Adias Floryn : Get Back The Kingdom

Adias Floryn : Get Back The Kingdom
Bagian 34 : Masa Lalu Blaire dan Azka


__ADS_3

“Azka ya? Hmm.. Kalau memang rumor itu benar, maka..”


“Benar sekali. Saat ini, dia sedang terkurung di dalam Menara Dungeon dan tidak bisa keluar dari sana karena tubuhnya sudah dimasuki oleh Iblis.”


“Tapi, kau yakin jika dirinya masih hidup? Bukannya jiwanya sudah diambil oleh sang Iblis?”


“Tidak.. Anakku Blaire kemarin ikut menghentikan Azka ketika dirinya berulah di Akademi Raftel, dan rupanya jiwanya tidak benar-benar mati, namun masih bisa memberontak dan berusaha merebut kembali kesadarannya. Blaire mencoba menyadarkannya namun tidak bisa, karena diganggu oleh Iblis lain yang melempar tembok disaat mereka sedang berfokus melakukan pemurnian.” 


“Baiklah, jika urusan dungeon pasti aku akan dipanggil oleh pihak Guild untuk menyelesaikan dungeon itu. tapi tunggu sebentar.. Mengapa Anda begitu peduli dengan lelaki yang sudah berubah menjadi Iblis?” Tanya Iaros yang penasaran.


Rein ekspresinya berubah menjadi sendu dan mulai bernostalgia, kembali ke masa lalu.


*Flashback..


“Azka! Lihat!! Ada di ikan besar di sungai!!” ucap Blaire yang masih berumur 7 tahun.


“Wahh, iya.. besar sekali.. keren banget.. Pasti kalau kita dapatkan ikan itu, kita tidak akan kelaparan selama sebulan.” Balas Azka yang juga sama umurnya.


“Yah, engga sebesar itu juga kali.”


“Azkaa, Blaiiiire, jangan dekat-dekat ke sungai, nanti jatuh loh.” ucap Rein yang datang menyusul mereka. “Hei, Reynald! anakmu disini!” teriak Rein ke ayah dari Azka yang bernama Reynald.


Reynald segera berlari dan menghampiri mereka berdua. “Heii, tunggu, dasar bocah.”


“Blaire, sepertinya orang tua kita mencari kita nih. Ayo segera balik deh.” ucap Azka sambil menoleh ke belakang. 


Namun, Blaire sama sekali tidak mendengarkan dan tetap melihat sungai dari jarak dekat karena terpesona dengan ikan besar itu. 


“Wahh~” 


“Krek.. Byurr…” Tiba-tiba saja, batu yang dia gunakan sebagai tumpuan tangannya itu terperosok ke bawah hingga membuatnya jatuh ke sungai yang cukup dalam dan deras. 


“Aghh, Tol– ongg– Haks– Uh–” Blaire mencoba berenang naik ke daratan, namun tetap saja kesulitan karena arusnya yang cukup deras.


“Blairee!!”


“Byurr..” Azka ikut masuk ke dalam air, menggapai tangan Blaire dengan susah payah, kemudian menaikkan kepala Blaire ke atas. Akhirnya Blaire bisa bernafas tersengal-sengal. Namun sayangnya mereka berdua terseret oleh aliran air yang deras itu. 


“Tidak, aku tidak mau mati..” ucap Blaire karena melihat bebatuan di depannya yang bisa saja menabrak dirinya dengan sangat keras.


Dan benar saja, tepat di depan mereka berdua terdapat batu yang sangat besar dan siap menabrak mereka berdua.


“Aaaaaa!!” Teriak Blaire.


“Byurr!!” Azka menenggelamkan Blaire kembali dan memeluknya dengan sangat erat. Azka mengarahkan punggungnya ke arah batu itu sebagai pelindung dirinya dan Blaire.


“A-Azka!?” batin Blaire sambil mendekap dipelukan lelaki kurus itu.


“Dugg!!” 


“Buahh..!!”


Dengan keras, punggung lelaki itu menghantam batu yang besar itu hingga membuatnya hilang kesadaran sekaligus kehilangan nafasnya karena berada di dalam air. 


