naga berukuran raksasa hanya dengan menjentikkan jarinya. Bahkan, dengan kekuatannya, dia mampu menghentikan pertikaian antara elf dengan manusia, dan mengajak kami bekerja sama untuk mengalahkan satu musuh yang sama di kala itu.”


“Oleh karena itulah, ketika mendengar berita kematian kedua orang tua kalian, aku sangat marah dan sangat depresi. Aku ingin sekali menghancurkan orang-orang yang sudah membunuh kedua orang yang sudah kuanggap sebagai adik sendiri.” lanjutnya.


“Baiklah, sudah selesai flashback ceritanya.. Apakah kalian menginginkan sesuatu? Kalian bebas mau memilih apapun. Harta yang melimpah, kesehatan yang tidak terbatas, atau pun kekuatan. Terserah kalian lah. Hohohoho, dengan kekuatan sihir elf yang sudah diturunkan dari generasi ke generasi, kami dapat mengabulkan apapun yang kalian minta,” ucap Raja Obeyron.


"Baiklah, berikanlah aku kekuatan," ucap Dias tanpa basa-basi. Mereka semua yang ada disana terkejut mendengarnya karena terlalu tiba-tiba. 


Mendengar hal itu, Raja Obeyron malah tertawa. "Hahahaha, tenyata kau mirip sekali dengan Vyros ya. Baiklah, kalau begitu akan kuberikan kau kekuatan.” Setelah itu, Raja Obeyron menyuruh istrinya untuk mengambilkan ramuan yang dimaksud oleh Raja Obeyron. Istrinya mengangguk dan segera mengambil ramuan itu. 


Ketika Sang Ratu memasuki ruang harta rahasia itu, ternyata disana terdapat 3 macam ramuan yang tersedia di dalam gelas bewarna emas. Dia langsung mengambil salah satu.


“Mungkin saja isinya sama semua,” ucap Sang Ratu yang memperhatikan air yang sangat jernih di dalam gelas itu yang terlihat sama semua. 


Tidak lama kemudian, Sang Ratu datang sambil membawa satu gelas air yang menurut Sang Raja, bagi siapapun yang meminumnya akan mendapatkan kapasitas Mana yang luar biasa besar berkat anugrah dari Dewi Artemis (dewanya para elf). 


Sang Ratu langsung menyerahkannya kepada Lelaki berambut merah yang terpana dengan keindahan gelas itu. “Nak Dias, dirimu harus meminumnya pada saat bulan berada pada titik tertinggi. Hadapkanlah wajahmu ke langit dan berharaplah kekuatan yang kau inginkan. Jika Dewi Artemis menghendaki, maka kau akan mendapatkan kekuatan sesuai dengan yang kau inginkan,” jelasnya.


“Eng, jadi bagaimana aku harus membawanya pulang?” Tanya Dias yang bingung karena kalau di bawa seperti biasa pasti akan tumpah.


“Tidak, sangat tidak disarankan jika kau meminumnya di rumah. Istana ini merupakan tempat yang paling dekat dengan Dewi Artemis. Akan lebih cepat terkabul jika kau meminumnya disini.”


“Dengan kata lain, kami harus menginap?” Tanya Dias kemudian dibalas dengan anggukan oleh Sang Ratu.


“Iya sudah deh,” Dias menghela pasrah.


“Sekarang giliranmu, gadis kecil,” ucap Raja Obeyron yang fokusnya mengarah kepada gadis polos itu.

__ADS_1


“Engg, mohon maaf, Saya bingung.. bolehkah saya tunda dulu keinginan saya?” Tawar Thea. 


“Ahh, baiklah. Untuk permintaanmu Akan ku tangguhkan. Kalau begitu, silahkan kalian beristirahat, atau kalian juga bisa bersenang-senang sepuasnya di sekitar Istana Kerajaan,” ucap Sang Raja, kemudian mereka semua kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


__ADS_2