“Azka!!” teriaknya dalam hati. Blaire sangat terkejut karena mendengar suara benturan di dalam air yang seharusnya itu hampir tidak mungkin. 

__ADS_1


Pelukan Azka semakin meregang, dan mereka berdua akhirnya terdampar di pinggiran sungai yang alirannya sudah cukup tenang. 


“Azka!! Bangun, Azka?” ucap Blaire dengan panik sambil menggerak-gerakkan tubuh Azka. 


“Nggak, ini nggak mungkin..” Air mata Blaire mulai menetes berjatuhan membasahi pipi Azka. Namun, kemudian dia teringat kembali ketika melihat opera sabun bersama ayahnya ketika sang lelaki memberi nafas buatan kepada sang wanita karena habis tenggelam di dasar laut. Sang wanita pun berhasil diselamatkan.


“Permisi.. Azka..” Blaire mengesampingkan rambutnya dan memberikannya nafas buatan lewat mulut.


***


“Ohh, jadi kau berutang budi dengannya karena sudah menyelamatkan anakmu.. begitu?”


“Ya, itu benar sekali. Kami sangat berutang budi dan sepertinya sekarang adalah waktunya yang pas untuk membalasnya. Kami tidak tega melihatnya menderita menjadi Iblis seperti itu dan tidak rela mengecapnya sebagai pendosa. Dia tidak bersalah! Hanya saja dirinya yang terdesak saja sehingga masuk ke jalan yang salah..”


 “Ohh, begitu.. Jadi kau memintaku untuk mengusir Iblis yang ada di dalam dirinya sembari aku menyelesaikan dungeon yang ada disekolah?”


“Iya, aku mohon dengan sangat..”


“Wah, tapi sayang sekali ya, Rein. Aku bukan cenayang, atau memiliki kemampuan untuk memurnikan manusia yang sudah dirasuki oleh Iblis.”


“Tapi kalau ada Steve pasti bisa sih, hanya saja dia sepertinya sedang pergi melakukan misi.”


“Kalau itu tenang saja, Pak Ruky yang merupakan wakil kepala sekolah Akademi Raftel memiliki kemampuan itu. Dia mampu melakukan sihir pemurnian karena sejak awal dia adalah penyihir cahaya.”


“Baiklah, pasti pihak guild setelah ini akan datang menemuiku meskipun aku dalam kondisi menikmati liburan. Hah.. menyebalkan.”


“Hahahaha, maaf telah merepotkan.”


“Aww!!” tanpa sengaja, jari Blaire teriris saat sedang mengupas bawang. Darah menetes sedikit demi sedikit dari jarinya.


.


“Iya nggak apa-apa kok,” ucap Blaire sambil tersenyum untuk menenangkan kepanikan Thea.


“Tidak boleh begini.” Thea segera meraih tangan Blaire dan menyembuhkannya. “Heall!!” luka itu langsung menutup seketika.


“Terima kasih, Thea.” ucap Blaire yang tersenyum dengan pandangan sendu. 


“Aku mendengar semuanya loh.” gumam Blaire yang ternyata memiliki indra pendengaran yang cukup tajam.


***


“Kami pulang..” Ucap Iaros sambil membuka pintu.


“Ah, sudah datang ya?” ucap Iris yang membawakan minuman hangat untuk gadis yang sedang duduk santai di ruang tamu rumahnya.


“Sisca?” ucap Iaros.


“Hai, silahkan duduk..” ucap Sisca mempersilahkan duduk.


“Ini rumahku lah, ngapain kau persilahkan aku untuk duduk?” bantah Iaros, yang ujung-ujungnya duduk juga. Dias dan Sherla langsung masuk ke dalam. 


“Eits, kalian juga duduk sini dulu,” ucap Sisca yang menghentikan langkah Thea dan Dias. Mereka berdua menurutinya dan duduk di samping Iaros.


“Jadi, apa yang membawamu kemari? Ah iya, buatkan aku kopi, Iris,” pinta Iaros pada Iris yang berjalan ke arah dapur.

__ADS_1


“Iya, iya..” balasnya.


“Hmm, sebenarnya kami ingin memintamu untuk melakukan misi lagi. Pasti kamu sudah menebaknya bukan?”


“Menara dungeon yang ada di Akademi Raftel bukan?”


“Benar sekali. Tapi bukan hanya itu saja. Tuan Griamore memprediksi jika bangsa Iblis akan mulai menghancurkan bumi ini sebentar lagi.”


“Bangsa Iblis?”


“Yah, lebih lengkapnya nanti biar dijelaskan oleh ketua guild langsung saja. Setelah ini, mari ikut aku kesana.”


“Baiklah.”


“Tidak perlu!!” Tiba-tiba, seseorang tua berjanggut putih datang membuka pintu rumah dengan kencang.


“Brakk!!”


“Woyy!!, slow broh, ini bukan rumahmu, Pak Tua, aish..” ucap Iaros kesal.


“Tuan Griamore..” ucap Sisca sambil menundukkan badan sebagai bentuk penghormatan. 


Kemudian Griamore mencari tempat duduk dan segera mendudukinya. “Hahaha, kau tetap kasar seperti dulu ya, Iaros.”


“Siapa yang nggak kasar kalau tamunya berkelakuan seperti itu.”


“Baiklah, aku akan bicara serius kali ini. Ehm..”


Setelah itu, Griamore menceritakan gambaran masa depan yang baru saja dia lihat di mimpinya. Dia menceritakannya dengan sangat bagus dan menarik, sehingga membuat mereka semua mendengarkan dengan sangat serius. Mengenai Iblis yang akan menghancurkan kehidupan di bumi ini. Baik penderitaan dan kesedihan yang mulai tumbuh secara perlahan hingga benar-benar menghancurkan seluruh kehidupan. 


“Iaros, kali ini selalu ajak Dias untuk menjelajahi dungeon bersamamu. Dia harus dilatih dan ditempa kekuatannya agar bisa mengalahkan Raja Iblis, Azazel.” 


“Azazel? sama seperti yang diucapkan oleh Halvar.” batin Dias.


Melihat Dias yang penasaran dari ekspresi wajahnya, Griamore bertanya, “Dias, apa kau ingin tahu seperti apakah Raja Iblis Azazel?”


“Nggak juga, aku dah pernah baca di buku,” ungkap Dias menolak tawaran Griamore untuk bercerita.


“Baiklah, meski begitu aku akan tetap cerita.”


“Hilih, terserah..” 


“Raja Iblis Azazel adalah salah satu Raja Iblis yang memiliki kekuatan luar biasa dibandingkan dengan Iblis-Iblis yang lainnya. Dia memiliki kemampuan berteleportasi terserah kemanapun yang dia mau. Kemudian dia memiliki pertahanan mutlak menggunakan dimensional, setelah itu dirinya juga dapat menciptakan dunia yang tidak terikat waktu, dapat menyangkal semua efek, dapat menukar realita dengan ilusi, memiliki stamina dan kecepatan yang tak terbatas dan masih banyak lagi kemampuannya.”


“yah, itu mah sama seperti yang pernah ku baca di buku,” ucap Dias.


“Ehm.. kalau begitu langsung saja. yang pertama harus kalian lakukan adalah memusnahkan dungeon yang ada di Akademi Raftel.”


“Baiklah, tapi kenapa harus kami?” Tanya Iaros.


“Tidak ada alasan khusus. Guild lagi sepi aja, makanya Aku cari yang terdekat dari guild. Kau lagi gabut kan?” Balas Griamore yang disertai dengan kalimat pertanyaan. 


“Yaelah, kami saja baru selesai dari tugas sudah dikasih misi baru lagi.” Ucap Iaros yang memang benar jika sebelumnya dia sudah berkelana menyelesaikan dungeon yang ada di sekitar bersama dengan Iris. 


“Kalau gitu mulai besok, kalian harus sudah berangkat,” perintah Griamore yang dibalas anggukan malas oleh Iaros. 

__ADS_1


__ADS_2